
Happy reading guys 😘😘😘
Jam lima pagi Aldrick bangun terlebih dahulu,dia melihat adanya selimut ditubuhnya,pasti Aurora pelakunya pikir Aldrick.
Dengan perlahan dia menggendong Brian membawanya ke kamar milik Brian, disana terlihat Aurora yang tengah terlelap dengan tenang,dengan sangat hati hati Aldrick meletakkan Brian di samping Aurora.
Aldrick mencium kening Brian lama setelah itu mengecup kening Aurora singkat namun bermakna.
"Maaf, jika selama ini aku egois memaksamu tetap berada disisiku."ucap Aldrick setelah itu keluar dari kamar Brian.
Aldrick bersiap memakai pakaian kerjanya dan langsung berangkat tanpa menunggu Anak dan Istrinya bangun.
Jam enam pagi Aurora kebangun karena mendengar tangisan Brian, Aurora bangun mengumpulkan nyawanya.
Aurora mengingat jika semalam Brian tidur dengan Aldrick di depan televisi mengapa bisa berada di sebelahnya.
"Cup cup anak tampan Mama jangan menangis dong." Aurora menenangkan Brian yang menangis kencang.
"Pap,,,pa." Brian langsung mencari keberadaan Aldrick.
"Papa mungkin dikamar sayang."
"Huwa,,, Papa,,pa,,pa." Brian makin menangis sambil memanggil Papanya.
Aurora menggendong Brian kemudian membawanya kedalam kamarnya.
"Papa,,papa." panggil Aurora tapi tidak ada jawaban sama sekali.
"Mungkin Papa diruang kerjanya sayang, sekarang Brian mandi dulu setelah itu baru cari Papa lagi."
Brian tetap menangis, akhirnya Aurora membawa Brian ke kamar mandi dan memandikan Brian meskipun lagi menangis.
Setelah selesai Aurora kembali menggendong Brian membawa ke ruang kerja Aldrick,namun Aurora juga tidak menemukan keberadaan nya.
Aurora berkeliling seluruh Mansion sambil menggendong Brian mencari Aldrick tapi kata penjaga depan Aldrick sudah berangkat kerja.
Karena tidak menemukan keberadaan Papanya Brian kembali menangis kencang membuat maid dan pekerja Mansion khawatir.
"Sama bik Sum dulu ya Nak, Mama mandi dulu setelah itu kita ke perusahaan Papa." Aurora memberikan Brian pada Bik Sum tapi Brian tidak mau dan memeluk tubuh Aurora erat.
Aurora menghela nafas kemudian membawa Brian ke kandang Zack dan Luck.
"Mau main sama Zack dan Luck?" tawar Aurora.
Brian langsung berhenti menangis dan berusaha menggapai kedua hewan buas tersebut.
Aurora menurunkan Brian memerintahkan anak buah Aldrick untuk membuka kandang Zack dan Luck.
Melihat Brian yang sudah bermain bersama dua hewan buas tersebut Aurora segera masuk ke kamarnya untuk mandi.
Selesai Mandi Aurora memilih baju yang cocok untuknya,dia bertekad akan meminta maaf pada Aldrick dan memperbaiki hubungan mereka.
Aurora sedikit memoles wajahnya dengan Make up tipis, dia tersenyum didepan cermin,namun senyumnya langsung pudar mendengar tangisan putranya.
Segera Aurora berlari turun untuk melihat Putranya.
Kini mata Brian sudah sangat memerah ,dia tet6us menangis mencari keberadaan Papanya.
"Sayang,,sudah ya Nangis nya kita ke kantor Papa kita cari Papa."
Aurora meminta supir untuk mengantarkan dirinya ke Kantor Aldrick, sepanjang perjalanan Aurora tidak berhenti bicara dia terus berusaha mengalihkan perhatian Brian agar tidak menangis.
"Wah,, sayang lihat itu nak, itu Truk besar ya Nak."
Sampai di perusahaan Aldrick, Aurora menghampiri Resepsionis menanyakan Aldrick.
"Permisi Mbak bisa ketemu Tuan Aldrick?" ucap Aurora sopan.
"Mohon maaf Nyonya, apa Nyonya sudah memiliki janji?"
"Em,, belum Mbak."
"Papa,,pa,,pa." celoteh Brian.
"Mohon maaf Nyonya jika belum memiliki janji maka tidak bisa bertemu Tuan Aldrick."
"Tapi mbak."
"Maaf Nyonya tapi ini sudah peraturan perusahaan."
"Kami Istri dan Anaknya Tuan Aldrick mbak, bisakah tolong beritahu kepada beliau."
"Baiklah tunggu sebentar Nyonya." ucap Resepsionis itu karena tidak tega melihat Aurora dan dia juga melihat wajah anak itu menang benar benar persis Aldrick.
"Mohon maaf Nyonya kata Sekertaris Tuan Aldrick, Tuan Aldrick saat ini sedang ada perjalanan bisnis ke Jepang."
Aurora memejamkan matanya, kenapa Aldrick pergi ke luar negeri tanpa berpamitan.
"Sayang kita tunggu Papa dirumah ya Nak."
Karena tidak ketemu dengan Papanya Brian kembali menangis kencang menyita perhatian karyawan di kantor Aldrick.
__ADS_1
"Bisa bawa pergi anaknya tidak, bikin gaduh perusahaan saja,kami jadi tidak fokus." bentak salah satu karyawan disana.
"Maaf ." ucap Aurora langsung membawa Brian yang masih menangis pergi dari sana.
Sampai di Mansion Brian masih menangis dia tidak mau makan atau meminum susunya membuat Aurora khawatir, dia jadi ikut menangis karena sudah sangat tidak tega pada Putranya.
"Kamu dimana sih Mas." ucap Aurora yang tanpa menyebut Aldrick Mas.
"sudah ya nak nangisnya, Mama jadi ikut nangis nih,Brian sebelumnya belum pernah menangis seperti ini."
Brian tidak mau diam meskipun Aurora membawanya ke kandang Zack dan Luck,Brian baru diam setelah terlelap namun Aurora masih sangat khawatir karena Brian belum makan apapun.
Jam sebelas siang Brian bangun dia kembali menangis mencari Papanya membuat Aurora kebingungan harus bagaimana,mau menghubungi Aldrick namun dia tidak memiliki nomernya.
"Kita jalan jalan ya Nak, Brian mau apa? , Brian mau Es krim?"
"Kita beli Es krim ya Nak."
"Atau Brian mau beli mainan baru?"
"Pap,,pa hiks,, pa hiks."
Aurora tidak tahu lagi harus bagaimana,dari pagi dia belum makan apapun begitu juga Putranya, dia takut jika Brian nanti jatuh sakit.
"Hiksz,,,maafkan Mama nak." Aurora menangis karena merasa bersalah pada Brian.
Jam dua belas malam tiba tiba bada Brian panas, dia demam mungkin karena seharian ini menangis dan hanya makan beberapa suap saja.
"Hiks,,Bik tolong hubungi Aldrick Bik."
"Tapi,, Nyonya kami tidak punya nomer Tuan Nyonya."
"Pokoknya kalian harus bisa mengunjungi Tuan, bagaimanapun caranya,kalian tanyakan pada siapapun." perintah Aurora.
Hingga jam tiga pagi demam Brian tidak kunjung menurun akhirnya Aurora membawa Brian ke rumah sakit.
Brian menangis menjerit saat Aurora menidurkan di ranjang, Brian tidak mau lepas dari Aurora.
"Sepertinya Tuan muda harus di infus Nyonya, demamnya sangat tinggi, juga sepertinya Tuan Muda kurang cairan dan kurang istirahat." ucap Dokter Andrew, Dokter yang memang sudah menjadi Dokter nya Brian dari kecil dan juga merupakan teman Aldrick.
"Hiks,,, sayang."
Brian semakin menangis saat tangannya diinfus, dia meronta minta di lepas, karena tidak tega Aurora menggendong Brian dan Bik Asih yang memegang tiang infus nya, Aurora menimang nimang Brian.
"Sudah ya Nak, laki laki tidak boleh cengeng ya."
Mungkin efek obat yang dimasukkan diinfus, perlahan Brian tertidur di gendongan Aurora, namun saat Aurora mencoba membaringkan Brian di kasurnya Brian akan bangun dan kembali menangis, akhirnya Aurora tetap membiarkan Brian tidur di gendongan nya.
Di Jepang Aldrick langsung panik saat mendengar kabar jika putranya masuk rumah sakit gara gara seharian menangis mencari dirinya.
"Brian maafkan Papa Nak." Aldrick mengacak rambutnya kasar, saat itu juga dia langsung pulang saat itu juga.
Perjalanan yang biasanya ditempuh tujuh jam tiga puluh menit, akhirnya ditempuh hanya dengan waktu empat jam tiga puluh menit.
Jam delapan Pagi Aldrick sudah sampai dirumah sakit, dia disambut dengan hormat oleh pekerja rumah sakit.
Dari kejauhan dia dapat mendengar suara tangisan Putranya, membuat hatinya begitu sakit.
Aldrick segera berlari menuju ruang rawat Brian.
"Hiks,, sayang sudah ya, nanti Papa datang." Aurora menenangkan Brian sambil menangis.
"Huwa,,, Pap,, pa,, hiks,,."
"Boy,," panggil Aldrick membuat Brian berhenti nangis seketika.
Aurora menoleh dan mendapati Aldrick dibelakangnya.
"Uwa,,, Pap,,, papa,,,." tangis Brian kembali pecah, tangannya dia ulurkan pada Brian minta di gendong.
"Sini sama Papa Nak." Aldrick dengan pelan mengambil Brian dari gendongan Aurora yang terlihat sangat pucat.
"Sudah jangan menangis Papa disini."
"Brian belum makan, coba kamu bujuk." ucap Aurora,dia mengambil mangkuk yang berisi bubur Brian.
"Makan dulu ya Nak, supaya Brian cepat sembuh dan kita pulang." bujuk Aldrick, Aldrick menyuapi Brian bubur dan langsung Brian terima.
Mungkin karena sudah terlalu lelah akhirnya Brian terlelap dengan tenang di gendongan Papanya.
"Kamu kemana sih?" tanya Aurora.
"Kami mencari mu hingga ke kantor tapi kamu tidak ada, kamu tahu Brian menangis mulai dari bangun tidur, dia mencari keberadaan Papanya hingga tidak mau makan."
"Maaf." ucap Aldrick.
"Hiks,,, hiks,,, kamu marah sama kami?"
"hiks,,, kamu menjauhi kami, kamu sudah tidak sayang lagi pada Brian?" Aurora mengeluarkan uneg uneg nya.
"Saya harus membiasakan diri tanpa kalian." balas Aldrick.
__ADS_1
"Memangnya kamu mau kemana sampai harus membiasakan diri tanpa kami, kamu akan pergi meninggalkan kami begitu?"
"Bukan begitu Aurora, tapi kamu sendiri yang meminta pergi dari saya."
"Tidak aku tidak mau kamu pergi hikss hiks,,."
Aurora menangis.
Aldrick yang tidak tega melihat Aurora menangis duduk disebelah Aurora dengan Brian digendongnya, kemudian memeluk Aurora dengan satu tangannya.
"Hiks,,, jangan tinggalin kami lagi."
Aldrick di buat bingung sebenarnya apa Mau Aurora, kemarin minta dilepaskan sekarang tidak mau ditinggal memang wanita sulit dipahami.
"Kemarin kamu kan minta dilepaskan."
"Dan kamu langsung menyetujuinya."
"Kan itu memang keinginan kamu."
"Harusnya kamu itu berusaha bukan justru malah menyerah hiks..."
"Iya aku yang salah." Aldrick mengalah saja.
Aldrick memperhatikan wajah pucat Aurora yang terlihat nyaman dipelukan nya, sebenarnya Aldrick juga merasa lelah karena dari kemarin dia belum istirahat sama sekali.
Namun melihat wajah kedua orang yang sangat ber arti dalam hidupnya Aldrick mengabaikan rasa lelahnya.
Aldrick tersenyum melihat Ibu dan Anak itu yang sama sama terlelap dalam pelukannya.
"Wanita memang sulit dimengerti, kemarin marah marah minta di lepaskan, setelah dilepaskan marah karena merasa tidak diperjuangkan,lalu aku harus bagaimana?"
Bik Sum memasuki ruangan Brian dengan membawa rantang berisi makanan juga baju ganti untuk Aurora dan Brian. Bik Sum tersenyum melihat pemandangan didepannya dimana Keluarga kecil itu terlihat terlelap dengan Aldrick memeluk anak dan Istrinya.
Tidak Ingin mengganggu kebersamaan mereka Bik Sum keluar dengan pelan tanpa menimbulkan suara.
Jam dua belas siang waktunya Dokter memeriksa keadaan Brian,namun Keluarga kecil itu masih terlelap dalam alam mimpinya yang tenang.
"Nya Nyonya." panggil Bik Sum pada Aurora namun Aurora tidak kunjung bangun.
"Nyonya,," panggil Bik Sum lagi tapi Aurora tetap tidak bangun hingga Aldrick yang bangun terlebih dahulu.
"Ada apa Bik?" tanya Aldrick.
"Waktunya Tuan muda diperiksa Tuan." jawab salah satu perawat disana.
"Sepertinya Brian sakit karena merindukan Papanya." ucap Dokter Andrew.
Brian membuka matanya, melihat keberadaan Aldrick dia tersenyum dan berceloteh riang meskipun masih lemah.
"Pap papa,,,"
"Iya Boy, Papa disini sekarang periksa dulu ya, biar cepat pulang."
Aldrick melihat Aurora yang masih terlelap tidak tega untuk membangunkannya.
"Brian tidur di kasurnya dulu ya Nak, biar bisa diperiksa sama Dokter ya."
"Bik tolong." ucap Aldrick.
Brian masih belum mau lepas dari Aldrick, dia memegang erat baju Aldrick.
Dengan sangat pelan Aldrick melepaskan pelukannya pada Aurora dan memindahkan kepala Aurora pada bantal.
"Brian harus berani ayo sama Papa."
Brian terlihat lebih penurut pada Aldrick,dia mau diperiksa dan baringkan di ranjangnya.
"Bagaimana keadaan Brian?" tanya Aldrick.
"Brian sudah lebih baik namun sepertinya infusnya harus di tambah karena kondisinya belum pulih dan panas nya juga masih sedikit tinggi."
"Oh,, baiklah." jawab Aldrick.
"Semalam lo kemana sih, anak sama istri nangis nyariin tapi lo ngilang." ucap Dokter Andrew.
"Jepang." jawab Aldrick singkat.
"Ya sudah kalau begitu kami permisi dulu."
Aldrick melihat Aurora yang sama sekali tidak bergerak, dia merasa khawatir karena biasanya Aurora akan cepat terbangun jika mendengar suara orang.
_
_
_
TBC
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK 😘😘😘
__ADS_1