
Happy reading guys 😘😘😘
pagi hari setelah selesai Aurora menanyakan keberadaan Lala pada Aldrick.
"Dimana Lala?"
"Untuk apa kamu menanyakan keberadaan pengkhianat itu "
"Tapi dia sudah minta maafkan."
"Pengkhianat harus diberi pelajaran."
"Aku mohon jangan siksa Lala, berkat dia juga kan kamu mengetahui segalanya."
"Aku mohon lepaskan Lala."
Aldrick menatap tajam Aurora. " jangan ikut campur urusan ku."
"Oke,, tapi jangan harap aku akan memaafkan mu." balas Aurora.
Akhirnya mau tidak mau Aldrick membebaskan Lala namun tidak mempekerjakan kembali di Mansion nya.
*****
Semakin hari sikap Aurora makin berani sama Aldrick, sementara Aldrick makin melunak , Aldrick sudah jarang marah marah pada Aurora dia sekarang lebih senang menggodanya,membuat Aurora mengomel adalah hobi barunya.
Usia Brian sudah tujuh bulan, perkembangan Brian tergolong sangat cepat karena diusianya yang masih tujuh bulan dia sudah bisa merangkak.
Brian adalah bayi yang sangat Aktif dia tidak suka di gendong, dia lebih suka bermain.
Sore itu Brian sedang bermain main di kandang Zack dan Luck kedua hewan peliharaan Aldrick, Aurora sengaja mengeluarkan kedua hewan buas tersebut membiarkan nya bermain dengan Brian di taman.
Brian menarik narik jenggot Luck ,Brian tertawa lucu, para Maid dan pekerja disana sudah tidak asing lagi dengan pemandangan itu semenjak Tuan mudanya berusia empat bulan.
Saat sedang asik asiknya Brian bermain dia mendengar suara mobil Papanya segera dia merangkak dengan cepat menyambut kedatangan Papanya.
"Pa,,pa,,,pa,,pa,,," ucap Brian sambil memainkan ludahnya sendiri.
9
Kemudian Brian tertawa melihat kedatangan Papanya yang mendekat kearahnya.
"Pa,,Pap,,,pa." Brian tertawa sambil bertepuk tangan.
Aldrick mendelik melihat wajah Putranya yang cemong cemong, Aldrick berjongkok dan mengambil Brian ke dalam gendongannya.
"Kewarasan Mamamu semakin berkurang ya sayang, kenapa dibuat seperti ini haha,,." Aldrick tidak dapat menahan tawanya.
"Habis bermain apa?" tanya Aldrick sambil mencium wajah Brian.
"Hm,,, main apa, kok baunya sampai acem begini."
Aldrick langsung bermain dengan Brian, melihat itu Aurora tersenyum, belakangan ini Aldrick sudah menunjukkan perubahannya,dia tidak lagi kasar kepada nya.
Aurora datang dengan membawa puding buah ditangannya.
"Sini sama Mama dulu ." Aurora mengambil Brian dari Aldrick.
"Makan" ucap Aurora.
Brian yang melihat ada makanan tertawa senang.
"Kamu mau juga Boy?"
,
"Brian tanganmu kotor ,Ayo cuci tangan dulu." Aurora membawa Brian pergi untuk cuci tangan setelah selesai Aurora memberikan satu potong puding.
__ADS_1
"Jangan dimainin pudingnya Nak." tegur Aurora lembut.
"wla,,wla,,, " Brian memainkan pudingnya, ******* ***** hingga hancur kemudian memakan remahan puding nya.
"Brian kalau makan jangan kemana mana Nak."
Brian bayi kelewat aktif jadi sulit sekali membuatnya diam, bahkan hal yang paling ekstrim adalah Brian merangkak menaiki tangga.
Aldrick menyediakan satu ruangan untuk tempat bermain Brian di dalamnya sangat lengkap dengan berbagai jenis permainan,namun Brian bukan hanya bermain di dalam tempat bermainnya melainkan dia bermain di seluruh Mansionnya.
Entah bagaimana jika Nanti Brian sudah bisa berjalan bagaimana repotnya Aurora menjaga Brian.
"Dug " kepala Brian terbentur meja di depannya.
"Boy,," Aldrick segera menghampiri Brian yang mengelus kepalanya sendiri.
"Pap,,,pa,," Brian tidak menangis dia malah tertawa memanggil Papanya.
"Anak Papa pintar tidak menangis."
"Sayang Mandi dulu Yuk, sudah sore." ajak Aurora.
"Biar aku saja yang mandikan Brian ,kamu istirahat dulu." ucap Aldrick.
"Em,," balas Aurora.
Aldrick membawa Brian ke kamar mandi, tangan nya sudah sangat lincah memandikan Brian, sambil memandikan Brian Aldrick juga bermain dengan Brian membuat Brian tertawa.
Keluar dari kamar mandi Aurora menyambut nya dengan pelototan mata.
"Kamu ini mandi atau pingsan sih?" omel Aurora.
"Tidur." balas Aldrick membuat Aurora semakin kesal.
"Pap,,,pa,,pap,," Celoteh Brian.
"Jangan Papa terus coba Brian bilang Mama." ucap Aurora.
"Bukan Sayang Mama."
"Pap,,pa."
Aldrick kembali ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yamg sudah setengah basah.
Aurora meletakkan Brian di karpet bulu di bawah dia mengolesi Brian minyak telon namun baru selesai perutnya saja Brian sudah merangkak kesana kemari.
"Brian diam dulu sayang." ucap Aurora mengikuti Brian yang tidak bisa diam.
"Sini pakai popok dulu."
Brian merangkak menuju tempat Popoknya kemudian mengambil satu dan memakannya sebagai topi membuat Aurora sangat gemas.
"Hahahaha,,, haha." Brian kenapa popoknya dijadikan topi, sini Mama yang pasangin ya.
Bukannya mendekat Brian justru merangkak menjauhi Aurora.
"Ha,,, Pa,,,pap." tidak mengerti lagi bagaimana Brian bisa se aktit itu, diamnya pas tidur saja.
Aldrick keluar dari kamar mandi dengan wajah segar nya dia menggunakan celana training dan kaos putih polos yang mencetak dada bidangnya.
"Brian kenapa belum pakai baju Nak?" ucap Aldrick.
Melihat Aldrick Brian merangkak mendekati Aldrick, namun ketika melihat Aldrick memegang baju miliknya Brian berbalik merangkak menjauhi Aldrick.
Aurora dan Aldrick memakaikan Baju Brian, Brian yang tidak mau memakai baju menangis kencang.
"Nanti Brian masuk angin sayang kalau tidak memakai baju " ucap Aurora lembut.
__ADS_1
Brian masih terus menangis sambil menarik narik baju yang dipakainya.
"Brian tidak mau pakai baju ini mau pakai yang mana?" Aldrick menggendong Brian membawanya ke Walk in Closet milik Brian,namun Brian tetap menangis tidak mau memakai baju.
"Sini sama Mama." Aurora menggendong Brian membawanya keluar.
"Tuh,, lihat sayang ada singa." tunjuk Aurora pada layar tv yang menayangkan kartun singa.
"Hu,, Singa nya seperti Zack ya , itu singanya siapa sayang?"
Akhirnya Brian diam dan duduk di depan tv sambil memainkan mainan di depannya.
Melihat Putranya sudah tenang Aldrick pergi ke ruang kerjanya, banyak sekali pekerjaan yang harus dia kerjakan.
Aurora menitipkan Brian pada Buk Sum terlebih dahulu karena dia merasa kebelet.
Bayi lincah itu yang tidak melihat keberadaan Mama dan Papanya langsung merangkak pergi mencari keberadaan orang tuanya.
Entah bagaimana caranya,bayi imut tersebut sampai di depan pintu ruang kerja Aldrick, pintunya yang tidak tertutup dengan rapat membuat Brian dengan mudahnya memasuki ruangan Aldrick.
Brian merangkak tanpa suara dan masuk kedalam kolom meja kerja Aldrick.
Di depan TV Aurora kebingungan mencari keberadaan putranya.
"Brian dimana kamu Nak?"
"Bibik tidak melihat Brian kemana?" tanya Aurora.
"Maaf Nyonya saya tinggal kedapur sebentar saat saya kembali Tuan Muda sudah tidak ada." jawab Bik Sum.
"Apa Brian sama Papanya?"
"Maaf Nyonya,tapi semenjak Tuan masuk ke dalam ruang kerjanya, beliau tidak keluar lagi." ucap Bik Asih.
Aurora sudah sangat khawatir, bagaimana bisa bocah sekecil Brian hilang,dia tidak dapat menahan air matanya, bagaimana jika terjadi sesuatu pada Putranya.
Seluruh penghuni Mansion dibuat kalang kabut mencari keberadaan Brian, mereka menduga pasti Brian diculik musuh Aldrick.
Dengan berderai air mata Aurora memasuki ruang kerja Aldrick, dilihat nya Aldrick fokus menatap layar laptop di depannya.
"Brian tidak bersamamu?" tanya Aurora.
"Bukankah Brian bersamamu." jawab Aldrick.
"Brian hilang hiks,,." ucap Aurora langsung membuat Aldrick berdiri seketika.
"Hilang bagaimana maksud mu?" tanya Aldrick sedikit keras.
"Brian tidak ada hiks,,, tadi, aku kebelet."
"Lalu kamu meninggalkan Brian sendiri begitu."
"Bukan, aku hiks,, menitipkan pada Bik Sum,tapi bik sum tinggal ke dapur dan Brian sudah tidak ada."
"Kenapa kalian bisa seteledor ini,hanya menjaga Bayi sekecil Brian kalian kecolongan."
Aldrick dengan wajah murkanya menghubungi anak buahnya untuk mencari keberadaan Putranya.
"Hiks,,, hiks,,, bagaimana kalau Brian kenapa napa." tangis Aurora.
Aldrick menarik Aurora kedalam pelukannya." Sudah Brian pasti baik baik saja." ucap Aldrick menenangkan Aurora.
_
_
_
__ADS_1
TBC
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK 😘😘😘