AURORA

AURORA
RODA BERPUTAR


__ADS_3

Keesokan paginya, ketika waktu sudah menunjukkan pukul delapan pagi, semua tim yang ditugaskan oleh Martin sudah pada datang semua di rumah Ayah Pippin.


Mereka datang untuk memeriksa keadaan dari baby Wilson dan juga Aurora, dan mereka semua juga sudah mendapatkan kabar dari Martin, jika Aurora sudah sadar dari komanya.


Ketika salah satu anak buah yang berjaga mencoba untuk membuka pintu ruang perawatan tersebut, dia langsung melihat jika sang majikan masih tidur dengan lelap sambil memeluk Aurora.


" Tuan Enzo masih tidur Dokter ," kata sang anak buah kepada salah satu Dokter.


" Baiklah, kalau begitu kami akan menunggu sebentar, sampai Tuan Enzo bangun ," jawab sang Dokter kepada anak buah tadi.


Karena bagaimanapun juga mereka semua tidak ada yang berani untuk membangunkan Enzo.


Ketika mereka semua sedang berdiri tidak ada kerjaan di depan ruang perawatan Aurora, tiba-tiba pandangan mereka semua teralihkan kepada Mama Azura bersama Ayah Pippin dan juga Arny, yang datang untuk melihat keadaannya Aurora.


" Kenapa kalian semua tidak pada masuk ke dalam?? ," tanya Ayah Pippin kepada semua para Dokter.


" Tuan Enzo masih tidur Tuan ," jawab perwakilan dari salah satu Dokter.


" Pantas saja tadi dia tidak ikut sarapan ," kata Ayah Pippin.


Ayah Pippin pun langsung masuk ke dalam ruang perawatan Aurora diikuti Mama Azura dan juga Arny, untuk membangunkan Enzo.


" Enzo bangun ," kata Ayah Pippin sambil memegang pundak Enzo.


" Hem, enghh ," dengung Enzo belum sadar sepenuhnya.


" Enzo bangun, mereka sudah pada datang ," kata Ayah Pippin lagi.


Namun yang terbangun malah Aurora bukannya Enzo.


" Kalian siapa?? ," tanya Aurora.


Sambil tersenyum manis, Mama Azura pun menjawab " kami adalah mertua kamu Nak, saya Mama Azura, dan ini Ayah Pippin ," jawab Mama Azura.


Ayah Pippin langsung tersenyum kepada Aurora.


" Maafkan kami yang sudah mengganggu tidur kamu ya Nak, karena kami sejujurnya sedang mencoba membangunkan Enzo ," kata Mama Azura lagi.


" Bangun ," kata Aurora sambil menggoyangkan tubuhnya Enzo.


Tentu saja Enzo langsung terbangun ketika Aurora yang membangunkan, karena Enzo takut jika Aurora sedang membutuhkan bantuannya.


" Aurora, kamu kenapa,?? apa kamu membutuhkan sesuatu?? ," tanya Enzo.


" Itu ," jawab Aurora sambil menunjuk Mama Azura dan Ayah Pippin.


Pandangan mata Enzo langsung teralihkan ke arah Ayah Pippin dan Mama Azura serta Arny yang sudah berdiri di depan ranjang.


" Mama, Ayah?? ," kata Enzo.


" Cepatlah bangun, mereka semua sudah pada datang untuk memeriksa keadaannya Aurora ," kata Ayah Pippin.


" Oh, baiklah ," jawab Enzo.


Enzo langsung berlalu turun dari atas ranjang, dan ketika Enzo baru saja turun, telinga mereka semua langsung mendengar baby Wilson yang sedang menangis.


Enzo tentu saja langsung berjalan mendekat ke arah box babynya Wilson, dan ketika sudah di cek oleh Enzo, ternyata baby Wilson sedang buang air besar.


" Ma, Wilson sedang pup ," kata Enzo.


Mama Azura langsung menggelengkan kepalanya sambil tersenyum gemas, karena Enzo masih belum mau membersihkan pup dari baby Wilson.


" Kamu ini sama anak sendiri ko 7171k ," kata Mama Azura.


" Geli Ma ," jawab Enzo.


Pandangan mata Enzo teralihkan lagi, kali ini ke arah Aurora yang tiba-tiba tertawa sendiri.


" Kamu sangat lucu sekali ," kata Aurora sambil tertawa.


Menurut Aurora, wajah Enzo sangat lucu ketika merasa geli untuk membersihkan pup dari baby Wilson.


Dan suara tawa dari Aurora membuat Enzo terpesona sekali, sebab itu adalah suara tawa pertama yang dilihat Enzo di wajah Aurora.


" Bisakah kamu memanggilku Daddy seperti dulu ," kata Enzo berbohong.


Ayah Pippin yang mendengar, hanya bisa diam saja sambil melihat ke arah Enzo yang sedang berbohong kepada Aurora.


" Daddy?? ," jawab Aurora.


" Nah seperti itu, itu baru istri yang cantik ," kata Enzo memuji Aurora.


" Baiklah, kalau begitu Ayah akan panggilkan mereka semua untuk masuk ke dalam sini ," kata Ayah Pippin.


Enzo hanya mengangguk saja, dan Ayah Pippin langsung berlalu ke luar untuk memanggil tim Dokter yang sudah pada datang.


Walau saat ini Ayah Pippin, Enzo dan juga Mama Azura beserta Arny, masih berada di dalam ruangan itu, akan tetapi mereka semua tidak mau menganggu para Dokter yang sedang pada bekerja, mereka semua hanya memperhatikan saja sambil duduk di sofa yang ada di situ.


Aurora merasa kebingungan dan dia sangat takut sekali, ketika tiba-tiba di kelilingi oleh banyak orang yang tidak dikenalnya, bahkan Aurora sedikit histeris tadi.


Dan pada akhirnya, Enzo langsung mendekat untuk menenangkan Aurora, barulah Aurora merasa tenang ketika di cek keadaannya oleh para Dokter.


Setelah sekitar satu jam lamanya Aurora dan baby Wilson diperiksa oleh para tim medis, akhirnya mereka semua yakin untuk melepaskan infus yang terpasang di tangan Aurora.


Mereka semua juga sudah mengijinkan Aurora untuk bangun dari rebahannya dan melatih otot kakinya yang sudah membeku untuk bisa berjalan lagi.


" Saya harap, anda mau membantu Nyonya Aurora berlatih berjalan Tuan Enzo ," kata salah satu Dokter.


" Baik Dokter ," jawab Enzo.

__ADS_1


" Kami juga masih memantau keadaannya Nyonya Aurora sampai dia bisa benar-benar berjalan seperti semula Tuan Enzo ," kata Dokter yang lainnya.


" Lalu bagaimana dengan cucu saya Dokter?? ," tanya Ayah Pippin.


" Cucu anda sudah baik-baik saja Tuan Pippin, bahkan berat badannya pagi ini sudah naik lagi ," jawab sang Dokter.


Jawaban dari Dokter itu langsung disambut senang oleh semua orang.


" Dokter, kenapa put1n9 saya sakit jika untuk m3nyu5u1 anak saya, tapi tidak sakit jika saya m3nyu5u1 Daddy?? ," tanya Aurora dengan sangat polos sekali.


Dan pertanyaan dari Aurora berhasil membuat semua orang yang ada di situ langsung menahan suara tawanya, namun berbeda dengan Enzo yang langsung garuk-garuk kepalanya karena merasa malu.


" Itu hal biasa Nyonya, nanti jika anda sudah terbiasa m3nyu5u1 baby Wilson, put1n9 dada anda tidak akan sakit lagi ," jawab sang Dokter dengan ramah.


" Apakah ASI anda sudah ke luar Nyonya?? ," tanya Dokter yang lainnya.


" Sudah ," jawab Aurora.


" Karena baby Wilson sudah kenyang, sisanya dihabiskan oleh Daddy ," jawab Aurora.


Dan jawaban dari Aurora membuat pikiran semua orang langsung berkelana ke mana-mana.


" Emm, maksudnya dihabiskan bagaimana ya?? ," tanya Arny untuk memperjelas.


" Kamu siapa?? ," Arny bertanya, malah balik ditanya oleh Aurora.


" Saya adik kandung dari suami anda Nyonya Aurora, nama saya Arny, jadi kita adalah ipar ," jawab Arny.


" Oh ," jawab Aurora.


" Jadi, apa jawaban dari pertanyaan saya tadi Kakak ipar?? ," tanya Arny lagi.


" Pertanyaan yang mana?? ," tanya Aurora.


" It ...... ," perkataan Arny langsung terpotong oleh Enzo.


" Sudah sayang tidak perlu didengarkan si Arny ," kata Enzo menyela.


Arny langsung menampilkan wajah sebalnya kepada Enzo, dan karena mereka semua sudah selesai melakukan pemeriksaan terhadap Aurora, para tim Dokter pun langsung berpamitan pergi kepada Keluarga Diedrich.


" Ayo sayang kita ikut ke luar juga, aku akan membantumu berlatih berjalan ," kata Enzo.


" Kita ke taman belakang saja yuk, berjemur di sana bersama baby Wilson ," kata Enzo lagi.


" Iya baiklah ," jawab Aurora.


Enzo lalu menuntun Aurora dengan sangat sabar sekali, untuk berjalan ke arah taman yang ada di belakang, sedangkan baby Wilson sedang digendong oleh Mama Azura.


Perlahan tapi pasti, dan sedikit demi sedikit, akhirnya Aurora sampai juga di taman yang dimaksud oleh Enzo.


" Kita duduk di sini saja ," kata Enzo dan Aurora hanya mengangguk saja.


" Apakah kamu mau menggendong anak kamu Aurora?? ," tanya Mama Azura.


" Panggil Mama ya Nak ," kata Mama Azura sambil tersenyum .


" Baik Ma ," jawab Aurora.


" Kalau begitu, Mama mau masuk dulu ke dalam, karena Ayah mau berangkat ke kantor sekarang ," kata Mama Azura.


Aurora hanya mengangguk saja kepada Mama Azura.


" Enzo jaga Aurora sama cucu Mama dengan baik ," pesan Mama Azura kepada Enzo.


" Siap Ma ," jawab Enzo, dan setelahnya Mama Azura berlalu pergi meninggalkan mereka bertiga di taman tersebut.


" Aku mau mencoba menyusuinya lagi, siapa tahu dia haus dan lapar ," kata Aurora.


" Akan aku bantu ," jawab sigap dari Enzo, dan saat ini Enzo sudah tidak terlalu risih lagi seperti semalam.


Aurora sudah lumayan mahir dalam m3nyu5u1 baby Wilson, dan senyumnya mengembang dengan sempurna, ketika melihat sang baby begitu lahap sekali saat n3n3n dengannya.


Meninggalkan Enzo dan Aurora yang sedang sibuk dengan baby Wilson, kita beralih ke rumah kontrakannya Ayah Ebert.


Pagi ini Ayah Ebert dan Mama Siljie sedang sibuk di ladang mereka, untuk menanam sayuran dan mengambil beberapa yang sudah siap panen.


Mereka terpaksa menikmati keseharian mereka saat ini dengan berkebun, karena memang itulah yang bisa mereka lakukan untuk menyambung hidup.


" Ma, kira-kira kapan Jeanne akan melahirkan Ma?? ," tanya Ayah Ebert.


" Kalau tidak salah, minggu-minggu ini deh Ayah ," jawab Mama Siljie.


" Memangnya kenapa Yah?? ," tanya Mama Siljie.


" Tidak apa-apa ," jawab Ayah Ebert.


" Ayah hanya takut jika uang simpanan Ayah tidak cukup untuk membiayai persalinannya Jeanne ," kata Ayah Ebert lagi.


" Mama juga tidak bisa membantu Ayah, karena semua perhiasan Mama masih berada di rumah kita yang dulu ," kata Mama Siljie.


" Kalaupun mau mengambil, pasti akan dilarang oleh para anak buah Tuan Enzo ," kata Mama Siljie lagi.


" Apakah laki-laki 6471n9an itu pernah datang menemui Jeanne, Ma?? ," tanya Ayah Ebert kepada Mama Siljie.


" Tidak pernah sama sekali Ayah, dan terakhir kali kita bertemu dengan laki-laki itu ketika di rumah kita yang dulu ," jawab Mama Siljie.


Bagaimana Mama Siljie, Jeanne atau Ayah Ebert bisa bertemu dengan Freed, dia saja saat ini sedang berada di dalam penjara, karena kasus perampokan disertai kekerasan dan juga p3m3rk0544n.


Freed dituntut penjara oleh Hakim lebih dari sepuluh tahun penjara, dan sepertinya dia akan menghabiskan sisa hidupnya di dalam penjara yang ada di Negara New Zealand dalam waktu yang sangat lama.

__ADS_1


" Itulah hasil didikan dari Mama, Jeanne bertemu dengan laki-laki yang salah, yang cuma mau memanfaatkan tubuhnya saja tanpa mau bertanggung jawab dengan anak kandungnya sendiri ," kata Ayah Ebert.


" Apakah Ayah juga bertanggung jawab dengan Aurora, bahkan Ayah lebih memilih Jeanne dibandingkan dia!! ," kata Mama Siljie tidak terima.


" Jangan bawa-bawa nama Aurora di permasalahan kita, karena ini tidak ada sangkut pautnya dengan dia sama sekali!! ," marah Ayah Ebert.


Ayah Ebert lalu melepaskan sarung tangan berkebunnya dan meletakkan disembarang tempat alat-alat berkebunnya, untuk masuk ke dalam rumah meninggalkan Mama Siljie.


Sedangkan Mama Siljie yang melihat suaminya marah kepadanya, dia hanya bisa memendam kemarahan itu di dalam hatinya saja.


Baru saja Ayah Ebert masuk ke dalam rumah, tiba-tiba telinga Mama Siljie mendengar sang suami berteriak memanggil namanya.


Tentu saja Mama Siljie langsung bergegas masuk ke dalam rumah, untuk melihat situasi yang sedang terjadi.


" Astaga Jeanne!! ," teriak dari Mama Siljie.


Karena Jeanne sudah terduduk di lantai dengan Ayah Ebert yang berusaha membangunkannya.


" Ma, ayo kita segera membawa Jeanne ke rumah sakit sekarang juga ," kata Ayah Ebert.


" Ayo Ayah ," jawab Mama Siljie.


Ayah Ebert dan Mama Siljie segera membawa Jeanne ke rumah sakit dengan menyetop taksi yang lewat di sekitar jalan dekat kampung mereka.


" Bertahanlah Jeanne ," kata Mama Siljie.


" Apakah Jeanne akan segera melahirkan Ma?? ," tanya Ayah Ebert yang duduk di dekat sopir.


" Sepertinya begitu Yah ," jawab Mama Siljie.


Singkat cerita, taksi yang mereka tumpangi sampai juga di rumah sakit terdekat, dan Ayah Ebert bersama Mama Siljie langsung memanggil para tenaga medis untuk membantu Jeanne yang akan segera melahirkan.


Para tenaga medis pun langsung sigap membantu Jeanne yang terlihat akan segera melahirkan.


" Anda harus segera mengurus administrasinya dulu ya Tuan, karena kami akan segera melakukan tindakan untuk Nyonya ini ," kata salah satu perawat kepada Ayah Ebert.


" Baik suster, berikan perawatan yang terbaik untuk putri saya, dan saya akan segera menyelesaikan administrasinya sekarang juga ," jawab Ayah Ebert.


Mendengar jawaban dari Ayah Ebert, para petugas tenaga medis langsung melakukan tindakan untuk memberikan penangan pertama kepada Jeanne.


Sembari menunggu Ayah Ebert menyelesaikan pembayaran administrasi, Mama Siljie masih setia menunggu di depan ruang bersalin dengan pikiran yang tidak tenang.


Sekitar setengah jam kemudian, Ayah Ebert yang sudah menyelesaikan administrasinya, dia pun lalu menyusul ke ruang bersalin untuk menunggu Jeanne yang sedang mempertaruhkan nyawanya.


" Mama ," panggil Ayah Ebert.


" Ayah ," jawab Mama Siljie.


" Apakah Jeanne sudah melahirkan Ma? ," tanya Ayah Ebert.


" Belum Ayah, dia masih berada di dalam ," jawab Mama Siljie.


" Apakah uang kita cukup Ayah untuk membiayai Jeanne melahirkan?? ," tanya Mama Siljie.


" Cukup Ma, masih sisa sedikit saja ," jawab Ayah Ebert.


" Syukurlah, Mama senang mendengarnya ," kata Mama Siljie.


Mereka berdua setelah berbincang sebentar, langsung terdiam lagi, karena pikiran mereka sedang fokus memikirkan nasib Jeanne.


Selang beberapa menit kemudian, telinga mereka berdua mendengar suara tangisan baby yang sangat keras sekali.


Senyum Mama Siljie dan Ayah Ebert mengembang sempurna, karena itu artinya cucu pertama mereka sudah lahir dengan selamat.


" Ayah itu cucu kita ," kata Mama Siljie.


" Iya Ma ," jawab Ayah Ebert.


Lima belas menit kemudian, pintu ruang bersalin akhirnya terbuka juga dari dalam, dan keluarlah Dokter kandungan yang membantu Jeanne melahirkan.


Ayah Ebert dan Mama Siljie yang melihat sang Dokter, langsung bergegas mendekati Dokter tersebut.


" Dokter bagaimana keadaan dari putri dan cucu kami?? ," tanya Ayah Ebert.


" Untuk cucu anda saya ucapkan selamat Tuan, dia lahir dengan selamat dan berjenis kelamin laki-laki ," jawab sang Dokter.


" Tapi ..... ," kata sang Dokter menjeda perkataannya.


" Tapi apa Dokter,?? bagaimana keadaannya putri saya Jeanne?? ," tanya Mama Siljie merasa khawatir sekali.


" Maafkan kami Nyonya, putri anda tidak bisa kami selamatkan, dia meninggal setelah melahirkan putranya ," jawab sang Dokter.


" Maksud Dokter, Jeanne meninggal?? ," tanya Mama Siljie lagi untuk memperjelas.


Sang Dokter hanya bisa mengangguk sambil menundukkan kepalanya.


" Tidak,!! Dokter pasti salah memprediksi!! ," bantah Mama Siljie.


" Nyonya Jeanne mengalami pendarahan hebat Nyonya ketika melahirkan putranya ," kata sang Dokter.


" Sebelum melahirkan tadi, kami sudah memberitahunya, jika persalinannya nanti akan bermasalah, tapi Nyonya Jeanne masih ingin mempertahankan anaknya walau nyawa dia taruhannya, Nyonya ," kata sang Dokter lagi.


" Jeanneeeee ...... ," suara tangisan pilu dari Mama Siljie.


Mama Siljie bahkan sampai jatuh terduduk di atas lantai, karena merasa syok mendengar kematian dari sang putri yang sangat di cintainya.


Ayah Ebert yang melihat sang istri seperti terguncang jiwanya, karena kematian dari putri mereka, dia langsung merangkul dan memeluk Mama Siljie ke dalam pelukannya.


Tidak cuma Mama Siljie saja yang merasa bersedih, Ayah Ebert pun juga merasa bersedih, karena bagaimana pun juga, Jeanne tetaplah anak kandungnya.

__ADS_1


...✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️...


...***TBC***...


__ADS_2