AURORA

AURORA
PULANG KAMPUNG


__ADS_3

" Papa ," panggil Aurora sambil mengusap batu nisannya Dickie.


" Mama datang Papa ," kata Aurora lagi sambil menangis.


" Maafkan Mama yang baru bisa datang saat ini ," kata Aurora sambil menangis tersedu-sedu.


Enzo yang melihat dari layar tab miliknya, matanya juga sedang berkaca-kaca melihat kesedihannya Aurora.


Aurora belum bisa melanjutkan lagi perkataanya, karena dia sedang menetralkan suara tangisannya yang terdengar menyayat hati sekali.


" Hiks-hiks-hiks, Papa ," panggil Aurora lagi.


" Ini anak kita Papa, dia sudah besar, dia tampan, wajahnya juga sangat mirip dengamu ," kata Aurora sambil menunjukkan baby Wilson, seakan-akan saat ini ada Dickie di depannya.


" Aurora sudah tidak punya lagi seseorang di dunia ini Pa, kenapa Papa tega pergi secepat ini dari sisi Mama ," kata Aurora.


" Papa sudah berjanji untuk melindungi Mama dan membesarkan Wilson bersama-sama ," kata Aurora.


" Tapi semalam, kenapa Papa menyuruh Mama untuk kembali kepada Tuan Enzo!! ," kata Aurora lagi.


Enzo yang mendengar dari tap miliknya, merasa terkejut, apa maksud dari perkatannya Aurora.


" Apa maksud perkataannya,? kenapa dia bilang seperti itu?? ," kata Enzo bertanda tanya sendiri.


" Kenapa Papa jahat kepada Mama ," kata Aurora lagi sambil menangis sejadi-jadinya.


Aurora menangis sangat pilu sekali, hingga dia tidak menyadari, jika baby Wilson sedang berjalan sendiri tidak tentu arah.


Aurora yang sudah menetralkan matanya dan mengusap air matanya, dia lalu menyadari jika sang putra tidak ada di sampingnya.


" Wilson!! ," panggil Aurora.


" Dia di sini Nyonya ," jawab dari seorang laki-laki yang ada di situ.


Laki-laki itu adalah anak buah Enzo yang sedang menyamar, dan mereka juga daritadi sedang mengawasi Wilson yang sedang bermain sendiri.


Anak buah itu langsung memberikan baby Wilson kepada Aurora.


" Ya Tuhan, syukurlah ," kata Aurora sambil mengambil alih baby Wilson dari tangan sang anak buah.


" Terimakasih Tuan, saya tidak tahu jika tidak ada anda di sini ," kata Aurora.

__ADS_1


" Tidak perlu berterima kasih Nyonya, itu sudah menjadi tugas saya sebagai manusia ," jawab sang anak buah.


" Apalagi ada anak selucu dan sepintar ini ," kata sang anak buah lagi sambil mengusap pipinya baby Wilson.


Sungguh akting sang anak buah, perlu diacungi jempol, karena benar-benar natural dan terlihat tidak mencurigakan sekali.


" Sekali lagi terimakasih Tuan, saya permisi dulu ," kata Aurora lagi.


" Iya, sama-sama Nyonya ," jawab sang anak buah.


Aurora lalu kembali lagi ke arah batu nisannya Dickie, di sana Aurora mengusap lembut batu nisan tersebut, dan lalu menaruh foto dirinya dan juga baby Wilson didekat batu nisan itu.


" Mama pamit Papa ," kata Aurora.


" Mama akan ke sini lagi lain waktu ," kata Aurora lagi.


" Terimakasih sudah mengajarkan cinta dan kesetiaan kepada Mama selama ini ," kata Aurora.


" Tanpa Papa, Mama pasti akan selalu terpuruk dengan trauma masa lalu, dan tidak akan mempunyai baby setampan ini ," kata Aurora lagi.


" Bye-bye sama Papa sayang ," kata Aurora kepada baby Wilson.


Di dalam taksi, Aurora terus berpikir tentang Enzo, dan juga masih menenangkan hatinya, setelah mengetahui kenyataan yang teramat sangat pahit itu.


" Maafkan Mama, Papa ," kata batin Aurora.


" Mama sepertinya tidak bisa jika di suruh melanjutkan pernikahan ini dengan Tuan Enzo ," kata batin Aurora lagi.


" Mama belum sanggup untuk hidup dengan laki-laki lain, sedangkan Mama baru saja mengetahui kenyataan, jika Papa sudah meninggal ," kata batin Aurora sambil meneteskan air matanya.


Akhirnya, taksi yang Aurora naiki sampai juga di depan rumahnya, dan dia langsung saja ke luar setelah membayar ongkos taksinya.


Daritadi, ketika Aurora berada di dalam mobil, tentu saja para anak buah mengikutinya dari belakang, tanpa sepengetahuannya.


Aurora yang sudah masuk ke dalam rumahnya, langsung saja mengemasi barangnya dan juga milik baby Wilson, karena dia ingin kembali ke kota lagi untuk mengurus surat perceraiannya dengan Enzo.


Para anak buah yang melihat Aurora pergi sambil membawa koper besar, mereka langsung saja mengikuti taksi yang ditumpangi oleh Aurora lagi, sambil melapor kepada Enzo.


" Halo ," kata Enzo.


" Tuan Enzo, sepertinya Nyonya Aurora mau pergi lagi Tuan, karena saat ini Nyonya Aurora sedang membawa koper besar sambil menaiki taksi ," lapor sang anak buah.

__ADS_1


" Kalian ikuti terus ke mana perginya istri saya, jangan sampai kehilangan jejak ," perintah Enzo.


" Baik Tuan ," jawab sang anak buah.


Setelah itu, Enzo tanpa banyak berbicara, langsung mematikan sambungan teleponnya.


Enzo sendiri saat ini baru sampai dipertengahan jalan, istilahnya dia baru sampai di jalan tol yang menuju ke kota tempat tinggalnya Aurora.


Sekitar tiga puluh menit kemudian, para anak buah yang melihat taksi yang ditumpangi oleh Aurora memasuki gerbang tol yang menuju ke kota tempat tinggal Enzo, mereka langsung melaporkannya kembali.


" Halo, ada apa lagi?? ," tanya Enzo.


" Tuan, sepertinya Nyonya Aurora akan kembali ke kota lagi Tuan, karena saat ini taksi yang ditumpanginya sedang memasuki gerbang tol yang menuju ke sana ," jawab sang anak buah.


" Itu berarti kabar bagus, kalian terus ikuti istri saya, biar saya putar arah lagi ," kata Enzo.


" Baik Tuan ," jawab sang anak buah, dan akhirnya sambungan mereka terputus juga.


Aurora sampai di kota, ketika waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore, dan tempat yang dia tuju pertama kali adalah apartemen Linnea.


Di dalam kamar apartemen, Aurora cuma menaruh kopernya saja, setelah itu dia pergi lagi, dan ternyata tempat yang di tuju oleh Aurora kali ini adalah rumahnya yang ada di desa.


Sebenarnya, badannya sangat capek sekali setelah perjalanan yang sangat jauh tadi, sudah hamil besar, ditambah pula sambil menggendong baby Wilson, yang tubuhnya sudah cukup berat sekali.


Namun rasa capeknya, kalah dengan rasa penasaran dan rindu yang mendera hatinya dengan kampung halaman.


Tidak lama, untuk menuju ke kampung halamannya, cuma membutuhkan waktu sekitar kurang lebih satu jam, dan taksi yang Aurora tumpangi, akhirnya sudah sampai di perbatasan kota dan desa.


Aurora benar-benar sangat terkejut dan juga bingung sekali, ketika sudah sampai di depan rumahnya, dia tidak melihat rumah kumuh seperti dulu, melainkan rumah mewah dan dibelakangnya ada peternakan yang sangat besar sekali.


Begitupula dengan rumah Ayah Bogy yang ada di sampingnya, juga sudah berubah tidak kalah mewahnya, namun masih mewah dengan rumahnya.


Mama Paulita yang baru saja selesai mandi sore, dan ingin menyiram tanaman, dia sangat terkejut sekali ketika melihat kedatangannya Aurora.


Aurora belum menyadari jika Mama Paulita melihat kedatangannya, karena dia sendiri sedang sibuk mengamati rumahnya dan juga peternakan yang ada di belakangnya.


" Aurora ," panggil Mama Paulita, dan pada akhirnya, pandangan Aurora teralihkan ke arah Mama Paulita.


...✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️...


...***TBC***...

__ADS_1


__ADS_2