
Saat ini Mama Siljie ditemani Ayah Ebert sudah duduk di kursi teras depan rumahnya, dengan dikerubungi oleh banyak wartawan dari berbagai stasiun televisi.
Sedangkan Max, dia memilih mengintip saja dan mendengarkan dari balik jendela rumah.
" Nyonya apakah benar berita yang sedang tayang saat ini Nyonya, bisakah anda memberikan klarifikasi kepada kita semua ," kata salah satu wartawan kepada Mama Siljie.
" Oh bisa, tentu saja bisa ," jawab Mama Siljie sambil tersenyum.
Semua kamera langsung menyorot ke arah Mama Siljie.
" Memang benar berita yang sedang tayang saat ini, dan kalian semua tidak perlu meragukan akan kebenaran dari berita tersebut ," kata Mama Siljie lagi.
" Lalu kapan Tuan Enzo akan menikahi putri anda Nyonya?? ," tanya wartawan itu lagi.
" Secepatnya, kalian tunggu saja kabar baik dari saya ," jawab Mama Siljie.
" Nyonya, bisakah kami melihat sendiri putri anda?? ," tanya dari sang wartawan.
" Untuk saat ini maaf, putri saya belum bisa dijumpai, karena dia sedang mengalami morning sickness yang membuat tubuhnya menjadi lemas ," jawab Mama Siljie.
" Apakah ada yang ingin ditanyakan lagi, jika sudah tidak ada, saya akan kembali masuk ke dalam, dan kalian semua silahkan pergi dari rumah saya ," kata Mama Siljie mencoba mengusir.
" Nyonya tunggu sebentar ," cegah dari semua wartawan.
" Anda pasti senang, karena sebentar lagi Keluarga anda bisa memberikan keturunan untuk Keluarga Diedrich yang sangat kaya raya itu, jadi bisakah anda membocorkan sedikit saja kepada kami berapa nominal uang yang Tuan Diedrich keluarkan untuk sekali periksa kehamilan putri anda ," tanya wartawan tersebut.
Nah, pusing kan Mama Siljie menjawab pertanyaan seperti itu dari para wartawan, dan Ayah Ebert hanya diam saja sambil mencerna setiap perkataan dari mereka semua.
" Maaf untuk hal itu, saya tidak bisa membocorkannya, permisi ," jawab Mama Siljie sambil tersenyum, dan Mama Siljie langsung mengajak Ayah Ebert untuk masuk ke dalam rumah.
Melihat sang Mama dan Ayah angkatnya masuk ke dalam rumah, Max pun berusaha bersembunyi dibalik pilar, supaya keberadaannya tidak ketahuan oleh mereka berdua.
Pintu rumah langsung di tutup rapat oleh para pekerja yang ada di rumah itu, dan semua para wartawan di suruh ke luar oleh para penjaga rumah tersebut.
" Ma, apa maksud dari semua ini,?? apa yang sebenarnya Mama lakukan kepada wartawan?? ," tanya Ayah Ebert kepada Mama Siljie.
" Ayo sini ikut sama Mama, akan Mama tunjukkan kepada Ayah ," jawab Mama Siljie.
Mama Siljie ternyata mengajak Ayah Ebert untuk masuk ke dalam ruang Keluarga.
Sesampainya di dalam ruang Keluarga, Mama Siljie langsung menyalakan televisi dan mencari berita tentang kontroversinya tadi.
Max pun diam-diam mengikuti mereka berdua, dan dari tempat persembunyiannya, Max bisa melihat sendiri apa yang sudah sang Mama lakukan kepada para wartawan.
Max bukannya marah melihat hal yang sudah dilakukan oleh sang Mama, justru dia menyeringai senang, karena tiba-tiba mendapatkan sebuah ide untuk membalaskan dendamnya.
Ayah Ebert benar-benar sangat marah sekali melihat pemberitaan saat ini, karena dia tidak menyangka sang istri akan memberikan pernyataan yang belum tentu pasti kebenarannya.
" Mama benar-benar memalukan!! ," kata Ayah Ebert.
" Kita belum tahu apakah Jeanne hamil anaknya Tuan Enzo, tapi Mama sudah berani memberikan pernyataan yang membuat satu Negara ini menjadi heboh!! ," kata Ayah Ebert lagi.
" Lho, justru bagus dong Ayah, jika mereka semua pada tahu, jadi Keluarga kita bisa dipandang lebih lagi oleh mereka ," jawab Mama Siljie.
" Ayah tidak mau bertanggung jawab jika suatu saat Tuan Enzo datang ke sini untuk menghancurkan Mama!! ," kata Ayah Ebert.
" Jika Tuan Enzo datang ke mari, Mama akan menyambut kedatangannya dengan pesta yang super meriah untuknya ," jawab Mama Siljie.
Ayah Ebert hanya bisa menggelengkan kepalanya saja, karena tidak tahu bagaimana lagi cara menasihati sang istri.
Max yang tidak mau lebih lanjut lagi pertengkaran dari Mama Siljie dan Ayah Ebert, dia langsung memilih masuk ke dalam kamar untuk mengambil sesuatu, dan ketika barang yang dia ambil sudah berada di tangannya, Max langsung berlalu ke luar lagi, kali ini langsung pergi dari rumah sang Mama.
Sedangkan Jeanne, belum mengetahui perihal berita tersebut, karena dia saat ini sedang asik tertidur untuk meredakan rasa pusing di kepalanya dan mual di perutnya.
Di sebuah apartemen, Ayah biologis dari bayi yang dikandung oleh Jeanne pun juga sudah melihat perihal berita tersebut.
Freed sampai tidak bisa berbicara apa-apa dengan jalan pikirannya Jeanne dan Mama Siljie.
" Biar sajalah Jeanne berbuat sesuka hatinya, setidaknya aku tidak dipusingkan dengan bayi yang sedang dikandungnya ," kata Freed berbicara sendiri.
Freed yang sedang asik menonton televisi, tiba-tiba teralihkan pandangannya, ketika mendengar ponselnya berdering.
" Halo Samantha, apa kabar?? ," kata Freed kepada si penelpon yang bernama Samantha.
" Halo juga Freed, apakah kamu sibuk sekarang?? ," tanya Samantha.
" Tidak, datanglah ke apartemenku, kita sudah lama tidak bertemu ," jawab Freed.
" Ok siap, aku sangat merindukanmu ," kata Samantha.
" Yes baby, aku pun ," jawab Freed.
" Ok, kalau begitu aku ke apartemen kamu saat ini juga ," kata Samantha.
" Siap baby ," jawab Freed, dan akhirnya sambungan telepon mereka terputus juga.
Tidak lama, sekitar kurang lebih empat puluh menit kemudian, Samantha pun sampai juga di apartemen milik Freed.
Freed begitu senang sekali melihat kedatangan Samantha ke apartemennya, dan mereka langsung berciuman mesra untuk menyalurkan kerinduan mereka berdua.
" Mau lanjut di dalam?? ," tanya Freed.
__ADS_1
" Ok, siapa takut ," jawab Samantha.
Freed langsung tersenyum senang, dan sambil berjalan beriringan Freed dan Samantha menuju ke dalam kamar.
Di dalam kamar itu kalian semua sudah tahu apa yang mereka berdua lakukan.
Sungguh Jeanne sangat bodoh sekali menjadi seorang wanita, karena bisa mengenal dan hamil dari seorang laki-laki seperti Freed yang suka bergonta ganti pasangan.
Meninggalkan Freed yang sedang bersenang-senang dikala Jeanne sedang terpuruk, kita kembali ke rumah Mama Siljie lagi.
Ayah Ebert yang sudah tidak tahan dengan sikap sang istri, dia memilih untuk berangkat bekerja ke pabrik saat itu juga, tanpa mau sarapan terlebih dahulu.
Mama Siljie mencoba memanggil Ayah Ebert, namun Ayah Ebert tidak mempedulikannya sama sekali.
" Biar sajalah dia pergi, palingan dia nanti akan kembali ke sini lagi, mau ke mana coba dia akan tinggal jika tidak di sini ," kata Mama Siljie.
Mama Siljie merasa acuh tak acuh, lalu memilih berjalan ke arah ruang makan untuk mengisi perutnya.
Mama Siljie juga menyuruh salah satu asisten rumah tangganya untuk membawakan makanan ke dalam kamar Jeanne.
Meninggalkan Mama Siljie yang asik makan, kita beralih ke Max lagi.
Max yang sudah ke luar dari dalam rumahnya tadi, dia langsung mengendarai mobilnya menuju ke suatu tempat, dan tempat yang dituju oleh Max adalah sebuah kantor yang mewah dan megah.
Kantor yang Max tuju adalah kantor milik Keluarga Diedrich, karena Max ingin bertemu dengan Enzo secara langsung.
Enzo yang sedang berada di dalam kamarnya, tiba-tiba mendapatkan sebuah panggilan dari nomor yang tidak dikenalnya.
" Halo siapa ini?? ," tanya Enzo.
" Anda nanti akan tahu sendiri siapa saya Tuan Enzo, jika anda sekarang juga mau menemui saya di kantor anda ," jawab Max.
" Saya tunggu kedatangannya Tuan Enzo, karena jika anda tidak datang, anda akan menyesal, sebab saya mempunyai sebuah informasi yang sangat bagus sekali untuk anda ," kata Max lagi.
" Ok, saya akan ke kantor sekarang juga, dan awas saja jika anda berbohong kepada saya, akan saya cari anda ke mana pun anda bersembunyi!! ," jawab Enzo.
" Anda tenang saja Tuan, dan anda bisa memegang semua perkataan saya ," jawab Max, dan Enzo langsung mematikan sambungan teleponnya ketika sudah mendengar jawaban dari Max tadi.
Walau Enzo harusnya banyak beristirahat, karena dia belum sepenuhnya sembuh, akan tetapi Enzo sangat penasaran sekali dengan apa yang akan Max katakan kepadanya.
Max yang sudah sampai di gedung kantor Perusahaan milik Enzo, dia langsung saja masuk ke dalam dan menuju ke lantai di mana ruang kerja Enzo berada, setelah bertanya kepada resepsionis tadi.
Sesampainya di lantai ruang kerja Enzo berada, dia langsung ditanya oleh Arvon.
" Maaf Tuan, anda siapa, dan ada keperluan apa anda datang kemari?? ," tanya Arvon sangat ramah.
" Saya sudah membuat janji dengan Tuan Enzo, dan saya disuruh dia untuk menunggu di dalam ruangannya ," jawab Max dengan santai.
" Jika anda tidak percaya, anda bisa menelponnya sendiri ," jawab Max.
Arvon pun langsung mencoba menghubungi Enzo, dan setelah mendengar jawaban dari Enzo, Arvon langsung mempersilahkan masuk Max ke dalam ruang kerja Enzo.
Dengan ramah, Arvon juga menawarkan minuman kepada Max, namun Max menolaknya.
Dan tidak lama, sekitar tiga puluh menit menunggu, akhirnya Enzo datang juga dengan tongkat sebagai penopang jalannya.
Kedatangan Enzo yang pincang dan berjalan menggunakan tongkat seperti itu, pasti mengundang rasa penasaran dari para staf kantornya, namun mereka tidak ada yang berani banyak berbicara.
Arvon yang melihat Enzo sedang berjalan ke ruang kerjanya, dia langsung menyambut Enzo dan mencoba membantu Enzo untuk berjalan.
" Saya bisa jalan sendiri!! ," kata Enzo.
" Maaf Tuan ," jawab Arvon.
Arvon langsung membukakan pintu ruang kerjanya kepada Enzo, dan pandangan Max langsung teralihkan ke arah Enzo yang baru saja datang.
Max langsung berdiri dari duduknya untuk menyapa sang pemilik Perusahaan.
" Tuan Enzo ," sapa Max.
Enzo hanya mengangguk tipis kepada Max, sambil mempersilahkan duduk kembali.
" Ada keperluan apa anda datang ke kantor saya?? ," tanya Enzo.
Sebelum menjawab, Max melirik ke arah Arvon yang masih berdiri di situ.
Enzo yang mengerti, langsung menyuruh Arvon untuk ke luar dari dalam ruang kerjanya.
" Pasti anda saat ini sangat terkejut dengan pemberitaan yang sedang tayang tentang anda kan Tuan Enzo?? ," tanya Max.
" Siapa anda sebenarnya?? ," tanya Enzo.
" Perkenalkan Tuan, nama saya Max Matthias ," jawab ramah dari Max.
" Apa tujuan anda datang ke mari?? ," tanya Enzo lagi.
" Saya mempunyai semua bukti yang anda butuhkan, tentang pemberitaan yang saat ini sedang tayang ," jawab Max.
" Apa maksud anda?? ," tanya Enzo.
" Lihatlah sendiri ," jawab Max sambil menyerahkan sebuah berkas kepada Enzo.
__ADS_1
Enzo langsung membuka berkas tersebut dan melihatnya secara teliti.
Di dalam berkas tersebut ada banyak foto dan laporan dari anak buah Max tentang Jeanne dan Freed, bahkan ada flashdisk juga tentang video vul94rnya Jeanne bersama Freed.
" Siapa wanita yang ada di dalam foto ini, dan apa hubungannya dengan saya?? ," tanya Enzo.
" Jeanne Phillip, apakah anda tidak merasa asing dengan nama itu?? ," tanya balik dari Max.
" Dia kan wanita yang mengaku hamil anak saya!! ," jawab Enzo.
" Iya, foto itu milik dia ," kata Max.
" Lalu maksud anda memberikan semua ini kepada saya untuk apa?? ," tanya Enzo belum mau berpikir buruk kepada Max.
" Karena saya ingin menghancurkan mereka Tuan Enzo, saya ingin anda membalaskan dendam saya, karena Mama saya sudah membuat Ayah saya mati!! ," jawab Max berapi-api.
" Apa maksud anda, bisakah anda menjelaskan secara rinci kepada saya?? ," tanya Enzo merasa kebingungan sekali.
" Nyonya yang ada diberita itu adalah Mama kandung saya, dan Jeanne adalah adik tiri saya Tuan ," jawab Max.
" Ayah saya meninggal karena serangan jantung, sebab melihat dengan mata kepalanya sendiri Mama saya sedang bercum6u dengan selingkuhannya yang sekarang menjadi suaminya ," kata Max lagi.
Enzo masih diam saja sambil terus mendengarkan perkataan Max secara serius sekali.
" Bertahun-tahun lamanya saya memendam perasaan marah ini kepada Mama dan Ayah tiri saya Tuan, dan mungkin sekarang saatnya mereka merasakan apa yang harusnya mereka rasakan sejak dulu, terlebih lagi Ayah tiri saya sudah mencampakkan istri sahnya dan putri kandungnya sendiri demi Mama saya ," cerita Max lagi.
Enzo bisa melihat sendiri, jika di mata Max ada kemarahan yang teramat besar sekali untuk sang Mama.
" Di mata saya masih terlihat jelas bagaimana sedihnya istri sah Ayah tiri saya dan putri kandungnya itu, ketika Ayah tiri saya pergi meninggalkan mereka ," kata Max sambil melamun.
" Masih terlalu kecil baginya untuk melihat penderitaan sang Mama yang diberikan oleh Ayah kandungnya ," kata Max lagi.
" Kenapa anda terlihat sekali sangat menyayangi anak kandung dari Ayah tiri anda itu Tuan Max, daripada dengan Jeanne adik tiri anda sendiri?? ," tanya Enzo.
" Karena semenjak Jeanne lahir, Mama lebih mementingkan dia daripada saya Tuan Max, dan saya juga tidak menyukai sifat Jeanne yang sangat manja sekali, tidak seperti Aurora ," jawab Max.
Mendengar nama Aurora mata Enzo langsung terbuka lebar.
" Aurora?? ," kata Enzo.
" Siapa dia?? ," tanya Enzo.
" Dia anak kandung Ayah tiri saya Tuan Enzo ," jawab Max.
Enzo lalu membuka ponselnya untuk memperlihatkan foto Aurora yang dia ambil ketika Aurora sedang tidur di rumah sakit dulu.
" Apakah Aurora yang ini sama dengan Aurora yang anda maksud Tuan Max?? ," tanya Enzo sambil menyodorkan ponselnya.
Max langsung mengambil ponsel milik Enzo untuk melihat fotonya Aurora.
" Iya benar Tuan Enzo, ba-bagaimana anda bisa mengenal dia?? ," tanya Max merasa sangat super terkejut sekali.
" Saya sangat mengenalnya, karena dia pernah mengandung anak saya, dan karena kesalahan saya sendiri dia sekarang pergi meninggalkan saya entah ke mana, padahal saya sudah mengerahkan semua anak buah saya untuk mencarinya ," jawab Enzo sambil mengantongi ponselnya kembali
" Ha-hamil anak anda, apakah Aurora adalah istri anda Tuan?? ," tanya Max.
" Bisa dikatakan begitu, dan anda tidak perlu tahu cerita yang lebih lanjut lagi ," jawab Enzo.
" Jadi sekarang, apa yang bisa saya bantu untuk anda Tuan Max?? ," tanya Enzo.
" Sama seperti tadi yang sudah saya katakan, saya ingin melihat mereka hancur, dan selebihnya biar saya yang akan menanganinya sendiri Tuan Enzo ," jawab Max.
" Di dalam flashdisk itu ada sebuah video yang membuktikan jika anda benar-benar bukan Ayah kandung dari anak yang sedang di kandung oleh Jeanne, Tuan Enzo ," kata Max lagi.
" Sebagai gantinya, saya akan membantu anda mencari keberadaannya Aurora di manapun dia berada Tuan ," kata Max kepada Enzo.
" Ok, deal, senang mengenal anda Tuan Max Matthias ," kata Enzo mengajak berjabat tangan max.
" Sama-sama Tuan, kalau begitu saya permisi pulang, dan ini kartu nama saya ," jawab Max sambil membalas jabat tangan dari Enzo.
" Sungguh beruntung anda bisa mengenal Aurora, karena dia gadis yang baik, tangguh dan pekerja keras ," kata Max lagi.
" Jika anda sudah mengenalnya sejak dulu, apakah tidak ada kata cinta di dalam hati anda untuknya Tuan Max?? ," tanya Enzo.
" Saya harap tidak ada, karena jika ada, saya akan menyingkirkan anda saat ini juga!! ," kata Enzo lagi.
Max langsung tertawa terbahak-bahak mendengar ancaman dari Enzo.
" Anda tenang saja Tuan Enzo, sama sekali saya tidak mencintai Aurora, justru saya sudah menganggapnya sebagai adik kandung saya sendiri ," jawab Max.
" Baguslah ," jawab Enzo.
" Kalau begitu, saya pamit Tuan Enzo, selamat pagi ," kata Max lagi.
" Iya ," jawab Enzo sambil mengangguk.
Max pun lalu beranjak pergi dari gedung Perusahaan milik Enzo menuju ke pabrik milik sang Mama.
Dan sepeninggal dari Max, Enzo langsung melihat video yang ada di dalam flashdisk yang diberikan oleh Max tadi di dalam laptop nya.
...✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️...
__ADS_1
...***TBC***...