
Pagi hari sebelum kecelakaan itu terjadi.
Di rumah, Dickie dan Aurora, nampak seperti biasanya, mereka bercengkerama, bercanda, bahagia, dan terkadang mengajak berbicara calon buah hati mereka secara bergantian.
Tidak ada yang aneh pagi itu, semuanya masih terbilang normal-normal saja, hingga ketika jam istirahat siang, Dickie dan Aurora yang ingin tidur siang bersama, karena Dickie hari itu ijin tidak berangkat ke klinik, sebab entah kenapa Dickie seharian ingin selalu berdekatan dengan Aurora sepanjang hari.
Sambil rebahan di atas ranjang, Aurora melihat wajah Dickie yang terlihat berbeda, tidak cerah seperti tadi, dan itu membuat Aurora menjadi penasaran, hal itu membuat Aurora mencoba bertanya kepada Dickie.
" Sepertinya kamu sedang memikirkan sesuatu Dickie, apa itu kalau aku boleh tahu?? ," tanya Aurora.
Masih memeluk Aurora dengan erat, Dickie pun menjawab pertanyaan Aurora dengan tatapan kosong lurus ke depan.
" Entahlah Aurora, aku seperti merasakan sesuatu, tapi aku tidak tahu itu apa, dan rasanya aku juga ingin selalu memelukmu seperti ini ," jawab Dickie kepada Aurora.
" Kamu kenapa sih aneh sekali sayang, kamu sakit?? ," tanya Aurora merasa bingung.
" Tidak, aku tidak sakit, justru aku sedang memikirkanmu jika kamu sedang sakit, tapi tidak ada aku di sisimu, siapa nantinya yang akan membantumu ," jawab Dickie.
" Kamu bicara apa sih Dickie, ko melantur begini?? ," tanya Aurora semakin kebingungan.
" Berjanjilah kepadaku Aurora ," kata Dickie.
" Berjanji untuk apa?? ," tanya Aurora lagi.
" Berjanjilah jika tidak ada aku di sisimu, kamu teruslah melangkah dan tolong besarkan anak kita berdua ," jawab Dickie.
Aurora yang tidak menyukai perkataan aneh Dickie, dia langsung melepaskan pelukannya, dan juga langsung berdiri dari rebahannya.
" Dickie, jangan aneh-aneh deh!! ," kata Aurora.
" Memangnya kamu mau pergi ke mana?? ," tanya Aurora.
" Jangan bilang, jika kamu ingin pergi meninggalkanku seperti Ayahku yang pergi meninggalkan Mama!! ," kata Aurora lagi sambil berlinang air mata.
Dickie yang melihat Aurora bersedih, dia langsung turun dari atas ranjang dan berjalan mendekati Aurora.
" Sssuuusstt, tenanglah sayang, sini duduklah dulu ," jawab Dickie dengan suara yang terdengar lembut sekali.
Aurora pun menurut, dia saat ini duduk berdua di pinggir ranjang bersama Dickie.
" Aku tidak mungkin meninggalkanmu selain cuma satu alasan Aurora, yaitu kematian ," kata Dickie.
" Aku sangat mencintaimu, dan rasa cintaku ini tulus tidak akan pernah tergantikan oleh siapapun, sampai nyawa ini terpisah dari ragaku ," kata Dickie lagi.
" Dickie, aku mohon kamu jangan berbicara seperti ini lagi, kamu membuatku takut ," kata Aurora dengan air mata yang semakin deras saja mengalirnya.
" Jika kamu pergi meninggalkanku dan anak kita, lalu aku sama siapa,? hanya kamu yang aku miliki di dunia ini Dickie ," kata Aurora lagi.
Dickie langsung memeluk sang istri ke dalam pelukannya dengan sangat erat sekali.
" Maafkan aku, aku tidak bermaksud membuatmu bersedih, ayo sekarang kita tidur siang sayang ," kata Dickie sambil mengusap air mata Aurora.
Aurora hanya mengangguk saja, dan mereka lalu merebahkan badannya lagi di atas ranjang untuk beristirahat.
Malam harinya, ketika Dickie dan Aurora sudah selesai makan malam, sekitar jam delapan, entah kenapa perut Dickie tiba-tiba merasakan lapar lagi, padahal tidak seperti biasanya Dickie akan merasa lapar lagi setelah selesai makan malam.
" Sayang, perutku lapar sekali, kita beli makan yuk di luar ," kata Dickie.
" Kita itu baru saja selesai makan malam Dickie, masa kamu sudah lapar lagi ," jawab Aurora.
" Ayolah temani aku, jika kamu tidak mau makan, biar aku saja yang beli makanan ," kata Dickie memaksa.
" Baiklah, sebentar aku mau ganti baju dulu ," jawab Aurora.
Selesai berganti baju, Dickie dan Aurora pun lalu pergi membeli makan di salah satu Cafe yang ada di kota itu.
Dan seperti perkataan dari Dickie, yang beli makanan cuma Dickie saja, sedangkan Aurora cuma membeli minuman dan ikut makan sedikit makanannya Dickie, sebab dia masih merasa kenyang.
Sekitar jam sepuluh malam, Dickie dan Aurora sudah ke luar dari Cafe tempat mereka membeli makanan.
Dickie bukannya mengarahkan stir mobilnya ke jalan yang menuju ke rumah, melainkan ke sebuah taman kota untuk menikmati suasana malam.
" Kenapa kita tidak pulang saja Dickie, ini sudah malam, kamu sendiri kan yang selalu mengatakan jika udara malam tidak bagus untuk ibu hamil ," kata Aurora.
" Jika sekali-sekali tidak apalah, ayo kita duduk di kursi taman itu ," jawab Dickie.
Dickie dan Aurora lalu duduk di kursi taman yang disediakan di situ. Mereka menikmati pemandangan malam hari, menikmati bintang di langit yang cerah sambil bercanda, hingga tidak tahunya, waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam lebih.
" Dickie, ayo kita pulang, aku sudah kedinginan ," kata Aurora.
" Ayo ," jawab Dickie.
Dickie mengendarai mobilnya dengan kecepatan standar, dan ketika dia ingin menyebrang jalan karena memang arah rumah mereka ada di seberang jalan, tiba-tiba ...............
Braaaaakkkkkkkk!!
Suara hantaman benda keras pun terdengar mengejutkan telinga, dan ternyata itu suara mobil Dickie yang ditabrak oleh Enzo yang mengendarai mobilnya antara setengah sadar, dan disinilah mereka semua saat ini, sudah berada di rumah sakit terdekat.
__ADS_1
Saat ini Enzo belum bisa berpikir dengan jernih, ketika mendengar kabar kematian dari Dickie, dan Aurora harus melahirkan secara prematur.
Ketika Enzo sedang kalut, tiba-tiba ada yang memanggil namanya dan orang itu adalah Arvon, yang sudah dihubungi oleh salah satu anak buah Enzo tadi.
" Tuan Enzo ," panggil Arvon.
" Arvon, Aurora, dia, di dalam dan ...... ," kata Enzo sangat kebingungan sekali.
" Tuan tenanglah, ambil nafas yang panjang ," kata Arvon menenangkan Enzo.
Enzo mencoba mengambil nafasnya cukup panjang dan mengeluarkannya secara perlahan.
" Tadi saya pulang dari, dari ....? ," walau Enzo sudah mengatur pernafasannya, namun dia masih belum bisa menjelaskannya kepada Arvon.
" Saya sudah tahu semuanya Tuan, tenanglah, biar saya menghubungi Tuan Pippin sebentar ," kata Arvon.
Enzo tidak menjawab, dan dia membiarkan saja ketika Arvon mencoba menghubungi sang Ayah.
Arvon sejenak menjauh dari Enzo yang terlihat menyedihkan sekali keadaannya.
Ayah Pippin yang sudah tertidur dengan lelap pun, seketika terbangun ketika mendengar suara dering ponselnya yang berdering sangat kencang sekali.
Sambil menetralkan pandangan matanya, Ayah Pippin mencoba membaca nama siapa yang sedang menelponnya tengah malam begini.
" Arvon ," kata Ayah Pippin.
Ayah Pippin dengan segera mengangkat sambungan telepon dari Arvon.
" Halo Arvon ", kata Ayah Pippin.
" Halo Tuan Pippin, anda cepatlah datang ke sini, Tuan Enzo baru saja menabrak seseorang, dan orang yang ditabrak Tuan Enzo adalah Aurora bersama suaminya ," kata Arvon.
Terkejut, tentu saja Ayah Pippin merasa sangat terkejut sekali, bahkan dia sampai berteriak hingga membangunkan Mama Azura yang sedang tertidur lelap di sampingnya.
" Ayah, ada apa Ayah,? kenapa Ayah berteriak seperti itu?? ," tanya Mama Azura.
" Kalian ada di kota mana, biar saya segera datang ke situ sekarang juga ," tanya Ayah Pippin kepada Arvon, dan tidak mempedulikan perkataan dari Mama Azura.
Arvon langsung menyebutkan di kota mana dia dan Enzo berada, dan tidak menunggu waktu lama lagi Ayah Pippin langsung mematikan sambungan teleponnya untuk bersiap-siap.
" Ayah jelaskan kepada Mama, ada apa sebenarnya?? ," tanya Mama Azura.
" Enzo baru saja menabrak seseorang Ma, dan orang yang ditabrak Enzo adalah Aurora bersama suaminya ," jawab Ayah Pippin.
Sama seperti Ayah Pippin, Mama Azura langsung berteriak karena terkejut.
" Baik Ayah ," jawab Mama Azura.
Ayah Pippin langsung berlalu ke luar dari dalam kamar untuk menuju ke kamar Arny yang ada di lantai dua rumahnya, sedangkan Mama Azura langsung bersiap-siap untuk menyusul Enzo.
Arny yang sedang tidur berpelukan bersama Linnea pun sedikit terganggu ketika pintu kamarnya digedor dengan tidak sabaran dari luar.
Iyaps, malam ini Linnea memang sengaja di suruh Arny untuk menginap di rumahnya lagi, karena Arny merasa tidak tenang dengan keadaan Linnea yang sedang seperti itu.
Mama Paulita dan Ayah Bogy yang sudah mengetahui keadaan dari Linnea pun, terpaksa lagi mengijinkan sang putri menginap di rumah Arny, dan mereka berdua juga sudah mengetahui jika Arny sudah melamar Linnea.
Sebagai orang tua, mau tidak mau jika anak merasa bahagia dengan pilihannya, yang bisa Ayah Bogy dan Mama Paulita lakukan cuma merestui hubungan Linnea dan Arny, semoga langgeng sampai kejenjang pernikahan.
Arny dan Linnea terbangun ketika mendengar suara gedoran pintu kamar mereka.
" Biar aku saja yang membukanya, kamu kembalilah tidur lagi ," kata Arny, dan Linnea hanya mengangguk saja.
Setelah pintunya dibuka, Arny langsung melihat sang Ayah dalam keadaan yang terlihat kebingungan.
" Arny ayo ikut sama Ayah ," kata Ayah Pippin.
" Kakak kamu Enzo baru saja menabrak seseorang, dan orang yang ditabrak oleh Kakak kamu adalah Aurora bersama suaminya ," kata Ayah Pippin lagi.
" Apaaaaa!!! ," teriak super keras dari Arny.
Tentu saja Arny terkejut sama seperti yang lainnya, karena memang kabar itu sangat mengejutkan sekali bagi mereka, bahkan Linnea yang mendengar teriakan dari Arny menjadi ikut khawatir.
" Ada apa Arny, Ayah?? ," tanya Linnea kepada Arny dan Ayah Pippin.
" Kak Enzo baru saja menabrak seseorang, ayo kita bersiap-siap ," jawab Arny, dan dia belum mengatakan sejelas-jelasnya kepada Linnea.
Mereka semua langsung saja bersiap-siap untuk pergi ke luar kota malam itu juga, untuk menyusul Enzo yang sedang kalut.
Arvon yang tadi sudah menghubungi Ayah Pippin, yang dia lakukan langsung menenangkan Enzo, yang sedang seperti orang gila.
Sekitar beberapa menit kemudian, pintu ruang perawatan Dickie terbuka dari dalam, dan keluarlah brankar pasiennya Dickie, dengan Dickie berada diatasnya yang sudah tertutup kain putih diseluruh tubuhnya.
Enzo langsung bergegas bangun dari duduknya untuk mendekati Dickie yang sudah terbujur kaku.
" Tunggu ," kata Enzo.
Dengan tangan gemetaran Enzo mencoba membuka kain penutup wajah Dickie, yang wajahnya penuh dengan luka serta darah yang masih terlihat basah mengalir di sekitar kepalanya, sebab Dickie mengalami cedera kepala yang sangat serius sekali, itulah yang menyebabkan Dickie harus meregang nyawanya dalam kecelakaan itu.
__ADS_1
Air mata Enzo langsung menetes dengan sendirinya, ketika melihat laki-laki yang dia tabrak sudah tidak bernyawa lagi.
Ketika Enzo tidak bisa berkata apa-apa, itu artinya tugas Arvonlah yang menggantikan Enzo berbicara.
Dickie sementara di simpan di ruang jenazah, sampai Enzo maupun Keluarga Diedrich lainnya sampai di kota itu.
" Ayo Tuan, kita duduk kembali ," kata Arvon menuntun Enzo untuk kembali duduk.
Enzo duduk dalam keadaan seperti orang linglung, karena pikirannya sedang tidak bisa diajak berpikir dengan normal.
" Arvon ," kata Enzo.
" Kamu selidiki tentang dia, aku ingin kamu secepatnya mendapatkan informasi tentangnya ," perintah Enzo kepada Arvon.
" Saya sudah menyelidikinya Tuan, ketika saya sedang perjalanan ke sini ," jawab Arvon.
Enzo yang mendengar jawaban Arvon, langsung mengalihkan pusat pandangannya ke arah Arvon.
" Dia bernama Dokter Dickie Richard, salah satu Dokter kandungan di rumah sakit Tuan Martin, dan dialah orang yang selama ini membantu Nona Aurora kabur ," jawab Arvon kepada Enzo.
Ingin marah, tapi tidak bisa, karena orang yang sudah dia cari selama beberapa bulan ini, tanpa sengaja sudah dia bunuh.
" Dokter Dickie selama menyembunyikan Nona Aurora, dia lama kelamaan merasa jatuh cinta, dan pada akhirnya, mereka menikah sejak beberapa bulan yang lalu ," cerita Arvon.
" Itu artinya anak yang sedang dikandung oleh Aurora, adalah anak Dickie?? ," tanya Enzo.
" Iya Tuan, dan mereka tinggal di alamat ini ," jawab Arvon, sambil menyerahkan sebuah alamat kepada Enzo.
Enzo menerima secarik kertas bertuliskan alamat rumah tinggal Dickie dan Aurora, dalam keadaan yang entah bagaimana kita menjabarkannya.
Ketika Enzo sedang termenung sambil membaca alamat tempat tinggal Aurora dan Dickie, tiba-tiba ruang perawatan Aurora terbuka dari dalam, hal itu tentu saja membuat Enzo langsung bergegas berdiri dan diikuti oleh Arvon.
" Dokter, bagaimana keadaan dari Aurora?? ," tanya Enzo.
" Syukur puji Tuhan, Tuan Enzo ," jawab sang Dokter.
" Nyonya Aurora dan babynya selamat walau harus terlahir prematur, tapi ...... ," kata sang Dokter.
" Tapi apa, cepat katakan!! ," kata Enzo.
" Kemungkinan besar Nyonya Aurora akan mengalami koma, dan jika dia sadar, dia akan mengalami amnesia karena cedera kepala yang dialaminya Tuan ," jawab sang Dokter.
Lemas, kaki Enzo tiba-tiba menjadi lemas mendengar kabar tersebut dari Dokter.
" Bolehkah saya melihat Aurora sekarang Dokter?? ," tanya Enzo.
" Sebentar Tuan, biar Nyonya Aurora kami pindahkan terlebih dahulu ke ruang perawatan biasa oleh tim saya ," jawab sang Dokter.
" Lalu anaknya ada di mana?? ," tanya Enzo.
" Mari ikut saya Tuan, jika anda ingin melihatnya ," jawab sang Dokter.
" Arvon, kamu tunggu di sini sebentar ," kata Enzo.
" Baik Tuan Enzo ," jawab Arvon.
Enzo langsung saja mengikuti langkah kaki sang Dokter, untuk masuk ke ruang perawatan bayi yang masih prematur.
" Ini anak dari Nyonya Aurora, Tuan, dia berjenis kelamin laki-laki ," kata sang Dokter.
Enzo langsung mengusap kaca inkubator baby boy itu dengan air mata tanpa sadar menetes dari kelopak matanya.
Enzo langsung jatuh cinta dari pandangan pertama kepada anak Aurora, yang harus lahir prematur dan sangat kecil sekali.
Walau itu bukan darah dagingnya sendiri, Enzo bertekad ingin membesarkannya, memberikan nama untuknya, dan juga memberikan kehidupan yang layak untuknya bersama Aurora, karena Enzo tidak akan melepaskan Aurora lagi, terlebih lagi sekarang Aurora sudah tidak mempunyai suami.
" Rawat dia, sampai dia sembuh dan keadaannya membaik seperti baby pada umumnya, dan jika rumah sakit ini bisa memberikan perawatan yang terbaik untuk dia, saya berjanji akan menyumbangkan beberapa jumlah uang ke rumah sakit ini ," kata Enzo.
" Baik Tuan, sebisa mungkin kami akan merawat baby ini dengan sangat baik sekali, terimakasih Tuan ," jawab sang Dokter.
Enzo hanya mengangguk saja, dan dia langsung ke luar dari ruangan tersebut, untuk menuju ke ruang perawatan Aurora yang sudah diberitahukan oleh anak buahnya.
Enzo yang sudah masuk ke dalam ruang perawatan Aurora, dia memandang penuh rasa cinta dan juga penyesalan yang mendalam.
" Jika aku tidak membuat kesalahan, kita pasti akan berbahagia dengan anak kita Aurora ," kata batin Enzo.
" Walau dia bukan darah dagingku, demi kebahagiaanmu, aku rela memberikan namaku untuk membesarkannya, itu janjiku kepadamu Aurora ," kata batin Enzo lagi.
" Dan aku berjanji, akan memberikan kebahagiaan yang selama ini tidak pernah kamu rasakan, serta kebahagiaan yang sudah aku renggut secara tidak sengaja malam ini darimu ," kata batin Enzo sambil memegang tangan Aurora.
Waktu yang sudah menunjukkan pukul setengah empat dini hari, membuat mata Enzo lama-kelamaan mengantuk juga, dan pada akhirnya, Enzo tertidur sambil duduk di kursi pinggir ranjang sambil memegang tangan Aurora.
Sedangkan Arvon yang juga ada di dalam ruang perawatan itu, dia duduk di sofa yang tersedia, sambil ikut memejamkan matanya untuk mengumpulkan sisa tenaganya.
...✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️...
...***TBC***...
__ADS_1