
Martin yang sedang rapat dengan para Dokter, ketika mendapatkan telepon dari Enzo yang sedang marah-marah sendiri di seberang sana, akhirnya dia pun memutuskan untuk mengakhiri saja rapatnya itu dan akan dilanjutkan di lain hari.
Martin mengendarai mobilnya dengan sangat kencang, supaya bisa segera sampai di rumah super mewah milik Enzo.
Martin mengikuti google maps yang sudah diberikan oleh Enzo, untuk menuju ke rumah barunya tersebut.
Sedangkan Enzo yang masih menunggu Martin, dia benar-benar sangat khawatir sekali dengan keadaannya Aurora.
" Mommy, bertahanlah, semoga si twins juga baik-baik saja di dalam sana ," doa Enzo sambil terus memegang tangan Aurora.
" Martin kenapa tidak sampai-sampai juga sih!! ," gerutu Enzo.
Ketika sedang menunggu kedatangan Martin, tiba-tiba saja Aurora menunjukkan pergerakan ingin sadar dari pingsannya.
Enzo yang melihatnya, tentu saja langsung sangat excited sekali.
" Mommy ," panggil Enzo.
" Apakah masih pusing?? ," tanya Enzo.
Sekilas, ada ingatan-ingatan kecil terlintas di dalam ingatannya Aurora tentang memorinya yang dulu.
" Di mana saya?? ," tanya Aurora.
" Ini bukan kamar saya?? ," kata Aurora.
" Kita di rumah baru kita sayang?? ," jawab Enzo.
" Tuan Enzo?? ," kata Aurora yang membuat Enzo sangat terkejut sekali.
Ingatan-ingatan itu seperti bertabrakan, antara ingatan yang baru dan ingatan yang lama, sehingga membuat kepala Aurora terasa sangat pusing sekali.
" Mommy, ini Daddy ," jawab Enzo tidak mempedulikan perkataannya Aurora yang tadi.
" Daddy?? ," kata Aurora dan Enzo langsung mengangguk.
" Daddy, kepala Mommy sangat pusing sekali ," kata Aurora dan akhirnya ingatan baru mengalahkan ingatannya yang lama.
Enzo langsung menghela nafasnya lega, karena melihat Aurora tidak jadi sadar dari ingatannya.
" Sebentar Mommy, Daddy sudah memanggilkan Martin untuk segera datang ke sini ," jawab Enzo.
Tidak lama, Martin pun sampai juga di rumah super mewah milik Enzo, dan dia langsung segera masuk ke dalam kamar Enzo diantarkan oleh salah satu anak buah.
" Enzo!! ," panggil Martin.
" Ada apa?? ,'' tanya Martin sambil berjalan mendekati Enzo.
" Cepat periksa istri saya dulu!! ," jawab Enzo.
Martin pun lalu memulai memeriksa keadaannya Aurora, dan Martin melihat Aurora, seperti sudah mulai menunjukkan gejala akan segera sadar dari ingatannya.
" Bagaimana Martin?? ," tanya Enzo.
" Aurora baik-baik saja, dia cuma membutuhkan waktu untuk istirahat ," jawab Martin.
__ADS_1
" Jika dia sampai kecapekan, selain berbahaya untuk si twins, juga akan berbahaya untuk kepalanya ," kata Martin lagi.
" Eemm, Mommy istirahat dulu ya sebentar, karena ada yang ingin Daddy tanyakan kepada Martin ," kata Enzo, dan Aurora hanya mengangguk saja.
Enzo lalu mengajak Martin untuk masuk ke dalam kamar sebelah yang tidak jauh dari kamar miliknya.
Sesampainya di dalam kamar itu, baik Enzo dan Martin segera mengatakan apa yang ingin mereka katakan.
" Sebenarnya apa yang ingin kamu katakan kepadaku Enzo?? ," tanya Martin.
" Kamu bodoh Martin ," kata Enzo.
" Apa maksud kamu Enzo?? ," tanya Martin lagi yang merasa kebingungan.
" Tadi Kimberly datang ke sini, dan dia menunjukkan foto pernikahannya Aurora dengan Dickie yang dulu, hingga membuat Aurora pingsan dan dia baru saja sadar sebelum kamu sampai di sini ," jawab Enzo.
" Dan kamu tahu Martin, Aurora tadi memanggilku dengan panggilan Tuan Enzo, itu membuatku sangat terkejut sekali ," kata Enzo lagi.
" Aku harus mengatakan ini Enzo ," kata Martin.
" Apa?? ," tanya Enzo.
" Sepertinya sebentar lagi, Aurora akan segera sadar dari amnesianya, karena aku melihat, Aurora sudah menunjukkan gejalanya, contohnya saja tadi, ketika aku bertanya kepadanya tentang apa yang membuatnya pusing ," kata Martin lagi.
" Iya, aku juga berpikiran seperti itu ," kata Enzo.
" Lalu aku harus bagaimana Martin?? ," tanya Enzo.
" Siap tidak siap, kamu memang harus siap, jika sewaktu-waktu Aurora sadar dari amnesianya ," jawab Martin.
" Iya, karena emang itu jalan satu-satunya ," kata Enzo.
" Iya, baiklah ," jawab Martin.
" Aku ingin kamu membuatnya jangan ikut campur lagi dengan urusanku!! ," pinta Enzo.
" Siap ," jawab Martin lagi dan Enzo hanya mengangguk saja.
Martin pun lalu berpamitan pergi kepada Enzo, karena dia ingin segera memberikan peringatan kepada Kimberly.
Sedangkan Enzo, setelah kepergian dari Martin tadi, langsung segera masuk ke dalam kamarnya lagi.
Martin yang sudah mengendarai mobilnya, langsung segera menuju ke rumah Kimberly.
Dia benar-benar sudah tidak tahan dengan sikap Kimberly, yang membuat Enzo jadi marah kepadanya.
Setelah mengendarai mobilnya kurang lebih hampir satu jam lamanya, akhirnya Martin sampai juga di rumah mewah milik Kimberly.
Kebetulan Kimberly sedang berada di rumah saat ini, dan dia juga saat ini sedang duduk di ruang tamu rumahnya.
Melihat ada mobil masuk ke halaman rumahnya, Kimberly pun sedikit merasa penasaran, dan ketika dia melihat kedatangan Martin, Kimberly langsung segera masuk ke dalam kamarnya.
Sebelum masuk ke dalam kamar, Kimberly berpesan kepada para asisten rumah tangganya, untuk mengatakan kepada Martin, jika dirinya tidak ada di rumah.
Namun, Martin tidak percaya begitu saja, ketika beberapa asisten mengatakan kepadanya, jika Kimberly tidak ada di rumah.
__ADS_1
Martin terus melangkah, dan tidak ada satupun yang berani menghentikan langkah kakinya itu, di saat dirinya menuju ke dalam kamar Kimberly.
Semakin kuat dugaan Martin, ketika dirinya akan membuka pintu kamar, tapi terkunci dari dalam.
" Buka pintunya, atau saya melakukan dengan cara kekerasan, karena saya tahu kamu ada di dalam ," kata Martin.
Kimberly yang sedang ketakutan di dalam kamar, dia sangat kebingungan sekali, mendengar suara Martin yang terdengar sedang marah dari balik pintu.
Martin yang sudah tidak sabar, dia mencoba mendobrak pintu kamar Kimberly berulang kali, hingga akhirnya berhasil juga dia dobrak.
Di saat Martin sudah membuka secara paksa pintu kamar Kimberly, dia langsung melihat Kimberly ingin mencoba kabur lewat jendela.
Hal itu tidak akan Martin biarkan, dan dia langsung menggendong secara paksa tubuh Kimberly dan Martin langsung jatuhkan ke atas ranjang.
Tidak pakai lama, Martin pun lalu men1nd1h tubuh Kimberly, dan merobek kasar dress yang sedang dipakai oleh Kimberly.
" Hmm, sangat indah sekali ," kata Martin dan di matanya terlihat ada kabut 941r4h.
" Apa yang ingin anda lakukan, pergi dari sini!! ," teriak Kimberly sambil terus mendorong tubuh Martin dari atas tubuhnya.
" Tidak semudah itu Nona, setelah kamu mengabaikan peringatanku kemarin ," jawab Martin sambil melepaskan kemejanya.
Kimberly saat ini cuma memakai l1n93r13 saja, karena dress mahal miliknya, sudah dirobek kasar oleh Martin.
" Mungkin dengan cara ini, kamu bisa patuh akan perintahku!! ," kata Martin lagi, dan kali ini dia langsung mencoba mencum6u Kimberly.
Kimberly terus memberontak, ketika Martin mencoba membuatnya melayang, dan di saat Martin sedang memainkan ke dua bolu miliknya, tanpa dirinya sadari, dia sedikit terbuai dengan sentuhan tersebut.
" Huh,!! akhirnya kamu diam juga Nona ," kata Martin.
Kimberly yang tersadar kembali, dia mencoba menendang Martin, tapi pergerakan kakinya, dapat dibaca oleh Martin, hingga membuat Martin, akhirnya merobek paksa juga segitiga terlarang milik Kimberly.
" No,!! saya harap anda jangan melakukan itu Tuan!! ," kata Kimberly.
" Kenapa memangnya? ," tanya Martin.
" No!! ," kata Kimberly.
Martin hanya menyeringai saja, dan sambil menduduki ke dua kakinya Kimberly, dia melepaskan juga apa yang melekat di ke dua kakinya, hingga akhirnya, saat ini dia sudah sama-sama seperti Kimberly.
Sebelum melakukan penyatuan, Martin mencoba mem6454h1 surga dunianya Kimberly, supaya tidak terlalu sulit untuk dia masuki.
Kimberly seperti melayang di udara, ketika Martin melakukan itu kepadanya, dan tanpa sadar mulutnya mend354h karenanya.
" Sepertinya sudah saatnya Nona ," kata Martin.
" Jangan Tuan, saya mohon, jangan ," kata Kimberly memohon.
Namun Martin tidak mempedulikan permohonan dari Kimberly, dan secara paksa, akhirnya dia memasukkan singkong jumbo miliknya ke dalam lu64n9 yang semestinya.
Punggung yang gagah, langsung dicengkeram erat ke sepuluh jarinya Kimberly. Walau merasa sakit, Martin hanya membiarkannya saja.
Martin yang sudah tidak tahan dengan rasa nikmat yang dirasakannya itu, dia lalu menggerakkan singkongnya, dengan gerakan teratur namun sangat cepat sekali.
Hingga pada akhirnya, setelah saling mend354h bersahut-sahutan di dalam kamar tersebut, Martin sampai juga pada puncak kenikmatannya yang pertama, dan 514lnya, dia kelupaan mengeluarkannya di dalam.
__ADS_1
...✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️...
...***TBC***...