
Fagan mengangkat tangan kanannya, memperhatikan jam yang melingkar di tangannya. Jamnya sudah menunjukkan pukul 16.00, waktunya dia harus pergi dari tempat yang membuatnya semakin stress.
"Udah selesai kan rapatnya."
Semua orang menatap fagan dengan tatapan bingung. Fagan sedang berada di ruang OSIS, sedang mengadakan rapat bersama anggota OSIS lainnya.
"Belom gan, kita masih harus membahas beberapa keperluan buat acara ini." Ucap Lala yang menjabat sebagai sekretaris di OSIS.
"Tunda aja." Ucapnya dengan nada santai, sambil mengambil tasnya lalu melangkah kan kakinya keluar dari ruang OSIS.
"Lo gak bisa seenaknya gitu, Lo ketua OSIS disini!!."
Suara itu berhasil membuat langkah fagan terhenti, fagan berbalik ke arah anak-anak OSIS yang masih memperhatikan nya.
"Ada Lo kan, gunanya Lo sebagai wakil tuh apa?"
"Tapi, Lo itu udah terlalu sering cabut dari rapat gan."
Dante wakil ketua OSIS. Salah satu orang yang tidak pernah terlihat akur dengannya. Sikap Fagan dan Dante sangat berbeda. Dante menjabat sebagai waketos, namun dirinya sering sekali melakukan tanggung jawab sebagai ketua OSIS. Fagan selalu melampiaskan tanggung jawabnya kepada Dante.
"Lo ngerti sedikit lah, kita sukses. Lo juga yang seneng." Ucapnya merayu fagan, yang masih setia berdiri di ambang pintu.
Setelah berdiam diri, fagan membalikkan tubuhnya dan melanjutkan langkahnya untuk keluar dari ruangan tersebut.
"Tuh orang, gak ada tanggung jawabnya banget sih." Ucap Lala semakin kesal dibuatnya. "Lo yang sabar ya dan." Lala menepuk pundak Dante memberikan ketenangan pada diri dante.
Dante hanya tersenyum, dan kembali ke tempat duduknya. Mereka melanjutkan rapatnya, tanpa fagan lebih tepatnya.
🍁🍁🍁
Suara khas motor milik fagan memasuki halaman rumahnya, fagan membuka helmnya dan meletakkan helmnya di atas motornya.
"Kakek." Ucap Fagan, memberhentikan langkahnya.
Seorang pria yang sudah memasuki umur sekitar 60-70, berdiri tepat di depan pintu masuk rumah fagan. Menatap intens ke arah fagan melipat kedua tangannya tepat di depan dada.
"Dari mana kamu?"
"Dari sekolah kek."
Sang kakek memajukan langkahnya. "Bukannya sekolah akan mengadakan acara, tapi kenapa kamu pulang secepat ini?."
Fagan menghela nafas. "Fagan baru selesai rapat kek."
"Kamu mau bohongin kakek?"
Fagan menatap sang kakek. "Fagan cabut dari rapat."
"Tapi fagan tetap ikut rapat." Lanjutnya.
"Kamu mengalihkan semua tanggung jawab kamu ke Dante."
Fagan memalingkan wajah nya dari hadapan sang kakek.
"Kakek cuma mau ka-"
"Kakek cuma mau kamu latihan sebagai pemimpin, dan nanti ilmu nya bisa kamu pakai untuk meneruskan perusahaan kakek. Itu kan yang kakek mau." Ucap fagan menghentikan ucapan sang kakek.
"Tapi fagan gak tertarik sama semua perusahaan kakek, kaya nya Dante lebih tertarik sama perusahaan yang kakek milikin."
Tanggg
Suara suatu barang bersentuhan dengan besi, berhasil membuat kedua pasang mata itu menoleh ke pagar.
"Ehhh, siapa itu?" Ucap kakek memanggil seseorang yang ingin berbalik dan keluar dari halaman rumah.
Seseorang itu merasa dirinya terpanggil, membalikan tubuhnya dan menghampiri sang kakek yang masih berdiri bersama fagan.
"Kamu siapa?" Tanya kakek.
__ADS_1
"Maaf om, saya gak bermaksud. Saya cuma mau nganterin pakaian ini om." Ucapnya sembari memberikan dua buah kantong kresek.
"Ohh, nama kamu siapa?"
"Kesya om."
Kesya mendongak menatap wajah pria yang sudah berumur itu.
Fagan memalingkan wajahnya, karena mencoba untuk tersenyum, tapi fagan menahan senyuman itu untuk tidak keluar dari bibirnya.
Merasa geli karena panggilan Kesya kepada kakeknya itu sudah tidak cocok untuk pria yang sudah memiliki 3 orang cucu, dan memiliki rambut hampir berwarna putih semua.
"Kamu mendengar semuanya Kesya?" Tanya kakek tanpa berbelit-belit.
"I_iya om, maaf." Kesya menunduk, dirinya merasa terciduk.
Kakek memegang pundak Kesya. "Tidak papa." Kesya mendongak ke arahnya. "Tapi sepertinya, umur mu tidak terlalu jauh dengan fagan."
"I_iya om, kak fagan kakak kelas di sekolah om." Ucap Kesya menoleh ke arah fagan, namun di balas dengan tatapan tajam milik fagan.
Kesya langsung memalingkan tatapannya, dan tidak berani untuk menatap fagan lagi.
"Ohh seperti itu, kamu masuk dulu saja."
"Gak usah kek." Kesya buru-buru menolak ajakan sang kakek.
Kakek menoleh ke arah fagan. "Fagan, bisa kamu antarkan kesya."
"Ap-" ucap fagan terhenti.
"Gak usah kek, Kesya bawa sepeda kok. Kesya permisi kek."
Setelah berpamitan kepada kakek, Kesya langsung meninggalkan kakek dan fagan yang masih berdiri menatap ke arahnya.
Pada saat melewati Fagan, Kesya sempat memperlambat langkahnya. Ada fikiran aneh yang terlintas di pikiran Kesya, tadi ia tidak salah mendengar nama Dante disebut di topik pembicaraan antara fagan dengan kakeknya. Apa Dante ada hubungannya dengan fagan?.
🍁🍁🍁
Tiba-tiba pintu kamar fagan terbuka lebar, menampilkan sosok gadis kecil berpakaian Seragam putih-merah yang masih lengkap membawa tasnya di punggung.
"Kak fagan!!!" Teriak anita.
Fagan duduk di tepi kasurnya, menatap kesal ke arah sang adik.
"Apaan?"
Anita menghampiri sang kakak, dan duduk di samping sang kakak tercinta nya.
"Kak, mamah sama papah mau balik." Ucapnya yang sangat antusias.
Namun hanya dibalas dengan anggukkan oleh fagan.
"Udah, kak fagan ngangguk doang."
Fagan menoleh ke arah Anita, dan memperbaiki duduknya menjadi bersila menghadap Anita.
"Terus?"
"Kenapa sih aku punya kakak cuek banget?. Apa ada cewe yang suka sama cowok cuek kaya kak fagan?"
"Ada" jawab fagan singkat, namun pandangannya masih mengarah ke Anita.
"Siapa aja?"
"Banyak."
Anita mendengus kesal. Dan berdiri menghadap ke arah fagan. "Cuma perempuan bodoh yang mengharapkan cinta dari laki-laki dingin kaya kak fagan."
Setelah berbicara seperti itu kepada fagan, Anita pergi dari kamar fagan dan menutup pintu fagan keras.
__ADS_1
"Bocah."
Drttttt drttttt drttttt
Ponsel di saku celana fagan bergetar, Fagan menatap ponselnya yang berdering karena ada sebuah panggilan. Fagan mendapati nama seseorang yang tertera pada layar ponselnya.
"Apaan?"
"Gue tunggu di tempat biasa."
"Ya udah."
Dengan jawaban yang serba singkat, fagan mematikan panggilannya. Dan beralih mengambil jaket yang menggantung di belakang pintunya, pergi keluar tanpa mengganti seragam sekolahnya.
🍁🍁🍁
Fagan memasuki sebuah cafe yang cukup ramai di sekitaran daerah ibu kota Jakarta.
Cafe yang bergaya sedikit elegan, biasa nya sering di datangi oleh remaja-remaja pada umumnya. Apa lagi jika malam Minggu, cafe ini sudah di padati oleh para pengunjung.
Fagan mencari Galang. Yang menelpon tadi adalah Galang, Galang memintanya untuk bertemu di cafe tempat biasa mereka bersantai.
Pandangan Fagan berhenti kepada seseorang yang melambaikan tangan ke arah nya. Fagan langsung menghampiri meja yang sudah ditempati oleh ketiga temannya. Ternyata Galang tidak sendiri, Galang mengajak Dimas dan Kevin untuk bergabung dengan nya.
Fagan menarik kursi di sebelah Dimas. "Kenapa?"
Wajah fagan sama sekali tidak menyorotkan senyuman sedikit pun, untung saja teman-teman nya sudah terbiasa dengan sikap fagan seperti ini.
"Gimana keadaan cewe yang gak sengaja kena pukulan gue?"
Wajah Galang menampakan raut khawatir.
"Dia gak papa."
Fagan menyeruput ice cappucino yang bukan miliknya, seseorang sedang menatapnya tajam karena ulahnya.
Fagan meletakkan gelas di atas meja, sambil menatap ke arah Dimas dan menaikan kedua alisnya secara bersamaan.
"Itu punya gue gan."
Dengan gaya santainya, fagan memuntahkan ice cappucino ke dalam gelas, yang sempat tertahan di mulutnya karena melihat ekspresi wajah dimas.
"Sumpah Lo jorok!!"
Fagan hanya melirik sekilas ke arah Dimas, dan merogoh saku celananya mengambil dompetnya.
"Tuh, beli sepuas Lo ice cappucino disini." Ucap fagan yang mengeluarkan lima lembar uang berwarna merah.
Kemudian fagan fokus kembali kepada topik permasalahan Galang, dengan korban karena luapan emosinya.
"Ada lagi?"
"Apa?" Galang mengkerut kan dahinya.
"Yang mau Lo tanyain soal tuh cewe?"
Galang menggeleng. "Syukur lah, kalo memang dia gak papa."
Fagan menghela nafasnya, dan memainkan ponselnya. "Gue kira Lo bakalan minta nomor telfon nya."
Seketika mata Galang mendelik "emang Lo punya gan?"
Mata Galang menatap fagan penuh dengan pengharapan, puppy eyes andalannya tidak pernah ketinggalan jika sudah menyangkut hal seperti ini.
Sepasang bola mata kevin memperhatikan Galang, bersiap untuk melabraknya. Karena Galang adalah termasuk pria yang sering memainkan hati perempuan, pria seperti Galang harus benar-benar di basmi dari muka bumi ini.
"Dasar bego!!, Ngambil kesempatan di dalam kesempitan Lo."
To Be Continued...
__ADS_1
Ini part spesial menceritakan fagan... Have fun yaaaa. Jangan lupa Vott + commentnya. Dan follow akun ******* gua yaaa!!! Hehehe