
Enzo yang sudah memahami semua pemberian dari Max tadi, dia memutuskan untuk menyuruh Arvon masuk ke dalam ruang kerjanya.
" Tuan Enzo ," sapa Arvon.
" Kamu cari tahu di mana Tuan Max Matthias tinggal, dan wanita ini serta Mamanya yang sudah menyebarkan gosip pagi ini ," perintah Enzo sambil menunjukkan kartu nama milik Max dan semua foto milik Jeanne.
" Saya tunggu dalam waktu lima belas menit dari sekarang ," kata Enzo lagi.
" Baik Tuan Enzo ," jawab Arvon sambil mengambil kartu namanya Max beserta fotonya Jeanne.
Arvon langsung berlalu ke luar dari dalam ruang kerja Enzo menuju ke meja kerjanya sendiri.
Tidak lama, seperti keinginan dari Enzo tadi, lima belas menit kemudian, Arvon sudah mengetahui di mana Max, Jeanne dan Mama Siljie tinggal.
Ketika mendengar kata masuk, membuat Arvon langsung membuka pintu ruang kerja Enzo.
" Bagaimana Arvon?? ," tanya Enzo.
" Tuan Max, Nona Jeanne, dan Nyonya Siljie, mereka tinggal di alamat yang sama Tuan ," jawab Arvon.
" Lalu apa lagi yang kamu dapatkan dari informasi tersebut?? ," tanya Enzo.
" Mereka ternyata mempunyai sebuah pabrik untuk pengolahan kulit domba Tuan, dan beberapa aset lainnya ," jawab Arvon.
" Ok, tunggu sebentar ," kata Enzo.
Enzo lalu mencoba menghubungi Max yang saat ini sedang berada di dalam ruang kerjanya sendiri.
" Halo, dengan siapa saya berbicara?? ," kata Max.
" Saya Enzo Diedrich ," jawab Enzo.
" Tuan Enzo, senang anda menelpon saya, apakah ada yang bisa saya bantu?? ," tanya Max.
" Apa yang ingin anda lakukan kepada Mama, adik beserta Ayah tiri anda itu Tuan Max?? ," tanya Enzo.
" Saya tidak bisa menjawabnya melalui sambungan telepon Tuan, bagaimana kalau kita ketemuan saja ," jawab Max.
" Baiklah, katakan di mana tempatnya ," jawab Enzo.
Max lalu menyebutkan alamat sebuah restoran mewah kepada Enzo.
" Baik, sekarang juga saya akan datang ke sana, karena ada hal lainnya lagi yang ingin saya tanyakan kepada anda ," kata Enzo.
" Baik Tuan, sampai jumpa di restoran ," kata Max, dan sambungan telepon mereka lalu terputus.
Enzo lalu menyuruh Arvon untuk mengantarkannya ke restoran yang tadi sudah disebutkan alamatnya oleh Max.
Ternyata jarak restoran itu cukup jauh dari Perusahaannya, sekitar satu jam perjalanan akhirnya Enzo baru saja sampai.
Enzo langsung ke luar dari dalam mobil, ketika pintunya sudah dibukakan oleh Arvon.
Arvon terus setia mengikuti ke mana kaki Enzo melangkah, hingga akhirnya sampai juga di sebuah ruang VVIP yang sudah di pesan oleh Max sebelumnya.
Ternyata Max sudah menunggu Enzo di ruang VVIP itu sekitar beberapa menit yang lalu.
" Tuan Enzo, silahkan duduk ," sapa ramah dari Max.
Tanpa banyak berbasa-basi Enzo langsung duduk di kursi seberang Max.
" Bagaimana Tuan Enzo?? ," tanya Max.
" Saya ingin menghancurkan Keluarga anda dengan mengambil alih semua yang mereka miliki, jadi pertanyaan saya, apakah ada di antara aset itu yang menjadi milik anda?? ," tanya Enzo.
" Hancurkanlah saja Tuan, tapi anda jangan mengambil pabrik, sebab pabrik itu sudah menjadi atas nama saya ," jawab Max.
" Apakah Mama anda tahu jika pabrik itu sudah menjadi atas nama anda?? ," tanya Enzo kepada Max.
" Belum, saya mencuri berkas kepemilikannya dari Mama dan sudah mengubah namanya menjadi atas nama saya ," jawab Enzo.
" Begini saja Tuan, kita membuat kesepakatan ," kata Max.
" Kesepakatan apa?? ," tanya Enzo.
" Ambillah semua aset milik Mama saya Tuan, dan berpura-puralah jika pabrik itu juga sudah anda ambil alih, nanti akan saya atur, supaya kesannya pabrik itu menjadi milik anda Tuan ," jawab Enzo.
" Ok, setuju ," jawab Enzo.
Walau Enzo bisa bergerak langsung tanpa memberitahukannya terlebih dahulu kepada Max, namun jika Enzo begitu, rasanya Enzo seperti tidak tahu berterimakasih kepada Max, yang sudah membantunya mengusut permasalahannya yang disebabkan oleh Jeanne dan Mama Siljie.
" Lalu tadi perihal apa lagi yang ingin anda tanyakan kepada saya Tuan Enzo?? ," tanya Max.
" Tentang Aurora ," jawab Enzo.
" Apa saja yang anda ketahui tentang dia, ceritakan semuanya kepada saya ," kata Enzo.
" Ok, akan saya ceritakan kepada anda, bagaimana sifat dari Aurora ," jawab Max.
" Aurora adalah gadis yang baik, dia sangat pekerja keras sekali, bahkan ketika saya ingin memberinya uang untuk menyambung hidupnya, dia tidak mau, Aurora lebih memilih kelaparan daripada mendapatkan belas kasihan dari orang lain ," cerita dari Max.
Ada rasa sakit yang dirasakan oleh Enzo, ketika mendengar jika kehidupan Aurora terlalu menyedihkan.
" Satu hal yang harus anda ketahui Tuan, jika Aurora sangat anti sekali dengan namanya laki-laki, karena merasa trauma dengan sikap Ayahnya dulu kepada Mamanya ," kata Max.
Enzo masih setia mendengarkan dengan seksama cerita dari Max tentang Aurora kepadanya.
" Bagi Aurora, laki-laki sama saja, dan tidak bisa di percaya, makanya dia sangat takut sekali membina rumah tangga ," kata Max.
__ADS_1
" Aurora sangat membenci laki-laki yang kasar, jadi lembutlah kepada Aurora, jika anda masih ingin bersamanya ," nasihat dari Max.
" Apakah anda juga dibenci oleh Aurora?? ," tanya Enzo.
" Dulu iya, sekarang tidak, setelah ku perlihatkan sifat saya yang tidak seperti Mama ," jawab Max.
" Dulu dia sangat membenciku, bahkan dia pernah melempariku dengan kotoran domba miliknya Tuan ," cerita Max sambil tertawa.
" Sudah cukup lama saya tidak bertemu dengannya, kalau tidak salah sekitar dua tahun yang lalu Tuan Enzo, jadi saya tidak tahu bagaimana kabar dia sekarang ," kata Max.
" Ok, sudah cukup, terimakasih atas semua ceritanya, dan nanti ketika anda pulang ke rumah, saya pastikan sudah ada kejutan yang menanti anda ," kata Enzo.
" Ok Tuan Enzo, saya tunggu kejutannya, karena saya juga sudah tidak sabar ingin melihat mereka hancur ," jawab Max.
Enzo hanya mengangguk saja, setelahnya, Enzo berpamitan pergi kepada Max.
Enzo lalu menyuruh Arvon untuk mengantarkannya ke rumah Mama Siljie.
Mama Siljie sendiri ketika sudah selesai sarapan tadi, dia memutuskan untuk menemui Jeanne yang sedang tidur di dalam kamarnya.
" Jeanne ," panggil Mama Siljie sambil membuka pintu kamar.
" Iya Ma ," jawab lirih dari Jeanne.
" Mama ada kabar bagus untuk kamu ," kata Mama Siljie.
" Kabar bagus apa Ma?? ," tanya Jeanne.
" Kamu sekarang menjadi terkenal Jeanne, dan Keluarga kita semakin terpandang di mata semua orang ," jawab Mama Siljie sangat bersemangat sekali bercerita.
" Apa maksud Mama?? ," tanya Jeanne merasa kebingungan.
" Ini lihatlah sendiri ," kata Mama Siljie sambil menyalakan televisi yang ada di dalam kamar Jeanne.
Mama Siljie mencari saluran berita yang menayangkan dirinya, dan ketika sudah ketemu berita tersebut, mata Jeanne dibuat melotot sangat lebar sekali.
" Ma-mama, apa yang sudah Mama lakukan?? ," tanya Jeanne sambil gemetaran.
" Iya melakukan yang seharusnya Mama lakukan dong ," jawab Mama Siljie.
" Tapi, i-itu Mama di televisi ," kata Jeanne sambil menunjuk layar televisi.
Rasa pusing tiba-tiba menyerang kepala Jeanne semakin hebat saja karena pemberitaan tersebut, dan akhirnya Jeanne pun pingsan karena syok.
" Jeanne .....!! Jeanne, bangun ," kata Mama Siljie sambil menepuk-nepuk pipi Jeanne.
Mama Siljie terkejut ketika melihat Jeanne tiba-tiba pingsan seperti itu.
Mama Siljie langsung berteriak-teriak memanggil asisten rumah tangganya untuk menelpon Dokter pribadinya dan membantunya menyadarkan Jeanne yang sedang pingsan.
Tidak lama sekitar tiga puluh menit kemudian, Dokter pribadi Mama Siljie datang juga.
Jeanne langsung diperiksa oleh Dokter tersebut, dan Mama Siljie yang melihat dia menjadi harap-harap cemas.
Sedang cemas memikirkan Jeanne, tiba-tiba Mama Siljie mendapatkan laporan dari asisten rumah tangganya, jika ada tamu yang datang ke rumahnya dan dia bernama Enzo Diedrich.
" Tuan Enzo?? ," kata Mama Siljie.
" Iya Nyonya ," jawab asisten rumah tangga itu.
Seperti terlupa dengan Jeanne, Mama Siljie langsung bergegas ke luar dari dalam kamar Jeanne menuju ke ruang tamu rumahnya.
Benar saja ketika Mama Siljie sudah sampai di ruang tamu rumahnya, dia langsung melihat Enzo sudah duduk di sofa ruang tamunya.
Enzo menatap penuh kebencian kepada Mama Siljie, tapi tidak dengan Mama Siljie, dia justru kebalikannya, menatap Enzo dengan penuh rasa hormat dan haus kekayaan.
" Tuan Enzo, suatu kehormatan bagi saya anda mau datang ke rumah saya secara langsung ," kata Mama Siljie sangat ramah sekali.
" Apa anda ingin bertemu dengan Jeanne, akan saya panggilkan dia ke sini sekarang juga Tuan, atau anda mau masuk saja ke dalam kamarnya, silahkan Tuan Enzo ," kata Mama Siljie lagi.
Enzo tidak banyak berbicara, dia langsung mengkode Arvon untuk memberikan beberapa berkas kepada Mama Siljie.
" Apa ini Tuan Enzo?? ," tanya Mama Siljie.
" Anda bisa membacanya sendiri ," jawab Enzo dengan simple.
Mama Siljie langsung membaca semua berkas-berkas tersebut yang mengatakan, jika rumah, pabrik, semua aset pribadi seperti peternakan, apartemen mewah, beberapa tanah dan beberapa mobil mewah, sudah menjadi atas nama Enzo Diedrich.
" Apa-apaan ini Tuan Enzo, bagaimana ini bisa menjadi milik anda, sedangkan saya tidak pernah memberikan semua berkas kepemilikan ini kepada siapapun ," kata Mama Siljie sangat terkejut sekali.
" Semua itu mudah bagi saya Nyonya Siljie yang terhormat ," jawab Enzo kepada Mama Siljie.
" Bukankah anda akan menikahi Jeanne, Tuan, kenapa anda malah menghancurkan saya seperti ini Tuan Enzo?? ," tanya Mama Siljie.
Enzo langsung tersenyum miring mendengar perkataan dari Mama Siljie.
" Siapa itu Jeanne?? ," tanya Enzo berpura-pura tidak tahu.
" Jeanne ya putri saya yang sedang mengandung anak anda Tuan ," jawab Mama Siljie.
" Huh 63d364h,!! kenal saja tidak, bagaimana saya bisa menghamilinya!! ," kata Enzo.
Enzo lalu menyuruh Arvon untuk membawa masuk orang yang sudah ditahannya sejak tadi di luar.
" Baik Tuan Enzo ," jawab Arvon.
Setelah orang tersebut dibawa masuk oleh Arvon, Mama Siljie menjadi kebingungan sendiri.
__ADS_1
" Berlutut!! ," kata Arvon sambil menendang kaki belakang orang tersebut.
" Siapa dia Tuan Enzo?? ," tanya Mama Siljie.
" Katakan siapa kamu!! ," kata Arvon kepada orang yang sedang mereka tahan.
" Sa-saya yang su-sudah menghamili Jeanne, Nyonya ," jawab orang tersebut yang ternyata adalah Freed.
Freed yang tadi masih asik berc1nt4 dengan Samantha, dibuat sangat terkejut sekali, ketika tiba-tiba apartemennya didatangi oleh segerombolan orang-orang berseragam hitam, yang bisa langsung menerobos masuk ke dalam apartemennya, padahal pintu apartemennya sudah dia kunci dari dalam.
Samantha sendiri langsung menutupi tubuhnya dengan selimut yang ada, karena dia merasa malu dengan kedatangan banyak orang ke dalam kamar Freed.
Sedikit perlawanan tadi ketika anak buah Enzo akan membawa Freed pergi, itulah kenapa saat ini wajah Freed terlihat babak belur dihadapan Mama Siljie.
Mama Siljie begitu sangat terkejut sekali mendengar pengakuan dari Freed.
" Apaaaaa!! ",, teriak dari Mama Siljie sambil berdiri dari duduknya.
" Tidak,!! pasti ini ada yang salah ," kata Mama Siljie lagi.
Baru saja ingin berkata lagi, Mama Siljie dipanggil oleh Dokter yang memeriksa Jeanne.
" Nyonya Siljie ," panggil Dokter tersebut.
Mama Siljie, Enzo, Arvon dan Freed, langsung mengalihkan pandangan mereka ke arah sang Dokter.
" Jeanne tidak kenapa-kenapa Nyonya, dia hanya butuh istirahat saja untuk sementara waktu sampai kondisinya membaik ," lapor dari sang Dokter.
" Dan kandungannya juga baik-baik saja, saya juga sudah memberikan obat serta vitamin untuk menunjang kehamilannya ," kata sang Dokter lagi.
" Baik Dokter, terimakasih ," jawab Mama Siljie.
" Kalau begitu saya permisi dulu Nyonya, mari ," kata sang Dokter berpamitan pulang.
Mama Siljie hanya mengangguk saja, sedangkan Enzo dan Arvon hanya diam saja.
" Kamu dengar sendiri kan Freed, apa kata Dokter tadi, jika anak kamu itu baik-baik saja!! ," kata Enzo kepada Freed.
Freed hanya bisa tertunduk sambil mengangguk membenarkan perkataan Enzo.
" Pasti dia orang suruhan anda kan Tuan Enzo!! ," bantah Mama Siljie.
Enzo yang dituduh seperti itu, dia langsung mengeluarkan sebuah pistol dari balik saku jasnya dan langsung menodongkannya ke arah Mama Siljie.
Mama Siljie tentu saja merasa terkejut, dan dia langsung bungkam seketika, ketika melihat sebuah pistol mengarah ke arahnya.
" Semakin anda berbicara, akan semakin membuat saya marah, dan saya tidak akan segan-segan menarik pelatuk ini dan menembakkannya ke kepala anda!! ," kata Enzo.
" Cepat panggil Jeanne ke sini!! ," kata Enzo kepada Mama Siljie.
" Ooo, tidak perlu ," kata Enzo lagi.
" Arvon, bawa Jeanne ke sini!! ," perintah Enzo kepada Arvon.
" Baik Tuan Enzo ," jawab Arvon.
Walau Arvon tidak mengetahui di mana letak kamar Jeanne, namun karena Arvon mempunyai insting yang kuat, akhirnya, Arvon bisa menemukan juga di mana kamar Jeanne berada.
Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Arvon langsung saja menerobos masuk ke dalam kamar, dan langsung menyeret Jeanne untuk dia bawa ke luar menemui Enzo.
Jeanne yang sedang tidur, dia sangat terkejut sekali, ketika tiba-tiba tubuhnya ada yang menyeret dengan sangat kasar.
" Tuan, siapa anda, dan mau dibawa ke mana saya Tuan, ampun ," kata Jeanne memohon kepada Arvon.
Arvon hanya diam saja tidak mempedulikan perkataan dari Jeanne, dan dia terus menyeret paksa Jeanne untuk sampai di ruang tamu.
Sesampainya di ruang tamu, Arvon langsung mendorong tubuh Jeanne cukup kasar ke lantai.
" Jeanne!! ," teriak dari Mama Siljie dan Freed secara bersamaan.
" Freed ," kata Jeanne yang melihat Freed ada di dalam rumahnya.
Semakin terkejut lagi, ketika Jeanne melihat ada Enzo yang sedang duduk menyilangkan kakinya di sofa rumahnya, sambil menatapnya dengan penuh kemarahan.
" Nona,!! cepat katakan siapa Ayah kandung dari bayi yang anda kandung saat ini!! ," kata Arvon sambil menjambak rambut Jeanne ke belakang.
" Aduh Tuan, sakit, ampun ," kata Jeanne.
" Lepaskan rambut anak saya!! ," kata Mama Siljie.
Bukannya dilepaskan, Arvon malah semakin kuat saja menarik rambut Jeanne, hingga membuat Jeanne semakin kesakitan saja.
" Cepat katakan,!! atau kulit kepala kamu akan lepas dari tengkoraknya!! ," kata Arvon lagi kepada Jeanne.
" I-iya baiklah Tuan ," jawab Jeanne sambil meringis kesakitan.
" Di-dialah yang sudah meng-menghamili saya, dia Ayah kandung anak saya Tuan ," kata Jeanne sambil menunjuk Freed.
Mata Mama Siljie melotot sangat lebar sekali, karena merasa terkejut dengan apa yang didengarnya langsung dari Jeanne.
Sedangkan Enzo yang melihat dan mendengarnya sendiri, dia langsung menyeringai.
Sungguh jiwa iblis di dalam diri Enzo semakin naik kepermukaan, karena sudah mendengar sendiri pengakuan siapa Ayah kandung dari anak yang dikandung Jeanne.
...✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️...
...***TBC***...
__ADS_1