AURORA

AURORA
Pengakuan Lala


__ADS_3

Happy reading guys 😘😘😘


"Sebenarnya,, semua ini hanya rekayasa Edgar dan Daddy Kenzo Tuan."


"Jelaskan dengan benar!" perintah Aldrick.


"Hiks,, maafkan saya Tuan, sebenarnya saya yang kekasih Edgar Tuan bukan Aurora."


"Tapi foto dan Kissmark di leher Aurora."


"Iya Tuan Foto dan Kissmark itu memang asli, tapi semuanya tidak seperti yang Tuan pikirkan, kami sengaja menjebak Aurora, tapi kalau Brian memang betul betul Anak kandung Tuan Aldrick,hasil tes DNA itu juga palsu."


"Tidak mungkin hasil Tes DNA itu palsu , karena yang melakukan adalah Dokter kepercayaan saya."


"Memang Tuan, tapi Erlan sudah menukar sempelnya Tuan, dia menukar sempel Tuan dengan Sempel Edgar, sehingga Brian cocok dengan Edgar."


"Saya minta maaf Tuan, selama ini saya yang menjadi mata mereka Tuan, saya yang kekasih nya Edgar bukan Aurora."


"Lalu kenapa kamu mengakui nya sekarang?"


"Karena Aurora gadis yang baik Tuan, dia sudah terlalu menderita Tuan, saya mohon Tuan jangan siksa Aurora lagi." Lala berkali kali mencium kaki Aurora.


Jantung Aldrick serasa di hantam batu besar, selama ini sudah salah paham, dia sudah menyiksa istri dan buah hatinya, perlahan dia terduduk lemah.


Aldrick segera meraih Aurora ke pangkuannya.


"Maafkan saya Aurora." ucap Aldrick.


Aurora tetap diam tidak bergeming seolah tidak merasakan sakit sama sekali, pandangan matanya begitu kosong.


Aldrick menggendong Aurora dia membawanya kerumah sakit.


"Sembuhkan Istriku !" ucap Aldrick pada Dokter yang menangani Aurora.


Aldrick meninju tembok di depannya,mengapa dia sangat bodoh,mengapa dia begitu mudah percaya dengan tipu muslihat Kenzo dan anak anaknya.


"Kenzo sudah cukup kamu bermain main, sekarang giliran mu menjemput ajalmu." ucap Aldrick tajam.


Aldrick mengambil ponselnya menghubungi anak buahnya.


"Tangkap Kenzo dan kedua anaknya, bawa ke Markas !" perintah Aldrick langsung mematikan sambungan nya tanpa menunggu jawaban anak buahnya terlebih dahulu.


"Kamu akan merasakan Neraka Dunia Kenzo, jika sampai terjadi sesuatu pada istriku aku akan membunuhmu menggunakan tanganku sendiri."


Roy menatap Tuannya takut,jika sudah seperti ini maka siapapun tidak dapat menghentikan Tuannya.

__ADS_1


"Sang Iblis sudah bangun dari sangkarnya." ucap Roy pelan.


"Bagaimana keadaan Istriku?" tanya Aldrick langsung saat melihat Dokter keluar.


"Saya tidak mau jawaban buruk." ucap Aldrick sebelum Dokter sempat menjawabnya.


"Keadaan Nyonya,," Dokter takut takut untuk memberitahu kan keadaan Aurora yang sebenarnya.


"Katakan saja Dok." ucap Roy.


"Luka di kepala Nyonya sudah kami perban, hanya saja kondisi psikis Nyonya sedikit terganggu."


"Maksud kamu istriku gila begitu?" bentak Aldrick.


'Kan memang Tuan yang membuat Nyonya begitu.' ucap Roy tentunya hanya di dalam hati.


"Bukan begitu Tuan, sepertinya Nyonya Aurora mengalami kejadian yang benar benar mengguncang jiwanya, Nyonya seperti hidup di Dunia lain."


"Coba Tuan bawa Nyonya pada Dokter psikolog."


*****


Aldrick memasuki ruang rawat Aurora, dia mencium tangan Aurora berkali kali.


"Saya minta maaf Aurora, maaf sudah menyakiti mu." ucap Aldrick tapi tetap saja Aurora diam dengan pandangan kosongnya.


Hanya air mata yang keluar Aurora tidak bersuara sama sekali, jiwanya sudah pergi bersama putranya.


Ber kali kali Aldrick mengucapkan kata maaf pada Aurora tapi tetap saja Aurora tidak merespon sama sekali.


Tiga hari sudah berlalu sekarang Aurora sudah di perbolehkan pulang, Aldrick kembali membawa Aurora ke kamarnya, selama tiga hari itu tidak henti hentinya Aldrick meminta maaf pada Aurora.


Aurora berdiri di pembatas balkon, perlahan Aurora menaikinya, tidak ada gunanya lagi dia hidup.


Perlahan Aurora memejamkan matanya, saat detik detik terakhir dia akan melompat Aldrick yang melihat itu langsung berlari menarik Aurora kedalam pelukannya.


"Hiks,,, hiks,,, ."


"Aurora, apa yang kamu lakukan hah? kamu mau mati ?"


"Ya aku mau mati " jawab Aurora.


"Maaf, maaf, maaf,maaf ,maaf."


"Apakah maafmu bisa mengembalikan Putraku?"

__ADS_1


"Tidak! beribu ribu kata maaf Anda tidak akan mampu mengembalikan Putraku."


"Tidak kan, putraku sudah pergi dan itu semua karna kamu hikss kamu itu pembunuh,aku benci sama kamu Aldrick, hikss,,, kembalikan anakku."


"Aurora tenang." ucap Aldrick.


"TENANG HAH, TENANG, APAKAH ADA SEORANG IBU YANG AKAN TENANG SAAT DENGAN MATA KEPALANYA SENDIRI MENYAKSIKAN PUTRANYA DI MAKAN HEWAN BUAS."


" KENAPA KAMU BISA SETEGA ITU hiks,, padahal dia putramu juga hiks,,, aku mau anakku."


"Ikut aku!" ucap Aldrick.


"Tidak mau !" tolak Aurora langsung.


"Aku sudah muak hidup, aku mau mati."


Aldrick menggendong Aurora tapi Aurora memberontak tapi tenaga Aldrick yang jauh lebih kuat dengan mudahnya dia menggendong Aurora.


Aldrick membawa Aurora ke kamar sebelah,kamar yang terletak tepat di samping kamar mereka.


Aldrick membuka pintunya, membawa Aurora ke dalam, kemudian menurunkan Aurora di samping ranjang.


Mata Aurora membulat sempurna, berkali kali dia mengusap matanya, dia berpikir jika dirinya tengah berhalusinasi.


"Brian,," ucap Aurora saat melihat bayi mungil yang kini tampak lebih gembul dan sangat menggemaskan.


"Anakku,," Aurora mencoba menyentuh Brian yang memainkan air liurnya.


"Hiks,, hiks,, benarkah ini kamu Nak."


"Hikssss,,, ini Brian anak Mama."


"Hiks,,, hiks,,, hiks,,,."


"Hiks,, Mama tidak bermimpi kan sayang,jika memang hanya Mimpi, Mama tidak mau bangun."


Dengan sangat lembut Aurora menggendong Brian menciumnya terus menerus.


_


_


_


TBC

__ADS_1


JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK 😘😘😘


__ADS_2