AURORA

AURORA
ARNY - LINNEA


__ADS_3

Keesokan harinya, Aurora dan Dickie menikmati sarapan mereka dengan diselingi perbincangan hangat.


" Dickie, stok bahan-bahan di kulkas sudah habis, aku tidak bisa memasak lagi nanti ," kata Aurora.


" Nanti akan aku belikan, atau kamu mau ikut beli juga bersamaku?? ," tanya Dickie.


" Aku takut, bagaimana kalau Tuan Enzo melihat keberadaanku?? ," tanya Aurora.


" Kamu pakai masker saja, dan Hoodie tebal milikku ," jawab Dickie.


" Apakah tidak apa-apa?? ," tanya Aurora.


" Tidak apa-apa, nanti jika kamu ikut, kamu bisa membeli pakaian atau yang lainnya yang kamu inginkan ," jawab Dickie.


" Baiklah aku mau ," jawab Aurora dengan semangat.


Karena Aurora sendiri sudah cukup lama tidak ke luar rumah, dan dia juga sudah rindu sekali berbelanja.


Aurora berpikir jika dirinya masih terus bersama Dickie, pasti akan aman, sebab Aurora semakin lama sudah semakin percaya kepada Dickie, jika Dickie orangnya baik tidak seperti yang dia pikirkan.


" Lalu kapan kita akan pergi membelinya Dickie?? ," tanya Aurora.


" Nanti jam sembilan saja bagaimana?? ," jawab Dickie.


" Lagi pula kan jam praktekku masih jam dua siang nanti ," kata Dickie lagi.


" Ok siap suamiku sayang ," jawab Aurora sangat bahagia sekali.


Dickie hanya tersenyum sambil mengusap penuh cinta pipi Aurora.


Sedangkan di sisi lain, lebih tepatnya di rumah kontrakannya Linnea, Linnea saat ini sudah bersiap-siap untuk berangkat bekerja, namun karena sedang merasa gugup dan takut, dia mencoba bercerita kepada sang sahabat terlebih dahulu, yaitu Aurora.


Aurora yang sedang berbincang dengan Dickie, dia lalu beranjak menuju ke ruang Keluarga untuk mengangkat telepon rumahnya yang berdering.


" Halo, kediaman Dickie Richard di sini, dengan siapa saya berbicara ," kata Aurora kepada Linnea.


" Ra, ini aku Linnea ," jawab Linnea.


" Oh hai, Linnea, ada apa kamu menelponku ," kata Aurora.


" Aku mau curhat sebentar saja denganmu ," jawab Linnea.


" Baiklah, mau curhat apa Linnea, akan aku dengarkan sekarang juga ," kata Aurora.


Dickie yang sudah selesai makan, dia langsung merebahkan badannya dengan beralaskan p4h4 sang istri sambil memainkan bukit mochi milik Aurora.


" Aku sudah pindah kerja Aurora, bos di toko roti tempatku bekerja, dia menawariku untuk menjadi sekretaris di Perusahaan temannya, dan sekarang aku menjadi gugup untuk datang ke sana, karena pasti di sana banyak orang-orang pintar, kaya dan juga yang pasti tidak seperti diriku yang kampungan ," curhat Linnea kepada Aurora.


" Waaahh, selamat, ini kabar bagus Linnea ," jawab Aurora.


" Dan bukankah kamu sejak dulu memang ingin menjadi sekretaris Linnea, kenapa sekarang kamu merasa gugup? ," tanya Aurora.


" Percayalah kepada diri kamu sendiri Linnea, karena walau mereka berpenampilan lebih bagus darimu, belum tentu mereka lebih baik dari kamu, ayo dong semangat ," kata Aurora lagi.


" Baiklah, akan aku coba, nanti akan aku ceritakan hari pertamaku bekerja di sana, kalau begitu aku berangkat dulu ya Ra, takut telat, masa pertama masuk kerja sudah terlambat ," kata Linnea.


" Semangat-semangat, ayo semangat Linnea, hati-hati di jalan ya ," jawab Aurora.


" Iya Ra, terimakasih ya atas semangatnya ," jawab Linnea, dan sambungan telepon mereka akhirnya terputus.


Ketika sabungan telepon sudah terputus, Aurora langsung memarahi Dickie yang daritadi memainkan pucuk bukitnya menggunakan mulut dan juga jarinya.


" Dickie, ini masih pagi, dan semalam kita sudah mengulanginya berulang kali, apa kamu tidak bosan melakukan itu terus?? ," kata Aurora.


" Tidak ada kata bosan jika bersamamu sayang ," jawab Dickie.


" Sudah aku mau beres-beres rumah sebentar, mumpung masih jam tujuh ," kata Aurora.


Dickie hanya tersenyum manja sambil mengedipkan matanya kepada Aurora.


Seperti biasanya, Aurora akan menyapu, mengepel dan mencuci baju semua pekerjaan rumah akan dia kerjakan sendiri.


Namun, ketika Aurora mengepel di ruang Keluarga, Dickie yang sedang menonton televisi, matanya sedikit teralihkan ke arah, ehem p4h4 Aurora, karena rok yang dipakai oleh Aurora tersingkap ke atas.


Tanpa babibu atau komando sama sekali, Dickie langsung melepaskan paksa cel4n4 d4l4m Aurora dari arah belakang, dan hal itu tentu saja tidak mau di sia-siakan oleh Dickie.


Dickie langsung memasukkan miliknya ke dalam surga dunia yang selalu dia rindukan itu.


Aurora yang terkejut, dia hanya bisa pasrah ketika sang suami memasukinya dari belakang seperti sekarang.


Meninggalkan Dickie dan Aurora yang sedang menikmati masa-masa pengantin baru mereka, kita beralih sejenak kepada Arny.


Tidak seperti biasanya, pagi-pagi sekali Arny sudah siap untuk berangkat ke kantor.


Ketika dia sudah siap, Arny langsung saja ke luar dari dalam kamarnya, untuk ikut bergabung sarapan dengan Keluarganya.


" Pagi, Ma, Yah ," sapa Arny.


" Wangi sekali kamu Arny, kamu mandi parfum ya?? ," tanya Mama Azura kepada Arny.


" Masa sih Ma, biasa saja deh, biasanya Arny juga seperti ini kan setiap hari ," jawab Arny.


" Tidak, ini kebanyakan kamu memakai minyaknya, coba saja tanya sama Ayah ," kata Mama Azura.


Arny langsung mengalihkan pandangannya ke arah sang Ayah, dan Ayah Pippin malah tersenyum saja sambil meminum teh hangatnya, tanpa mau menimpali perkataan dari sang istri.

__ADS_1


Pandangan mereka semua tiba-tiba teralihkan ke arah Enzo yang baru saja ikut bergabung di ruang makan.


" Pagi Enzo, mau sarapan apa Nak?? ," tanya Mama Azura.


" Enzo tidak makan Ma, mau minum kopi saja ," jawab Enzo.


Enzo lalu menyuruh asisten rumah tangga untuk membuatkan kopi yang dia minta.


" Arny, kamu mandi parfum ya,? membuat Kakak mual saja ," kata Enzo kepada Arny.


" Nah benar kan apa kata Mama, jika kamu itu terlalu kebanyakan memakai parfumnya, cuma mau ke kantor saja pakai minyak habis dua botol ," kata Mama Azura kepada Arny.


" Biarkanlah saja Ma, siapa tahu di kantor nanti dia mau bertemu dengan wanita yang dia cintai ," kata Ayah Pippin ikut menyahut.


" Dengar Ma, apa kata Ayah, sebab Ayah dulu juga begitu ketika ingin mendekati Mama, iya kan Yah?? ," kata Arny kepada sang Mama dan sang Ayah.


Ayah Pippin langsung mengangguk membenarkan apa kata Arny tadi.


" Ayah sama anak sama saja ," gerutu Mama Azura.


Ayah Pippin langsung tersenyum melihat sang istri sedikit mengambek, karena diingatkan dengan masa mereka masih muda dulu.


" Enzo apakah kamu masih mencari gadis itu?? ," tanya Ayah Pippin kepada Enzo.


" Masih ",, jawab singkat Enzo sambil menikmati kopinya.


" Mau sampai kapan kamu akan mencari seseorang yang tidak pasti seperti dia, lebih baik kamu cari wanita yang lain saja Enzo ," kata Ayah Pippin.


" Iya Nak, pencarian yang kamu lakukan ini sudah hampir dua bulan lho, apa kamu tidak jenuh atau capek Nak?? ," kata Mama Azura juga kepada Enzo.


" Tidak ," jawab super singkat dari Enzo.


" Sampai kapanpun Enzo akan terus mencarinya, walau Enzo harus menghabiskan waktu seumur hidup Enzo!! ," kata Enzo lagi.


Setelahnya, Enzo langsung berdiri dari duduknya untuk pergi ke Perusahaan tanpa berpamitan kepada semua orang.


Mama Azura, Ayah Pippin dan Arny, hanya bisa diam saja melihat sikap Enzo, karena mau bagaimanapun sikap Enzo memang seperti itu.


" Bantulah Kakak kamu Enzo, Arny ," kata Ayah Pippin.


" Baik Ayah, Arny sebenarnya selama ini juga sudah membantu Kakak, hanya saja gadis bernama Aurora itu sangat sulit ditemukan ," jawab Arny.


" Apa hebatnya gadis itu, kenapa bisa sampai membuat Enzo seperti sekarang,? seperti mati rasa dengan wanita lain selain dia?? ," kata Mama Azura.


" Entahlah Ma, mungkin Kak Enzo sudah benar-benar jatuh cinta yang sangat mendalam sekali dengan dia ," jawab Arny.


" Dan lagi pula salah Kak Enzo juga, wanita mana yang tidak sedih, jika anak yang sedang di kandung harus keguguran karena ulah Ayahnya sendiri ," kata Arny lagi.


" Ini contoh untuk kamu Arny, kamu jangan sampai meniru perbuatan buruk dari Kakak kamu itu ," nasihat dari Ayah Pippin.


Arny yang sudah selesai menikmati sarapannya, dia langsung berpamitan berangkat ke kantor kepada ke dua orang tuanya.


Ketika Arny sudah sampai di kantor, dia langsung saja menuju ke lantai di mana ruang kerjanya berada.


Sebelum masuk ke dalam ruang kerjanya, Arny menghentikan langkah kakinya sejenak di depan meja kerjanya Frank.


" Selamat pagi Tuan Arny ," sapa ramah dari Frank.


" Pagi, emm, apakah Linnea sudah datang?? ," tanya Arny.


" Belum Tuan ," jawab Frank.


" Kalau nanti dia datang, kamu langsung saja ajak dia pergi ke butik sebelum kamu ajak masuk ke ruanganku ," pesan Arny kepada Frank.


" Baik Tuan ," jawab Frank.


" Dan satu hal lagi, jika dia bertanya tentang saya, jangan kamu beritahu dia, mengerti Frank ," kata Arny lagi.


" Mengerti Tuan Arny ," jawab Frank sambil mengangguk.


" Bagus, kembali bekerja lagi ," kata Arny.


" Baik Tuan ," jawab Frank, dan Arny langsung berlalu masuk ke dalam ruang kantornya.


Tidak lama setelah Arny masuk ke dalam ruang kantornya, ada seorang perempuan yang berjalan dengan sangat malu-malu ke arah meja kerjanya Frank.


Frank dari jauh yang sudah melihat perempuan itu, dia sudah menebak, jika perempuan tersebut adalah Linnea.


Memang benar perempuan itu adalah Linnea, yang sudah sampai di Perusahaan besar milik Keluarga Diedrich yang sedang di pimpin oleh Arny.


Frank menelisik pakaian Linnea dari atas ke bawah, dari bawah ke atas lagi, dan menurut Frank, penampilan Linnea masih cukup bagus, tidak terlalu memalukan.


Akan tetapi, Frank cuma bawahan yang harus menurut dengan atasannya.


" Permisi ," sapa Linnea ketika sudah sampai di meja kerjanya Frank.


" Iya Nona, apa ada yang bisa saya bantu?? ," tanya Frank dengan ramah.


" Saya yang melamar pekerjaan dari perantara Tuan Bruno ..... ," perkataan Linnea langsung terputus oleh perkataan Frank.


" Apakah anda yang bernama Nona Linnea?? ," tanya Frank.


" Benar Tuan, saya Linnea ," jawab Linnea.


" Kami sudah menunggu anda sejak tadi, silahkan duduk dulu ," kata dari Frank lagi.

__ADS_1


Linnea langsung duduk di kursi depan meja kerjanya Frank.


" Di Perusahaan ini ada syarat khusus Nona untuk menjadi sekretaris di sini ," kata Frank.


" Sebagai contoh, saya akan mengajak anda ke suatu tempat, untuk menunjukkan kepada anda, standar apa yang harus anda penuhi ," kata Frank lagi.


" Tapi tunggu sebentar ," kata Frank, dan Linnea hanya mengangguk saja.


Frank langsung masuk ke dalam ruang kerja Arny untuk meminta ijin mengajak Linnea pergi ke butik, dan ketika ijin sudah di dapat, Frank langsung mengajak Linnea berlalu pergi dari dalam gedung kantor tersebut.


" Silahkan masuk Nona ," kata Frank ketika sudah membukakan pintu mobil.


" Terimakasih Tuan ," jawab Linnea.


Frank dan Linnea duduk di kursi belakang, dan yang mengendarai mobilnya adalah anak buah Arny.


" Ke tempat yang sudah saya beritahu sebelumnya ," kata Frank kepada anak buah tersebut.


" Baik Tuan Frank ," jawab sang anak buah.


Mobil lalu menembus jalanan Ibu kota yang padat penduduk dan kendaraan yang berlalu lalang di jalan raya.


" Nona, perkenalkan, nama saya Frank, saya sekretaris pertama, dan anda sekretaris ke dua ," kata Frank memperkenalkan diri kepada Lenna.


" Nanti jika sudah sampai di kantor lagi, saya akan mengajari anda tugas apa saja yang harus anda kerjakan ," kata Frank lagi kepada Linnea yang daritadi sedang serius mendengarkan.


" Baik Tuan Frank ," jawab Linnea.


" Jika boleh tahu, kita akan pergi ke mana ya Tuan?? ," tanya Linnea.


" Nanti anda akan tahu sendiri ," jawab Frank dengan muka datarnya.


Linnea langsung diam, dia tidak berani bertanya lagi kepada Frank, karena menurutnya, Frank sangat kaku sekali orangnya.


Setelahnya, tidak lama mobil yang mereka naiki sampai juga di sebuah butik yang sangat besar dan terkenal menjual barang-barang branded serta bermerek.


Seumur-umur, Linnea baru pertama kali menginjakkan kakinya masuk ke dalam butik tersebut.


" Ayo Nona, mari masuk ," kata Frank kepada Linnea.


Linnea hanya mengangguk dan menurut saja apa kata Frank.


Kedatangan Frank dan Linnea langsung disambut ramah oleh para staf karyawan butik tersebut, dan Frank yang tidak mau ribet memilih, dia mengajak Linnea untuk duduk di sofa yang sudah disediakan di situ.


" Carikan baju kantor yang bagus untuk dia, jangan sampai mengecewakan saya, kalau tidak mau butik kalian akan di tutup oleh bos saya ," kata Frank kepada semua karyawan butik.


" Baik Tuan Frank, kami mengerti ," jawab semua karyawan tersebut.


" Mari Nona ikut dengan kami ," kata karyawan itu kepada Linnea.


Linnea yang bingung dia lalu mengalihkan pandangannya ke arah Frank.


" Ikutlah dengan mereka Nona, saya akan menunggu di sini ," kata Frank.


Setelah mendengar perkataan dari Frank, akhirnya Linnea bersedia ikut dengan semua karyawan butik tersebut.


Karyawan butik itu sudah tahu siapa yang sedang datang ke butik tempatnya bekerja, makanya mereka tidak ada yang berani mencarikan baju yang murah dan jelek untuk Linnea.


Jadi semua baju kantoran untuk Linnea yang berjumlah sebelas pasang stel baju, termasuk yang sudah dipakai oleh Linnea satu, tidak ada yang bisa dibilang murah, semuanya bermerek dan juga branded.


Walau Linnea cukup kebingungan untuk apa semua baju-baju itu, tapi dia masih tidak berani bertanya kepada Frank, dan menurut saja ketika di suruh membawa semua baju-baju yang sudah dibeli.


Ketika baju sudah didapat, Frank langsung mengajak Linnea untuk kembali ke Perusahaan lagi.


" Ayo Nona, saya akan memperkenalkan anda dengan pimpinan di Perusahaan ini ," kata Frank.


" Baik Tuan Frank ," jawab Linnea.


Linnea benar-benar sudah berubah seratus delapan puluh derajat, yang awalnya sudah cantik sekarang semakin cantik saja dengan memakai pakaian mahal yang baru saja dibelikan Frank untuknya.


Mendengar kata masuk dari Arny, Frank langsung membuka pintunya dan melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam ruang kerja Arny.


Linnea belum menyadari, bahwa laki-laki yang sedang mengerjakan pekerjaannya adalah laki-laki yang selama beberapa minggu ini mendekatinya.


" Tuan ," sapa Frank.


Arny langsung mengalihkan pandangannya ke arah Frank dan Linnea.


Dan barulah Linnea terkejut ketika sudah melihat siapakah yang akan menjadi bosnya.


Arny tersenyum manis penuh arti melihat Linnea berpenampilan cantik di depannya saat ini.


" Tinggalkan kami Frank ," kata Arny.


" Baik Tuan Arny ," jawab Frank.


Frank pun berlalu pergi dari ruang kerja Arny menuju ke meja kerjanya sendiri.


" Silahkan duduk dulu Linnea ," kata Arny kepada Linnea.


Karena masih merasa terkejut, Linnea bukannya duduk, dia malah terus menatap Arny di tempatnya berdiri.


Arny yang melihat Linnea hanya diam saja, dia langsung tersenyum dan mencoba beranjak dari duduknya untuk mendekati Linnea.


...✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️...

__ADS_1


...***TBC***...


__ADS_2