Back In Time (Reinkarnasi Selir Kejam)

Back In Time (Reinkarnasi Selir Kejam)
Penyamaran di pasar


__ADS_3

“Salam, Yang Mulia. Semoga kaisar hidup seribu tahun!”


“Bangkitlah, Panglima Hao!”


Panglima Hao bangkit dan menatap sang kaisar, “Saya sudah mengantarkan Permaisuri Yang ke biara Heng Shui dengan selamat Yang Mulia, tapi memang ada sedikit kendala karena permaisuri mendadak sakit perut setelah sampai disana.”


“Sakit perut? Apa ini ada hubungannya dengan wabah yang terjadi di masyarakat?”


“Sepertinya tidak, tapi wajahnya pucat dan terus mengeluh sakit perut.”


Kaisar Zhou menganggukkan kepalanya, “Apa dia sudah diberi perawatan setelah sampai disana? Apa perlu mengirimkan tabib untuk Yang Jia Li?”


“Para biarawati yang ada disana sudah merawatnya dengan baik, dan lagi ada Dayang Yue juga. Wajar jika permaisuri merasa sakit karena perjalanan juga sangat melelahkan, mungkin permaisuri dengan banyak pikiran saja.”


“Ya, aku tahu, mungkin juga begitu.”


Kaisar Zhou meletakkan gulungan berisi laporan dari berbagai negeri untuk panen tahunan, dan ternyata di pertengahan tahun mengalami banyak masalah. Gagal panen karena cuaca buruk dan lagi sedang ada wabah, itu juga disampaikan di setiap laporan. “Apa kau sudah melihat wabah itu panglima? Bagaimana kalau kita pergi ke pasar hari ini?”


“Ke pasar?”


“Iya.”


“Dengan iring-iringan?”


Sang kaisar menggelengkan kepalanya, “Tentu tidak, kita menyamar saja. Lagi pula ini penghujung minggu jadi pasar pasti ramai sekali. Ku dengar ada wabah lagi dan aku ingin tahu bagaimana nantinya kita harus menghadapi itu.”


“Bukankah para tabib sudah mencari solusi, Yang Mulia?”


“Memang, tapi buktinya setiap tahun tidak ada perubahan dari wabah itu. Selalu saja banyak korban tewas, kita tidak bisa membiarkan ini terjadi setiap tahun bukan.”


Panglima Hao mengangguk, “Kalau begitu saya pamit untuk bersiap dulu, Yang Mulia.”


“Ku tunggu di gerbang belakang istana dekat paviliun selir agung.”


“Baik, Yang Mulia.”


Melakukan penyamaran cukup sering dilakukan oleh Kaisar Zhou dan Panglima Hao, mereka bahkan pernah menginap di rumah bordil untuk mengetahui apa yang terjadi disana antara Yang Zuo dengan pengikutinya. Banyak masalah terselesaikan setelah melakukan penyamaran, tidak sulit karena mereka hanya harus berpakaian sederhana dan bersikap seperti bangsawan pada umumnya. Tidak ada yang menyadari jika mereka ada kaisar dan panglima selain orang-orang yang memang sering bertemu dengan mereka.

__ADS_1


Panglima Hao sudah menunggu di tempat yang mereka janjikan, tidak mudah bagi Kaisar Zhou untuk meninggalkan paviliunnya. Selalu saja ada yang memergoki jika tidak hati-hati dalam menyusup, “Anda sudah siap, Yang Mulia?”


“Ya.”


“Mari!”


“Tunggu, kenapa paviliun selir agung tampak sepi?”


Panglima Hao mengikuti para pandang kaisar, “Bukannya para dayang sedang menjalankan kehidupannya Yang Mulia, boleh jadi selir agung sedang berada di dalam paviliun.”


“Benarkah?” tanya Kaisar Zhou tidak yakin, dia tidak tahu apa yang berbeda di penghujung minggu tapi di hari biasa, Wu Li Mei akan sibuk menata taman atau membuat kerajian untuk menghilangkan rasa bosan. “Oh iya, kemana perginya putra mahkota? Dan … Putri Fang Yin?”


“Putra mahkota sedang pergi berburu, Yang Mulia, dan putri Fang Yin sepertinya ada di dalam paviliun.” Jawab Panglima Hao asal, tapi tetap meyakinkan, “Bagaimana kalau kita mempercepat langkah saja, takutnya semakin siang cuaca tidak menentu.”


“Ya.”


***


Sampai di pasar, kedua pria itu langsung berjalan berkeliling mencari informasi yang bisa mereka dengar dari telinganya. Mengatami masyarakat yang memang sedang sakit, tidak ada binar bahagia disana, yang ada hanya orang-orang yang sibuk mengabarkan sanak keluarga bahwa mereka juga sedang sakit. Pasar menjadi sepi padahal cuaca cerah, kapal yang berlabuh di dermaga juga hanya sedikit.


“Kemana perginya semua orang?” guman kaisar.


“Iya, kita cari tempat makan dulu saja. Barangkali rakyat membahas sesuatu disana.”


Panglima Hao mengangguk, jujur saja ia sangat setuju dengan pergi mencari makan dulu. Karena sejak pagi perutnya belum diisi. Ada kedai kecil yang terkenal dan sangat mereka sukai saat penyamaran di pasar, selain rasanya enak, tempat itu juga nyaman. Kadang, kaisar bisa mengajak sang panglima hanya untuk makan disana di penghujung minggu yang senggang.


Setelah sampai, mereka langsung memesan makanan yang biasanya mereka makan. Pelayan kedai itu segera membuatkannya dan menyajikan bersama sebotol arak asli yang tidak memabukan.


“Ku dengar kau sakit beberapa hari ini.”


Panglima Hao dan kaisar menajamkan pendengaran mereka saat salah satu orang dari meja sampingnya mulai membuka percakapan tentang sakit. Mereka terlihat seperti seorang bangsawan karena hanfu mereka bagus dari sutera.


“Iya, aku memang sakit. Tapi sekarang sudah jauh lebih baik karena aku membeli obat di toko obat Nyonya Wu.” Jawab temannya yang lain.


“Apakah obat itu benar-benar berkhasiat?”


“Itu berkhasiat, kau harus mencobanya saat merasa sakit. Memang tidak langsung sembuh, butuh beberapa hari agar bisa pulih. Tapi jika kau rajin meminum ramuan herbal racikannya, sudah pasti kau akan membaik.”

__ADS_1


“Wah, aku tidak mau sakit. Wabah ini membuat adik iparku meninggal dunia tahun lalu. Aku tidak mau berakhir seperti dia.” Jawab orang yang bertanya tadi, “Tapi dulu anakku pernah sakit, dan kami membeli obat disana, memang dia langsung sembuh.”


“Kalau begitu Nyonya Wu memang terpercaya.”


Nyonya Wu? Marga yang sangat jarang di Negeri Ming, dan lagi dia sepertinya sangat terpandang karena mampu menyelamatkan rakyat dari penyakit lewat ramuan herbalnya. Kaisar menjadi sangat penasaran dengan sosok sang nyonya, “Marga Wu? Asing sekali, aku jadi penasaran dengan Nyonya Wu. Siapa dia? Apakah dia seorang tabib atau hanya bangsawan biasa?” Ujar kaisar.


Panglima Hao membelalak, “Emm … dia hanya tabib biasa.”


“Kau sudah pernah menemuinya?”


“Belum.”


“Kalau begitu kita temui dia nanti.”


“Untuk apa?” tanya sang panglima takut, takut jika kaisar sampai tahu siapa Nyonya Wu yang sebenarnya. Dia bisa mendapat masalah kalau sampai penyamaran Wu Li Mei terbongkar, “Kita tidak perlu pergi kesana, bukannya kita akan mencari tahu sumber masalah saja.”


Kaisar Zhou memicingkan matanya, ada yang aneh dengan panglimanya. Kenapa dia tidak mau pergi kesana? Padahal lebih mudah mencari tahu lewat Nyonya Wu daripada mencari tahu sendiri. Sang kaisar mengendikkan bahunya dan menghabiskan makanannya dengan cepat, jika dia pergi maka Panglima Hao mau tidak mau akan ikut.


Dan benar saja, sebuah rumah kecil bertuliskan ‘Toko Obat Nyonya Wu’ begitu ramai dengan manusia, Kaisar Zhou sampai terkesan dengan banyaknya orang disana dan lagi mereka tidak membedakan sistem kasta. Baik rakyat biasa atau para bangsawan, mereka mengantre dengan tertib di barisan yang sudah disediakan. Rumah kecil itu seperti dibagi dua, yang satu untuk orang yang hanya ingin membeli obat, dan satu lagi untuk mereka yang sedang duduk menunggu giliran.


“Mereka itu sedang apa?” tanya kaisar.


“Membeli obat.” Jawab Panglima Hao, pria itu sedikit gelisah karena kaisar benar-benar menepati ucapannya untuk pergi melihat toko obat Nyonya Wu.


“Bukan yang itu, yang satu lagi, mereka yang duduk mengantre di sampingnya. Prak … tek Nyonya Wu!”


“Saya tidak tahu, Yang Mulia, tapi mungkin itu seperti pergi menemui tabib untuk menanyakan langsung sakit dan obat ada yang cocok.”


Kaisar Zhou menganggukkan kepalanya, langkahnya membawa pria itu untuk datang kesana. Sang panglima ingin mencegah tapi bagaimana? Apa yang bisa ia lakukan selain menuruti apa kata kaisar. Hingga mereka sampai tepat di depan toko obat itu.


“Aku seperti tidak asing dengan mereka!” tunjuk Kaisar pada dua orang anak laki-laki dan perempuan yang sibuk menulis, saat Panglima Hao melihat mereka, ia langsung membulatkan mata.


“Mereka hanya orang-orang yang bertugas membantu tabib.”


“Benarkah? Seadainya saja mereka tidak bercadar, mungkin aku benar mengenali mereka, seperti tidak asing.”


“Mata itu! Aku yakin aku mengenalnya.”

__ADS_1


Panglima Hao semakin gusar, ia gugup tapi hanya bisa terdiam pasrah dan berusaha menyangkal. “Apa itu Xiao Ming?”


__ADS_2