AURORA

AURORA
Depresi


__ADS_3

Happy reading guys 😘😘😘


Aurora berjalan dengan gontai bersimpuh di samping kandang, dia menangis melihat kedua hewan tersebut menikmati tubuh mungil putranya.


"Hiks,,, hiks,,, kenapa kalian tega memakan putraku." ucap Aurora pilu.


Hati ibu mana yang tidak hancur jika menyaksikan sendiri putranya di mangsa hewan buas.


"Hiks,,, maafkan Mama Nak tidak bisa melindungi kamu, hiks,,, hiks,,."


"Maafkan Mama hiks,,,." Aurora mengambil baju Brian yang sudah koyak dan di penuhi darah yang terlempar kearah nya.


"Brian anak Mama." Aurora mencium baju putranya.


Aldrick meninggalkan Aurora sendiri disana yang masih menangisi Putranya.


Bik Asih dan Lala mendekati Aurora keduanya memeluk Aurora, namun Aurora sama sekali tidak meresponnya dia tetap memeluk baju Brian.


"Aurora,, kita ke kamar ya." ajak Lala.


"Brian,, Anak Mama hiks,,, hiks,,, maafkan Mama hiks,,."


"Sudah ya Nak, kita kedalam." ucap Bik Asih.


Pandangan mata Aurora kosong, dunianya sudah tidak lagi berada disana.


Hingga pagi tiba Aurora tidak beranjak sedikit pun dari samping kandang, dia tetap duduk bersimpuh di tempat semalam, wajahnya pucat pasi dengan air mata yang tidak berhenti mengalir.


Aldrick menghampiri Aurora tapi tetap saja Aurora tidak merespon dia tetap diam.


"Sudah tahu sekarang siapa yang kamu hadapi?" Aldrick menarik wajah Aurora kasar.


Aurora tetap tidak merespon apapun, meskipun Aldrick dengan kasar mencengkram pipinya.


Karena kesal Aldrick menarik tangan Aurora membawanya ke penjara bawah tanah, tempat yang paling Aurora takuti, tapi tetap saja Aurora diam tidak merespon apapun.


Di tempat lain Kenzo,Edgar dan Erlan tertawa bersama atas keberhasilan mereka.


"Hahahaha,,, bahkan dia sudah membunuh darah dagingnya sendiri."


"Dasar Bodoh."


Aldrick mengirim Video saat kedua hewan buasnya memangsa Brian dan dengan ektingnya yang apik Edgar pura pura marah dan bersedih.

__ADS_1


Sampai malam hari Aurora tetap di kurung di penjara bawah tanah tanah tapi Aurora masih sama diam dengan lelehan air mata yang tiada henti.


*****


Satu minggu berlalu Aurora di bebaskan dari penjara bawah tanah,tapi jiwa Aurora masih belum kembali juga,dia memeluk bantal yang sempat di pakai Brian.


"Anak Mama hiks,,, kamu pasti haus ya sayang." Aurora ber halusinasi seolah-olah yang dia peluk adalah putranya.


"Kamu kemana saja Nak? Mama kangen."


Lala menutup mulutnya tidak tega dengan keadaan Aurora, yang terlihat mengenaskan.


"Ra kamu makan ya." ucap Lala.


"Hiks,,, aku sudah makan."


"La dimana Brian tadi dia disini?"


"Ra Ikhlaskan Brian ya, hiks,,"


"Hiks,,, Brian meninggalkan aku, sekarang aku sendiri lagi hiksss,,."


"Masih ada aku Ra yang akan selalu ada untukmu."


****


Sejak saat itu pula Aurora sama sekali belum pernah bertemu dengan Aldrick.


Siang ini Aurora keluar memeluk bantal Brian, dan kebetulan sekali Aldrick baru pulang.


Aurora yang melihat Aldrick langsung menghampiri Aldrick dan menyiramkan satu Ember air bekas Bik Asih mengepel.


"PEMBUNUH " teriak Aurora.


"BRENGSEK,,, BERANI KAMU SAMA SAYA HAH!" bentak Aldrick.


"Pembunuh,, kembalikan anakku, kembalikan anakku." Aurora mengguncang tubuh Aldrick.


Kemudian menampar Aldrick dengan keras.


"KEMBALIKAN ANAKKU!" Teriak Aurora.


Aldrick yang sudah terpancing amarahnya mendorong Aurora hingga jatuh dengan kasar di lantai.

__ADS_1


"Hiks,,, kembalikan Anakku." ucap Aurora terus menerus.


"Pembunuh, kamu bukan manusia."


Aldrick membuka ikat pinggangnya dan dengan tanpa rasa kasihan sedikit pun Aldrick memukul kan pada Aurora.


'PLAS,,'


'PLAS,,'


Terus seperti itu hingga sekujur tubuh Aurora memerah ada juga yang mengeluarkan darah, tidak terhitung berapa kali Aldrick mencambuk Aurora.


"Minta ampun ******!, memohon lah ."


"Kembalikan anakku." hanya kata itu yang Aurora ucapkan terus menerus.


Lala tidak kuat menyaksikan itu, melihat tubuh lemah tak berdaya Aurora namun masih saja Aldrick mencambuknya dengan tanpa belas kasih.


"Hiks,, kembalikan anakku."


Setelah Aldrick pergi Lala dan Bik Asih berlari mendekati Aurora.


"Hiks,,, bik, kita bawa Aurora ke kamarnya."


Lala dan Bik Asih membopong tubuh lemah Aurora kemudian mengobati lukanya.


"Kenapa Tuan bisa setega itu."


Tangis Lala makin menjadi melihat tubuh Aurora, yang terluka seluruhnya.


"Hiks,,, ini pasti sangat sakit,, hiks,,, tahan ya ra." dengan telaten Lala mengobatinya.


Aurora tidak meringis sama sekali seolah tidak merasakan sakit apapun dia hanya diam dengan pandangan kosongnya.


_


_


_


TBC


JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2