AURORA

AURORA
ENZO KACAU


__ADS_3

" Masakanmu selalu enak sayang, dan lihatlah perutku sudah terlihat sedikit membuncit ,"


Begitulah kata manis dari Dickie yang dia ucapkan untuk Aurora.


" Sepertinya aku harus lebih banyak berolahraga lagi, nanti malam olahraga bersamaku ya ," kata Dickie lagi kepada Aurora.


" Kenapa harus sama aku, sendiri saja tidak apa-apa, asal jaga mata dan hati ," jawab Aurora tidak peka.


" Kenap harus jaga mata dan jaga hati, kan aku olahraganya bersama kamu Aurora di atas ranjang, ya-ya ," kata Dickie sambil mengedipkan matanya.


Aurora hanya menghela nafasnya sambil tersenyum dan menggeleng melihat sang suami yang begitu genit sekali kepadanya, berbeda jauh sebelum mereka menikah.


Walau di dalam hati Aurora masih ada rasa takut jika dikhianati oleh Dickie, tapi sebisa mungkin Aurora melawan rasa takut itu, untuk mengobati rasa trauma yang pernah dia alami di pernikahan ke dua orang tuanya.


Selesai sarapan, Dickie dan Aurora pun langsung mandi, dan mereka melakukannya lagi untuk satu kali di dalam kamar mandi.


Aurora sangat telaten sekali mengambilkan semua pakaian yang akan di pakai oleh Dickie, untuk interview di sebuah klinik yang cukup besar di kota tempat tinggal mereka.


" Baru ku sadari ternyata kamu tampan sekali Dickie ," kata Aurora sambil mengancingkan kemeja yang di pakai oleh Dickie.


" Ke mana saja selama kamu tinggal di rumahku Aurora, kenapa baru sadar ," kata Dickie sambil menghela nafasnya.


" Aku begini dulu menjadi Dokter yang direbutkan lho oleh para Dokter perempuan dan para suster di rumah sakit ," kata Dickie lagi dengan bangga.


Perkataan Dickie justru membuat Aurora semakin merasa takut saja, jika suatu saat nanti Dickie seperti yang dia takutkan.


Aurora langsung memilih memalingkan mukanya dan membelakangi Dickie, Dickie yang melihat dan tahu apa yang dirasakan oleh Aurora, dia langsung saja memeluk sang istri dari belakang.


" Percayalah kepadaku Aurora, kalau aku bukan laki-laki seperti itu ," kata Dickie sambil menyandarkan dagunya di pundak Aurora.


Dickie lalu membalik badan Aurora untuk menghadap ke arahnya.


" Memang banyak yang menyukaiku, banyak yang tergila-gila kepadaku, dan banyak yang menginginkan ku untuk menjadi suaminya, tapi aku tidak mau dengan mereka semua ," kata Dickie sambil memeluk Aurora.


" Jika aku tipe laki-laki yang kamu benci, aku pasti sudah menjadikan mereka semua sebagai kekasihku dan pemu45 h45ratku selama ini, tapi nyatanya hati ini memilih kamu Aurora ," kata Dickie lagi.


" Look at me ," kata Dickie sambil menatap lekat ke arah Aurora.


" Apakah di mata ini, kamu melihat tidak ada keseriusan untuk kamu?? ," tanya Dickie.


Sambil menatap lekat ke arah Dickie, Aurora reflek menggelengkan kepalanya.


" Jadi percayalah kepadaku Aurora, jangan membuatku ragu akan cintamu, kalau kamu selalu meragukan cintaku ini ," kata Dickie.


" Iya, maafkan aku ," jawab Aurora.


Dickie langsung membawa Aurora ke dalam pelukannya, dan mereka berpelukan dengan sangat erat sekali.


" Sudah ya, aku berangkat dulu, nanti jika aku mau pulang, aku akan mengabari kamu, karena tugas seorang Dokter, tidak akan bisa diprediksi kapan pulangnya ," kata Dickie.


" Iya, hati-hati di jalan ya ," jawab Aurora sambil tersenyum.


Aurora lalu mengantar Dickie ke luar dari dalam kamar, sampai masuk ke dalam mobil.


" Jangan membukakan pintu kepada siapapun jika aku tidak ada di rumah, ok sayang ," pesan Dickie seperti biasanya.


" Ok, suamiku ," jawab Aurora.


" Cium dulu dong ," kata Dickie.


Aurora langsung mencium Dickie tepat di bibirnya, dan setelahnya, Dickie pun berlalu ke luar dari pekarangan rumah mewahnya, untuk pergi ke klinik yang dituju.


Sedangkan berpindah tempat lagi, lebih tepatnya di diskotik milik Enzo.


Semalaman ternyata Enzo ketiduran di ruang kerjanya, karena semalam, Enzo tidak sadar jika dia terlalu banyak minum, hingga membuatnya mabuk dan tertidur di sofa ruang kerjanya.


Enzo terbangun, karena ada cahaya matahari yang masuk menembus gorden jendela kacanya.


Enzo berusaha menetralkan matanya untuk melihat sekitar, dan ketika dia sudah membuka matanya dengan lebar, barulah Enzo sadar, jika dia ketiduran di ruang kerjanya.


" Kepalaku pusing ," kata Enzo sambil menggelengkan kepalanya.


Dengan berjalan sedikit sempoyongan, Enzo mulai melangkahkan kakinya ke luar dari dalam ruang kerjanya menuju ke dalam mobilnya.


Walau masih pagi dan waktu sudah mulai menunjukkan pukul delapan pagi, namun diskotik tersebut, sudah ramai oleh para karyawan yang bekerja untuk membersihkan semua kekacauan yang ditimbulkan oleh semalam.


Semua para karyawan menyapa sopan dan ramah kepada Enzo, ketika Enzo melewati mereka semua.


Namun Enzo tidak peduli, dia acuh walau sedang disapa oleh semua karyawannya.


Sesampainya di dalam mobil, Enzo langsung saja menjalankan mobilnya untuk menuju ke rumah mewah milik sang Ayah.


Antara sadar dan tidak sadar, Enzo mengendarai mobilnya, hingga akhirnya dia sampai juga di rumah sang Ayah dengan selamat.

__ADS_1


Mama Azura yang melihat sang putra sulung pulang dalam keadaan berantakan dan terlihat seperti baru saja sadar dari mabuk, dia pun langsung menegur Enzo.


" Enzo!! ," panggil sang Mama.


" Iya Ma, ada apa?? ," jawab Enzo dengan suara khas orang yang baru sadar.


" Kamu berantakan sekali Enzo, kamu mabuk ya?? ," tanya Mama Azura kepada Enzo.


" Tadi malam, hanya minum sedikit saja ," jawab Enzo.


Mama Azura mencoba mencium aroma tubuh Enzo, yang ternyata aroma alkoholnya sangat menyengat sekali.


" Kamu bilang sedikit, kamu pasti sudah minum banyak, coba cium aroma tubuh kamu, sangat membuat Mama pusing ," kata Mama Azura kepada Enzo.


" Sudah sana masuk ke dalam kamar, Mama tidak mau melihat kamu seperti ini lagi Enzo, berubahlah dan bersikap dewasa dalam menyikapi masalah, jangan seperti anak kecil begini ," kata Mama Azura.


Enzo masih tidak respek, yang ada di dalam otaknya cuma tidur dan tidur, jadi dia tanpa mau repot-repot menjawab perkataan dari sang Mama, Enzo memilih langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamarnya.


Mama Azura hanya bisa mengusap dadanya melihat sikap dari sang putra yang selalu menguji kesabarannya setiap saat.


Enzo yang sudah sampai di dalam kamarnya, dia langsung memilih menjatuhkan badannya ke atas ranjangnya, tanpa mengganti bajunya terlebih dahulu.


Terserah kamu sajalah Enzo, aku tidak akan mengganggumu untuk saat ini, karena aku ingin membahas yang lainnya lagi.


Saat ini Jeanne baru saja ingin mencoba matanya sebab perutnya terasa berat, karena setelah dia lihat, ternyata ada sebuah tangan kekar melingkar apik di perutnya.


Jeanne berusaha mengumpulkan ingatannya, dan sekarang dia teringat, jika semalam dia baru saja merasakan surga dunia bersama laki-laki yang dia kenal di diskotik milik Enzo.


" Astaga, apa yang sudah aku lakukan ," kata Jeanne sambil memijat kepalanya.


Jeanne lalu mengalihkan pandangannya ke arah samping, dan dia langsung melihat Freed masih tertidur dengan sangat lelap sekali.


Setelahnya, Jeanne mencoba meraih ponselnya yang dia taruh di atas meja samping ranjang.


" Ternyata ponselku masih aku matikan ," kata Jeanne sambil duduk dari rebahannya.


Jeanna mencoba menyalakan ponselnya, dan ketika ponsel sudah menyala, banyak sekali pesan masuk dan panggilan tidak terjawab, terutama dari sang Mama.


" M4mpu5 aku, pasti Mama akan marah kepadaku ," kata Jeanne berbicara sendiri.


Jeanne langsung membangunkan Freed yang masih lelap dalam tidurnya, untuk segera mengantarkannya pulang ke rumah.


" Ada apa sih Jeanne, aku masih mengantuk ," kata Freed dengan suara serak khas orang mengantuk.


" Kamu anak Mama ya?? ," tanya Freed.


Tentu saja Jeanne tidak suka dikatakan sebagai anak Mama.


" Enak saja, tentu saja tidak, tapi kan dia Mama kandungku sendiri Freed ," jawab Jeanne.


" Lalu kenapa jika dia Mama kandungmu Jeanne, kamu ini sudah dewasa ," kata Freed.


" Kamu berhak menentukan diri kamu sendiri, hiduplah tenang, santai dan bebas seperti namaku, Freed yang berarti kebebasan ," kata Freed lagi.


" Sekarang kamu mau mengantarkanku pulang apa tidak Freed?? ," tanya Jeanne.


" Nanti saja, lebih baik kita mengulang kegiatan indah kita semalam Jeanne, lihatlah punyaku sudah siap dan tegak berdiri ," jawab Freed kepada Jeanne.


" Lain kali saja, aku mau pulang dulu ke rumah ," kata Jeanne.


" Aaaaahh, kelamaan Jeanne, aku sudah tidak tahan ," kata Freed.


Freed pun langsung menerjang tubuh Jeanne lagi dan mereka melakukannya kembali hingga berulang kali.


Hehehe adegannya di skip dulu ya, wkawka puasa.


Sedangkan untuk Mama Siljie, yang semalam ketiduran di sofa ruang tamu, dia terbangun ketika sang suami mencarinya, karena semalam tidak tidur di dalam kamar bersamanya.


Ayah Ebert yang melihat Mama Siljie tidur di sofa ruang tamu, dia hanya menggelengkan kepalanya lalu mencoba membangunkannya.


" Mama, Mama bangun Ma ," kata Ayah Ebert.


" Ennghh, apakah Jeanne sudah pulang Ayah,?? jam berapa sekarang?? ," tanya Mama Siljie.


" Ini sudah pagi, sekitar jam delapan dan Ayah tidak tahu, apakah Jeanne sudah pulang apa belum ," jawab Ayah Ebert.


Mama Siljie yang mendengar jawaban dari sang suami, dia langsung melangkahkan kakinya menuju ke dalam kamar Jeanne, dan sayang sekali apa yang Mama Siljie harapkan ternyata tidak terkabul.


Jeanne tidak ada di dalam kamar, karena dia belum pulang sejak semalam.


Ayah Ebert sendiri yang tadi langsung ditinggal pergi oleh Mama Siljie, dia tidak peduli, karena Ayah Ebert memilih untuk bersiap-siap berangkat ke pabrik milik sang istri.


Mama Siljie mencoba menghubungi Jeanne lagi, kali ini tersambung, tapi masih tidak diangkat oleh Jeanne.

__ADS_1


" Freeddhh aaaah, ponselku berbunyi ," kata Jeanne kepada Freed.


" Biarkan saja, aku tidak bisa menghentikannya, ini enak ," jawab Freed sambil terus menggerakkan p***tnya.


" Kenapa masih tidak diangkat, kamu di mana Jeanne ," kata Mama Siljie merasa sangat khawatir sekali.


Ketika Mama Siljie baru saja ke luar dari dalam kamar Jeanne, dia tidak sengaja berpas-pasan dengan putra sulungnya yang sudah rapi dan akan berangkat bekerja.


" Max, bantuin Mama, Max, adik kamu Jeanne belum pulang sejak semalam, tolong cari dia ya Max ," kata Mama Siljie.


" Max tidak bisa Ma, hari ini ada pertemuan penting di pabrik, Max harus datang, jika tidak, pabrik milik kita akan bangkrut ," jawab Max dengan cuek.


" Kenapa kamu cuek sekali dengan adik kamu Max, apa kamu tidak sayang sama dia sama sekali hah!! ," kata Mama Siljie.


" Iya, Max memang tidak sayang sama dia, karena semenjak ada dia, Mama lebih sayang kepada Jeanne daripada Max, terlebih lagi sejak Mama menikah dengan Ayah Ebert, Mama lebih banyak menghabiskan waktu Mama dengannya daripada dengan Max!! ," jawab Max dengan sangat lantang sekali.


Mama Siljie hanya diam saja tidak bisa berkata apa-apa, ketika baru saja mendengar pengakuan dari sang putra.


Max yang sudah membentak sang Mama, dia memilih langsung pergi dari dalam rumah untuk menuju ke pabrik milik Keluarga.


Meninggalkan Keluarga Mama Siljie yang memang berantakan sejak dulu dan tidak ada kata harmonis, sebab hubungan mereka di awali dengan merusak rumah tangga wanita lain, kita beralih lagi kepada Aurora.


Setelah mobil milik Dickie pergi dari pekarangan rumah, Aurora langsung menutup pagar rumahnya, dan menguncinya dari dalam.


Aurora langsung masuk ke dalam rumah untuk mandi dan bersih-bersih badannya, sekaligus membersihkan serta membereskan rumah yang belum tertata rapi.


Tanpa Aurora sadari, ternyata waktu sudah berjalan sangat cepat sekali, dan saat ini waktu sudah menunjukkan pukul hampir jam dua belas siang.


" Astaga sudah hampir jam dua belas siang, aku lupa belum masak untuk makan siang ," kata Aurora.


" Tadi padahal Dickie sudah menelpon, jika dia nanti akan pulang jam satu siang ," kata Aurora lagi.


Aurora langsung bergegas masuk ke dalam dapur untuk menyiapkan masakan yang ingin di masaknya.


Baru saja mengeluarkan bahan-bahan dari dalam kulkas, Aurora mendengar suara Dickie yang sudah sampai rumah.


Walau pintu gerbang Aurora kunci dari dalam, Dickie masih mempunyai kunci cadangannya, jadi tanpa menunggu Aurora membukakannya sekalipun, dia masih bisa masuk.


" Aurora, sayang, kamu ada di mana?? ," kata Dickie mencari Aurora.


Aurora tentu saja langsung ke luar dari dalam dapur untuk menemui Dickie terlebih dahulu.


" Kamu sudah pulang sayang, maafkan aku, aku belum sempat memasak, tadi sedang beres-beres rumah dan terlupa akan waktu ," kata Aurora sambil berjalan mendekati Dickie.


" Tidak apa-apa, ini, kebetulan aku sudah membeli makanan untuk kita sayang ," jawab Dickie sambil menunjukkan bungkusan makanan.


" Kalau begitu, sini aku siapkan dulu ," kata Aurora.


" Iya, dan aku mau mandi dulu gerah sekali rasanya ," kata Dickie.


" Iya ," jawab Aurora sambil tersenyum.


Aurora kembali masuk ke dalam dapur untuk menyiapkan makanan yang sudah dibeli oleh Dickie, sedangkan Dickie sendiri langsung masuk ke dalam kamar untuk mandi.


Dickie yang melihat jika rumahnya sangat rapi, bersih, dia tersenyum sendiri, padahal di dalam rumah itu tidak ada seorang pembantu sama sekali, yang artinya Aurora sendirilah yang mengerjakan itu semua.


Sesampainya di dalam kamar, Dickie juga melihat kamar mereka sudah rapi dan juga harum, semakin senang pula Dickie melihatnya.


" Aurora sangat pintar sekali menjadi seorang istri, walau dia tidak berpendidikan tinggi dan cuma dari desa, setidaknya dia bisa membuatku bangga menjadikannya sebagai istriku ," kata Dickie berbicara sendiri.


Setelahnya, Dickie pun langsung mandi untuk membersihkan badannya


Dan untuk Aurora yang sudah selesai menyiapkan makanannya, dia lalu menyusul masuk ke dalam kamar untuk mandi juga, karena Aurora merasa malu badannya berkeringat setelah beres-beres rumah tadi.


Aurora yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar mandi, benar-benar sangat mengejutkan Dickie.


" Kamu membuatku terkejut Aurora ," kata Dickie.


" Aku mau mandi juga sebentar saja, jangan menggangguku ya, karena rasanya badanku sangat gerah sekali ," jawab Aurora sambil mengisi bathtube.


" Iya, mandilah, ini aku juga sudah mau selesai ," jawab Dickie di bawah guyuran air shower.


" Ok ," jawab Aurora.


Air yang dia siapkan di dalam bathtube sudah penuh, membuat Aurora langsung menceburkan badannya ke dalam bathtube tersebut.


Yang namanya laki-laki sering kali tidak bisa dipegang perkataannya, terlebih lagi dia dihadapkan dengan pemandangan yang menggugah selera.


Katanya sudah mau selesai, namun ketika Dickie melihat tubuh Aurora yang membangkitkan jiwa liarnya, tentu saja dia langsung menerkamnya lagi, kali ini Dickie mencobanya di dalam bathtube.


Menolak pun tidak akan bisa, karena Dickie benar-benar pintar membuat Aurora melayang sampai ke luar angkasa.


...✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️...

__ADS_1


...***TBC***...


__ADS_2