
Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore, tadi setelah Dickie dan Aurora bermanja ria di dalam kamar mandi, mereka lalu makan siang, setelahnya, tidur siang sampai jam segini mereka belum bangun juga.
Biarkanlah mereka tidur, karena kita tidak akan membahas mereka terlebih dahulu.
Di saat jarum jam sudah menunjukkan pukul tiga sore, barulah Jeanne kembali pulang ke rumah sang Mama.
Baru saja Jeanne melangkah masuk ke dalam rumah, dia langsung saja di sambut oleh sang Mama yang sudah terlihat khawatir dan ingin marah secara bersamaan.
" Jeanne, kamu dari mana saja hah,!! jam segini baru pulang, di telepon pun tidak kamu angkat!! ," kata Mama Siljie.
Sebelumnya Jeanne sudah berpikir, alasan apa yang tidak bakal membuat sang Mama marah kepadanya.
Mama Siljie yang melihat ada begitu banyak bekas cup4n9 di leher Jeanne ulah dari Freed, membuat Mama Siljie langsung mencerca lagi banyak pertanyaan kepada Jeanne.
" Apa ini Jeanne, kenapa leher kamu banyak bekas seperti hah!! ," kata Mama Jeanne lagi.
" Ini ..... emm ini karena ulah Tuan Enzo Diedrich Ma, iya karena dia ," jawab Jeanne berbohong.
" Tuan Enzo Diedrich?? ," kata Mama Siljie.
" Iya, karena semalam Jeanne baru saja menghabiskan malam bersamanya Ma ," jawab Jeanne semakin berbohong lagi.
" Benarkah? ," tanya Mama Siljie penasaran.
Melihat sang Mama yang sudah mulai lunak dan tidak terlihat marah lagi kepadanya, Jeanne pun semakin menjadi untuk berbohong kepada sang Mama.
" Iya Ma, semalam Jeanne berhasil memikatnya, bukankah Mama sendiri yang menginginkan Jeanne merayunya ," jawab Jeanne.
" Dan sekarang inilah hasil ulahnya semalam Ma, bahkan ketika Jeanne ingin pulang ke rumah tidak diijinkan oleh dia ," kata Jeanne lagi.
" Bagus Jeanne, kerja yang bagus, Mama harap kamu bisa segera menikah dengannya, karena Mama sudah tidak sabar ingin segera menjadi semakin tambah kaya ," kata Mama Siljie kepada Jeanne.
Jeanne tersenyum mencurigakan, namun Mama Siljie tidak menyadarinya.
" Iya, betul Mama, jika Jeanne sudah menjadi istrinya, Jeanne akan meminta ini dan itu darinya dengan sesuka hati Jeanne ," jawab Jeanne kepada sang Mama.
" Bagus, ya sudah kamu istirahat saja sana ," kata Mama Siljie lagi.
" Baik Ma ," jawab Jeanne sambil tersenyum.
Mama Siljie hanya mengangguk saja, dan Jeanne pun langsung berlalu masuk ke dalam kamarnya sendiri.
Sungguh sangat bodoh sekali Mama Siljie, bisa dibodohi oleh Jeanne dengan sangat mudah sekali.
Sedangkan Jeanne, dia langsung mengusap dadanya merasa lega dan tersenyum penuh arti, sebab sudah bisa membohongi sang Mama untuk saat ini.
Jadi sekarang yang Jeanne pikirkan cuma satu, menciptakan kebohongan yang lain, supaya tidak ketahuan apa yang tadi sudah dia katakan kepada sang Mama, terutama tentang hubungannya dengan Freed sekarang.
Karena jika sampai ketahuan oleh Mama Siljie, pastilah Mama Siljie akan sangat marah sekali kepadanya.
Ada seseorang yang daritadi memperhatikan Jeanne serta Mama Siljie, dan dia mendengar sangat jelas sekali apa yang Jeanne katakan kepada sang Mama, orang tersebut adalah Max.
Max yang melihat Jeanne sudah berlalu masuk ke dalam kamarnya sendiri, dia langsung saja ke luar dari tempat persembunyiannya sambil memikirkan sesuatu.
" Ini pasti ada yang tidak beres, aku harus segera menyelidikinya sendiri ," kata batin Max.
" Karena tidak mungkin Tuan Enzo Diedrich yang kaya raya dan juga tampan, mau dengan wanita seperti Jeanne ," kata batin Max lagi.
Setelah mengatakan itu di dalam hatinya, Max langsung masuk ke dalam kamarnya sendiri yang tidak jauh dari kamar Jeanne.
Max yang sudah masuk ke dalam kamarnya, dia langsung menyuruh orang suruhannya untuk menyelidiki semua tentang Jeanne yang semalam tidak pulang ke rumah.
Entahlah, Max ini bisa dibilang baik atau jahat seperti sifat sang Mama atau sang adik, namun jika mengangkut kebohongan dan itu berhubungan dengan sang adik, dia akan selalu berusaha membongkarnya.
Karena menurut Max, sang adik pantas mendapatkan pelajaran dari sikapnya yang terlalu manja dan di manja oleh Mama mereka.
Meninggalkan mereka semua sekarang kita mencoba membahas si Arny lagi.
Arny yang sudah selesai urusan pekerjaannya, dia mulai mendekati Linnea lagi.
Namun, ketika Linnea melihat Arny lagi, setelah beberapa hari lamanya hidupnya terasa tenang, sekarang dia merasa sedikit takut, jika suatu waktu dirinya akan keceplosan di hadapan Arny tentang Aurora.
" Anda kenapa datang ke sini lagi sih Tuan Arny? ," tanya Linnea kepada Arny.
" Kenapa memangnya Linnea,? tidak boleh,? kita kan katanya sudah berteman ," jawab Arny.
__ADS_1
" Bukannya begitu, hanya saja saya masih merasa tidak nyaman ada di dekat anda ," jawab Linnea.
" Bisa tidak sih Linnea kamu memanggilnya aku - kamu saja, biar tidak terkesan formal begini, lagi pula kamu juga bukan karyawan aku ," kata Arny.
" Tidak bisa, dan saya tidak mau ," jawab Linnea.
" Sudah sana pergi saja, saya mau berangkat bekerja ," kata Linnea.
Linnea lalu pergi meninggalkan Arny yang masih terus menatap ke arahnya.
Kali ini Arny tidak mencegah, namun dia seperti memikirkan sesuatu, dan tidak sengaja dia kepikiran sesuatu di dalam otaknya yang cukup gila idenya.
Senyum licik pun tercetak jelas di wajah tampan Arny, dan setelah Linnea cukup jauh dari pandangannya, Arny pun langsung saja masuk kembali ke dalam mobilnya.
Linnea dari jauh yang melihat Arny sudah pergi dan tidak mengejarnya, dia cuek-cuek saja tidak peduli.
Sesampainya di toko roti tempatnya bekerja, Linnea tiba-tiba dipanggil oleh sang bos pemilik toko roti tempatnya bekerja.
" Permisi Tuan Bruno, apakah Tuan memanggil saya ," tanya Linnea kepada bosnya.
" Oh Linnea, silahkan duduk dulu ," jawab sang bos kepada Linnea.
Linnea langsung saja duduk di kursi yang ada di depan meja kerja Bruno.
" Begini Linnea, ada yang ingin saya sampaikan kepada kamu ," kata Bruno kepada Linnea.
" Tentang apa ya Tuan Bruno, apakah anda akan memecat saya? ," tanya Linnea.
" Bukankah saya selama ini bekerja dengan baik, dan tidak melakukan kesalahan sama sekali ," kata Linnea lagi merasa sangat ketakutan.
" Bukan, bukan itu Linnea, dengarkan saya dulu ," jawab Bruno.
" Begini, saya punya teman, dia sedang membutuhkan seorang sekretaris, dan saya lihat dari CV kamu dulu ketika melamar kerja di sini, kamu ada bakat dalam pekerjaan itu, apakah kamu mau Linnea?? ," tanya Bruno.
" Gajinya besar lho, sayang jika kamu lewatkan ," kata Bruno lagi.
" Jika kamu mau, teman saya itu sudah menitipkan berkas kontrak kerjasamanya kepadaku, kamu bisa langsung menandatanganinya dan besok kamu bisa langsung bekerja di sana ," kata Bruno kepada Linnea.
" Kenapa harus saya Tuan Bruno, kan masih banyak karyawan yang lain yang lebih pintar dari saya? ," tanya Linnea.
" Pikirkanlah, bukankah kamu juga ingin mengumpulkan uang lebih banyak lagi untuk masa depan kamu dan ke dua orang tua kamu Linnea ," kata Bruno kepada Linnea yang sedang berpikir.
" Jika masih bingung, saya beri waktu kamu sampai jam istirahat nanti ," kata Bruno kembali.
" Emm, baiklah, saya terima Tuan Bruno, di mana saya harus bertanda tangan ," jawab Linnea pada akhirnya.
Bruno langsung saja tersenyum penuh arti mendengar jawaban dari Linnea.
Bruno lalu mengeluarkan sebuah berkas kerjasama yang ada di dalam laci mejanya, dan lalu dia menunjukkan kepada Linnea di mana dia harus menandatangi berkas tersebut.
" Ini alamat kantor Perusahaan tempat kamu bekerja besok Linnea, datanglah memakai pakaian kantoran yang bagus, dan bilang saja kamu datang atas suruhan saya, pasti kamu akan langsung ditunjukkan di mana kamu harus bekerja ," kata Bruno kepada Linnea sambil menyerahkan sebuah kartu nama.
" Baik Tuan Bruno terimakasih ," jawab Linnea sambil mengambil kartu nama tersebut.
" Tapi ini apakah saya boleh bekerja untuk satu hari ini saja Tuan Bruno? ," tanya Linnea.
" Boleh, tentu saja boleh Linnea, nanti jika sudah jam pulang kerja, kamu datang ke sini lagi untuk mengambil gaji terakhir kamu sekalian uang bonus untuk kamu ," jawab Bruno kepada Linnea.
" Baik Tuan Bruno saya mengerti, kalau begitu saya permisi dulu ," jawab Linnea.
Bruno hanya mengangguk saja kepada Linnea, dan Linnea langsung berlalu ke luar dari dalam ruang kerja tersebut untuk langsung bekerja kembali seperti biasanya.
Setelah kepergian dari Linnea, Bruno langsung saja mencoba menghubungi seseorang.
" Halo, bagaimana Tuan Bruno? ," tanya orang itu kepada Bruno.
" Sesuai permintaan anda Tuan Arny, Linnea besok bersedia datang ke kantor anda, dan bahkan Linnea sudah menandatangi berkas kontrak kerjasamanya, tanpa membacanya terlebih dahulu ," jawab Bruno kepada Arny.
Ternyata eh ternyata Bruno sudah bekerja sama dengan Arny, dan itu semua tadi adalah rencana Arny untuk bisa selalu berdekatan dengan Linnea.
" Bagus, akan saya transferkan uang ke rekening anda, asal jangan lupa beri dia uang gajinya dan bonus yang cukup banyak, awas saja jika anda berbohong kepada saya, akan saya hancurkan toko roti anda ," kata Arny kepada Bruno.
" Siap Tuan Arny, anda bisa percaya kepada saya ," jawab Bruno.
" Bagus, kalau begitu saya tutup dulu teleponnya ," kata Arny.
__ADS_1
" Baik Tuan ," jawab Bruno, dan sambungan telepon mereka lalu terputus.
Arny di seberang sana, langsung tersenyum senang karena rencananya sebentar lagi akan berhasil dengan sempurna, dan dia sudah tidak sabar ingin bisa segera melihat Linnea setiap waktu dan setiap saat kapanpun yang dia mau.
Arny juga sudah memberitahukan kepada Frank sekretaris kepercayaannya, jika besok ada sekretaris baru dan dia adalah wanita yang dia sukai.
Jadi Frank disuruh menjaga dan mengawasi Linnea selama dia bekerja menjadi sekretarisnya, sebab Arny tidak mau jika Linnea sampai terkena bullying di kantornya.
Karena itu pasti akan membuat Linnea tidak betah dan mengundurkan diri dari Perusahaannya.
" Satu hal lagi Frank ," kata Arny kepada Frank.
" Jika besok Linnea sudah datang, ajaklah dia pergi ke salah satu butik, untuk membeli pakaian yang bagus, dan kasih tahu dia standar pakaian yang saya mau, sebab saya tidak mau jika Linnea sampai di permalukan di Perusahaan ini ," kata Arny lagi kepada Frank.
" Baik Tuan Arny, saya mengerti ," jawab Arny.
" Bagus, sudah sana kamu kembali bekerja lagi ," kata Arny.
Sebelum berlalu pergi, Frank langsung menundukkan sedikit badannya kepada Arny, dan Arny hanya mengangguk saja kepada Frank.
Arny berkata seperti itu kepada Frank, bukan maksud hati tidak menerima Linnea apa adanya, Arny begitu karena dia ingin melindungi Linnea, sebab Perusahaannya bukan Perusahaan kecil, pasti yang datang ke Perusahaannya adalah orang-orang berkelas semua.
Akhirnya, jam pulang bekerja pun tiba, Linnea yang sudah saatnya pulang, dia langsung mencoba menemui Bruno kembali di dalam ruang kerjanya.
" Oh iya Linnea, aku sudah menyiapkannya sejak tadi, sini silahkan masuk dulu ," kata Bruno ketika melihat Linnea.
Bruno lalu memberikan Linnea sebuah amplop yang kemungkinan besar adalah sebuah uang gaji dan juga bonus yang tadi sudah Bruno janjikan.
Tanpa melihat terlebih dahulu berapa jumlahnya, karena merasa tidak enak dengan Bruno, Linnea pun langsung memasukkannya ke dalam tas yang di bawanya.
" Terimakasih banyak Tuan, kalau begitu saya permisi dulu ," kata Linnea.
" Iya Linnea, semangat bekerja di tempat yang baru ," jawab Bruno memberi semangat.
Linnea hanya mengangguk dan tersenyum saja kepada Bruno, setelahnya Linnea lalu berlalu pergi dari dalam toko roti itu untuk kembali pulang ke rumah kontrakannya.
Entahlah apa yang akan terjadi besok dengan Linnea, ketika tahu jika dia sudah mulai bekerja bersama laki-laki yang ingin dia hindari.
Jika Arny sedang menyusun rencananya untuk mendekati Linnea, berbeda dengan Enzo yang masih belum menemukan jejak keberadaan Aurora.
Terserah kamu saja Enzo, karena jika aku belum memperbolehkan kalian bertemu, sekuat tenaga kamu berusaha mencari, tidak akan dapat bisa menemukannya.
Enzo yang saat ini sedang bersama Martin di sebuah Cafe, sambil menyesap minumannya, dia mencoba bertanya kepada Martin.
" Bagaimana dari hasil pencarianmu Martin,? apakah kamu belum menemukan siapa dalang di balik Aurora kabur dariku?? ," tanya Enzo kepada Martin.
" Belum, entahlah, sangat pintar sekali gadis itu kabur darimu Enzo, dan baru kali ini kamu dibuat kalang kabut oleh seorang gadis miskin yang tidak ada apa-apanya dibandingkan dirimu ," jawab Martin kepada Enzo.
" Apa kamu tidak mencoba menyerah saja Enzo dan mencari pengganti dari gadis itu untuk mengisi kekosongan hatimu? ," tanya Martin.
" Ingin ku rasanya berhenti berharap, namun semakin aku mencoba melupakannya, hati ini semakin sakit dibuatnya ," jawab Enzo.
" Sungguh kuat sekali pengaruh dari gadis itu untuk mu kawan ," kata Martin sambil bertepuk tangan.
" Cuma karena cinta satu malam saja, bisa wao ... merubah segalanya yang ada di dalam dirimu ," kata Martin lagi.
" Hidupmu sekarang seperti berpusat kepadanya saja Enzo, apakah kamu tidak menyadari akan hal itu?? ," tanya Martin kepada Enzo.
" Aku tidak butuh ceramah darimu Martin, jangan membuat kepalaku semakin pusing saja!! ," jawab Enzo.
" Aku pergi, bayar minuman yang aku pesan ," kata Enzo lagi kepada Martin.
Tanpa merasa bersalah dan tidak mau mempedulikan Martin yang masih ingin berbicara dengannya, Enzo pun memilih beranjak pergi dari Cafe tersebut.
Martin yang melihat sikap Enzo, dia hanya bisa menggelengkan kepalanya saja, tanpa mau menghentikan langkah kakinya.
" Aku yakin, jika kamu sudah menemukan gadis itu, pasti dia akan kamu kurung di dalam sangkar emas ," kata Martin.
" Jika gadis itu sudah bersamamu, aku antara kasihan dan tidak nantinya Enzo, semoga saja kamu bisa segera menemukannya, dan kamu tidak melakukan kesalahan yang nantinya akan membuatmu menyesal dikemudian hari ," kata Martin lagi.
Setelahnya, karena urusannya di dalam Cafe itu sudah selesai, Martin pun ikut berlalu pergi dari Cafe tersebut.
...✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️...
...***TBC***...
__ADS_1