
Aurora yang merasa Enzo diam saja dan tidak ada pergerakan sama sekali, dia mencoba mengintip wajah Enzo yang ternyata sudah tidur sangat lelap sekali.
Bahkan wajah Enzo terlihat damai dengan dengkuran halus dari dalam mulutnya.
Aurora memperhatikan wajah Enzo dengan sangat lekat sekali, dia mengusap seluruh wajah Enzo dengan penuh kelembutan sambil tersenyum sendiri.
" Jika sedang tidur begini, wajah Daddy terlihat semakin tampan sekali ," kata Aurora berbicara sendiri.
" Pasti nanti si Wilson juga sama tampannya seperti Daddy ," kata Aurora lagi.
Enzo beralih posisi miring dengan memeluk perut Aurora cukup erat, dan hal itu membuat Aurora merasa geli namun juga senang secara bersamaan.
" Daddy ternyata sangat manja sekali ," kata Aurora.
" Tidak apa-apa, keringat Mommy, aromanya Daddy suka ," Enzo menjawab.
" Eh, lho ko menjawab?? ," kata Aurora terkejut.
" Daddy sebenarnya sudah tidur apa belum sih?? ," kata Aurora.
" Sudah, hanya saja sedikit terganggu, karena daritadi tangan lembutmu ini terus mengusap wajahku ," jawab Enzo sambil memegang tangan Aurora dan menatap wajah Aurora sangat lekat sekali.
Enzo mencoba meraih tengkuk Aurora dan menundukkannya ke arah wajahnya, karena Enzo mencoba mengajak Aurora berciuman.
Aurora hanya diam saja, dan dia juga tahu kalau Enzo akan menciumnya, hingga akhirnya bibir mereka bersentuhan juga.
Aurora merasa tidak asing dengan bibir Enzo, dan mereka saling m3lum4t satu sama lainnya untuk menyalurkan rasa yang tertinggal di dalam dada.
" Mommy ," kata Enzo.
" Ada apa?? ," tanya Aurora.
" Tidak apa-apa, lupakanlah ," jawab Enzo sambil bangun dari rebahannya.
Enzo sebenarnya ingin mengatakan kepada Aurora, jika dia ingin melakukan lebih dari sekedar berciuman, sebab dia sudah tidak bisa menahannya lagi.
Namun, Enzo merasa sungkan untuk mengatakannya, karena dia sedikit trauma dengan kejadian yang lalu, ketika dirinya tidak sengaja membuat Aurora keguguran.
Enzo lalu beranjak berdiri dari duduknya untuk berjalan ke arah jendela kamarnya, dan Aurora yang melihat sikap Enzo, langsung tersenyum sendiri.
Aurora lalu menyusul Enzo, dan memeluk Enzo dari arah belakang, sambil mengatakan sesuatu.
Enzo pun juga langsung membalas pelukannya Aurora, dengan memegang erat ke dua tangannya Aurora yang berada di perutnya.
" Apakah Daddy ingin melakukan lebih sekedar berciuman bersama Mommy?? ," tanya Aurora.
Enzo yang mendengar, langsung saja membawa Aurora ke depan tubuhnya.
" Apa yang Mommy bicarakan?? ," tanya Enzo sambil menatap lekat wajah Aurora.
__ADS_1
" Mommy tahu, jika Daddy pasti ingin meminta lebih kepada Mommy, tapi Daddy takut ," jawab Aurora.
" Tidak Mommy, Daddy akan menahannya sampai Mommy benar-benar sembuh ," jawab Enzo.
" Setidaknya sampai kita resmi menikah ," lanjut lagi perkataan Enzo, namun kali ini di dalam hatinya.
" Jika ingin melakukannya, lakukanlah saja Daddy, Mommy tidak keberatan ko ," kata Aurora.
" Daddy pasti sudah menahannya cukup lama semenjak Mommy koma kan ," kata Aurora lagi.
" Biarlah, Daddy tahan saja dulu Mommy, karena Mommy juga baru saja sembuh ," jawab Enzo.
Enzo sengaja menjawab seperti itu, karena sebenarnya dia menahan sampai mereka sah sebagai sepasang suami istri.
Pintar sekali si Enzo untuk mencari alasan kepada Aurora, dan untung saja Aurora tidak merasa curiga sama sekali kepadanya.
Aurora yang mendengar jawaban Enzo, dia menanggapinya dengan tersenyum saja, lalu tiba-tiba Aurora memeluk tubuh Enzo sangat erat sekali.
Walau terkejut tiba-tiba di peluk Aurora, akan tetapi Enzo tetap membalas pelukan Aurora tidak kalah eratnya.
" Sungguh Mommy sangat beruntung sekali mempunyai suami seperti Daddy ," kata Aurora masih sambil memeluk Enzo.
" Yang beruntung aku, Aurora, karena bisa mencintai wanita seperti kamu ," kata batin Enzo.
" Aku takut, jika kamu sadar dari ingatanmu, apakah kamu masih mau bersamaku lagi, walau kamu sudah sah menjadi istriku ," kata batin Enzo masih sambil berpelukan dengan Aurora.
Meninggalkan Enzo dan Aurora yang masih asik berpelukan, kita beralih ke Arny sejenak.
Arny juga mengantarkan Linnea sampai dia masuk ke dalam kamar apartemennya.
" Apakah kamu akan langsung pulang Arny?? ," tanya Linnea.
" Tidak, nanti saja, aku masih ingin di sini bersamamu ," jawab Arny.
" Tapi di sini tidak ada makanan, aku lupa belum membeli stok bahan-bahan masakan dan makanan ," kata Linnea.
" Tenang saja, nanti aku akan membelinya sebentar ," jawab Arny.
" Tapi, ijinkan aku untuk rehat sebentar saja saat ini ," kata Arny lagi.
Linnea hanya mengangguk saja menanggapi Arny, dan tentu saja dia tidak merasa keberatan, jika Arny ingin beristirahat di dalam apartemennya.
Sambil duduk di samping Arny, Linnea memilih menyandarkan kepalanya di bahu Arny sambil memikirkan Max.
Iya Max, karena entah kenapa Linnea mempunyai firasat buruk tentang Max yang akan berbuat lebih kepadanya.
Linnea sudah cukup lama mengenal Max, jadi dia tahu bagaimana karakter dan sifat Max yang hampir mirip dengan sang Mama, yaitu Mama Siljie.
Arny yang melihat Linnea seperti termenung, dia pun mencoba bertanya.
__ADS_1
" Kamu sedang memikirkan apa Linnea?? ," tanya Arny.
" Tidak ada, aku hanya lelah saja ," jawab Linnea berbohong.
" Apakah kamu sudah lapar, jika iya akan aku belikan makanan dulu untuk kita berdua ," kata Arny.
" Iya boleh, aku akan menunggu di sini saja, dan aku juga mau mandi sekaligus bersih-bersih sebentar ," jawab Linnea.
" Baiklah, tunggu sebentar ya sayang ," kata Arny sambil mengecup sekilas bibir Linnea.
" Hati-hati di jalan ," pesan Linnea.
" Iya ," jawab Arny sambil berlalu pergi.
Sepeninggal dari Arny, Linnea pun langsung saja masuk ke dalam kamar untuk mandi.
Selesai mandi dan masih memakai bathrobenya, Linnea tiba-tiba mendengar bel pintu apartemennya berbunyi.
Tidak ada firasat apa-apa, Linnea lalu melangkahkan kakinya untuk ke luar dari dalam kamar menuju ke pintu depan.
Dengan rambut yang masih terbungkus handuk, dan tubuh masih memakai bathrobe, Linnea berjalan santai untuk membukakan pintunya.
Ketika pintu sudah terbuka, mata Linnea dibuat sangat terkejut sekali, karena yang datang ternyata adalah Max Matthias.
Buru-buru Linnea langsung ingin menutup pintunya, tapi sayang, kaki Max bisa mencegah pintu itu dan dia lalu mendorong pintu tersebut dengan sangat kuat sekali.
Rupa-rupanya anak buah Max yang disuruh untuk mengikuti Linnea, mereka langsung melaporkan kepada Max di mana Linnea tinggal.
Tadi Max yang tidak jadi pulang ke rumahnya, dan memilih mampir sebentar ke sebuah restoran, dia menyeringai senang ketika mendapatkan laporan tentang Linnea dari para anak buahnya.
Max tidak mau menyia-nyiakan kesempatan itu, dan dia memilih untuk langsung menuju ke apartemen Linnea.
Di saat Max sudah sampai di gedung apartemen Linnea, dia tahu jika Arny masih berada di situ, makanya dia menunggu waktu yang tepat untuk menemui Linnea.
Dan ketika Max melihat mobil milik Arny pergi dari dalam parkiran, Max pun langsung berjalan santai menuju ke apartemen Linnea yang sudah dia ketahui berada di lantai dan nomor berapa.
" Halo Linnea ," kata Max sambil berjalan masuk dan menutup pintunya dari dalam.
" Untuk apa kamu di sini Max, cepat pergi dari sini!! ," kata Linnea.
Linnea benar-benar merasa sangat ketakutan sekali melihat Max ada di dalam apartemennya, di tambah lagi dia cuma memakai bathrobe saja saat ini.
Max terus berjalan, hingga membuat Linnea reflek berjalan mundur untuk menghindar dari Max, dan tanpa Linnea sadari, kakinya tiba-tiba menabrak pinggiran sofa sehingga membuatnya terjatuh di atas sofa tersebut.
Max yang melihat, dia semakin lebar saja dalam menyeringai, dan wajah Max, justru semakin terlihat menakutkan bagi Linnea.
Linnea berharap serta berdoa, semoga Arny cepat datang ke apartemennya, sebelum hal-hal yang tidak diinginkan terjadi kepada dirinya karena ulah Max.
...✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️...
__ADS_1
...***TBC***...