
Ah, rasanya selalu menyenangkan sekali saat ia menang dari Yang Jia Li. Ia merasa puas dengan kemenangannya dan berniat lebih untuk mengalahkan permaisuri licik itu.
Hidup damai yang menjadi impian wanita itu sejak awal kino sirna, karena jika ingin bertahan hidup di lingkungan istana yang keras ini. Wu Li Mei harus siap berperang, meskipun itu artinya ia harus terus berjuang melawan Yang Jia Li. Melihat perangai permaisuri itu sejak awal, Wu Li Mei jadi sangsi untuk membiarkannya tetap duduk di tahta tertinggi itu. Rasanya Yang Jia Li tidak pantas menjadi permaisuri, ia tidak mencerminkan sikap dan perilaku seorang ratu yang seharusnya anggun dan bijaksana.
"Yang Mulia, saya mendengar kabar bahwa permaisuri mengamuk dan tidak mau makan."
Ujar Dayang Yi setelah dayang itu sampai di hadapan sang junjungan. Wu Li Mei hanya tersenyum tipis, ia kembali menyesap aroma menenangkan yang menguar dari hangat teh melati itu. "Benarkan?"
"Ya, Yang Mulia." jawab sang dayang.
"Lalu, apakah dia masih berada di paviliunnya? Atau di pergi ke suatu tempat?"
"Sepertinya permaisuri masih berada di paviliunnya, Yang Mulia. Tapi saya dengar kabar bahwa permaisuri akan berkunjung ke perpustakaan istana sore ini."
"Wah, itu sangat bagus!"
Wu Li Mei meletakkan cangkir teh miliknya, sudah saatnya untuk beranjak dari pondok teratai.
"Maksud anda apa, Yang Mulia?" tanya Dayang Yi kebingungan, bukankah pagi tadi Wu Li Mei mengeluh badannya sakit dan pegal-pegal. "Anda harus banyak beristirahat setelah meminum obat, Yang Mulia."
Wu Li Mei menggeleng, "Aku harus menemui permaisuri bukan? Aku harus menyapanya dan mendeklarasikan kemenanganku."
"Deklarasi?" Dayang Yi menatap bingung, "Tapi anda bilang sedang tidak enak badan, Yang Mulia."
"Aku?"
"Ya."
"Kapan?"
"Emm... pagi tadi, Yang Mulia. Setelah anda dan Kaisar Zhou terbangun di pondok teratai ini."
__ADS_1
Benar juga! Mendengar itu membuat memorinya seolah terputar kembali, ingatan tentang malam terang bertabur bintang yang panas. Kemarin malam seharusnya ia merasa dingin karena beraktivitas di luar tanpa busana, tapi justru aktivitas itu yang menghangatkannya.
Wu Li Mei menggeleng, percintaan panasnya dengan Kaisar Zhou membuatnya kembali menginginkan hal itu. Ah, tidak! Ia tidak boleh terpengaruh dengan sang kaisar, karena wanita itu masih menyimpan dendam atas kematian Zhou Xie Ling kepada kaisar.
"Tidak apa, Dayang Yi, aku bisa melakukannya. Hanya berjalan beberapa langkah tidak akan membuatku sakit, lagipula ada hal penting yang ingin kusampaikan kepada permaisuri." jawab Wu Li Mei.
"Apa anda benar tidak masalah? Apa anda tidak merasa sakit karena kaisar terlalu keras, anda bilang bagian bawah anda sampai... lecet." ujar Dayang Yi dengan suara nyaris berbisik.
Selir Agung sontak membulatkan matanya, ingin sekali ia mencakar Dayang Yi karena telah mengucapkan kalimat yang terdengar begitu vulgar. Dasar Dayang Yi!
Wu Li Mei memilih pergi dan mengabaikan kegilaan Dayang Yi, ia harus menuju perpustakaan istana dan menunggu Yang Jia Li disana.
...****************...
"Salam, Yang Mulia Permaisuri."
"Bangkitlah!"
Sejujurnya Yang Jia Li tidak terlalu menyukai kegiatan membaca dan pun mengumpulkan buku-buku. Ia lebih suka menyulam dan merajut, tapi sore ini Yang Jia Li mengunjungi perpustakaan istana untuk mencari sesuatu, yakni catatan lama tentang tanaman beracun.
"Dayang Yue, tinggalkan aku sendiri!"
"Baik, Yang Mulia."
Dayang Yue dan para dayang yang mengikuti sang permaisuri meninggalkan perpustakaan dan menutupnya dari luar. Mereka menurut tanpa banyak bertanya karena suasana hati Yang Jia Li sedang sangat buruk.
Jika saja wanita nomor satu di Dinasti Ming itu tidak mengingat pesan dari sang ayah untuk mencari buku, pasti sang permaisuri masih mengamuk di paviliunnya.
Yang Jia Li melangkahkan kakinya, ia memutari rak-rak besar dengan ribuan buku di dalamnya. Aroma buku-buku ini membuatnya pusing, ia menutup hidungnya dengan lengan hanfu.
"Sedang mencari apa, Yang Mulia?" tanya seseorang dari balik rak buku.
__ADS_1
Yang Jia Li sampai berjingkit karena terkejut melihatnya, seseorang dengan hanfu biru langit yang sangat tidak ingin ia temui. Jia Li mengerutkan keningnya, seharusnya tidak ada yang boleh mengganggunya. Dan lagi, ia telah meminta penjaga perpustakaan untuk mengosongkan ruang itu.
"Sialan! Apa yang kau lakukan disini?!" kesal Yang Jia Li, sungguh, melihat wajahnya saja dia langsung naik pitam.
"Oh, apa kau tidak lihat aku sedang membaca buku." ujar Wu Li Mei, sang selir menutup kembali buku yang sedang ia baca. "Mungkin anda tidak bisa melihat saya, Yang Mulia. Karena anda dibutakan oleh... cemburu?"
"Diam kau!"
"Untuk apa?" tantang Wu Li Mei, "Kenapa aku harus diam?"
"Diam, atau aku akan membunuhmu!!" tekan Yang Jia Li.
"Uuhh!" sang selir agung sengaja bergidik ngeri, "Aku sangat takut, Yang Mulia, ampuni aku." ujarnya berpura-pura memelas.
"Sialan!"
"Awh!" pekik Wu Li Mei saat sang permaisuri mengayunkan tangan kepadanya, tapi belum sempat telapak tangan itu menempel di pipinya. Wu Li Mei hendak melangkah untuk menghindar, tapi ia merasakan nyeri. "Awh, maaf, tapi bagian bawahku masih sakit. Kaisar bermain dengan ganas kemarin, eh ups!"
Wajah cantik Yang Jia Li memerah menahan amarah yang mati-matian ia tahan, seandainya bisa ia mencekik Wu Li Mei disana dan membuang jasadnya ke lautan, sudah pasti ia lakukan.
"Apa kau puas? Kau sudah merebut kaisar dariku, dasar ******!" maki Yang Jia Li, "Malam kemarin seharusnya menjadi milikku, tapi kau malah merusaknya. Dengar Wu Li Mei, aku akan membuat perhitungan denganmu!"
"Apa kau pikir ****** ini takut?" Wu Li Mei melipat kedua tangannya dengan angkuh, sama-sama melayangkan tatapan permusuhan kepada permaisuri. "Aku bukan ******, aku adalah selir agung. Aku bukan wanita murahan sepertimu!"
"Jaga mulutmu, Wu Li Mei!"
Wu Li Mei memangkas jarak antara mereka, "Kenapa? Apa kau tidak suka aku menyebutmu sebagai wanita murahan? Kau pikir aku tidak tahu kalau kau selalu bercinta dengan sepupumu itu. Siapa namanya ya... eem... Yang Zhe Yan! Iya, dia adalah anggotan klanmu yang kau jadikan panglima bukan?!"
Wajah Yang Jia Li berubah pias, bola matanya bergerak gelisah. Bagaimana selir licik itu bisa tahu tentang Yang Zhe Yan, sialan! Ia harus memberi pelajaran kepada Yang Zhe Yan. "Tidak! Aku tidak pernah melakukannya, kau berani memfitnahku!"
"Hahahaha." tawa sumbang sang selir semakin menambah panas suasana hati Jia Li. "Aku tidak takut Jia Li, apa yang ku katakan ini adalah sebuah kebenaran dari betapa busuknya dirimu."
__ADS_1
"Katakan permaisuri, apa kau ingin satu persatu kebusukanmu ku bongkar di hadapan ibu suri?"