
Ada suara seseorang yang sedang muntah-muntah cukup hebat di dalam kamar mandi, orang itu bahkan sampai terkulai lemas di depan kamar mandi, karena tidak sanggup berjalan menuju ke ranjang.
Sekuat tenaga orang tersebut bangun dari duduknya dan berjalan ke arah ranjang untuk mengambil ponselnya.
Sesampainya di ranjang, orang itu langsung mencoba menghubungi seseorang.
" Halo Jeanne ," kata orang yang sedang dihubungi.
Jadi orang yang daritadi sedang muntah-muntah hebat adalah Jeanne di dalam kamar mandi kamarnya.
" Halo Freed, kita harus bertemu saat ini juga ," kata Jeanne.
" Baiklah, datang saja ke apartemenku ," jawab Freed.
" Ok, aku ke sana sekarang ," kata Jeanne.
Jeanne langsung mematikan sambungan teleponnya, ketika sudah mendengar jawaban dari Freed.
Mengumpulkan tenaga untuk bisa pergi ke apartemen Freed adalah usaha yang sangat berat sekali bagi Jeanne saat ini.
Hanya menggunakan pakaian seadanya saja tanpa bermake up sama sekali, karena tubuhnya tidak kuat, akhirnya taksi yang Jeanne tumpangi sampai juga di sebuah gedung apartemen mewah.
Jeanne langsung masuk ke dalam lift dan menekan tombol liftnya untuk menuju ke apartemen milik Freed.
Ketika Freed mendengar bel pintunya berbunyi, dia langsung saja membukakan pintu apartemennya.
" Hai Jeanne ayo masuk ," kata Freed.
Jeanne langsung masuk dan duduk di sofa ruang tamu apartemen milik Freed.
" Kenapa kamu duduk di situ, ayo masuklah ke dalam ," kata Freed.
" Di sini saja, karena ada hal penting yang ingin aku sampaikan kepadamu ," jawab Jeanne.
" Tunggu dulu,!! wajah kamu pucat sekali Jeanne, kamu sakit?? ," tanya Freed sambil duduk di sebelah Jeanne.
" Jangan memusingkan wajahku, sekarang dengarkan aku Freed ," kata Jeanne.
Jeanne lalu mengambil sebuah kertas dan sebuah benda dari dalam tas jinjingnya, untuk dia berikan kepada Freed.
" Apa ini?? ," tanya Freed.
" Baca dan lihatlah sendiri ," jawab Jeanne.
Freed langsung membuka kertas tersebut dan membacanya dengan seksama.
Setelah selesai membaca setiap kata yang ada di dalam kertas tersebut, Freed langsung menunjukkan wajah yang sangat terkejut.
" Kamu hamil Jeanne?? ," tanya Freed sambil memegang sebuah testpack.
" Iya, dan ini anak kamu, karena aku tidak pernah melakukan itu selain bersamamu!! ," jawab Jeanne.
" Tidak, aku belum siap Jeanne, aku masih ingin hidup bebas, tanpa adanya bayang-bayang seorang anak ," kata Freed.
" Tapi ini anak kamu Freed, kamu harus segera menikahiku ," kata Jeanne.
" Aku tidak bisa menikahimu Jeanne, karena aku tidak mau terikat dengan sebuah hubungan, dan kita melakukan itu antara suka sama suka ," jawab Freed.
" Kita memang melakukannya antara suka sama suka, tapi tidak ingatkah kamu jika selama ini kamu tidak pernah memakai pengaman dan selalu mengeluarkannya di dalam ," kata Jeanne.
" Tapi aku belum siap Jeanne, aku belum siap menikah sekarang ," bantah Freed lagi sambil berdiri dari duduknya.
" Lebih baik kamu gugurkan saja anak itu Jeanne, karena aku tidak siap mempunyai seorang anak ," kata Freed lagi.
Jeanne yang mendengar perkataan Freed, dia langsung bangun dari duduknya dan berjalan mendekati Freed.
" Teganya kamu Freed, ini anak kamu sendiri, kenapa kamu tega ingin membunuh bayi yang tidak berdosa ," kata Jeanne.
" Di luar sana masih banyak orang yang menginginkan seorang anak, sedangkan kamu malah ingin membunuhnya ," kata Jeanne lagi.
Jeanne ternyata bisa bijak juga dalam pemikiran, walau terkadang dia sering berpikir seperti anak kecil.
" Kalau begitu, jangan gugurkan, tapi jika dia sudah lahir berikanlah anak ini kepada orang yang membutuhkan ," jawab Freed dengan sangat enteng sekali.
Meneteslah air mata Jeanne mendengar jawaban dari Freed yang sangat menyakiti hatinya.
" Tega kamu Freed, ternyata kamu seorang 6471n94n yang tidak lebih dari seorang banci!! ," kata Jeanne.
" Ok, aku akan membesarkan anak ini tanpa kamu di sisiku,!! jadi jangan harap kamu bisa melihat anak ini seumur hidup kamu, kelak jika dia sudah lahir!! ," kata Jeanne lagi kepada Freed.
Setelahnya Jeanne berlalu pergi dari hadapan Freed, namun sebelum Jeanne membuka pintu apartemen Freed, dia kembali lagi kehadapan Freed dan langsung memberikan sebuah hadiah kepada Freed dengan tamparan di pipi yang sangat keras sekali.
Barulah setelah itu, Jeanne benar-benar pergi dari dalam apartemen Freed sambil membanting pintu apartemennya.
Sepeninggal dari Jeanne, yang bisa Freed lakukan cuma diam dan berpikir, karena kabar kehamilannya Jeanne benar-benar sangat mengejutkannya.
Sedangkan Jeanne, selama perjalanan menuju ke rumah sang Mama, dia terus meneteskan air matanya, karena merasa beban hidupnya sangatlah berat sekali saat ini.
__ADS_1
Jeanne yang sudah sampai di rumah sang Mama, dia langsung ke luar dari dalam taksi setelah membayarnya tadi.
Baru saja masuk ke dalam rumah, Jeanne tidak sengaja melihat sang Mama yang baru saja ke luar dari dalam kamar.
" Jeanne, dari mana kamu sayang, wajah kamu ko pucat sekali, kamu sakit?? ," tanya Mama Siljie kepada Jeanne.
" Jeanne cuma sedikit tidak enak badan saja Ma, dan tolong ijinkan Jeanne beristirahat di dalam kamar, jangan ada yang mengganggu Jeanne ," jawab Jeanne.
" Baiklah, kalau begitu beristirahatlah Nak ," jawab Mama Siljie.
Jeanne hanya mengangguk saja, dan dia langsung masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat.
Jam makan malam pun tiba, semua Keluarga Mama Siljie saat ini sudah berkumpul di ruang makan, kecuali Jeanne.
" Jeanne di mana Ma, apa dia pergi lagi?? ," tanya Max kepada sang Mama.
" Adik kamu sedang tidak enak badan katanya, dia saat ini sedang beristirahat di dalam kamarnya ," jawab Mama Siljie.
Max yang mendengar jawaban dari sang Mama, dia langsung tersenyum miring, sebab Max sang Kakak, sangat tahu sekali apa yang menyebabkan Jeanne merasa tidak enak badan saat ini, sebab dia sedang hamil.
" Jeanne sakit Ma?? ," tanya Ayah Ebert.
" Iya Ayah, tadi wajah Jeanne sangat pucat sekali, dan Mama merasa sangat kasihan dengannya, biar nanti Bibi saja yang membawakan makanan ke dalam kamarnya ," jawab Mama Siljie kepada Ayah Ebert.
" Beri dia makanan yang banyak Ma, karena Jeanne tidak makan sendirian ," kata Max ikut menyahut.
" Apa maksud perkataanmu Max?? ," tanya Mama Siljie.
" Sebentar lagi Mama sama Ayah akan mempunyai cucu, jadi beri Jeanne makanan yang bergizi supaya cucu kalian tumbuh dengan sehat ," jawab Max kepada sang Mama dan masih didengar oleh Ayah Ebert.
Mama Siljie dan Ayah Ebert benar-benar sangat terkejut sekali mendengar jawaban dari Max.
" Kamu jangan bercanda kepada kami Max ," kata Ayah Ebert.
" Untuk apa Max bercanda kepada kalian, apa untungnya bagi Max?? ," jawab Max.
" Kalau Jeanne hamil, itu artinya Tuan Enzo akan segera menikahi Jeanne dong, yeeaayy asiiiik, itu artinya Mama akan segera berbesanan dengan orang kaya, dan kekayaan Mama akan semakin melimpah ," kata Mama Siljie merasa kegirangan.
" Kalau yang menghamili bukan Tuan Enzo bagaimana Ma,? pasti Mama akan kecewa kan?? ," tanya Max.
" Kamu jangan sembarangan kalau berbicara Max, adik kamu itu kekasihnya Tuan Enzo ," jawab Mama Siljie.
" Jika Jeanne kekasihnya Tuan Enzo, kenapa Tuan Enzo selalu sendirian jika pergi atau di wawancarai oleh para wartawan ," kata Max lagi.
" Bilang saja jika kamu sirik dan iri dengan adik kamu Max, karena selama ini kamu tidak menyukai Jeanne, memangnya Mama kira Mama tidak mengetahui hal itu hah!! ," marah Mama Siljie kepada Max.
" Max harap semoga Mama tidak menyesal, karena sebenarnya Max ingin mengatakan jika Jeanne tidak hamil anak Tuan Enzo ," kata Max lagi.
" Max,!! kamu sangat keterlaluan sekali!! ," semakin marahlah Mama Siljie kepada Max.
Mama Siljie langsung berlalu pergi untuk menuju ke dalam kamar Jeanne, meninggalkan Max dan Ayah Ebert yang masih berada di ruang makan.
" Apa benar yang kamu katakan Max, jika Jeanne tidak hamil anak dari Tuan Enzo?? ," tanya Ayah Ebert kepada Max.
" Dia kan anak anda, harusnya anda yang lebih tahu daripada saya, kenapa anda malah bertanya kepada saya?? ," jawab super dingin dari Max kepada Ayah Ebert.
" Max, apa kamu masih marah kepada Ayah?? ," tanya Ayah Ebert.
" Anda bukan Ayah saya, Ayah saya sudah mati, dan anda tahu sendiri, saya memanggil anda Ayah, karena saya tidak mau bertengkar dengan Mama!! ," jawab Max.
" Seumur hidup Max tidak akan bisa melupakan bagaimana sikap anda yang sudah membuat Ayah saya mati!! ," kata Max lagi.
Tanpa mau melanjutkan lagi makannya, sebab naf5u makannya sudah hilang, Max pun langsung pergi menuju ke dalam kamarnya meninggalkan Ayah Ebert sendirian di ruang makan.
Selalu begitu, dari dulu sikap Max tidak pernah baik kepada Ayah Ebert, dan Max akan bersikap baik ketika ada Mama Siljie seperti tadi.
Yang bisa Ayah Ebert lakukan cuma diam sambil menahan kesedihannya yang sudah menumpuk selama berpuluh tahun lamanya di dalam dadanya.
" Ini semua karma yang harus aku terima, karena sudah mencampakkan istri yang baik, dan anak yang sangat penurut kepadaku ," kata Ayah Ebert berbicara sendiri.
Karena cuma sendirian saja di ruang makan, Ayah Ebert pun memutuskan untuk berlalu pergi juga dari ruang makan, menuju ke taman yang ada di teras depan rumahnya.
Ayah Ebert langsung duduk di kursi taman tersebut sambil melamun, ketika dia sedang melamun, Ayah Ebert seperti didatangi sesosok arwah yang wajah dan tampilannya sangat mirip dengan Mama Dama, Mama kandungnya Aurora.
" Dama,?? apakah itu kamu?? ," kata Ayah Ebert.
Mama Dama hanya tersenyum saja tanpa mengucapkan satu patah kata pun kepada Ayah Ebert.
" Dama, jangan pergi Dama, maafkan aku Dama!! ," kata Ayah Ebert lagi.
Mama Dama masih tidak menjawab dan lama kelamaan tubuh Mama Dama pun pudar dari pandangan mata Ayah Ebert.
" Damaaaaa!! ," panggil dari Ayah Ebert.
Ayah Ebert lalu tersadar jika itu halusinasinya saja, karena sedang merasa rindu dan menyesal sudah menyakiti Mama Dama.
Nasi sudah menjadi bubur, dan jika dirubah lagi menjadi nasi, sangatlah tidak mungkin sekali.
__ADS_1
Dada Ayah Ebert malam itu semakin sesak sekali jika mengingat kebodohannya di masa lalu.
Meninggalkan Ayah Ebert, kita beralih ke Mama Siljie.
Mama Siljie yang tadi sudah berada di depan kamar Jeanne, dia langsung mengetuk pintunya.
" Jeanne, ini Mama Nak, bolehkah Mama masuk ke dalam?? ," kata Mama Siljie.
" Iya Ma, masuk saja ," jawab Jeanne dengan suara lirih.
Mama Siljie langsung membuka pintunya dan dia lalu masuk ke dalam kamar Jeanne.
Mama Siljie yang sudah masuk ke dalam kamar Jeanne, dia langsung melihat Jeanne sedang rebahan di atas ranjang, dengan wajah yang semakin pucat saja.
" Apa kamu baik-baik saja Jeanne?? ," tanya Mama Siljie.
" Bagaimana dengan calon cucu Mama,?? apakah dia baik-baik saja ," tanya Mama Siljie lagi sambil mengusap perut Jeanne.
Terkejut, tentu saja Jeanne merasa terkejut, ketika sang Mama bisa mengetahui jika dirinya sedang hamil.
" Mama tahu jika Jeanne sedang hamil?? ," tanya Jeanne.
" Tahu Nak ," jawab Mama Siljie sambil tersenyum.
" Mama tahu dari siapa?? ," tanya Jeanne lagi.
" Kamu tidak perlu tahu, Mama tahu dari siapa ," jawab Mama Siljie.
" Apakah Mama tidak marah kepada Jeanne, karena Jeanne sudah hamil di luar nikah?? ," tanya Jeanne.
" Untuk apa Mama marah, justru Mama merasa senang, karena itu artinya Tuan Enzo akan segera menikahimu, iya kan sayang ," jawab Mama Siljie.
Jeanne terlupa jika dia sudah berbohong tentang hubungannya dengan Tuan Enzo kepada sang Mama.
" Ehh, i-iya Ma ," berbohong lagi si Jeanne, dan urusannya bisa semakin rumit saja.
Mendengar jawaban dari Jeanne, Mama Siljie semakin merasa senang sekali.
" Lalu kapan Tuan Enzo akan datang ke sini untuk melamar kamu sayang, Mama sudah tidak sabar mempunyai menantu seperti dia ," kata Mama Siljie.
" Tuan Enzo sementara sedang pergi ke luar Negeri Ma, dan akan pulang besok ," jawab berbohong lagi dari Jeanne.
Padahal Enzo saat ini sedang rebahan di atas ranjang kamarnya, sebab kakinya yang terkilir belum sembuh total dari cidera yang dialaminya.
" Baiklah, jika dia sudah pulang, cepat katakan kepadanya untuk segera datang ke rumah kita Nak ," kata Mama Siljie lagi.
" Baik Ma ," jawab Jeanne.
" Kalau begitu, kamu beristirahatlah, nanti Mama akan menyuruh Bibi mengantarkan makanan ke sini ," kata Mama Siljie.
" Iya Ma ," jawab Jeanne.
Mama Silji lalu ke luar dari dalam kamar Jeanne setelah puas berbicara dengan sang putri.
Sedangkan Jeanne sendiri, dia semakin pusing saja karena sudah berbohong kepada sang Mama, siapa Ayah kandung dari anak yang sedang dikandungnya.
Jeanne sangat tahu sekali bagaimana sifat dari Mama Siljie, dan Jeanne cuma merasa takut jika sang Mama akan mengumbar kehamilannya kepada khalayak umum.
Karena jika itu sampai terjadi, pasti tamatlah riwayat Keluarganya, sebab Enzo yang tidak merasa menghamili Jeanne, dia pasti akan melakukan tindakan tegas kepada semua Keluarganya, termasuk dirinya sekalipun.
Pagi harinya, Mama Siljie sudah pergi pagi-pagi sekali, dan ternyata Mama Siljie pergi ke suatu tempat sambil membawa kertas hasil test kehamilannya Jeanne yang sudah dia minta dari Jeanne semalam.
" Tes-tes, apakah anda sudah siap Nyonya, karena kameranya sudah menyala sekarang ," kata seorang juru kamera kepada Mama Siljie.
Aduh gawat,!! benar sekali firasat Jeanne, karena saat ini sang Mama sedang pergi ke kantor berita untuk mengumumkan kehamilannya Jeanna kepada semua orang.
" Iya saya sudah siap ," jawab Mama Siljie.
" Ingat, hari ini juga saya ingin berita ini harus tayang di seluruh stasiun televisi, karena saya sudah menjual berita terbaru dan terhangat kepada kalian semua ," kata Mama Siljie kepada semua para wartawan.
" Siap Nyonya ," jawab semua wartawan yang ada di depan Mama Siljie.
" Saya jamin pendapatan kantor ini akan menambah dengan adanya berita dari saya ," kata Mama Siljie lagi.
" Pasti itu Nyonya, apalagi ini menyangkut Keluarga Diedrich ," jawab salah satu wartawan.
Mama Siljie hanya mengangguk saja, dan akhirnya dimulailah sesi tanya jawab antara wartawan tersebut kepada Mama Siljie dengan disiarkan secara live di salah satu stasiun televisi.
...☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️...
Lanjut part selanjutnya.👍🏻😉
Dan jangan bilang, ko Upnya cuma satu, biasanya double Up, itu karena dua bab aku jadikan satu say, maklum lagi ramadhan, banyak pekerjaan di real life.😁🙏
...✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️...
...***TBC***...
__ADS_1