
Saat ini sepasang suami istri itu sedang saling berhadap-hadapan dengan Linnea dan juga Aurora.
Mata Linnea melotot sangat lebar sekali melihat sepasang suami istri yang berdiri di depannya, begitupula dengan sepasang suami istri tersebut.
Arvon yang mendapatkan tugas dari sang majikan untuk melindungi Aurora, dan tidak mau membuat Aurora kenapa-kenapa, akhirnya, dia langsung saja menghadang sepasang suami istri itu dan berdiri di tengah-tengah mereka berempat.
" Nyonya Aurora ayo kita segera pergi dari sini ," kata Arvon.
Arvon sangat tahu sekali, siapa sepasang suami istri yang sedang menatap istri dari majikannya.
" Oh, iya Arvon ," jawab Aurora sambil mengangguk.
Aurora lalu melangkah pergi meninggalkan sepasang suami istri itu tanpa mempedulikan mereka berdua sama sekali.
" Aurora ," panggil sepasang suami istri itu lagi.
Lagi dan lagi Aurora menghentikan langkah kakinya.
" Anda siapa ya,? maaf kenapa anda bisa mengenal saya,? dan daritadi terus memanggil nama saya?? ," akhirnya Aurora bertanya juga kepada sepasang suami istri tersebut.
" Mungkin mereka salah satu fans kamu Aurora, kan sekarang kamu menjadi istri orang terkaya di Negara ini ," kata Linnea kepada Aurora.
" Oh ya benar juga ," jawab Aurora.
" Maaf, saya permisi, saya sedang terburu-buru ," kata Aurora lagi kepada sepasang suami istri yang bingung dan terkejut melihat sikap Aurora yang tidak mengenali mereka.
Aurora pun mau melangkahkan kakinya lagi, namun kali ini langsung dicegah oleh suami dari wanita tersebut.
" Tunggu Nak ," kata laki-laki itu.
Arvon yang melihat, tentu saja langsung bertindak, begitu pula para anak buah yang ikut dengannya.
" Anda yang sopan kepada majikan saya Tuan, lepaskan tangan kotor anda itu dari tangan majikan saya!! ," kata Arvon.
Dengan menurut, laki-laki itu melepaskan juga cekalan tangannya di tangan Aurora tadi.
" Nak, apa kamu tidak mengenali Ayah,?? ini Ayah Ebert Nak?? ," kata laki-laki yang menahan Aurora ternyata Ayah Ebert.
" Ayah?? ," kata Aurora.
" Ayah Aurora sudah meninggal sejak Aurora masih kecil, anda jangan mengaku-ngaku deh Tuan, emm mungkin wajah anak anda mirip dengan saya ," kata Aurora lagi.
" Sudah Aurora ayo kita pergi dari sini ," kata Linnea mencoba mencegah perbincangan yang lebih lanjut lagi.
__ADS_1
" Ini benar Ayah, Nak, dan ini Mama Siljie, Mama kamu ," kata Ayah Ebert lagi.
Linnea yang takut jika ingatan Aurora kembali di saat yang tidak tepat seperti sekarang, karena ulah Ayah Ebert, dia langsung mengkode Arvon untuk mencegah Ayah Ebert untuk semakin mendekat kepada Aurora.
Arvon yang mengerti, tentu saja sangat tahu sekali apa yang harus dia lakukan untuk mencegah Ayah Ebert berbicara dengan Aurora.
" Ayo Aurora, jangan dengarkan mereka ," kata Linnea.
" Ingat, nanti suami kamu bisa marah kepadamu, jika tahu kamu berbicara dengan orang sembarangan ," kata Linnea lagi.
" Linnea kenapa kamu berbicara seperti itu kepada Aurora, kamu sendiri kan tahu jika saya ini Ayah kandungnya Aurora!! ," marah Ayah Ebert kepada Linnea.
" Diam Tuan!! ," kata salah satu anak buah kepada Ayah Ebert.
" Anda sudah membuat keributan di rumah sakit ini, dan anda juga sudah berani mengganggu istri dari majikan kami,!! silahkan anda pergi, atau anda akan merasakan akibatnya!! ," ancam dari salah satu anak buah lagi.
Ketika Ayah Ebert ditahan oleh para anak buah, Aurora langsung diajak pergi oleh Linnea dan Arvon untuk masuk ke dalam mobil yang sudah disiapkan sebelumnya.
" Jangan berani mengulangi sikap kurang 474r anda ini Tuan kepada majikan kami,!! jika anda masih menyayangi nyawa anda!! ," kata anak buah lagi kepada Ayah Ebert.
Setelahnya, beberapa anak buah tadi langsung pergi meninggalkan Ayah Ebert yang ketakutan karena baru saja diancam oleh para anak buah tersebut.
Mama Siljie daritadi hanya diam saja, karena dia juga merasa bingung dan terkejut dengan situasi yang ada.
" Ayah,? Ayah tidak apa-apa?? ," tanya Mama Siljie.
Ayah Ebert dan Mama Siljie saat ini baru saja ingin pulang ke rumahnya, setelah tadi cek kesehatan mereka yang dari kemarin sedikit tidak fit, karena faktor usia.
Namun ditengah perjalanan, mereka tidak sengaja bertemu dengan Aurora yang membuat mereka sangat terkejut sekali, semakin terkejut lagi ketika Aurora malah tidak mengenali mereka dan berbicara formal kepada Ayah Ebert.
Ada rasa sakit di dalam hati melihat Aurora tidak mengakuinya sebagai Ayah, dan mengatakan jika dirinya sudah meninggal sejak dulu.
Akan tetapi Ayah Ebert rasanya susah sekali untuk menjelaskan sebenarnya kepada Aurora, apa yang sebenarnya terjadi.
" Ayo kita pulang ke rumah ," ajak Ayah Ebert dengan pikiran masih tertuju kepada Aurora.
" Iya ayo Ayah ," jawab Mama Siljie.
Mama Siljie dan Ayah Ebert lalu menyetop taksi yang lewat di depan rumah sakit untuk mengantarkan mereka pulang ke rumah.
" Ayah, bukankah tadi memang benar-benar Aurora?? ," tanya Mama Siljie.
" Iya benar sekali Ma, dia sudah sangat berbeda, tambah cantik sekarang ," jawab Ayah Ebert.
__ADS_1
" Lihatlah saja tadi pakaiannya, sangat mahal sekali Ayah ," kata Mama Siljie.
" Tapi kenapa tadi Aurora malah mengatakan jika Ayahnya sudah meninggal sejak dia masih kecil, dan dia malah tidak mengenali Ayah, apa dia sedang berpura-pura karena sudah kaya sekarang?? ," kata Mama Siljie lagi.
" Entahlah Ma ," jawab Ayah Ebert.
" Tadi Ayah lihat, Aurora memang seperti tidak mengenali Ayah sama sekali ," kata Ayah Ebert sambil membayangkan wajah Aurora.
" Walau sakit, biarlah saja dia tidak mau mengakui Ayah, yang penting dia sudah hidup bahagia sekarang ," kata Ayah Ebert lagi.
" Kenapa tidak Ayah manfaatkan saja dia, supaya hidup kita semakin lebih baik lagi Ayah?? ," kata Mama Siljie.
" Jangan menyuruh Ayah melakukan hal yang sudah Ayah bicarakan kepada Mama!! ," jawab Ayah Ebert.
" Ayah tidak mau melakukan kesalahan untuk ke dua kalinya, terlebih lagi sekarang ingin memanfaatkan kekayaan yang Aurora punya ," kata Ayah Ebert lagi.
" Jika Mama jadi Ayah, sudah ku manfaatin tuh anak ," kata Mama Siljie.
" Jangan memancing Ayah marah lagi kepada Mama!! ," kata Ayah Ebert.
" Terserah Ayah saja, sekalinya bodoh ya selamanya akan tetap bodoh!! ," jawab Mama Siljie.
Ayah Ebert memilih menghela nafasnya mendengar perkataan dari Mama Siljie. Dia memilih mengalah dan tidak mau bertengkar terus dengan Mama Siljie, terlebih lagi saat ini mereka berdua sedang berada di dalam taksi.
Ayah Ebert lalu memilih diam dan tidak mau menanggapi perkataan dari Mama Siljie lagi, hingga akhirnya mereka berdua pada diam dengan pikiran masing-masing.
Meninggalkan Mama Siljie dan Ayah Ebert, kita beralih kepada Aurora yang saat ini sudah berada di dalam mobil bersama Linnea.
Aurora menjadi melamun karena pertemuannya dengan Ayah Ebert tadi, dan Linnea yang melihat Aurora melamun seperti itu, dia menjadi khawatir sendiri, serta takut disalahkan oleh Enzo, sebab tidak sengaja bertemu dengan Ayah Ebert serta Mama Siljie.
" Aurora, apakah kepalamu sedang pusing?? ," Linnea mencoba bertanya.
" Eh tidak, hanya saja aku sedang berpikir, kenapa laki-laki tadi bisa mengatakan jika dia Ayah kandungku, sedangkan kata Daddy Enzo, Ayah kandungku sudah meninggal sejak dulu ," jawab Aurora.
" Sudah aku katakan tadi Aurora, jika mereka cuma mengaku-ngaku saja, sebab kamu istri dari laki-laki terkaya di Negara ini ," jawab Linnea.
" Bisa jadi ," jawab Aurora.
" Kasihan mereka, terlihat tua dan miskin ," kata Aurora lagi.
" Mereka memang pantas mendapatkannya Aurora ," kata batin Linnea.
Sedangkan Arvon yang duduk di bangku depan sebelah sopir, hanya mendengarkan saja apa yang sedang Aurora dan Linnea bicarakan.
__ADS_1
...✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️...
...***TBC***...