AURORA

AURORA
Kesempatan kedua


__ADS_3

Happy reading guys 😘😘😘


Aurora terus menangis dipelukan Aldrick hingga matanya sembab, dai sangat takut jika sampai terjadi apa apa kepada putranya.


"Pap,,,pa,,pap." celoteh Brian.


"Kamu dengar suara itu?" tanya Aurora.


"Itu suara Brian." ucap Aldrick.


Aurora menatap Aldrick penuh curiga.


"Kamu sembunyikan Brian?"tuduh Aurora.


"Tidak." sanggah Aldrick cepat.


"Pap,,pap,, pa,," Brian yang tidak melihat keberadaan Papanya memanggil manggil Papanya.


Brian merangkak keluar dari kolong meja kerja Aldrick.


"Brian sayang." teriak Aurora langsung menghampiri Brian.


"Bilang tidak tahu ini apa hah?" Aurora mencubit perut Aldrick hingga Aldrick mengaduh kesakitan.


"Au,,aduh,, lepas sakit."


"Gini aja bilang sakit, seenaknya saja menyembunyikan anak sendiri."


Melihat Mama dan papanya Brian tertawa sambil bertepuk tangan.


"Pap,, pa,,"


"Kenapa kamu bisa disini Nak?"tanya Aldrick sambil menggendong Brian.


"Masih nanya pasti ulah kamu sendiri kan?" tuduh Aurora lagi.


"Tidak."


"Tapi bagaimana bisa dia sampai disini dan berada di kolong meja kamu."


"Oke, kita lihat CCTV saja."


Aldrick dan Aurora melihat layar laptop yang menayangkan CCTV mansion.


Dilihatnya Brian merangkak menaiki tangga sendiri tanpa di bantu siapapun dan memasuki ruangan Aldrick kemudian masuk kedalam kolong meja.


"Ya tuhan Brian bagaimana jika kamu terjatuh Nak." ucap Aurora.


"Bagaimana bisa kamu tidak menyadari saat Brian memasuki ruangan mu sih? " kesal Aurora.


Aldrick diam saja Memilih mengalah daripada nanti jadi runyam, karena belakangan ini Aurora suka sekali mengomel.


"Maaf Tuan Nyonya, makan malam sudah siap." ucap Bik Asih di depan pintu yang terbuka.


"Baik bik,kami segera turun." jawab Aurora.


Mereka makan malam bertiga Brian di dudukkan di kursi yang memang dikhususkan miliknya.


Brian menangis tidak mau disuapi dan dengan entengnya Aldrick memberikan piring yang berisi makanan Brian.


"Kenapa kamu memberikannya?" tanya Aurora sambil mendelik kesal pada Aldrick.


"Biarkan saja Brian belajar mandiri."jawab Aldrick santai.


"Nanti Brian bisa kotor semua."keluh Aurora.


Bagaimana Aurora tidak berkata seperti itu, Brian makan bukan menggunakan Sendok nya melainkan menggunakan tangannya,bahkan wajahnya sudah penuh dengan makanan.


"Pintarnya anak Papa."puji Aldrick.


"Pintarnya anak Papa." Aurora mengikuti ucapan Aldrick.


Setelah makam malam Aurora membawa Brian ke kamarnya untuk dibersihkan dan langsung istirahat.

__ADS_1


Aldrick menyusul anak dan istrinya ke kamar putranya, dia heran dengan Aurora sampai saat ini dia masih belum mau memaafkan dirinya.


Melihat kedatangan Aldrick Aurora pura pura tidur.


"Saya tahu kamu belum tidur." ucap Aldrick.


"Apa sih?" ketus Aurora.


"Sampai kapan kita seperti ini?"


"Seperti ini bagaimana?" tanya Aurora balik.


"Apa yang harus saya lakukan agar kamu mau memaafkan semua kesalahanku?" tanya Aldrick serius.


"Bisakah kamu melepaskan aku pergi bersama Brian?" tanya Aurora balik.


"Tidak!" jawab Aldrick.


"Apakah tidak ada sedikit pun keinginan kamu untuk memperbaiki hubungan kita, kita bisa membesarkan Brian bersama sama." ucap Aldrick.


"Saya tahu kesalahan saya sangat fatal,tapi saya mohon berikan saya kesempatan kedua."


"Aku capek mau tidur." ucap Aurora setelah itu berbaring memunggungi Aldrick.


'Aku tidak ingin membiarkan Brian hidup tanpa kasih sayang keudua orang tuanya.'


Semenjak pembicaraan malam itu Aldrick berusaha terus memberikan perhatian lebih pada Aurora,namun Aurora tidak menanggapi semua perhatian Aldrick.


"Nyonya,, boleh saya bicara?" tanya bik Sum saat menyiapkan makan siang untuk Aurora.


"Bicara saja Bik." jawab Aurora.


"Apa Nyonya tidak kasihan melihat Tuan?" Bik Sum bertanya dengan sangat hati hati.


"Bibik lihat Tuan sudah berubah, beliau terlihat sangat menyayangi Nyonya, belia juga sangat mengutamakan Keluarga nya."


Aurora hanya diam mendengarkan ucapan Bik Sum.


"Aku hanya memiliki rasa Benci dan Kecewa yang teramat besar padanya." ucap Aurora.


"Aku ingin pergi menjauh." lanjut Aurora matanya menerawang.


Tanpa Aurora sadari ada seorang yang mendengarkan pembicaraan mereka dan Orang itu adalah Aldrick.


"Jika aku melepaskan mu, apakah kamu akan bahagia?" tanya Aldrick tiba tiba.


Aurora menoleh dan terkejut melihat kedatangan Aldrick.


"Sangat." jawab Aurora.


"Baiklah,beri saya waktu untuk bersama Brian." setelah mengatakan itu Aldrick pergi menuju kamarnya.


Ada rasa sesak yang tiba tiba menyerang saat Aldrick menyetujui untuk melepaskan dirinya.


Brian bayi kecil itu merangkak mengikuti langkah Papanya tanpa diketahui Aldrick maupun Aurora.


"Pap,,, pa,,,"


Aldrick menoleh dan melihat keberadaan Putranya.


"Boy,, " panggil Aldrick langsung menggendong Brian.


"Bisakah Papa berpisah denganmu?" tidak dapat Aldrick bayangkan jika harus berpisah dengan Brian.


Tapi dia tidak ingin egois lagi, sudah cukup selama ini dia menyiksa Aurora,meski sangat berat namun tetap akan dia lakukan.


Hari hari berlalu tidak ada lagi Aldrick yang perhatian pada Aurora, Aldrick kembali pada Aldrick dulu yang sibuk dan gila kerja, perlahan dia mulai membiasakan diri tanpa kehadiran Anak dan Istrinya.


Brian kini sudah berusia sepuluh bulan dan sudah mulai belajar berjalan, saat melihat Aldrick dia sangat antusias, begitu juga Aldrick, namun Aldrick berusaha melepaskan Aurora dengan perlahan, dia berangkat kerja sebelum Brian bangun dan pulang setelah Brian tidur.


Aurora sebenarnya merasa ada yang hilang dari dirinya, dia merasa ada yang kurang saat Aldrick tidak lagi menganggap keberadaan nya.


Aurora duduk termenung sendirian di balkon kamar miliknya dan Aldrick, sudah sangat lama dirinya tidak memasuki kamarnya sendiri.

__ADS_1


'Apakah aku sudah mulai terbiasa dengan perhatian Aldrick.'


'Atau justru sebenarnya aku sudah mencintainya.'


Brian mengacak ngacak kamar Aldrick,dia mencari keberadaan Papanya, bayi kecil yang sudah sangat merindukan Papanya.


"Papa,,, pap,,,papa,,,pa,," panggil Brian.


"Sayang Papa masih kerja, kita tunggu papa diluar ya." Aurora membawa Brian keluar, Brian tidak mau tidur dia ingin menunggu Papanya.


Jam sepuluh malam Aldrick baru pulang, dan Brian yang mendengar suara mobil Papanya segera merangkak dengan cepat.


"Pap,,,pa,, papa." teriak Brian senang.


Aldrick yang baru turun dari mobilnya langsung mendapati putranya yang merangkak tertawa memanggilnya.


"Papa,,, pap,,, pa."


Segera Aldrick menghampiri Brian dan menggendong nya, mencium wajah Putranya hingga Brian tertawa,dia sudah sangat merindukan putranya,meski setiap malam dia selalu menyempatkan diri melihat Putranya yang tengah terlelap.


"Kenapa belum tidur hm,, ini kan sudah malam."


"Papa,, pap,,pap." Brian bertepuk tangan memukul mukul wajah Aldrick, menciumnya sambil memainkan ludahnya.


"Anak Papa mau main?"


"Pap,,pap,"


"Tapi ini sudah malam, besok saja mainnya ya nak, sekarang Brian Bobo."


Brian tidak mau lepas dari Aldrick bahkan saat Aurora akan mengambilnya Brian memegang erat leher Aldrick.


"Sayang Papa capek mau mandi, sekarang Brian sama Mama dulu ya." bujuk Aurora.


"Papa,,,pa,,pa."


"Sayang sama Mama dulu Papa mau mandi dulu."


Brian tetap tidak mau lepas dari Aldrick, hingga akhirnya Aldrick membawa Brian ke kamarnya.


"Brian tunggu disini dulu Papa mandi sebentar ya Nak." Namun Brian tetap kekeh tidak mau ditinggal Aldrick dia tetap minta di gendong Papanya.


"Baiklah Papa gendong Brian hingga bobo ya."


Aldrick hanya membuka Jas dan Dasinya, menggulung lengannya hingga kesikunya, Namun karena masih gerah Aldrick membuka bajunya.


Hingga jam dua belas malam Brian tidak kunjung tidur hingga Akhirnya Aldrick membawa Brian ke ruang keluarga dan menyalakan Televisi.


"Pap,,,papa,,pa,," celoteh Brian senang melihat Film kartun di depannya.


"Bagaimana Papa bisa jauh dari kamu Nak." Aldrick mencium kening Brian.


Aldrick dengan setia menemani putranya meskipun tubuhnya terasa sangat lelah karena habis bekerja seharian,saat melihat Papanya memejamkan mata Brian memukul mukul wajah Aldrick dan menarik bulu mata Aldrick.


"Sayang ini sudah larut tapi kamu belum ngantuk juga." Jam satu dini hari keduanya sudah sama sama terlelap entah siapa yang tidur duluan.



Aurora meneteskan air matanya melihat keduanya yang terlelap, apakah selama ini dia sudah terlalu jahat, seharusnya diri nya memberikan Aldrick kesempatan kedua,namun dirinya terlalu egois hanya memikirkan perasaan dirinya tanpa memikirkan perasaan anak dan suaminya.


"Maaf,," ucap Aurora dia mengambil selimut dan menyelimuti keduanya, mematikan televisi yang menyala di depannya.


Aurora bertekad akan memperbaiki semuanya,besok dia akan meminta maaf pada Aldrick dan akan memberikan kesempatan kedua kepadanya.


_


_


_


TBC


JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2