
Happy reading guys 😘😘😘
Aldrick mendekati Aurora yang masih terlelap, dia sedikit terkejut melihat wajah Aurora yang semakin pucat.
"Aurora,, bangun." panggil Aldrick.
"Engh,,,," Aurora terlihat sulit membuka matanya.
"Pusing,," keluh Aurora.
"Makan siang sebentar ya,nanti tidur lagi." ucap Aldrick.
"Nanti saja." tolak Aurora matanya terasa berat untuk dibuka.
Dengan lembut Aldrick menggendong Aurora membawanya ke ranjang dan meletakkan disebelah Brian.
Bik Sum kembali masuk kedalam ruang rawat Brian .
"Maaf Tuan apakah Nyonya belum bangun juga?"
"Belum Bik." jawab Aldrick.
"Tapi dari kemarin Nyonya belum makan apapun Tuan." ucap Bik Sum membuat Aldrick panik.
"Kenapa Bibik baru bilang."
Aldrick langsung menghampiri Aurora.
"Hey,, bangun sebentar ya."
"Engh,,, " lenguh Aurora sambil memegang perutnya yang terasa melilit.
Perlahan Aldrick mengangkat Aurora membawanya ke pangkuannya.
"Bangun,," Aldrick menepuk pelan Pipi Aurora.
"Sakit,," keluh Aurora.
"Iya karena kamu belum makan dari kemarin, sekarang makan dulu ya."
Aldrick meminta makanan pada Buk Sum.
"Panggil Dokter kesini!" perintah Aldrick.
"A,, dulu." Aldrick menyodorkan Sendok yang berisi makanan pada Aurora.
Dengan sedikit paksaan akhirnya Aurora mau makan walaupun hanya beberapa sendok.
Tepat setelah Aurora menyelesaikan makanannya Dokter datang untuk memeriksa keadaannya.
'Tadi Anaknya yang di gendong sekarang Ibunya.' batin Dokter Andrew.
perawat yang masuk menundukkan kepalanya melihat keromantisan pemilik rumah sakit tempat nya bekerja.
Setelah diperiksa Dokter memberikan obat agar segera diminum tapi Aurora menolaknya dengan alasan pahit.
"Pahit,,"
"Iya, tapi nanti langsung sembuh,kalau kamu ikut sakit kasihan Brian."
"Tetap saja aku tidak mau minum obat." ucap Aurora.
"Mau tau caranya agar tidak pahit?" tanya Aldrick membuat Aurora langsung mengangguk.
Aldrick tersenyum kemudian meminum air dan meletakkan obat di antara kedua bibirnya, Aurora menatap heran Aldrick dia berpikir jika Aldrick tengah mengajarkan dirinya untuk minum obat namun mata Aurora langsung terbuka saat Bibir nya menempel sempurna dengan bibir Aldrick dan perlahan Aldrick mendorong obatnya pada mulut Aurora.
Aldrick terus ******* bibir Aurora hingga obatnya tertelan sempurna.
"Bagaimana pahit?" tanya Aldrick.
"Modus ! " ketus Aurora.
Aldrick terkekeh pelan, dia merasa sangat lucu melihat wajah cemberut Aurora.
Aurora turun dari pangkuan Aldrick dan tidur di samping Brian yang tengah terlelap.
"Mau kemana?" tanya Aurora saat melihat Aldrick berdiri.
"Kamar mandi." jawab Aldrick.
"Awas kalau menghilang lagi."
Aldrick mengurungkan niatnya untuk ke kamar mandi dia kembali duduk dan meletakkan kedua tangannya disamping kepala Aurora.
"Katanya mau ke kamar mandi." ketus Aurora.
"Nanti."
"Minggir aku mau tidur."
"Nanti kalau aku pergi kamu nyariin."
"Ish,, pergi saja sana."
"Ya sudah aku kembali ke Jepang lagi."
"Pergi sana tidak usah kembali lagi sekalian." Aurora langsung memejamkan matanya.
Aldrick yang sudah kebelet langsung pergi ke kamar mandi, Aurora yang melihat Aldrick pergi menangis karena berpikir jika Aldrick akan meninggalkan dirinya kembali.
" Hiks,,, hiks,,"
Aldrick keluar dari kamar mandi dan melihat bahu Aurora bergetar dan terdengar isakan kecil darinya.
"Kenapa hm,,?"
"Pergi saja katanya mau pergi ."
Aldrick tersenyum, jadi Aurora mengira jika dirinya akan benar benar pergi.
"Aku tidak akan kemana mana."
"Katanya tadi mau pergi."
"Mana mungkin aku meninggalkan anak dan Istriku yang menangis jika aku pergi."
"Siapa yang menangisi kamu?"
"Brian."
Ingin sekali Aldrick menggigit pipi Aurora, kenapa tidak ngomong saja kalau tidak ingin ditinggal.
__ADS_1
"Mau memperbaiki hubungan kita?" tawar Aldrick.
"Aku takut." cicit Aurora.
"Takut kenapa?"
"Takut kamu tidak percaya lagi pada kita, dan kamu kasar lagi, memisahkan aku sama Brian hiks,,, aku ,, aku,, tidak mau itu."
"Aku akan berusaha berubah demi kamu dan Brian, kita bisa membangun rumah tangga yang bahagia demi Brian."
"Hanya demi Brian?"
"Demi kamu juga istriku, I Love You." ucap Aldrick.
Aurora tidak menjawab dia masih berpikir apakah dirinya juga mencintai Aldrick.
"Aku akan menunggu sampai kamu membalas cintaku, aku,,."
"I Love You too." ucap Aurora memotong ucapan Aldrick, dia sadar perubahan Aldrick selama ini dia sudah tidak pernah lagi kasar kepadanya.
"Terimakasih, terimakasih Dear dan aku mau kamu panggil aku bukan tuan lagi." Aldrick mencium pipi Aurora berkali kali.
"Lalu aku harus panggil apa?"
"Terserah."
"Om."
"Aku ini suami kamu Dear."
"Lalu aku harus panggil apa?"
"Sayang, Ayang, Beby."
"Idih,,, ogah sudah punya anak juga, em,, aku panggil Mas saja ya."
"Baiklah aku setuju."
"Sekarang tidur biar cepat pulih." ucap Aldrick.
"Temenin." manja Aurora dan Aldrick sangat menyukai itu.
Dengan senang hati Aldrick memeluk Aurora hingga keduanya sama sama terlelap dengan posisi Aurora berada di tengah tengah Brian dan Aldrick.
*****
Tiga hari setelah hari itu keadaan Brian sudah sehat seperti semula,dia kembali menjadi bocah aktif yang membuat pusing Mama dan Papanya.
Pagi ini Aldrick sudah siap dengan pakaian kantor nya sudah beberapa hari Aldrick mangkir dari pekerjaan nya.
Di meja makan Aldrick melihat Aurora yang tengah menyuapi Brian makan, segera dia mendekat dan mencium kening Aurora dan Brian.
"Selamat pagi jagoan Papa."
"Pa,,pa,,pap,,, " Brian tersenyum menyemburkan makanan yang ada di mulutnya.
"Sayang tidak boleh memainkan makanan." tegur Aurora.
"Pap,,paa,,a,,,pa,,,,,aaaa." Brian mengangkat tangannya minta digendong Aldrick.
"Selesaikan dulu makannya baru gendong sama Papa."
Brian menangis karena Aldrick tidak juga menggendong dirinya.
"Roti saja." ucap Aldrick saat melihat Aurora mengambil kan nasi goreng.
"Tidak ! mulai hari ini kamu harus makan nasi, roti tidak akan membuat mu kenyang."
"Ya,,"
Aldrick makan sambil memangku Brian, rasa nasi goreng ini berbeda dan Aldrick sangat menyukainya.
"Nasi goreng ini berbeda, lebih enak dari biasanya." komentar Aldrick.
"Itu buatan Nyonya Tuan ." ucap Bik Asih.
" Dear Kamu ke dapur?" tanya Aldrick.
"Ya."
"Ngapain kamu kedapur sayang? disana tempat berbahaya"
"Kamu tidak suka masakan aku Mas ?"
"Bukan begitu Dear, aku sangat menyukai masakan kamu,tapi bagaimana nanti jika tangan kamu tergores pisau." ucap Aldrick takut membuat Aurora tersinggung.
"Jangan lebay, aku suka memasak."
"Lalu kenapa kemarin kemarin kamu tidak pernah memasak?"
"Ya karena aku malas memasak untuk mu.".
"Boy kamu sama Mama dulu ya, Papa harus berangkat kerja."
Brian menggeleng dan makin memeluk Aldrick erat.
"Sini sayang sama Mama, kita lihat Zack dan Luck yuk sayang." aja Aurora tapi tetap saja Brian tidak mau lepas dari Papanya.
Aurora mencoba mengambil Brian dari gendongan Aldrick namun bocah itu malah menangis kencang.
"Dear kamu ganti baju ya." ucap Aldrick.
"Ngapain? aku lebih nyaman seperti ini."
" Kamu ikut saja ke kantor."
"Ngapain? yang ada nanti Brian ganggu kamu Mas."
"Tidak akan, sekalian aku kenalkan kalian pada karyawan di kantor."
"Tapi,,, Mas aku malu."
"Malu kenapa?"
"Ish,, pokoknya aku malu."
"Kemarin saat aku kesana untuk mencari kamu, Brian menangis dan membuat kegaduhan." cerita Aurora.
"Sudah kan sekarang ada aku, sekarang kamu ganti baju ya."
Aurora pasrah dan mengganti bajunya, dia memoles wajahnya dengan sedikit Make up agar tidak malu maluin Aldrick.
__ADS_1
Aurora terlihat sangat cantik dengan Dress yang dipakainya dia sengaja menggunakan Dress yang senada dengan setelan yang dipakai Aldrick.
Aurora juga mengganti pakaian Brian dengan pakaian yang senada juga dengan milik Mama Papanya.
"Kamu cantik." puji Aldrick.
"Ish,, ngapain Mas puji aku, kan aku jadi Malu."
Sepanjang perjalanan menuju Kantor Aldrick sama sekali tidak melepaskan tangan Aurora.
Brian nampak tertawa bahagia melihat pemandangan yang dia lewati.
"Pa,,,pa,,"
"Coba Brian bilang Mama,," ucap Aurora.
"Papa,,,pa,,"
"Mama."
"Pa,,pap."
"Ma,,,ma."
"Pap,,pa."
"Hahahaha,,," Aldrick tertawa karena Brian tetap bilang Papa walaupun Aurora berkali kali bilang Mama.
"Mas kamu menertawakan aku." Aurora mencubit perut Aldrick membuat Aldrick semakin tertawa.
"Coba Brian bilang sayang Ma,," Aldrick ikut melatih Brian.
"Ma,,," Brian langsung mengikuti ucapan Aldrick.
Aurora mendelik bagaimana bisa putranya langsung mengikuti Ucapan Papanya,bahkan dia berkali kali bilang Mama tapi Brian tidak mau mengikuti nya, ketika Aldrick yang bilang Brian langsung mengikuti nya.
"Coba ulangi lagi Sayang Ma,,ma." ucap Aldrick.
"Ma,,mam."
"Pintarnya anak Papa."
"Pa,,pa."
"Kok Papa lagi sayang Ma,,ma."
"Ma,,,ma."
"Wahh,,,, muach,,, anak Mama sekarang sudah bisa panggil Mama."
Sampai di perusahaan penjaga langsung membukakan pintu untuk Aldrick dan keluarga kecilnya, semua menunduk memberikan hormat pada Aldrick.
Aldrick turun dengan Brian di gendongan nya, setelah Aurora turun Aldrick langsung merangkul pinggang rampingnya.
"Mas,, malu." cicit Aurora.
"Abaikan saja." ucap Aldrick.
"Sudah?" tanya Aldrick pada Roy.
"Sudah Tuan." jawab Roy.
Semua karyawan berkumpul menunggu apa yang akan disampaikan oleh Pemilik perusahaan ini.
"Selamat pagi semua." ucap Aldrick datar.
"Pagi Tuan."
"Perkenalkan semua mereka ini adalah istri dan Anakku, jadi kalian harus menghormati mereka seperti kalian menghormati saya Paham?"
"Paham Tuan."
"Dan bagi karyawan yang kemarin sudah kurang ajar pada Istri dan anak saya silahkan temui pihak HRD untuk mengambil pesangon kalian."
"Maaf,, Tuan , kami tidak tahu kemarin jika beliau adalah Istri Tuan." ucap Wanita yang kemarin membentak dan mengusir Aurora.
"Oh,, jadi kalau bukan istri saya kalian bisa bersikap kurang ajar begitu?" bentak Aldrick.
"Sudah Mas,, lihat Brian ketakutan." Aurora menenangkan Aldrick.
"Roy urus semuanya." perintah Aldrick.
"Roy,, jangan pecat mereka." ucap Aurora.
Aldrick menatap Aurora tajam." Apa?" Aurora membalas tatapan Aldrick dengan lembut.
"Ayo kedalam." ajak Aurora.
Sampai di ruangan Aldrick, Brian langsung diturunkan dan merangkak kesana kemari.
"Masih marah?" tanya Aurora.
Aldrick diam saja , dan Aurora berdiri dari sofa yang dia duduki, berpindah duduk di pangkuan Aldrick.
'Cup.' Aurora mencium Pipi Aldrick.
"Mas,, coba bayangkan jika kamu memecat mereka dan ternyata mereka adalah tulang punggung keluarga dan memiliki anak kecil yang harus membeli susu,jika mereka kehilangan pekerjaan mereka dari mana mereka akan dapat uang untuk membeli susu."
Aldrick tetap diam membuat Aurora kesal." Yasudah kalau kamu tetap diam kami pulang saja." Aurora langsung berdiri namun Aldrick kembali menarik nya dan memeluk pinggang ramping Aurora.
"Iya, Mas tidak akan memecat mereka dengan syarat," Aldrick sengaja menggantung ucapannya.
"Syarat?"
"Hm,,".
"Apa syarat nya?" tanya Aurora penasaran.
"Aku ingin kamu." ucap Aldrick pelan.
"Tapi ini masih di kantor Mas, dan ada Brian juga."
"Kamu merasakannya Dear?"
Aurora mendelik merasakan tonjolan keras di pahanya dan pasti itu berasal dari pisang Ambon Aldrick.
_
_
_
__ADS_1
TBC
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK 😘😘😘