
Happy reading guys 😘😘😘
Aurora merasa tidak nyaman saat berada di pangkuan Aldrick karena pisang Ambon Aldrick terasa menusuk nusuk.
"Mas,,"
Aldrick yang tidak tahan segera menyambar bibir mungil Aurora dan sedikit meremas pinggangnya.
"Sudah Mas,, shhAda Brian." ucap Aurora.
Aldrick menyudahi nya dan tersenyum melihat Putranya yang merangkak mendekati orang tuanya.
"Kamu lanjut kerja saja Mas." Aurora berdiri dan menemani Brian bermain.
Jam Sepuluh Pagi Brian sudah terlihat mengantuk, segera Aurora memberikan Asi nya pada Brian, tidak lama setelahnya Brian sudah terlelap mungkin karena sudah lelah bermain.
"Brian tidur?" tanya Aldrick karena tidak mendengar suara Putranya lagi.
"Iya." jawab Aurora pelan karena takut membangunkan Brian.
Aldrick berdiri mendekati Aurora dan Brian kemudian mengambil Brian dari pangkuan Aurora membuat Brian menangis karena belum terlalu lelap.
"Mas,, Brian bangun kan."
"Maaf Dear, ayo kita tidurkan Brian di kamar." Ajak Aldrick dan langsung memasuki kamar pribadinya yang berada di ruangannya.
Aldrick meletakkan Brian ditengah kasur kemudian Aurora kembali memberikan Asi nya Pada Brian afar kembali tidur.
Aldrick menatap keduanya dengan penuh kasih sayang, dia ikut berbaring di samping Aurora bukan disamping Brian.
"Dear boleh ya." ucap Aldrick.
"Boleh apa Mas?"
"Aku juga ingin seperti Brian."
"Kamu mau tidur, ya tidur saja."
"Aku ingin ***** seperti Brian."
"Astaga dasar mesum."omel Aurora.
Meskipun Aurora belum memberikan izin namun Aldrick sudah melakukan keinginannya, dan itu membuat Aurora bergeliat seperti cacing kepanasan.
"Mas,,shhh,,.egh,,,"
Setelah memastikan Brian tertidur pulas kini giliran Aurora menidurkan bayi besarnya.
"Aku janji akan pelan." bujuk Aldrick.
"Tapi disini ada Brian Mas."
Aldrick bangun dan menggendong Aurora membawanya keluar dari kamar pribadinya.
"Mas,,, jangan bilang kamu akan melakukannya disini."
"Kenapa?"
"Bagaimana kalau ada yang masuk?"
"Tidak akan, Mas sudah mengunci pintunya."
Setelah itu Aldrick langsung melancarkan aksinya, untuk pertama kalinya mereka melakukan setelah menikah.
Aurora kualahan menghadapi nafsu Aldrick yang menggebu-gebu, tidak hanya satu kali namun berkali kali dia mencapai kepuasannya namun Aldrick sekalipun belum mencapainya.
Aurora sudah lemas tidak bertenaga Aldrick mencoba berbagai gaya, hingga melakukannya dikamar mandi.
"Mas,, aku capek." keluh Aurora, bagaimana tidak capek mereka melakukan nya tiga jam tanpa berhenti.
"Kita mandi dulu sayang."
Setelah selesai bersih bersih Aldrick menggendong Aurora ke kamar pribadinya dimana Brian tidur.
"Mas,, aku harus pakai apa?" tanya Aurora karena pakaian nya tadi sudah Aldrick robek.
"Kamu pilih sendiri di lemari sayang " Aurora membuka lemari di sudut kamar, didalam nya sudah tersedia pakaian yang sangat sesuai dengan ukurannya.
Aurora menatap Aldrick penuh selidik."Baju milik siapa ini? apa jangan jangan selama ini Mas sering membawa perempuan kesini?" tanya Aurora.
"Itu semua baju kamu Sayang, aku sengaja menyiapkan agar saat kita melakukan nya disini kamu ada baju ganti." jawab Brian namun Aurora masih belum percaya.
"Aku tidak pernah membawa orang lain kesini, bahkan Roy sekalipun." ucap Aldrick meyakinkan Aurora.
"Sekarang kamu istirahat dulu disini nanti kalau Brian bangun kita cari makan."
"Hm,," balas Aurora.
"Aku keluar sebentar."
'Cup' Aldrick mencium bibir Aurora sekilas setelah itu benar benar keluar.
"Mesum!" teriak Aurora membuat Aldrick tersenyum.
Aurora merebahkan tubuh lelahnya di samping Brian, kemudian memejamkan matanya. Namun, baru beberapa menit Aurora terlelap Brian sudah bangun.
"Mam,,,ma. " Brian menepuk nepuk Pipi Aurora.
"Egh,,,, sayang sudah bangun?" Aurora tersenyum mendapati Putranya yang sudah bangun.
"Pap,,,pa,,"
"Ayo kita ke Papa."Aurora menggendong Brian membawanya keluar, disana ternyata ada dua karyawan yang meminta tanda tangan Aldrick.
Brian meronta minta diturunkan, saat sudah diturunkan Brian langsung merangkak menghampiri Aldrick.
"Pa,,pap,,pa."
Aldrick menunduk mendengar suara Putranya.
"Jagoan Papa sudah bangun? pintar sekali anak Papa bangun tidur tapi tidak menangis."
Dua orang karyawan tadi memandang takjub Aldrick,untuk pertama kalinya mereka melihat Aldrick bersikap lembut dan itu benar benar kejadian langka.
"Kalau sudah selesai kalian keluar." Usir Aldrick.
"Baik Tuan kami permisi."
Dua orang karyawan tadi langsung keluar dari ruangan Aldrick.
"Habis ngapain ya Tuan Aldrick, rambut nya masih terlihat basah." ucap Salah satu karyawan tadi.
"Dan kamu lihat tidak istri Tuan Aldrick lehernya penuh dengan bercak mereka."
"Pasti mereka habis anu anu." Kedua Karyawan tafi bergosip tentang apa yang mereka lihat di ruangan Aldrick.
"Tapi terlihat sekali jika Tuan Aldrick sangat menyayangi Istri dan anaknya."
"Mau makan siang dimana?" tanya Aldrick pada Aurora.
__ADS_1
"Terserah Mas saja." jawab Aurora.
"Baiklah Ayo."
"Tunggu sebentar Mas, aku benerin rambut dulu tadi tidak sempat ngaca."
"Sudah tidak usah berkaca kamu tetap cantik kok." puji Aldrick.
"Tapi Mas."
"Sudah sini." Aldrick menarik Aurora pelan agar mendekat.
"Dear,, kamu bawa ikat rambut?" tanya Aldrick.
"Bawa." jawab Aurora kemudian memberikan kunciran rambut yang dia bawa.
"Rambutnya kuncir saja ya, biar tidak menggangu saat makan."
"Terserah Mas."
"Mau kemana?" tanya Aldrick saat melihat Aurora menjauh.
"katanya rambutku disuruh kuncir."
"Sini biar Mas saja yang kuncirin."
Tanpa menaruh rasa curiga sedikitpun Aurora mendekati Aldrick dan memberikan kunciran rambut ditangannya.
Aldrick tersenyum licik sambil mengikat rambut Aurora.
'Biar semua orang tahu jika kamu hanya milikku Sayang, milik Aldrick.' ucap Aldrick dalam hati.
"Sudah Ayo berangkat." ajak Aldrick.
Aldrick kembali menggendong Brian dan merangkul pinggang Aurora mesra.
Sepanjang perjalanan mereka menjadi pusat perhatian, setelah Aldrick dan Aurora tidak terlihat seluruh karyawan langsung saling berbisik.
"Adduh,, pasti Tuan Aldrick ganas sekali."
"Lihat saja leher Istrinya hingga begitu."
"Pantas saja Tuan Aldrick tidak pernah tergoda dengan wanita di luaran orang istrinya seperti itu, pasti sangat bisa memuaskan Tuan Aldrick."
"Lihat saja Tuan Aldrick sama sekali tidak melepaskan pinggang istrinya."
Aurora yang tidak mengerti mengapa semua orang menatap kearah dirinya dan Aldrick.
"Mas Apakah ada yang aneh?" tanya Aurora saat mereka tiba di Restoran.
"Aneh? tidak."
"Tapi mengapa mereka memperhatikan kita Mas."
"Ya karena mereka iri melihat kecantikan kamu."
"Jangan mengada ngada Mas."
"Hahahaha,,, sudah abaikan saja."
Aurora semakin risih, pasalnya seorang pelayan yang mengantarkan makanan pada mejanya terang terangan menatap kearahnya.
Aldrick senyum senyum sendiri melihat karyanya dileher Aurora,dia merasa bangga dengan karyanya itu.
"Mas kamu gila?" heran Aurora melihat suaminya itu senyum senyum sendiri.
"Astaga,, kamu kesambet dimana Mas?"
"Mas kesambet cintamu."
"Gila,,!" maki Aurora.
"Jauh jauh ih, dari aku dan Brian."
"Hahahaha,,," untung mereka hanya berdua karena mereka saat ini berada di ruang VIP.
"Jangan nakut nakuti aku deh Mas."
"Apa sayang."
"Hahahaha,,,Mas hanya bercanda sekarang kita makan dulu."
Setelah makan siang mereka langsung pulang ke Mansion, sampai di Mansion lagi lagi para Maid memandang Aurora membuat Aurora sangat risih.
Aurora berjalan dengan cepat memasuki kamarnya setelah menitip kan Brian pada Bik Asih.
Sampai di dalam kamar Aurora langsung memasuki kamar mandi, karena takutnya ada sesuatu di wajahnya makanya semua orang menatap aneh kepadanya.
Betapa terkejutnya Aurora saat menatap cermin didepannya.
"MAS ALDRICK,,,!" Teriak Aurora.
Bagaimana orang tidak memandang nya aneh, lehernya penuh dengan bercak merah keunguan dan itu semua di sebabkan oleh suami gilanya.
"Mas Aldrick,,," panggil Aurora dia keluar mencari keberadaan Aldrick.
"Dimana Tuan Bik?" tanya Aurora pada Bik Sum.
"Tuan ada di kandang Zack dan Luck Nyonya."
Aurora buru buru menyusul suaminya itu,disana terlihat Aldrick tengah mengelus Kepala luck.
"Gila kamu Mas,," ucap Aurora langsung menjewer telinga Aldrick.
"Au,, ada apa Dear?"
"Ada apa, Ada Apa, kamu masih bisa bertanya seperti itu hah setelah apa yang kamu lakukan." omel Aurora.
"memang aku melakukan apa Dear?"
"Ish,,, kamu memang tidak tahu malu sama sekali Mas."
"Rasakan ini, rasakan." Aurora beralih mencubit perut Aldrick.
"Au,,, sakit Sayang."
"Kamu kenapa hm?"
"Kamu masih nanya Mas, lihat ini semua ini ulah kamu gara gara kamu aku seperti orang masuk angin , gara gara kamu semua orang menatap aneh padaku."
"Hahahaha,,"Aurora makin dibuat kesal Aldrick malah menertawakan dirinya.
Aurora yang sudah sangat kesal langsung menggigit leher Aldrick hingga terluka.
"Awsss,,, Dear bukan begitu caranya."
"Cara apa hah? aku tidak se mesum kamu Mas."
"Aku malu tahu orang orang pada melihat aku tadi."
__ADS_1
"Biarkan saja, mereka kan punya mata."
"Kenapa kamu menjadi menyebalkan begini sih Mas?"
Aurora menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya,tidak habis pikir dengan suaminya.
"Aku Malu,,."
Aldrick mendekat kemudian memeluk Aurora lembut.
"Dear,,, kenapa kamu harus malu? kamu kan sudah bersuami, bukan melakukannya dengan orang asing."
"Tapi tetap saja Mas, apa yang orang pikirkan tentang aku."
"Tidak usah memikirkan pikiran orang lain, cukup pikirkan kebahagiaan kita."
"Dari pada memikirkan orang lain mending sekarang kita melanjutkan kegiatan tadi."
"Kegiatan apa?"
"Kegiatan membuatkan Brian Adik."
"DASAR MESUM!"
"Hanya mesum sama kamu sayang."
******
"Rencana kita kemarin gagal gara gara pacarmu yang bodoh itu, sekarang kita harus sembunyi sembunyi seperti ini." ucap Erlan pada Edgar.
"Kamu itu bisa nya cuma menyalahkan." balas Edgar.
"Sudah kalian tidak usah saling menyalahkan , lebih baik sekarang kita membuat rencana lain saja, lagian kita sudah berhasil membuat Anak pembawa sial itu membunuh anaknya sendiri."Kenzo menengahi pertengkaran Edgar dan Erlan.
"Hahahaha, hahahaha Iya juga sih." Mereka bertiga tertawa bersama, tanpa mereka ketahui jika bahaya mengintai mereka.
'Bugggg, Buggg, Buuggg." tiga pukulan mendarat di punggung mereka secara bersamaan hingga membuat mereka bertiga pingsan.
"Bawa ke Markas!" perintah ketua mereka.
"Baik Bos."
Mereka bertiga langsung dibawa oleh anak buah Aldrick ke Markas mereka.
Sampai di Markas mereka langsung diikat menggunakan rantai, bukan hanya tali tapi rantai dan diikatnya dengan sangat kencang.
Perlahan mata ketiganya terbuka, mencoba bergerak namun ikatan ditubuh mereka terlalu kuat.
"Akh,,," teriak Edgar.
"Kenapa kita bisa disini?" tanya Erlan.
"Wah,, wah,, rupanya tamu kita sudah bangun." ucap Seorang anak buah Aldrick.
"Mau minum apa?"
"Siapa kamu, mengapa membawa kami kesini? lepaskan."
"Siapa saya itu tidak penting,yang penting itu nyawa kalian."
"Lepas,,," teriak Erlan.
"Tidak semudah itu Ferguso."
"Siapa yang menyuruhmu?" tanya Kenzo.
"Kamu Naenyak,,,? kamu bertanyea tanyea?" ledek salah satu anak buah Aldrick.
"Sialan!" umpat Edgar.
"Hahahaha hahahaha." anak buah Aldrick tertawa bersama.
Malam hari setelah Brian tidur Aldrick berpamitan untuk keluar pada Aurora.
"Sayang aku keluar sebentar." pamit Aldrick.
"Mau kemana?" tanya Aurora.
"Ada pertemuan penting."
"Malam malam begini?"
"Iya sayang, tapi hanya sebentar nanti setelah selesai aku langsung pulang."
"Jangan lama lama."
"Iya sayang."
Setelah berpamitan Aldrick mengambil jaket kulit hitamnya , dia mengendarai mobilnya menuju Markas miliknya.
Sampai disana Aldrick langsung disambut anak buahnya.
"Dimana mereka?" tanya Aldrick.
"Di sana Tuan." jawab anak buah Aldrick.
Aldrick berjalan dengan penuh karisma menuju salah satu ruangan yang ada di markasnya.
"KAMU,,, ANAK PEMBAWA SIAL!" Murka Kenzo saat melihat kedatangan Aldrick.
"Ya Saya Tuan Kenzo."
"Kalian sudah saya beri kesempatan untuk berubah tapi kalian malah menyia nyiakan kesempatan itu." ucap Aldrick.
"Lepaskan kami, dasar anak pembawa sial." ucap Edgar.
"Hh,,, melepaskan kalian?" sinis Aldrick.
"Selama ini saya sudah terlalu sabar pada kalian,kalian sudah menyebabkan saya menyiksa anak dan istriku"
"Hahaha,,,Dan kamu sudah membunuh anak kandung mu sendiri Haha." ucap Erlan.
"Benarkah saya sudah membunuh anak saya?"
"Hahahaha,,, dasar Bodoh,asal kamu tahu anak yang kamu berikan pada hewan buas mu itu adalah anak kandung mu sendiri."
"Hahahaha hahahaha." Kenzo Edgar dan Erlan tertawa bersama.
"Hahahaha,,, hahahaha." Aldrick ikut tertawa membuat Kenzo dan kedua anaknya heran.
_
_
_
TBC
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK 😘😘😘
__ADS_1