
Kembali ke Aurora lagi.
Mendengar namanya dipanggil oleh seseorang dan ketika sudah melihat sendiri ternyata yang memanggilnya adalah Mama Paulita, Mama Paulita dan Aurora langsung berjalan untuk saling mendekat.
" Ma, rumah ini, dan rumah Mama?? ," tanya Aurora merasa kebingungan, sambil menunjuk rumahnya dan rumah Mama Paulita.
" Ayo kita masuk dulu Aurora ," ajak Mama Paulita kepada Aurora.
" Tapi itu Ma, apa,? kenapa ada pabrik besar sekali seperti itu di sini?? ," tanya Aurora merasa kebingungan, sambil menunjuk peternakan yang ada di belakang rumah.
" Itu bukan pabrik, tapi peternakan domba ," jawab Mama Paulita.
" Hah,!! peternakan?? ," kata Aurora.
" Iya, ayo kita masuk dulu, pasti kamu capek kan, sini biar Wilson, Mama saja yang gendong ," jawab Mama Paulita sambil mengambil alih baby Wilson dari gendongannya Aurora.
Akhirnya, Aurora pun menurut, ketika tangannya ditarik masuk oleh Mama Paulita ke dalam rumah.
Aurora juga merasa kebingungan dan juga asing, ketika sudah masuk ke dalam rumah Mama Paulita, karena rumahnya benar-benar sangat berbeda dengan rumahnya yang dulu.
" Ma, tolong cepat jelaskan kepada Aurora, di mana rumah Aurora, dan kenapa semua ini berubah seperti ini?? ," tanya Aurora.
" Baik, akan Mama jelaskan, dan kamu tolong dengarkan baik-baik ," jawab Mama Paulita.
" Ketika Tuan Enzo merasa bersalah denganmu dan Nak Dickie, karena sudah menabrak kalian berdua, Tuan Enzo berjanji kepada dirinya sendiri, untuk memberikan kebahagiaan kepadamu yang selama ini belum kamu rasakan ," awal mula Mama Paulita bercerita, dan Aurora sangat serius sekali mendengarkan.
" Tuan Enzo ketika sedang berkunjung ke sini, dia sangat sedih sekali melihat rumah kamu yang seperti itu, apalagi ketika Tuan Enzo mengetahui, jika kamu suka domba, terbesitlah ide di kepalanya untuk membuatkan peternakan besar untukmu ," kata Mama Paulita lagi.
" Jadi, peternakan di belakang itu milik Tuan Enzo?? ," tanya Aurora.
" Bukan, lebih tepatnya milik kamu, yang sengaja Tuan Enzo buatkan untukmu ," jawab Mama Paulita dan Aurora merasa sangat terkejut sekali.
" Bahkan domba di sana sudah banyak dan beranak pinak sangat banyak sekali ," kata Mama Paulita lagi.
" Dan rumah itu Ma?? ," tanya Aurora.
" Iya itu rumah kamu, yang sudah sengaja dibangunkan oleh Tuan Enzo, juga untukmu ," jawab Mama Paulita.
" Bahkan rumah ini juga, jika bukan berkat Tuan Enzo, Mama dan Ayah tidak akan bisa mempunyai rumah sebagus ini ," kata Mama Paulita.
__ADS_1
" Lalu di mana Ayah, Ma?? ," tanya Aurora lagi.
" Ayah belum pulang bekerja, mungkin sebentar lagi ," jawab Mama Paulita.
Belum sempat Aurora berkata lagi, pandangannya dan pandangan Mama Paulita, teralihkan ke arah Ayah Bogy yang baru saja masuk rumah.
Ayah Bogy benar-benar sangat terkejut sekali, melihat Aurora ada di dalam rumahnya.
" Aurora!! ," kata Ayah Bogy dengan eskpresi sangat terkejut.
" Ayah ," kata Aurora juga.
" Ayah bekerja di mana,? kenapa pakaiannya seperti itu?? ," tanya Aurora yang merasa heran, sebab Ayah Bogy berpenampilan seperti orang yang sedang berada di kandang.
" Ayah bekerja di peternakan belakang, karena yang mengurus itu semua Ayah, Nak ," jawab Ayah Bogy sambil duduk di sofa seberangnya Aurora.
" Ayah yang mengurus,? ini semuanya membuat Aurora bingung ," kata Aurora.
" Akan Ayah jelaskan Nak ," kata Ayah Bogy.
" Peternakan itu sengaja dibuat Tuan Enzo, hanya untuk kamu Nak, dan Ayah ditugaskan untuk mengurusnya, sampai kamu kembali dan mau terjun langsung ke peternakan ," kata Ayah Bogy.
" Ayah sama Mama berbohong kan,? supaya Aurora tidak benci lagi sama dia?? ," kata Aurora.
" Untuk apa Ayah sama Mama berbohong kepadamu, Aurora ," jawab Ayah Bogy.
" Ayah sama Mama sudah menyaksikan sendiri, bagaimana besarnya cinta Tuan Enzo untuk kamu ," kata Ayah Bogy lagi.
" Kamu minta itu dituruti, kamu mau ini dibelikan, kamu mau apapun semuanya diberikan oleh Tuan Enzo, bahkan Tuan Enzo rela berkorban nyawanya demi kamu, ketika kamu belum sadar dari koma mu kemarin Nak ," kata Ayah Bogy.
" Bukalah matamu, sebelum semuanya terlambat ," nasihat Ayah Bogy.
" Ketika Tuan Enzo mengetahui kehamilanmu, apakah kamu ingat betapa bahagianya dia, Aurora?? ," tanya Mama Paulita.
" Kamu pasti tidak akan tahu, bagaimana Tuan Enzo sangat bahagia saat itu ," kata Mama Paulita lagi, dan Aurora masih diam saja, mendengarkan semua cerita dan penjelasan dari Mama Paulita dan Ayah Bogy.
" Jika dia mencintaiku, kenapa Tuan Enzo tega membunuh Dickie, Ma ," kata Aurora.
" Tuan Enzo tidak membunuhnya Aurora, semua itu kecelakaan ," bantah Ayah Bogy.
__ADS_1
" Tuan Enzo benar-benar sangat menyesal dan berhari-hari dia terpuruk, karena sudah tidak sengaja membuat Nak Dickie meninggal ," kata Mama Paulita.
Aurora hanya menggelengkan kepalanya saja, dan setelahnya, dia memilih mengambil baby Wilson dari pangkuannya Mama Paulita.
Mama Paulita dan Ayah Bogy, tidak mau mencegah kepergiannya Aurora, yang bisa mereka lakukan cuma menatapnya saja, sambil menampilkan wajah sedihnya.
Sedih, karena Aurora masih kekeh dengan pendiriannya yang selalu membenci Enzo.
Aurora terus berjalan, hingga akhirnya dia sampai diperbatasan kota dan desa.
Selama berjalan, banyak orang-orang yang pangling melihat Aurora, karena penampilannya benar-benar sudah berbeda dari yang dulu, namun Aurora tetap tersenyum tipis kepada mereka semua untuk memberi salam.
Walau para anak buah, melihat istri majikannya berjalan kaki cukup jauh begitu, mereka tetap membiarkannya saja, karena mereka semua sedang mode bersembunyi.
Cukup capek, berjalan kaki lumayan jauh sambil menggendong baby Wilson, akan tetapi pemandangan di kanan dan kiri, begitu sangat menyejukkan mata, hingga membuatnya sedikit lupa dengan rasa lelah itu.
Sesampainya di perbatasan kota dan desa, Aurora sengaja berhenti sebentar, untuk mengistirahatkan kakinya yang sudah capek, sambil menunggu taksi yang lewat.
Tiba-tiba ada sebuah taksi yang berhenti tepat di depannya, dan ternyata taksi itu ingin menurunkan seseorang yang ada di dalamnya, dan orang tersebut adalah Mama Siljie.
Mama Siljie sengaja minta turun di situ, karena dia tidak sengaja melihat Aurora.
Mata Aurora sangat terkejut sekali melihat, istri dari Ayahnya sudah berdiri di depannya.
" Huh ," wajah menyebalkan dari Mama Siljie.
Aurora memilih tidak mempedulikan Mama Siljie, dengan dia ingin masuk ke dalam taksi, akan tetapi Mama Siljie tidak memperbolehkannya, dengan sengaja menarik tangan Aurora.
" Lepaskan tangan kotormu dari tanganku!! ," kata Aurora.
" Sekarang sudah sombong ya, karena sudah bisa menikah dengan Tuan Enzo!! ," kata Mama Siljie.
" Buka urusanmu Pelakor!! ," jawab pedas dari Aurora.
" Dasar kurang 474r!! ," kata Mama Siljie sambil menampar Aurora.
Aurora tentu saja tidak tinggal diam, dia mendorong Mama Siljie hingga hampir jatuh ke aspal.
...✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️...
__ADS_1
...***TBC***...