AURORA

AURORA
SENDIRI


__ADS_3

Seharian itu, pikiran Enzo sedang sangat kacau sekali, dia tidak bisa tenang ketika bekerja, karena teringat dengan Aurora dan juga baby Wilson yang sedang pergi darinya.


Walau dia tahu di mana keberadaannya Aurora sekarang, tetap saja, Enzo tidak bisa jauh dari mereka berdua, terlebih lagi Aurora sedang mengandung ke dua anaknya.


Sedangkan untuk Aurora sendiri, dia yang belum sarapan sejak tadi pagi dan perutnya belum terisi makanan sama sekali, akhirnya terpaksa memakai ATM yang diberikan oleh Linnea kepadanya.


Aurora membeli sarapan, susu untuk baby Wilson, dan juga beberapa camilan untuk dia makan, jika sewaktu-waktu sedang lapar.


Sebenarnya Aurora tidak merasa lapar sama sekali, hanya saja Aurora selalu teringat jika di dalam perutnya ada dua nyawa yang harus dia jaga, tidak penting itu anak dari laki-laki yang sangat dia benci.


" Walau Mama tidak menyukai Ayah kalian, tapi kalian berdua tetap anak Mama, yang akan selalu Mama sayangi ," kata Aurora sambil mengusap perutnya.


Panggilan Mama adalah panggilan dari Aurora bersama Dickie dulu.


Aurora langsung tersenyum, ketika usapan lembut dari tangannya, langsung direspon dengan dua kali tendangan dari sang baby.


" Sehat ya sayang, temani Mama untuk mencari keberadaannya Papa ," kata Aurora lagi.


Melihat baby Wilson menangis, Aurora lalu mencoba menidurkan baby Wilson terlebih dahulu, ke dalam kamar yang dulu menjadi kamar pribadinya Linnea.


Tanpa Aurora sadari, ternyata waktu sudah menunjukkan pukul dua belas siang, itulah kenapa, rasanya perutnya merasa lapar lagi, padahal sepertinya baru saja tadi dia makan.


Selesai menidurkan baby Wilson, Aurora memilih memakan camilan yang tadi sudah dibelinya, sambil melamun di atas balkon kamar.


Aurora tiba-tiba teringat, jika dirinya masih mengingat berapa nomor teleponnya Dickie dan rumahnya yang dulu.


Segera Aurora langsung berjalan turun dan ke luar dari dalam kamar, untuk menuju ke telepon rumah yang ada di ruang Keluarga.


Aurora memencet nomor teleponnya Dickie dan rumahnya yang dulu, akan tetapi sayang sekali, semuanya tidak bisa terhubung satu pun.


Wajar saja, jika nomor ponselnya Dickie tidak bisa dihubungi, karena ponselnya sengaja Enzo matikan dan dia simpan bersama barang-barang yang lainnya.


Sedangkan telepon rumahnya yang dulu, tidak bisa dihubungi juga, itu semua karena ulah Enzo, supaya tidak ada lagi orang yang bisa menghubungi nomor tersebut.


Aurora sedikit putus asa di saat dirinya tidak bisa menghubungi Dickie, dan hatinya yakin, jika Dickie tidak akan menyerahkannya kepada Enzo tanpa perlawanan, yang jelas-jelas dia sudah tahu, kalau dirinya sangat membenci Enzo.

__ADS_1


Dan Aurora juga yakin, jika Dickie begitu sangat mencintainya, jadi tidak mungkin kalau Dickie akan menyerah begitu saja kepada kekuasaannya Enzo.


" Aku belum percaya, jika aku belum membuktikannya sendiri ," kata Aurora.


" Aku harus meminta penjelasan kepada Dickie, kenapa dia menyerahkanku kepada laki-laki yang sangat aku benci!! ," kata Aurora lagi.


Bagaimana perasaan Aurora nanti ya, jika dia tahu kalau laki-laki yang sangat dia cintai, sudah meninggal beberapa bulan yang lalu, dan yang menyebabkan dia meninggal karena kelalaiannya Enzo sendiri.


Waktu pun berganti dengan malam, di rumah Ayah Pippin, tidak ada keceriaan seperti biasanya, dari kelucuan baby Wilson.


Karena kejadian tersebut, Mama Azura sampai jatuh sakit, karena kepikiran dengan baby Wilson dan juga Aurora, bahkan Enzo juga belum menyentuh makanan sejak pagi tadi.


Melihat Keluarganya berantakan seperti itu, Ayah Pippin menjadi bingung sendiri, dan mencoba memberikan kekuatan kepada sang istri dan juga anaknya.


" Mama makan yuk, Mama jangan begini, Mama harus kuat, supaya Enzo juga ikut kuat menghadapi masalahnya ," kata Ayah Pippin kepada Mama Azura.


" Lihatlah Ma, Enzo sejak tadi pagi belum makan sama sekali, apa Mama tidak kasihan kepadanya, nanti jika dia jatuh sakit bagaimana, dan tidak bisa membawa pulang Wilson, Aurora dan ke dua cucu kita ," nasihat Ayah Pippin lagi.


" Ayah benar, maafkan Mama, Ayah ," jawab Mama Azura.


Mama Azura lalu berjalan menuju ke dalam kamar Enzo, dan sesampainya di depan kamar Enzo, dia langsung mengetuk pintunya dengan perlahan.


" Mama ," kata Enzo yang melihat sang Mama berdiri di depan pintu kamarnya.


" Bolehkah Mama masuk ke dalam?? ," tanya sang Mama, dan Enzo pun langsung mempersilahkan.


Mama Azura yang sudah masuk ke dalam kamar, dia melihat baju baby Wilson dan Aurora berserakan di atas ranjang.


" Apakah kamu sangat merindukannya?? ," tanya Mama Azura sambil mengambil baju baby Wilson.


" Mama sudah tahu jawabannya ," jawab Enzo.


" Walau Wilson bukan anak kandung Enzo, tapi dengan tangan inilah, Enzo membesarkannya dan memeluknya setiap hari ," kata Enzo lagi sambil menahan air matanya.


" Kalau begitu, ayo kita makan malam Nak ," ajak Mama Azura.

__ADS_1


" Kamu harus tetap mengisi tenagamu, dan menjaga kesehatanmu, supaya bisa menjaga mereka dari jarak jauh ," kata Mama Azura.


" Dan jika tiba saatnya mereka kembali, kamu bisa menyambut kedatangan mereka dengan tubuh yang sehat serta bertenaga ," kata Mama Azura lagi.


" Kita makan malam dulu yuk Nak ," ajak Mama Azura lagi.


" Iya baiklah Ma ," akhirnya Enzo menurut juga.


Enzo dan Mama Azura lalu ke luar dari dalam kamar menuju ke ruang makan.


Malam itu mereka makan malam bertiga saja, tidak ada lagi kelucuan dari baby Wilson yang selalu membuat berantakan meja makan.


Suasana di meja makan, sangat hening sekali, tidak ada pembicaraan sama sekali, dan Enzo pun cuma mau memakan sangat sedikit sekali, tidak seperti ketika ada Aurora di sampingnya.


" Enzo sudah selesai, Enzo mau ke dalam kamar dulu ," kata Enzo kepada ke dua orang tuanya.


Tanpa menunggu jawaban dari ke dua orang tuanya, Enzo langsung berlalu menuju ke dalam kamarnya lagi, dan meninggalkan ke dua orang tuanya yang masih makan.


Sedangkan beralih ke Aurora, dia saat ini sedikit kewalahan mengurus baby Wilson sendirian, karena keadaannya sedang hamil besar seperti itu dan pergerakannya sedikit terhambat.


Dia yang biasanya dimanja oleh Enzo, dan diratukan oleh Enzo, sekarang harus berusaha sendiri untuk mengurus baby Wilson yang sudah sangat aktif sekali dalam bergerak dan juga berjalan.


" Wilson, berhenti ya Nak, Mama capek ," kata Aurora.


Baby Wilson yang masih kecil, mana tahu ketika di kasih tahu seperti itu oleh sang Mama.


Aurora benar-benar sudah sangat lelah sekali, dan pada akhirnya, dia membiarkan baby Wilson bermain sendirian di dalam kamar, sedangkan dirinya hanya mengawasi dari atas ranjang.


Kamar itu, cukup berantakan sekali, karena ulah baby Wilson, dan Aurora sudah tidak sanggup untuk membereskannya.


Malam hari, ketika sedang menidurkan baby Wilson, Aurora menimang baby Wilson sambil terus meyakinkan hatinya, jika dia sanggup mengetahui cerita yang sebenarnya dari Linnea.


Di saat baby Wilson sudah tertidur dengan lelap, Aurora lalu mencoba menghubungi Linnea, dan menyuruhnya untuk datang ke apartemen besok, untuk menjelaskan semuanya kepadanya.


...✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️...

__ADS_1


...***TBC***...


__ADS_2