
Hari Minggu pun tiba, hari dimana semua aktifitas biasa di liburkan. Dan digunakan oleh aktifitas yang terbilang santai. Seperti, berkumpul bersama keluarga, teman dan lain-lain.
Tapi, tidak dengan Kesya. Hari minggunya diisi dengan membantu sang Tante mengantar kan beberapa pakaian dan mengambil pakaian yang ingin di cuci di tempat laundry nya.
Disinilah Kesya, di sebuah rumah yang tidak pantas disebut rumah, tempat ini lebih cocok disebut istana.
"Apa Tante gak salah kasih ke alamat ke gue ya?" Ucap Kesya, memperhatikan layar ponselnya.
"Gue coba pencet bel aja kali ya." Lanjutnya, menyentuh tombol yang tertempel di dinding.
Beberapa menit Kesya menunggu di luar pagar, tiba-tiba ada tangan yang membukakan kunci pagar tersebut.
"Maaf Bu, saya mau ambil cucian kotor nya. Ada?"
"Ohh, ada kok. Mari, masuk dulu neng."
Wanita itu mempersilahkan Kesya untuk masuk.
Kesya di persilahkan duduk di kursi dekat pintu masuk, sembari menunggu wanita tadi mengambilkan pakaian kotor.
"Sebentar ya neng."
Kesya mengangguk, lalu melemparkan senyuman kepada wanita itu.
Kesya menyenderkan punggungnya ke kursi, merilekskan semua tubuhnya yang terasa kaku akibat berkeliling komplek elite ini.
Dia baru menyadari, ternyata pelanggan tantenya rata-rata banyak dari kalangan atas, termasuk komplek elite ini.
"Ini neng."
Wanita itu membawa dua kantong kresek berukuran beras, yang sudah terisi pakaian kotor.
"Atas nama siapa bu?" Ucap Kesya sambil mengeluarkan kertas dan pulpen nya.
"Surti aja neng."
Kesya mengangguk mengerti, setelah itu memasukkan pulpen ke dalam tasnya, dan meletakkan kertas tadi di dalam kantong kresek itu.
"Saya permisi ya bu."
'Rumah Segede ini, ada berapa keluarga yang tinggal disini ya?' Batin kesya
Tiinnnnnnnnnn
Suara klakson motor membuyarkan lamunan Kesya. Kantong kresek yang ia bawa, ia lemparkan begitu saja karena sangat terkejut.
Alhasil, semua pakaian yang ada di dalam kantong kresek itu jatuh berserakan.
"Ya Allah neng, sini saya bantu neng."
Wanita itu setengah berlari ke arah Kesya yang sedang memunguti satu-persatu pakaian yang sudah berantakan di tanah.
Seseorang melepaskan helm, dan turun dari motor nya itu. Berjalan mendekat ke arah Kesya, yang masih fokus memunguti pakaian.
__ADS_1
"Bi."
Kalimat itu sangat jelas di telinga Kesya dan wanita itu. Kesya tidak mendongak ke asal suara itu, hanya wanita paruh baya yang mendongak ke arah nya.
"Den Fagan sudah pulang."
Wanita paruh baya itu segera berdiri, dan memberikan satu kantong kresek yang sudah penuh dengan pakaian kotor itu kepada Kesya.
"Saya per..-" ucap Kesya terhenti.
Dia merasakan tubuhnya tidak bisa bergerak, tubuhnya mematung seperti ada magnet di bawah sandalnya yang mengharuskan dia berdiri di sini selamanya.
"Kk_ka fagan!!" Ucap Kesya terbata-bata, karena masih syok.
Fagan sempat menoleh ke arah Kesya, namun memalingkan wajahnya ke arah manapun asal tidak bertemu dengan tatapan mata Kesya.
"Bi, tutup gerbangnya." Suruh Fagan kepada wanita paruh baya itu.
Tapi yang disuruh tidak menuruti perintah fagan.
"Kenapa masih disitu?" Ucap Fagan santai, masih dengan wajah datarnya.
Wanita itu menggerakkan telunjuk nya. Fagan mengikuti arah jari telunjuk wanita itu, arah jari tersebut mengarah ke Kesya.
"Lo masih ada urusan?" Ucap Fagan dengan wajah datar tidak berekspresi.
"Eng-eng_gak kak."
"Ya udah, Lo bisa keluar." Ucap fagan, dan berlalu meninggalkan Kesya dan asisten rumah tangganya.
"Iya Bu, gak papa kok. Saya permisi ya bu." Ucap Kesya berjalan keluar dari halaman rumah fagan.
Di luar, Kesya meletakkan pakaian kotor nya di keranjang yang ada di sepeda Kesya. Sepeda Kesya sudah di modifikasi, jadi ada keranjang yang di letakkan di sepeda bagian belakangnya, sengaja untuk meletakkan pakaian.
Memang sepedanya sudah di khususkan untuk keperluan laundry milik tantenya.
Kesya menoleh ke arah rumah besar itu. "Gak heran sih, kalo rumah ini punya kak fagan. Kakeknya kak fagan aja pemilik yayasan, pasti orang tuanya kak fagan juga kaya."
Kesya menghela nafasnya, menaiki sepeda nya dan mengayuhnya dengan kecepatan stabil.
🍁🍁🍁
Langit mendung kini menurunkan tetesan-tetesan air yang membasahi aspal jalanan. Udara yang semula panas, kini berubah menjadi sejuk karena hujan.
Kesya meminggirkan sepedanya ke sebuah halte yang sudah ramai oleh pengendara motor, yang sekedar berteduh sambil memakai jas hujan setelah itu melanjutkan perjalanan nya, dan ada yang berteduh menunggu hingga hujan reda.
"Untung saja, semua pakaian bersih udah di antar ke pemilik nya." Ucap kesya.
Pandangan mata Kesya melirik ke kanan-kiri, memperhatikan orang-orang yang sedang berteduh sama seperti dirinya.
"Mamah dingin."
Kesya menoleh ke sebelah kanannya.
__ADS_1
Pandangannya berhenti ke arah anak perempuan yang sedang bersama kedua orang tuanya, anak itu merengek kedinginan kepada ibunya. Sang ibu menoleh ke anaknya, dan melepaskan jaket yang ia kenakan lalu di pakaikan ke anaknya.
Hati Kesya merasa teriris melihat pemandangan yang membuat dia iri sebagai anak, dirinya juga mau di manja seperti itu oleh kedua orang tuanya.
Namun, skenario tuhan sangat indah bukan. Walaupun Kesya hidup belum merasakan kasih sayang kedua orang tuanya, tapi Tuhan mengirimkan malaikat tak bersayap ke dalam hidupnya, yaitu Dewi.
Kesya memalingkan wajahnya ke arah tangannya, mengangkat tangannya dan melihat jam yang melingkar di tangannya.
Jamnya sudah menunjukan pukul 17.00. Hari sudah semakin sore, tapi hujan belum juga reda.
"Duhh, gimana ya?. Hujan belum berhenti lagi."
Cemas mulai menyelimuti diri Kesya, kalau dia tidak pulang sekarang, Dewi akan mencuci pakaian itu hingga larut malam. Dan Kesya tidak mau itu terjadi, karena kesehatan Dewi akan menurun.
"Ya udah deh, gue pulang aja."
"Kesya."
Baru saja Kesya ingin melangkah kan kakinya menuju sepeda, seseorang memanggil Kesya dengan suara yang sedikit keras. Kesya langsung menoleh ke sumber suara itu, Kesya menyipitkan matanya, menajamkan pandangannya ke arah seseorang yang dapat dilihat adalah seorang laki-laki.
Laki-laki itu menghampiri Kesya, Kesya masih tidak mengingat laki-laki itu. Bahkan dirinya sempat berfikir, apa dia se-famous itu, sampai ada seseorang yang meneriaki namanya di halte bus seperti ini.
"Lo ngapain disini?" Tanya laki-laki itu.
"Neduh." Jawab Kesya yang masih bingung dengan laki-laki yang sekarah berdiri di hadapan nya.
Seperti bisa membaca pikiran, laki-laki itu mengkritik ekspresi wajah Kesya yang menatap dirinya penuh tanya.
"Kenapa, kok muka lo kaya bingung gitu? Lo lupa sama gue?" Tanya laki-laki itu untuk ke sekian kalinya.
Tidak mau membuat kecewa laki-laki itu, Kesya berusaha untuk mengingat laki-laki itu. Dimana sebelumnya dia bertemu dengan laki-laki itu?
Kesya diam sebentar, lalu menjawab ragu pertanyaan laki-laki itu. "Kak da_dante?"
"Haha, iya gue Dante." Ucapnya sambil tersenyum lega ke arah Kesya.
"Ya ampun kak maaf, saya gak tau kak. Abisnya kakak sedikit beda sama di sekolah."
"Hahaha, iya lebih ganteng ya." Ucap Dante percaya diri.
Kesya memasang wajah tersenyum.
"Bercanda kok."
"Iya kak, gak papa kok. Kak saya pergi dulu ya, maaf kak." Kesya berjalan ke arah sepedanya.
"Loh kan masih hujan sya." Ucap Dante sedikit terkejut.
"Cuma gerimis kok kak, permisi kak." Kesya langsung mengayuh sepedanya, dan semakin menjauh dari halte itu.
Tanpa sadar Dante memandangi punggung Kesya yang semakin jauh, sudut bibir Dante melengkung tertarik ke atas, membentuk senyuman manis yang sangat tulus. Sepertinya tidak lama lagi akan ada sebuah perasaan khusus, yang akan singgah di dalam hatinya.
Cinta akan datang seiring berjalannya waktu.
__ADS_1
To Be Continued...