AURORA

AURORA
Part 8


__ADS_3

Kesya datang tepat waktu, dimana Dewi sudah berdiri di depan pintu rumahnya. Menatap cemas ke arah Kesya, tubuh Kesya sudah basah kuyup.


Kesya memarkirkan sepedanya di depan rumahnya, mengambil semua pakaian kotor yang harus segera dicuci.


"Tante, maaf Kesya lama. Kesya tadi berteduh dulu Tan." Ucap Kesya dengan bibir yang sedikit gemetar, karena dinginnya udara yang menusuk ke kulitnya, ditambah lagi dengan kondisi bajunya yang basah.


Dewi langsung merengkuh Kesya ke dalam pelukannya, meletakkan dagunya tepat di atas kepala Kesya. "Tante, gak mau lihat kamu kaya gini lagi. Kalo hujan lebih baik kamu berteduh dulu, jangan menerobos hujan kaya gini lagi."


Mata Kesya mendelik. "Maaf Tante." Kesya menjauhkan tubuhnya. "Ya udah Kesya mau mandi dulu deh, baju Tante jadi basah tuh. Gara-gara peluk Kesya." Lanjutnya, sambil menunjuk ke arah baju yang dipakai Dewi.


"Ya udah sana."


Setelah Kesya berlalu masuk ke dalam, Dewi mengambil alih pakaian kotor itu dan membawanya ke belakang untuk segera di cuci olehnya.


🍁🍁🍁


Keesokan harinya, tadi pagi Kesya berangkat sekolah tepat waktu, entahlah hari ini dirinya merasa semangat untuk masuk sekolah.


Suasana di kelasnya sangat ramai, karena memang sedang jam istirahat. Seperti biasa, Kesya harus merapikan buku-buku ke kolong mejanya agar tidak ada yang menghilang.


Walaupun baru beberapa hari Kesya belajar di kelas barunya, tapi sudah 4 pulpen Kesya yang hilang begitu saja. Entahlah, kenapa mereka sangat pelit mengeluarkan uangnya untuk membeli satu pulpen. Padahal, jika dipikir-pikir membeli pulpen tidak sampai jual rumah.


"Sya ada sendal gak?"


Keno sang ketua kelas, menghampiri Kesya yang masih sibuk merapikan buku-buku​nya.


"Buat apaan si?" Tanya Ara yang berada di samping Kesya.


"Gua nanya Kesya bukan Lo." Ucap keno, pria yang biasa di sapa Ken itu memang tidak begitu akur dengan Ara. Mengingat mereka adalah sepasang mantan kekasih, yang di persatukan kembali di kelas yang sama dan sekolah yang sama.


"Kesya lagi sibuk, jadi gue yang jawab!!" Jawab Ara yang selalu tidak ketinggalan nada nyolot nya.


"Tapi gue gak nanya Lo."


Kesya duduk tegak, menoleh ke kanan dan kiri. Merasa heran dengan dua insan ini, mungkin karena ini, banyak​ orang yang bilang, jika sudah jadi mantan akan jadi musuh. Padahal mantan tidak harus jadi musuh kan.


Kesya mengeluarkan kakinya dari bawah meja, dan melepaskan sendal yang ia pakai.


"Tuh." Ucap Kesya.


"Apa?!!" Jawab Ken yang masih sedikit emosi.


"Tadi kan Lo nanyain sendal."


Ken menepuk keningnya. "Oh iya gue lupa. Gara-gara tuh orang si!!" Ucapnya sambil menunjuk ke arah Ara.


"Kok jadi gue. Ap-."


Sebelum Ara melanjutkan bicaranya, Kesya sudah lebih dulu menghentikan nya. Karena jika dibiarkan, perang antara Ara dan keno akan berlanjut, sampai tahu bulat menjadi tahu segitiga pun tidak akan selesai perang itu.


Kesya buru-buru menarik Ara keluar dari kelas menuju ke kantin.


"Gue pinjem dulu ya sya, sendalnya!!!" Teriak Ken dari dalam kelas.


🍁🍁🍁

__ADS_1


Suasana kantin tidak begitu ramai, mengingat di luar hujan jadi siswa-siswi lebih nyaman berlama-lama di kelas, padahal di cuaca seperti ini, perut sedang diuji kesabaran nya.


"Lo mau beli apa sya?" Tanya Ara, namun pandangan nya tidak melihat ke Kesya sama sekali.


"Yang enak apa Ra?" Tanya balik Kesya, mengedarkan pandangannya ke setiap warung yang ada di kantin.


Ara menoleh ke arah Kesya.


"Kenapa?" Tanya Kesya bingung.


"Lo nanya gue, makanan yang enak apa. Kalo gue jawab semua, Lo mau beli semua makanan di kantin ini?."


"Gak juga sih, gue ikut Lo aja deh."


"Ya udah Lo duduk di disitu aja, gue mau pesen bakso dulu ya."


Ara menunjuk meja yang berada tepat di depan gerai baso yang ada di kantin sekolahnya. Kesya berjalan mendekati kursi itu, dan duduk sambil mengotak-atik botol saos,botol kecap, tempat sambal yang ada di atas meja, untuk menghilangkan rasa bete nya.


"Kak, makan ini bareng aku ya."


"Karena Kaka diem, berarti diemnya kakak itu aku anggap iya."


"Ya udah kita duduk di sana ya."


"Apaan sih? Rib-."


Ucapan Kesya terhenti, dirinya melihat sosok pujaan hatinya sedang berjalan bersama perempuan yang selama ini sudah mengusik hidupnya.


Fagan sedang berjalan menuju meja di sebelah meja Kesya, di samping fagan ada Sandra yang setia bergelayutan di lengan fagan. Namun, fagan seperti tidak terganggu sama sekali oleh sikap Sandra.


Ara datang dengan membawa nampan berisi dua mangkok baso, dan dua es jeruk dingin yang ia pesankan untuk nya dan Kesya.


"Lo beli es jeruk?"


"Beli." Ucapnya, sembari meletakkan mangkok dan gelas cup di atas mejanya.


"Ini udaranya lagi dingin, Lo minum es. Gak takut sikap Lo ikutan dingin entar?"


Ara mengangkat kepalanya dan menatap aneh ke arah Kesya. "Lo ngomong apaan sih?." Ara melihat ke samping mejanya. "Oh, jadi ternyata doi yang bikin sahabat gue ini tiba-tiba jadi orang sok puitis gitu."


"Apaan sih Lo?" Kesya mengaduk baksonya, dan mencampurkan saos dan beberapa sendok sambal.


"Sya Lo gila ya, Lo bisa sakit perut!!." Ucap Ara menahan tangan Kesya, untuk tidak menuangkan sambal lagi ke dalam baksonya.


"Bodo amat!!."


"Lo boleh cemburu sya, tapi jangan nyiksa tubuh Lo kaya gitu. Gue yakin tuh baso kuahnya rasa sambal."


Ara melirik bakso milik Kesya, kuah yang awalnya bening kini berubah menjadi merah dan banyak mengambang kulit-kulit cabai di atas kuah bakso itu.


Kesya mulai memakan bakso itu, walaupun kepedasan Kesya tetap memakannya. Karena Kesya tidak mau membuang-buang makanan, dia tidak pernah di ajarkan untuk membuang makanan.


Sesekali Kesya melirik ke arah Sandra dan fagan, memang fagan tidak merespon tingkah laku Sandra dia hanya fokus pada makanannya dan juga memakan makanan milik nya.


Makanan yang dibawa Sandra, dibiarkan begitu saja. Padahal menurut Kesya makanan yang dibawa Sandra pasti sangat lezat rasanya. Tapi selezat apapun makanannya, tetap saja tidak dilirik oleh fagan.

__ADS_1


🍁🍁🍁


Sandra melirik ke arah Kesya, Sandra tersenyum puas melihat gerak-gerik Kesya yang menandakan bahwa dirinya berhasil membuat Kesya cemburu kepada nya.


"Kak makan punya aku ya." Ucap Sandra.


"Gue bisa makan sendiri." Ucap datar fagan.


Sandra hanya diam dan mengangguk, Sandra mengangkat kepalanya hingga dirinya bisa menatap wajah fagan. Namun, dia terfokus dengan noda makanannya yang berada di ujung bibirnya.


Tiba-tiba tangannya tergerak untuk menyentuh ujung bibir fagan, fagan yang di perlakukan seperti itu sedikit terkejut namun tidak terlihat dari wajahnya.


Fagan melirik tangan Sandra yang sedang menyentuh ujung bibir nya, dan menatap wajah Sandra yang tengah serius membersihkan noda di ujung bibirnya itu.


"Biar gue sendiri." Fagan menepis tangan Sandra.


Sandra yang merasa ditolak, langsung salah tingkah. Fagan berdiri, pergi begitu saja dari hadapan Sandra.


Tanpa sadar Kesya memperhatikan langkah fagan, lebih tepatnya ke arah wajah fagan. Tiba-tiba fagan menoleh ke arah kesya, Kesya yang kepergok sedang memperhatikannya seketika langsung tersenyum kearah fagan.


Namun, dibalas dengan wajah ekspresi datar yang mungkin hanya dia manusia yang tidak memiliki ekspresi wajah seperti manusia pada umumnya.


"Apa sih yang ngebuat Lo suka sama tuh es batu?" Tanya Ara memecahkan lamunan Kesya.


"Suka itu gak butuh alasan kan Ra."


Ara mengangguk-angguk. "Tapi Lo jangan di bodohin sama rasa cinta Lo itu, mentang-mentang Lo lagi jatuh cinta. Terus Lo mau aja jadi bucinnya gitu."


"Gak jadi bucin juga kali."


Tidak lama Sandra lewat dengan wajah kesalnya dan berhenti di hadapan Kesya.


"Gak usah seneng dulu Lo, seenggaknya gue udah sempat megang bibirnya kak fagan."


"Woyy ada apaan ini?" Ucap Ara mencoba melerainya.


"Diem Lo." Ucap Sandra sambil menunjuk ke arah Ara. "Gue gak ada urusan sama Lo!!." Lanjutnya.


"Kita liat aja nanti, kalo emang Lo bisa bikin kak fagan jatuh ke pelukan Lo. Gue bakalan hapus rasa suka gue ke kak fagan."


"Oke, ternyata Lo berani juga berurusan sama gue."


Setelah berbicara seperti itu, Sandra pergi begitu saja tanpa ada pamit darinya.


Kesya langsung meletakkan sendoknya di mangkok baso, dan menatap ke arah Ara. "Ra, gimana dong? Gue gak bisa ngelepas kak fagan gitu aja. Gue baru aja suka sama dia,masa iya udah di suruh move on aja."


"Lo juga sih yang bego, nyari Masalah sama Sandra." Ara masih menyantap bakso miliknya, dan sesekali mencicipi kuah milik Kesya.


"Terus gimana dong?"


"Satu-satunya cara, Lo emang harus lupain perasaan Lo ke kak fagan. Karena mau Lo menang lawan Sandra, tetep aja Sandra bakalan menghalalkan semua cara agar bisa unggul dari Lo sya."


Kesya hanya menggeleng sambil menunduk, entah harus apa Kesya sekarang. Sekarang dia benar-benar merasa suasana hatinya sangat hancur.


To Be Continued...

__ADS_1


__ADS_2