
Pagi sekali para prajurit sudah dipersiapkan untuk menjalankan rencana besar mereka, yakni melakukan penyerangan terhadap kaum pemberontak Negeri Selatan. Setelah mengintai cukup lama dan mengatur strategi yang matang, akhirnya mereka memutuskan hari ini adalah hari dimana mereka akan merebut kembali tanah selatan.
Panglima Hao dan yang lainnya bersiap, kali ini Yang Zhe Yan akan memimpin pasukan utama. Sementara Panglima Hao akan tetap berada di samping kaisar. Mendapatkan kepercayaan sebesar ini membuat Yang Zhe Yan bersyukur dan merasa sangat bertanggungjawab. "Persiapkan diri kalian, prajurit!" titahnya.
"Kita akan segera merebut kembali tanah selatan!!!"
"Hidup kekaisaran!!"
"Hidup kekaisaran!!"
Kobaran api semangat kian menyala-nyala karena telah ditambah bahan bakarnya, semangat harus dipupuk dan jiwa petarung harus disiapkan untuk menghadapi pertarungan.
Sebanyak lima ratus prajurit bersiap, yang dibagi ke dalam empat tim. Yakni tim pengintai, tim utama penyerangan, tim pemanah, tim pelindung kaisar, dan tim bantuan. Mereka telah siap berada di posisi masing-masing dengan senjata dan baju zirah lengkap, begitu pula kuda yang gagah untuk bertempur.
Kaisar menatap langit yang belum menampakkan rona merahnya, masih fajar dan ini waktu yang tepat karena pasukan Zao pasti tengah terlelap. Mereka harus melakukan penyergapan segera sehingga para pemberontak bisa dibasmi.
Helaan napas dalam sang kaisar terhembus di sela angin pagi yang dingin, lagi-lagi harus ada pertumpahan darah di negerinya. Entah itu dari prajurit kekaisaran atau prajurit pemberontak Zao. "Hari ini kembali lagi kita menumpahkan darah di tanah ini, belum cukup rasanya bagi negeri kita untuk berseteru sehingga damai sangat sulit untuk diraih."
"Kita harus bersabar, Yang Mulia. Akan selalu ada banyak badai bagi pohon yang tumbuh tinggi dengan gagah dan kokoh. Sebagai akar, kita harus memperkuat pohon agar tidak tumbang." jawab Panglima Hao memberikan dukungan kepada kaisar yang sedang resah.
Bagaimana tidak, nyawa yang jadi taruhannya disini. Dan tidak ada yang tahu keberuntungan akan berpihak pada siapa.
Sang kaisar menoleh, "Bukannya kita selalu melakukan ini sejak masih muda, Panglima Hao."
"Maksud anda?"
"Perang seperti ini."
Panglima Hao tersenyum tipis, "Ah, masa-masa muda itu ya. Aku ingat sekali dulu kita pernah hampir mati terbunuh saat disandera."
"Atau saat hanya tersisa kita di dalam pertempuran negeri barat." tambah kaisar. "Itu adalah masa-masa paling mengharukan dan penuh perjuangan, lalu sekarang kita dengan cepat menua begitu saja."
"Aneh rasanya, baru kemarin kita tumbuh bersama sekarang sudah tua begitu saja." jawab Panglim Hao.
__ADS_1
Kaisar Zhou bernostalgia pada masa muda mereka yang selalu diwarnai dengan peperangan untuk mempertahankan kekuasaan dan menguasai suatu wilayah. Jauh sebelum Zhou Xiu Huan menjadi kaisar, dia telah berperang bersama Panglima Hao dan mengabdi pada kekaisaran.
Zhou Xiu Huan belum menjadi putra mahkota kala itu, usianya baru menginjak lima belas tahun dan ia ikut memimpin pasukan. Pada awalnya menjadi kaisar memang bukanlah takdirnya, dia lahir dari seorang selir biasa yang tidak sama sekali diperhitungkan kala itu. Hingga permasalahan yang begitu pelik dan sukar untuk dijelaskan membawanya menduduki tahta dengan susah payah.
Dan sejauh itu, Panglima Hao tetap menjadi teman baiknya.
Oleh karena itu juga dia langsung diangkat sebagai panglima tertinggi Dinasti Ming.
"Bagaimana, Yang Mulia?"
Yang Zhe Yan berlutut dan menunduk hormat setelah sampai di hadapan kaisar dan Panglima Hao."
"Semuanya sudah siap!"
"Kita mulai penyerangan segera."
"Baik, Yang Mulia." ujar Panglima Hao dan Yang Zhe Yan bersamaan.
***
Dalam dekapannya, ia terus mengusap bahu sang adik untuk menyalurkan ketenangan.
Beberapa menit yang lalu, tepat setelah ramuan berbau menyengat itu diberikan untuk Wu Li Mei. Wanita cantik dengan wajah pucat itu mengalami kejang hebat dan suhu tubuh meningkat drastis.
Sayangnya Tabib Zhong juga tidak tahu apa arti dari kejadian itu, apakah tubuh Wu Li Mei menerima atau tidak. "Bagaimana Tabib Zhong, apa yang terjadi pada ibu?" tanya Zhou Ming Hao lagi.
"Maaf, Yang Mulia. Saya juga tidak tahu pasti mengapa Yang Mulia Selir kejang-kejang. Tapi sekarang demamnya sudah berangsur turun. Bagaimana kalau kita biarkan dulu Selir Agung Wu beristirahat." jawab sang tabib.
"Tapi, bagaimana kalau ibu membutuhkan sesuatu? Atau ibu bangun dan tidak ada seorang pun?"
Zhou Fang Yin menjadi sangat emosional karena rasa khawatirnya. Hampir saja ia merasakan napas Wu Li Mei tak lagi berhembus sesaat setelah kejang terjadi, dunia seakan runtuh begitu saja.
"Sebaiknya kita berdoa saja, Yang Mulia."
__ADS_1
"Berdoa?"
"Hanya dewa yang bisa menentukan nasib seseorang, dan apa yang akan terjadi di masa depan."
Zhou Fang Yin mengusap air matanya dengan kasar, "Setiap hari aku selalu berdoa untuk kesembuhan ibu, tidak ada satu hari pun aku tidak berdoa kepadanya. Tapi apa para dewa tidak mendengar doaku sama sekali, kenapa mereka tidak menjawabnya?? Katakan harus seperti apa lagi aku berdoa Tabib Zhong!!"
"Yang Mulia, anda terlalu memaksakan diri." Tabib Zhong merasa iba dengan sang putri yang begitu kalut, tapi ia pun tidak bisa melakukan apa-apa untuk saat ini. "Anda harus bersabar dan tabah menjalani semua ini."
"Aku sudah sabar, Tabib Zhong, aku sudah berusaha setabah mungkin." jawab Zhou Fang Yin berapi-api, kepalanya serasa mau pecah dan jantungnya diremas kuat oleh keadaan yang memaksanya untuk kuat. "Ayahku pergi ke medan perang dan entah akan kembali atau tidak, lalu ibuku ... kau lihat sendiri bagaimana hancurnya aku!"
"Xiao Yin!!" sentak Zhou Ming Hao menghentikan racauan sang adik, "Bukan hanya kau yang menderita disini, tapi aku juga. Kita semua sama-sama berjuang untuk menjadi kuat!"
"Tabib Zhong sudah berusaha sebaik mungkin!"
"Benar apa yang dikatakan oleh Tabib Zhong, kita hanya bisa ber ... Xiao Yin!!!"
Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Zhou Ming Hao harus menelan amarah pahit dalam dadanya. Sang adik menangis dan berlari keluar, dia tahu Zhou Fang Yin pasti kecewa karena ia telah berkata begitu keras kepadanya.
Tapi situasi ini sangat pelik dan menyesakkan, sang putra mahkota mengusap wajahnya kasar.
Guru Zhang menepuk bahu sang murid dua kali, "Kejarlah sang putri, dia pasti sangat sedih karenamu."
"Tapi guru, aku ... "
"Kejar dia!"
Tanpa menunggu lagi, putra mahkota pun pergi meninggalkan kamar sang ibu untuk mengejar adiknya. Dia berlari kecil sembari menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari keberadaan sang adik.
Tapi nihil, Zhou Fang Yin entah lari kemana.
Hingga suara gaduh berhasil menarik perhatiannya, "Zhou Fang Yin!!"
"Zhou Fang Yin!!" panggilnya.
__ADS_1
"Mencari adikmu?"
Zhou Ming Hao sontak menoleh mendengar suara dari arah belakangnya, "Ibu permaisuri?"