
Meninggalkan Enzo, kita beralih ke Arny.
Arny yang sedang berada di kantor, dia sangat sibuk sendiri dengan Frank, karena Arny ingin membantu sang kakak untuk mencari tahu sumber berita yang sedang tayang saat ini.
Sudah banyak kolega yang menelpon Arny pagi itu, untuk menanyakan kebenaran dari berita soal Enzo yang menghamili Jeanne.
Linnea yang melihat Frank ke luar masuk terus ke dalam ruang kerja Arny pun sebetulnya membuat jiwa penasarannya muncul kepermukaan, namun Linnea tidak berani bertanya kepada Frank.
Linnea menebak-nebak jika Arny sedang sibuk mengurus berita yang sedang tayang hari ini tentang Enzo.
Arny yang sedang bekerja dan mendapatkan telepon dari sang Kakak, jika Enzo sudah menemukan jalan ke luarnya, membuat Arny langsung bergegas menuju ke kantor Enzo, untuk lebih memastikannya sendiri.
Ketika Arny melewati meja kerjanya Linnea, dan disapa oleh Linnea, dia hanya cuek saja serta cuma melirik Linnea tanpa mau menanggapi sama sekali.
Sikap Arny yang seperti itu, membuat Linnea menjadi sedikit ada yang berbeda di dalam hatinya, namun Linnea tidak mau berburuk sangka terlebih dahulu kepada Arny.
Seharian tidak ada godaan demi godaan dari Arny, membuat hari Linnea merasa ada yang kurang.
Linnea merasa kurang semangat dalam bekerja, bahkan sampai ke apartemen pun sama saja, dia tidak mood untuk melakukan apa-apa.
Arny hari itu benar-benar sibuk dengan sang Kakak untuk merampas harta milik Mama Siljie, jadi dia tidak ada waktu untuk menggoda Linnea atau berbicara dengan Linnea walau cuma lima menit saja.
Sedangkan berpindah lagi ke suatu tempat, lebih tepatnya kepada Aurora.
Aurora dan Dickie benar-benar menikmati masa-masa berdua mereka sambil pergi ke wahana bermain.
Setelah capek bersenang-senang, Aurora dan Dickie kembali ke rumah mereka dalam keadaan yang bahagia.
Ketika malam tiba, sebelum tidur, Dickie mencoba mengajak berbicara calon buah hatinya dengan penuh rasa sayang.
" Halo anak Papa, sedang apakah di dalam sana?? ," tanya Dickie di depan perut Aurora.
Aurora yang melihat perilaku Dickie, hanya mengusap lembut rambut kepalanya sambil tersenyum manis.
" Sepertinya anak Papa sudah tidak sabar ingin segera melihat dunia ini ," kata Dickie lagi.
" Tidur yang nyenyak ya sayang, Papa akan menjaga kalian berdua semampu jiwa dan raga Papa, i love you ," kata Dickie sambil mencium perut Aurora.
" Papa pun sekarang juga harus tidur, ayo Pa ," kata Aurora.
Dickie hanya tersenyum saja mendengar perkataan dari Aurora, dan mereka lalu tidur dengan saling berpelukan menyalurkan kebahagiaan mereka berdua.
Berbeda lagi di rumah sakit tempat Mama Siljie sedang dirawat.
Uang yang sudah pas-pasan, Dokter yang merawat Mama Siljie, menyarankan Mama Siljie harus diop3r451, hal tersebut membuat Ayah Ebert dan Jeanne menjadi bingung sendiri, karena mereka tidak mempunyai biaya.
Jeanne yang kehidupannya selalu royal dan suka menghambur-hamburkan uang dengan percuma, sekarang dia tidak tahu harus berbuat apa-apa lagi, karena sepeser pun uang dia tidak punya.
" Coba kamu telepon Kakak kamu Max, Jeanne ," kata Ayah Ebert.
" Iya Ayah ," jawab Jeanne.
Jeanne langsung mencoba menghubungi Max, dan nomor telepon Max tidak bisa dia hubungi, karena Max sudah berganti nomor telepon.
" Tidak aktif Yah ," kata Jeanne.
" Ayah punya uang Jeanne, tapi nanti kita tidak tahu harus tinggal dimana setelah pulang dari rumah sakit ," kata Ayah Ebert.
" Pakailah saja dulu Ayah, yang penting Mama bisa sehat ," jawab Jeanne.
" Baiklah ," jawab Ayah Ebert.
Akhirnya, tabungan yang Ayah Ebert punya sementara untuk membiayai 0p3r451 dari Mama Siljie terlebih dahulu.
Kita tahu sendiri, jika 0p3r451 jantung pastilah biayanya sangat mahal sekali, dan itu sangat menguras tabungan milik Ayah Ebert, hingga tinggal beberapa juta saja jika dirupiahkan.
Setelah menjalani 0p3r451 selama kurang lebih hampir enam jam lamanya, akhirnya nyawa Mama Siljie bisa terselamatkan juga.
Mama Siljie setelah menjalani 0p3r451 dia harus rawat inap terlebih dahulu untuk beberapa hari lamanya, dan permalamnya sudah bisa ditotal sendiri berapa duwit yang harus Ayah Ebert keluarkan lagi.
Ayah Ebert benar-benar sangat pusing sekali memikirkan semua biaya yang harus dia tanggung itu, ditambah lagi, Jeanne tiba-tiba badannya drop, karena kurang beristirahat.
" Kamu istirahatlah di sini saja Jeanne, dan jaga Mama dulu, karena Ayah mau mencari pinjaman untuk biaya rumah sakitnya Mama ," kata Ayah Ebert.
" Iya Ayah, hati-hati ," jawab Jeanne.
Yang bisa Jeanne lakukan cuma tiduran di sofa yang ada di situ, sambil menunggu sang Mama sadar dari pasca 0p3r451 yang dijalaninya tadi.
__ADS_1
Ayah Ebert mengetuk dari pintu satu ke pintu yang lainnya untuk menemui kolega, sahabat atau kerabat yang dikenalnya untuk meminjamkan uang kepadanya.
Diantara mereka semua tidak ada yang mau meminjamkan uang kepada Ayah Ebert, selain sudah diancam oleh Enzo, mereka semua memang tidak menyukai karakter Mama Siljie yang selalu sombong dan suka menindas orang yang tidak punya.
Sekarang imbasnya kembali ke diri sendiri, tidak ada yang menolong disaat sedang kesusahan.
Hanya satu jalan yang terpaksa Ayah Ebert ambil, yaitu meminjam uang kepada orang jika di Indonesia sering disebut dengan rentenir.
" Ingat Ebert, kamu harus mengembalikan beserta bunganya sekitar lima puluh persen ," kata sang rentenir kepada Ayah Ebert.
" Baik Tuan ," jawab Ayah Ebert.
Akhirnya, uang pun didapat oleh Ayah Ebert, dan Ayah Ebert segera kembali ke rumah sakit untuk melunasi semua tunggakan biaya yang harus dia bayarkan, dan sisanya untuk dia mencari rumah sesuai dengan sisa uang yang dia punya.
Setelah menginap hampir tujuh hari lamanya di rumah sakit, karena kesehatannya sudah mulai membaik, akhirnya, Mama Siljie diijinkan pulang juga oleh Dokter.
" Ayah ini rumah siapa?? ," tanya Mama Siljie.
" Ini rumah kontrakan yang mampu Ayah cari Ma, kita akan tinggal di sini mulai saat ini ," jawab Ayah Ebert.
Bahkan rumah Aurora malah lebih bagus dari rumah kontrakan yang Ayah Ebert sewa.
Mama Siljie tentu saja marah dong, ketika dia harus disuruh tinggal di rumah yang sangat kumuh begitu.
" Ma, tolong hargai usaha Ayah!! ," kata Ayah Ebert.
" Ayah sudah berusaha keras untuk membiayai rumah sakit Mama, sedangkan kita tidak punya apa-apa lagi untuk mencukupi itu semua ," kata Ayah Ebert.
" Ayah memang tidak becus, payah,!! pantas saja dulu Ayah mau sama Mama,!! yang berasal dari orang miskin pasti akan kembali miskin lagi!! ," jawab dari Mama Siljie.
" Jika Mama sama Jeanne tidak mau tinggal di sini, kalian berdua silahkan pergi saja dari sini!! ," kata Ayah Ebert.
Setelah mengatakan hal seperti itu, Ayah Ebert langsung masuk ke dalam rumah kontrakannya dan menutup pintunya dari dalam.
" Mama juga tidak sudi tinggal di gubuk seperti ini, Mama masih bisa mencari tempat tinggal yang lebih baik dari ini!! ," jawab Mama Siljie.
" Ayo Jeanne ikut Mama ," kata Mama Siljie kepada Jeanne.
" Tapi Ma,? kita akan tinggal di mana sekarang?? ," tanya jeanne.
" Nanti akan Mama pikirkan!! ," jawab Mama Siljie.
Ayah Ebert yang mengintip dari dalam, dia hanya bisa menghela nafasnya melihat sikap sang istri yang tidak ada kata terimakasih sama sekali dengan apa yang sudah dia lakukan untuknya.
Penyesalan sudah datang terlambat, sekarang yang bisa Ayah Ebert lakukan, cuma meratapinya.
Hari berganti dengan hari, tidak terasa sudah berjalan sekitar empat bulan lamanya, setelah kejadian yang dialami oleh Enzo karena ulah Mama Siljie dan Jeanne.
Selama berbulan-bulan itu juga, Enzo sangat payah sekali karena masih belum bisa menemukan Aurora sama sekali.
Oh ya, membicarakan Aurora, sekarang kehamilannya sudah menginjak usia ke tujuh bulan.
Aurora dan Dickie merasa sangat senang sekali, karena calon buah hati mereka tumbuh dengan sehat di dalam perut Aurora.
Aurora sekarang yakin, jika di dalam perutnya ada seorang baby yang sudah sangat dia harapkan sejak dulu, ditambah juga Aurora sekarang tidak perlu meragukan lagi cinta Dickie kepadanya yang sudah terbukti tulus menyayanginya.
Meninggalkan Aurora sejenak, karena part nya nanti akan panjang, kita bahas di part selanjutnya, sekarang author ingin membahas Mama Siljie terlebih dahulu.
Setelah Mama Siljie pergi dan tidak mau tinggal dengan Ayah Ebert, hidupnya menjadi berantakan, dia tidur di emperan toko, bahkan di bawah kolong jembatan supaya dia dan Jeanne bisa berteduh dari panasnya terik matahari dan air hujan yang tiba-tiba turun.
Hidup Mama Siljie dan Jeanne benar-benar sangat berbanding terbalik dengan Aurora yang sudah bahagia.
Tinggal disembarang tempat, dengan hamil sekitar tujuh bulan, membuat Jeanne menjadi kesusahan sendiri hidup di jalanan.
Ingin sekali Mama Siljie atau Jeanne kembali ke rumah Ayah Ebert dan meminta maaf kepadanya, tapi sayang, Mama Siljie dan Jeanne lupa di mana alamat tempat tinggal kontrakannya Ayah Ebert.
Untuk kasus berita yang sudah disebarkan oleh Mama Siljie kemarin, semuanya sudah beres karena diselesaikan oleh pengacaranya Enzo yang sangat handal itu.
Tidak cuma itu saja, Enzo juga menghancurkan kantor berita yang pertama kali membuat berita tersebut, hingga mereka harus gulung tikar sampai ke akar-akarnya.
Makanya, jika ingin main-main dengan orang yang berkuasa, siapkanlah uang yang lebih banyak dari mereka, jadi tidak akan rugi sendiri.
Ayah Ebert sendiri setelah tidak bekerja di pabrik, dia bekerja serabutan di pasar, terkadang menjual hasil ladangnya yang tidak seberapa hasilnya itu.
Di samping rumah kontrakan Ayah Ebert, ada lahan kosong sekitar dua kali satu meter, dan dilahan itu Ayah Ebert coba menanam berbagai sayuran untuk menyambung hidupnya, hidup Ayah Ebert sudah mirip dengan kehidupan Aurora waktu dulu.
Ayah Ebert, juga selalu dikejar-kejar oleh rentenir, untuk segera melunasi hutang-hutangnya yang sudah semakin menumpuk itu.
__ADS_1
Akan tetapi, Ayah Ebert tidak bisa melunasinya, karena dia tidak mempunyai uang sama sekali, sudah bisa makan saja Ayah Ebert merasa sangat bersyukur sekali.
Ketika Ayah Ebert dari pasar dan ingin kembali pulang ke rumah kontrakannya, dia tidak sengaja melihat dua gelandangan yang wajahnya sangat mirip sekali seperti sang istri dan putri tercintanya.
Untuk lebih memastikannya, Ayah Ebert mencoba mendekati dua gelandangan yang satunya sedang hamil tersebut.
" Maaf?? ," kata Ayah Ebert untuk mengalihkan pandangan dua gelandangan itu.
Dua gelandangan itu langsung mengalihkan pandangan mereka ke arah Ayah Ebert, dan mereka berdua langsung menangis ketika melihat Ayah Ebert.
" Ayah!! ," ternyata dua gelandangan itu adalah Mama Siljie dan Jeanne.
" Mama, Jeanne, kenapa kalian berdua bisa menjadi seperti ini?? ," tanya Ayah Ebert.
" Maafkan Mama, Ayah ," kata Mama Siljie.
" Sudah ayo, ikut Ayah pulang, kasihan Jeanne sudah hamil besar harus tinggal di jalanan ," jawab Ayah Ebert.
Ayah Ebert pun lalu mengajak pulang Mama Siljie dan Jeanne ke rumah kontrakannya.
Sesampainya di rumah kontrakannya, Mama Siljie dan Jeanne langsung mandi dan membersihkan badannya supaya lebih enak dipandang.
" Maafkan Mama, Ayah, Mama janji akan menurut apa kata Ayah ," kata Mama Siljie merasa menyesal.
" Iya, semua yang sudah berlalu biarlah berlalu, kita masih satu Keluarga, mulai sekarang rumah ini juga rumah kalian berdua ," jawab Ayah Ebert.
" Apakah calon cucu Ayah ini sudah pernah kamu periksakan ke Dokter Jeanne?? ," tanya Ayah Ebert.
" Belum Ayah, Jeanne dan Mama tidak punya uang sama sekali, makan pun terkadang kita harus menunggu belas kasihan dari orang lain ," jawab Jeanne sambil menampilkan wajah sedihnya.
" Ayah ada uang sedikit, nanti kamu akan Ayah antarkan periksa ke Dokter ," kata Ayah Ebert.
" Terimakasih Ayah, maafkan Jeanne yang selama ini tidak pernah mendengarkan apa kata Ayah ," kata Jeanne sambil memeluk Ayah Ebert dengan berlinang air mata.
" Sudah, jangan bersedih lagi, kasihan cucu Ayah ," kata Ayah Ebert.
" Kamu tidur di kamar depan ya, kebetulan di dalam rumah kontrakan ini ada dua kamar ," kata Ayah Ebert kepada Jeanne.
" Baik Ayah ," jawab Jeanne.
Jeanne pun lalu meminta ijin kepada ke dua orang tuanya untuk beristirahat di dalam kamar, walau kamarnya tidak sebagus dengan kamarnya yang dulu, setidaknya itu lebih baik, daripada dia harus tidur di jalanan seperti beberapa bulan yang lalu.
Jika membahas mereka, tidak afdol rasanya jika kita tidak membahas Max juga, putra sulung Mama Siljie.
Hidup Max masih adem ayem saja, karena dia masih mempunyai kekayaan seperti sebelumnya.
Max mempunyai rumah mewah, mobil mewah, apartemen pun juga mewah, semua itu dia beli dari hasil tabungannya sendiri selama bekerja di pabrik milik sang Mama.
Karena Max sudah mau membantu Enzo, dengan suka rela Enzo mau menjadi investor terbesar di pabrik yang dia kelola saat ini. Itulah kenapa Max bisa semakin berjaya pabriknya, karena mendapatkan sokongan dari Enzo.
Max juga tahu, jika Keluarganya hidup miskin, bahkan Max juga pernah melihat adik tiri dan Mamanya menjadi gelandangan di pinggir jalan.
Namun Max yang melihat dari dalam mobil, dia hanya melihatnya saja tanpa mau ingin membantu Jeanne atau Mama Siljie sama sekali.
Menurut Max, sang Mama dan adik tirinya itu pantas mendapatkan itu semua, dan hukuman yang mereka terima, masih terbilang singkat, tidak seperti yang dirasakan oleh Aurora selama lebih dari sepuluh tahun lamanya.
Sungguh malang dan juga kasihan sekali nasib Keluarga Mama Siljie.
Akan tetapi jika melihat apa yang sudah pernah mereka perbuat kepada Mama Dama dan Aurora, mereka semua memang sangat pantas sekali mendapatkannya.
Max pun yang masih membantu Enzo untuk mencari Aurora, dia juga belum bisa menemukannya sama sekali.
Padahal yang cuma dilakukan oleh Aurora berada di dalam rumah seharian, jika dia sudah suntuk, Dickie akan mengajaknya jalan-jalan, dan ketika jalan-jalan Aurora akan memakai pakaian yang tertutup plus masker, sudah begitu saja, akan tetapi entah kenapa semesta sepertinya memang tidak mengijinkan Aurora ditemukan oleh Enzo.
Meninggalkan Aurora, beserta yang lainnya, kita sekarang beralih ke Linnea.
Linnea merasa jika Arny sekarang sudah mulai menjauhinya, terlebih lagi ketika Linnea melihat ada seorang wanita cantik yang datang ke kantor, terus dia keluar bersama Arny dan mereka berdua terlihat sangat dekat sekali.
Entah kenapa hati Linnea merasa sedih melihatnya, namun Linnea masih menyangkal itu semua.
Arny memang sengaja menjauhi Linnea, karena dia ingin melihat sendiri, apakah jika dengan menjauh Linnea ada perubahan atau tidak, sebab kata seseorang, jika ingin mendekati seorang wanita harus seperti bermain layang-layang, tarik ulur dengan teratur.
Dan menurut Arny taktik yang dijalani berhasil, sebab Arny melihat, jika Linnea sedikit berbeda dari biasanya, terlihat lebih murung wajahnya.
Di dalam hati, Arny tersenyum senang sekali, karena itu artinya, Linnea juga menaruh hati kepadanya, dan Arny berharap, setelah ini, dia bisa dengan mudah untuk mendekati Linnea kembali.
...✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️...
__ADS_1
...***TBC***...