
Happy reading guys 😘😘😘
Aurora yang sudah sangat kesal pada Aldrick langsung berbaring di ranjang membelakangi Aldrick.
"Jangan tidur, makan malam dulu." ucap Aldrick namun diabaikan Aurora.
"Mamamu ngambekan Nak." Aldrick kembali bermain dengan Brian,hingga Aurora benar benar terlelap.
Aldrick tahu Aurora pasti lelah mengurus Brian seharian tanpa bantuan Bibi ataupun Baby sitter. Tidak ingin membangunkan Aurora Aldrick membuatkan susu formula untuk Brian.
"Kita tidur ya Nak,ini sudah malam besok baru bermain lagi."
Aldrick meletakkan Brian di tengah tengah dirinya dan Aurora, dia tersenyum memandang keduanya.
"Maaf, sudah terlalu banyak luka yang aku beri." Aldrick mencium Brian dan memandang punggung Aurora lembut.
*****
Aurora bangun terlebih dahulu, dia melihat Putranya yang terlihat nyaman berada di pelukan Papanya.
"Anak Mama bangun yuk Nak." Dengan lembut Aurora membangun kan putranya, bukannya bangun Brian makin menempelkan dirinya pada Aldrick.
Aurora yang kesal malah menabok Aldrick dengan sedikit keras sehingga membuat Aldrick membuka matanya seketika.
"Kamu!" bentak Aldrick.
"Huwa,,, Owek,,, oekk,,." tangis Brian mendengar suara Aldrick.
"Apasih teriak teriak, kamu pikir ini hutan." balas Aurora.
"Cup cup anak Mama jangan Nangis dong, Papamu memang turunan orang hutan."
"Bisa tidak sekali saja jangan menghasut Brian."
__ADS_1
"Tidak! kamu memang jelek."
Aldrick memandang Aurora tajam.
"Apasih mandang orang seperti itu,lihat nih anakmu jadi nangis,nakutin sih jadi orang."
"Sini biar Brian sama Saya."
"Kamu mandi saja dulu baunya sudah seperti Kerbau."
Aldrick pergi pindah ke kamarnya untuk mandi sementara Aurora memandikan Brian.
'Haruskah aku memaafkan Papamu Nak.' ucap Aurora dalam hati.
Aurora kembali memakaikan Brian baju seperti semalam namun sekarang berbentuk ikan.
"Tampannya Anak Mama, kenapa kamu harus semirip itu dengan Papa mu sih Nak, padahal kan yang hamil kamu itu Mama."
Aldrick menuruni tangga dengan penuh wibawa, dia mencari keberadaan anak dan istrinya karena tadi dia mencari ke kamarnya namun mereka tidak ada.
"Astaga,, Boy,kostum apa lagi yang Mamamu pakaikan Nak? apa gara gara Papa menyiksa Mamamu makanya dia jadi setengah tidak waras." ucap Aldrick saat melihat Brian menggunakan kostum aneh menurut nya.
"Kenapa kamu mau maunya sih sayang."
Brian tertawa mendengar Aldrick ngomel mungkin dia mengira jika Aldrick tengah mengajaknya bicara.
Aldrick menggendong Brian, untung Brian masih belum bisa tengkurap sendiri jadi aman aman saja meskipun di letakkan di sofa.
"Lain kali kalau Mamamu memakaikan kostum aneh lagi,kamu menangis ya Nak, sekarang Mamamu kurang waras."
"Siapa yang kamu bilang tidak waras hah?" bentak Aurora yang baru datang.
__ADS_1
"Ya kamu lah, kenapa kamu selalu memakaikan Brian baju yang aneh aneh."
"Ini bukan aneh tapi gemoy."
"Emm,, besok besok sekalian beli sama kamu juga."
"Boleh juga tuh nanti pas ulang tahun Brian kita menggunakan kostum sapi.".
"Kita?" heran Aldrick.
"Iya Kita aku dan kamu Brian anak kita."
Sepertinya dia sudah salah memberi ide dan akan sangat merugikan dirinya.
" Kamu saja aku masih waras."
"Kamu pikir aku gila?" kesal Aurora.
"Kan memang kamu gila."
Aurora menarik tangan Aldrick yang hendak melepas kan baju di kepala Brian.
"Apa?"
"Apa, apa? jangan merusak penampilan tampan Anakku." ucap Aurora.
"Hm,," balas Aldrick.
_
_
_
__ADS_1
TBC
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK 😘😘😘