
“Kemana kau akan mengajakku? Aku sedang sibuk, tidak ada waktu untuk berbasa-basi denganmu ayah.”
Yang Zuo tetap melangkah menyusuri jalanan menuju ke sebuah pondok yang berada di pasar, tujuannya adalah kemana langkah kaki dan hatinya membawa. Sebagai mantan pemberontak, jelas Yang Zuo masih sangat dihormati dan ditakuti oleh sebagian orang yang mengenal dirinya. Berjalan bersama kepala departemen kejaksaan menyusuri jalanan di siang hari yang terik. Pagi tadi, tiba-tiba saja ia mendapatkan pesan bahwa pria tua itu menunggunya di gerbang samping. Apa yang membuatnya datang, Yang Jian Zhu juga tidak tahu.
“Sebenarnya apa yang hendak kita lakukan?!” tanya Yang Jian Zhu mulai kesal, dia mensejajarkan langkah dengan sang ayah.
“Diamlah, dan ikuti saja, nanti kau akan tahu.”
“Iya, tapi kemana dan ada apa?” tanya si putra sulung. “Jangan bilang kau akan membawaku berjalan menemui Yang Jia Li di Biara Heng Shui, aku tidak mau.”
“Untuk apa aku membawamu kesana?” tanya Yang Zuo sambil menggelengkan kepala, langkahnya terus saja berpijak pada jalanan yang membawanya mereka ke suatu tempat. Hanfu dari kain sutra halus yang mereka kenakan, berkibar mengikuti arah angin membawa.
Yang Jian Zhu mengendikkan bahunya acuh, “Yaa, barangkali kau merindukan putri tersayangmu.” Jawabnya.
“Aku tidak peduli pada hidup Jia’er disana, dia pasti bisa keluar dari masalah ini dengan baik. Membawanya cepat pergi dari tempat itu juga bukan ide bagus, biar dia menikmati hari-harinya di biara itu dulu.”
“Kau tidak takut Wu Li Mei akan mengambil kekuasaan?”
“Untuk apa takut?!” Yang Zuo menghentikan langkahnya, dia berteduh pada pohon persik yang baru mulai berbuah, tapi beberapa ada yang berjatuhan mengenai sepatunya. “Aku bisa membunuh selir itu jika aku mau, tidak perlu takut dia akan berulah. Justru hari ini aku akan memberinya pelajaran.”
“Pelajaran apa? Memangnya apa yang dia lakukan?”
“Nanti kau akan tahu, kau pasti senang melihat ini.” Ujar sang ayah misterius, Jian Zhu sama sekali tidak bisa menebak apa yang akan terjadi karena selain masalah istana, dia tidak tahu lagi apa yang terjadi di luar.
***
__ADS_1
“Kakak, kakak!! Apa yang terjadi kak?”
“Ini ada apa? Kenapa kalian datang kesini! Siapa kalian?!”
Meng Suo menatap ketakutan pada beberapa orang berpakaian serba hitam dengan penutup wajah dan sebilah pedang di pinggang mereka. Mereka tiba-tiba masuk dan membuat kekacauan di toko, padahal ada banyak orang yang sedang membeli obat.
Orang-orang berteriak ketakutan saat para pemuda berpakaian serba hitam itu mengobrak-abrik isi toko, mereka mengeluarkan semua persediaan obat dan merusaknya. Melempar semua isinya dan menghancurkan toko obat itu hingga porak-poranda. Siapa mereka? Tidak ada yang tahu. Suo bersaudara mencoba menyelamatkan diri dan apa yang bisa mereka selamatkan saja di tengah ketakutan yang melanda, takut jika nyawa mereka juga ikut dihabisi, mereka tidak tahu apa-apa.
“Kakak ini bagaimana?!”
“Kakak!!” tangis Meng Suo pecah saat dirinya merasakan ketakutan yang luar biasa, toko obat tempatnya bernaung akan kehidupan dihancurkan begitu saja oleh orang-orang yang tidak dikenal. “Bagaimana ini? Apa yang terjadi?!”
“Hei! Kalian hentikan!!”
“Jangan kurang ajar!!”
Lan Suo mencoba sekuat tenaga untuk menahan mereka sendirian, tapi karena telah kalah dalam jumlah, Lan Suo hanya bisa berteriak dan memaki semuanya dengan penuh ketakutan. “Jangan merusak itu, kami membutuhkannya. Jangan dirusak!!”
“Jangan merusak, pergi kalian!!!”
Dua orang berpakaian serba hitam menyeret paksa mereka keluar, dan segera membakar tempat itu. Pemandangan yang langsung membuat orang-orang memekik dan kaget, ingin membantu tapi tidak bisa berbuat banyak.
“Jangann!!!”
“Kakak, jangan nekat!” Meng Suo menahan sang kakak dengan sekuat tenaga agar ia tidak masuk ke toko obat, api sudah menyebar dengan cepat karena mereka yang berpakaian serba hitam itu membawa minyak bahan bakar lengkap.
__ADS_1
Saat derap pasukan istana datang, mereka lari tunggang langgang meninggalkan toko obat dan keramaian yang mereka ciptakan. Para pasukan mengejar hingga ke dermaga dan hutan, mereka seolah menyebar untuk menyelamatkan diri masing-masing.
Suo bersaudara hanya bisa menatap toko obat dengan sedih dan marah, tangis mereka tidak terbendung lagi karena kekejaman orang tidak dikenal. Begitu baik mereka sudah menyediakan obat untuk orang-orang hingga wabah bisa cepat berakhir, tapi justru sekarang dihancurkan dengan begitu keji. Apa yang harus mereka katakan pada Wu Li Mei, kecewa sudah pasti dan mereka harus menanggung semua ini.
“Bagaimana ini?” tanya warga yang lain, “Ayo kita bantu padamkan api semampu kita.”
“Ayo kita sama-sama kumpulkan obat yang berserakan semampu kita.”
“Ya, ayooo!!!”
Orang-orang segera bergotong royong memberikan tenaga untuk mengambil air dan memadamkan api. Paling tidak, toko obat itu tidak menjadi abu. Satu orang datang kepada Suo bersaudara dan mencoba menenangkan mereka, “Kalian harus berlindung dulu, sudah, biar kami bantu untuk memadamkan api ya.”
“Kalian harus tabah, kami ikut prihatin dengan ini.” Ujar yang lain.
Lan Suo dan Meng Suo menyeka air mata dan keringat yang bercampur menjadi satu, mereka menurut dengan berlindung ke tempat yang tidak jauh dari sana. Dengan begitu mereka bisa lebih tenang. Nyawa seolah masih mengambang entah dimana, kejadian yang begitu mengejutkan hingga tidak terbendung lagi perasaan sedih, takut, hancur dan marah itu. Meskipun toko obat ini milik Nyonya Wu, tapi mereka merasa memiliki juga, dan menikmati hidup sebagai pedagang obat disana. Bisa bertemu dengan banyak orang dan menyembuhkan sakit mereka itu sangat luar biasa berarti. Separuh hidup rasanya telah direnggut paksa hari ini, di siang hari yang begitu terik ini. Api jadi cepat menyebar.
Berbeda dengan Suo bersaudara yang merasa dunianya telah hancur, dua orang berbeda generasi yang melihat dari balik kedai makan itu hanya bisa terdiam dan pikiran yang berlainan. Yang satu jelas senang dengan kejadian itu, tapi yang satu lagi menjadi gamang. “Apa yang ayah lakukan?” tanya Yang Jian Zhu tidak percaya.
“Apa lagi? Menghancurkan apa yang dimiliki Wu Li Mei dengan sepenuh hati.”
“Bagaimana ayah tahu kalau ini milik Wu Li Mei?”
Yang Zuo mengendikkan bahunya, ia meletakkan kembali cangkir teh yang berisi arak itu. “Sudah lama aku mengamati toko obat ini, dan mendapati bahwa pemiliknya adalah Wu Li Mei, tidak ada seorang pun bermarga Wu selain dia disini, bahkan di berbagai negara, hanya keturunan langsung dari Kekaisaran Hang yang boleh bermarga Wu.”
“Tapi ini gila, dia bekerja untuk kemanusiaan. Kenapa yang kali ini harus kau hancurkan?”
__ADS_1
“Memangnya kenapa? Apapun yang menjadi milik Wu Li Mei maka itu sah untuk dihancurkan. Begitu juga dengan toko obatnya, aku tidak peduli dengan semua itu, orang sakit atau apalah itu.” Ujar Yang Zuo.
“Dasar iblis! Kau dan Yang Jia Li benar-benar tidak punya hati!” maki Yang Jian Zhu.