AURORA

AURORA
Part 4


__ADS_3

Pagi yang sangat cerah, tidak secerah hati Kesya. Kesya baru saja mengikuti sebuah tes, tes yang menentukan dirinya harus masuk ke jurusan IPA atau IPS.Β 


Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat, mulutnya sedari tadi tidak berhenti berkomat-kamit, layaknya seorang dukun.


Ara yang disampingnya, menyadari kelakuan Kesya dari tadi.


"Santai aja sih, selowww." Ucap Ara, menyenggol pelan lengan kesya.


Berbeda dengan Ara, Kesya hanya bisa tersenyum pasrah menunggu hasil dari ujian tesnya.


Seorang guru masuk ke dalam kelas Kesya, semua anak menatap guru itu penuh dengan pertanyaan termasuk Kesya.


"Kenapa wajah kalian seperti mau mengintimidasi ibu sih?" Ucap guru tersebut, yang belum diketahui namanya.


"Sudah santai saja, mau hasilnya IPA atau IPS sama saja kok, kalian akan tetap bersekolah disini. Lagipula IPA-IPS sama saja, tidak ada yang berbeda."


Setiap anak memiliki reaksi berbeda, ada yang menunduk, menunjukkan reaksi panik, ada yang pasrah, bahkan ada yang santai-santai saja salah satunya Ara, satu-satunya anak di kelas nya yang menunjukkan sikap biasa saja.


"Oke ibu akan bacakan ya."


"Iya Bu." Jawab anak-anak serempak.


Setelah beberapa anak, sudah disebutkan namanya dan tujuan jurusannya.


"Oke ada satu nama yang belum disebut, Kesya Athaleta Almeera"


Kesya menunduk pada saat namanya disebut, dia terus-menerus memanjatkan doa kepada Tuhan agar keinginannya tercapai.


"Kesya, jurusan yang kamu dapatkan IPA, dan kamu masuk kelas X IPA 1 ya."


Seketika Kesya mengangkat kepalanya dirinya tidak percaya sama sekali, pasalnya sudah masuk IPA saja dia sudah senang, dan sekarang dia masuk kelas X IPA 1 yang jelas-jelas kelas itu, kelas unggulan.


Ara menepuk bahu Kesya. "Tuhkan, gue percaya kalo Lo itu bisa."


"Ahhhh, makasih Ara. Lo sahabat gue fixxxxxxx." Ucap Kesya memeluk erat Ara.


"Bi_biasa aja meluk_nya, gg_gue gak bisa nafas nih."


Kesya langsung menjauhkan tubuhnya dari Ara, dan menatap lega ke arah Ara, karena ara bisa bernafas lega.


"Hehe maaf ya." Ucap Kesya, sambil menggenggam tangan ara. Menyalurkan kebahagiaan nya ke teman yang sekarang sudah dianggap seperti sahabat nya.


🍁🍁🍁


Karena sekolah belum mengadakan kegiatan KBM atau kegiatan belajar mengajar, siswa dan siswi SMA MARTIA NUSA dibebaskan untuk melakukan kegiatan apapun di sekolah. Tapi berbeda dengan Kesya, Kesya memilih pulang untuk membantu tantenya di rumah.


"Sya lo mau balik?" Tanya Ara yang sedang memperhatikan Kesya.


"Heem" Kesya mengangguk.


"Main aja lah yu, masih siang juga kan." Ajak Ara, langsung berdiri dari duduknya.


"Gak bisa Ra, gue harus bantu Tante di rumah."


Kesya menolak ajakan Ara, Ara hanya mengangguk-anggukan kepalanya, ada sesuatu yang terlintas di pikirannya.


"Gue ikut Lo aja ya, sekalian gue mau kenalan sama orang tua Lo."


Mendengar ucapan Ara, Kesya merasaΒ  pipinya seperti di tampar cukup keras, dan meninggalkan jejak merah di pipinya.


Ara menepuk pundak Kesya cukup keras. "Lo gak papa kan?"


"Awww."

__ADS_1


"Hah, i_iya gak papa kok."


"Eh sorry, kekencangan ya." Ucap Ara.


"Terus, gue boleh gak main ke rumah Lo?"


Lagi-lagi Ara menanyakan hal itu untuk memastikan nya.


"Iya, boleh kok."


"Ya udah yo!!"


Ara langsung mendorong tubuh Kesya untuk segera keluar dari kelas.


🍁🍁🍁


Di lapangan utama banyak sekali anak-anak yang sedang memperhatikan pertandingan bola, hanya pertandingan main-main saja yang di lakukan oleh siswa kelas 12 melawan siswa kelas 11.


Kesya juga turut memperhatikan sambil berjalan menuju gerbang sekolah, namun pandangan mata Kesya tidak untuk semua pemain.


Ada satu orang yang membuat pandangan Kesya terfokus pada dirinya.


"Rumah Lo jauh ya sya?"


"Lo punya adek atau kakak sya?"


"Tante Lo usaha apaan sya?"


Berbagai pertanyaan dilontarkan begitu saja dari mulut Ara, Ara menunggu jawaban dari Kesya, nyatanya Kesya hanya diam dan masih fokus dengan titik utamanya.


Merasa di diamkan, Ara menoleh ke arah Kesya.


Ara terdiam, bisa-bisanya dia berjalan tanpa melihat ke depan. Dan Ara tau, seseorang yang membuat fokus Kesya menjadi terbagi dua seperti ini. Fagan, nama itu terlintas begitu saja dipikiran Ara.


Ara menggoyangkan lengan Kesya. "Kak fagan keren ya sya?"


Kesya mengangguk, terlihat jelas senyuman yang terukir di wajahnya begitu tulus tanpa ada yang dibuat-buat.


Ara tersenyum setelah mengetahui jawaban yang sangat jujur.


Tak lama setelah itu, Kesya menoleh ke arah Ara yang sedang tersenyum tanpa menoleh ke arahnya.


"Tadi Lo ngomong apa?"


Wajah Kesya sedikit panik.


Ara menoleh ke Kesya."Kak fagan keren ya sya?."


"Terus gue jawab apa?"


Ara mengangguk dan tersenyum, menirukan gaya kesya.


"Ihhhhh, Ara!!"


Ara langsung mengambil jurus langkah seribu, berlari meninggalkan Kesya yang juga mengejar Ara dengan penuh kekesalan.


🍁🍁🍁


"Assalamualaikum Tante, kesya pulang nih!!"


Kesya menoleh ke belakang, mendapati Ara yang masih terdiam di belakang nya. Kesya langsung menarik Ara untuk masuk ke dalam rumahnya.


"Tante!!"

__ADS_1


Kesya berkeliling ruangannya, tapi Dewi tidak kunjung di temukan olehnya.


"Tante kemana ya?"


"Tante!!"


Kesya beralih ke ruang tamu, Ara sudah duduk di lantai. Maklum saja, rumah Kesya tidak memiliki sofa ataupun sejenisnya, jadi tamu seperti Ara harus duduk di lantai.


"Kayanya Tante gue lagi nganterin pakaian deh." Ucap Kesya ke Ara.


"Tante Lo usaha laundry?"


Tatapan Ara berhenti di sebuah tempat, terdapat berbagai benda disana. Ada timbangan, keranjang di atas meja, dan beberapa rak yang sudah terisi oleh pakaian bersih dibungkus plastik bening.


"Iya hehe, ini yang Lo tanyain tadi ya." Kesya menyengir kuda, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali.


Tatapan Ara beralih ke Kesya. "Bokap sama nyokap Lo dimana sya?"


Lagi-lagi pertanyaan mengenai orang tua, Kesya sedikit tidak nyaman dengan pertanyaan ara yang satu ini.


Namun, bagaimana lagi, mau tidak mau Kesya harus menjawab dan lebih menstabilkan emosinya agar tidak terluapkan di depan Ara.


"Ohh, it_itu. Me_me_mereka, hmm. Mereka gak ad-"


Entah Kesya harus bersyukur atau tidak untuk saat ini, baru saja ingin menjawab pertanyaan. Seseorang yang sedari tadi dicari pun datang.


"Kesya!!!!"


Kesya dan Ara menoleh ke arah pintu masuk.


"Nah itu Tante gue." Kesya menunjuk ke arah Dewi yang ingin masuk ke tempat laundry nya, tempat untuk menerima cucian kotor ataupun memberikan cucian bersih kepada pelanggan yang ingin mengambilnya.


"Tante!!" Panggil Kesya, lalu dewi menghampiri Kesya di ruangan tengah.


"Kenapa sih sya? Teriak-teriakan Mulu, ini rumah bukan hutan."


Dewi sedikit kesal karena kelakuan keponakan nya. Fokusnya langsung teralihkan kepada Ara yang berdiri di samping Kesya.


"Iya Tan, maaf. Kenalin nih, Ara temen Kesya."


Ara mencium punggung tangan Dewi. "Hallo Tan, saya Ara temennya Kesya. Maaf tan mengganggu waktu Tante."


"Ihh gak ganggu sama sekali, Tante malah seneng kalo Kesya ada temannya."


Kesya hanya tersenyum, melihat sambutan hangat dewi kepada Ara.


"Nih anak, dari jaman SMP gak pernah punya temen yang tulus." Ucapnya menjelek-jelekkan Kesya, sambil menunjuk ke arah Kesya.


"Apaan sih Tante? Gak gitu Tan, Kesya cuma agak sulit bersosialisasi Tante."


"Apa sih gaya banget jadinya?. Tante tinggalnya, Tante masih banyak kerjaan tuh hehe"


"Iya Tan."


Tinggallah mereka berdua, entah kenapa suasana jadi sedikit kaku.


"Hmm, soal orang tu-"


Lagi-lagi ucapan Kesya harus terhenti, namun bukan karena Dewi. Melainkan karena sang pemberi pertanyaan, Ara.


"Gue bosen dah, mendingΒ  kita bantuin tante Lo aja lah. Yuk!!"


Ara pergi menghampiri Dewi, terlebih dahulu. Meninggalkan Kesya yang masih termenung sambil tersenyum, namun raut wajahnya tidak begitu bahagia.

__ADS_1


"Bahkan gue gak tau dimana orang tua gue."


To Be Continued...


__ADS_2