
Di sebuah ruangan temaran dengan aroma obat itu, seorang gadis cantik jelita kembali mencelupkan sebuah kain kecil ke dalam cawan air hangat, ia memerasnya hingga sedikit kering dan membasuhkannya ke wajah dan leher sang ibu. Sengaja ia tidak mau orang lain yang melakukannya. Padahal para dayang tidak akan menolak karena ini bagian dari pekerjaan mereka.
Menunggu dan menunggu dengan wajah sendu, tidak tahu kapan penantian ini akan berakhir karena Zhou Fang Yin sendiri tidak pernah mengerti mengapa Wu Li Mei tidak kunjung sadarkan diri. Keadaan negeri ini dan istana sedang genting, dia melihat dengan mata kepala sendiri bahwa Yang Jia Li telah kembali tanpa sebab. Dan tidak ada yang bisa mengembalikannya ke pengasingan karena kaisar tidak ada, bahkan ibu suri pun tidak mampu memerintahnya. Entah dimana sang permaisuri bersembunyi hari ini, yang pasti Wu Li Mei akan berada dalam bahaya jika sampai Yang Jia Li menyusup.
“Yang Mulia, apa anda butuh kain lagi?” tanya Dayang Yi.
Zhou Fang Yin menggeleng, “Tidak, aku tidak perlu karena ini sudah cukup. Aku tidak mau ibu jadi kedinginan.”
“Kalau begitu biar para dayang membawanya keluar.”
“Ya.”
Dayang Yi meraih cawan air hangat itu beserta kainnya, dia memberikan kepada salah satu dayang dan segera dibawa keluar dari kamar Wu Li Mei.
Zhou Ming Hao datang bersama dengan Tabib Zhong dan Guru Zhang, mereka mengunjungi Wu Li Mei pagi-pagi sekali dan memberikan obat. “Bagaimana keadaan ibu?” tanya sang putra mahkota.
“Masih sama seperti kemarin, ibu tetap tidak sadarkan diri dan belum ada tanda-tanda akan bangun.” Ujar si adik lesuh seraya menatap sedih sang ibu. “Aku tidak mengerti kenapa tubuh ibu jadi semakin dingin, apakah kita perlu menambah penghangat atau memakaikan selimut tebal.”
“Itu mungkin karena cuaca, Yang Mulia, tidak perlu khawatir.” Ujar Tabib Zhong, sang tabib segera mengeluarkan peralatan yang digunakan untuk memeriksa Wu Li Mei, termasuk jarum akupuntur yang sering digunakan sebagai metode penyembuhan. Dipersiksa kembali juga masih sama, tidak ada perubahan yang berarti. “Ku dengar ada obat manjur di negeri barat, dulu ada pertapa yang juga jatuh pingsan bertahun-tahun dan dia sembuh karena meminum ramuan itu.”
“Ramuan apa Tabib Zhong?” tanya Guru Zhang.
“Ramuan apa itu?” tanya Zhou Ming Hao.
Tabib Zhong berbalik seraya mengemasi jarum akupunturnya, “Tanaman herbal yang hanya tumbuh di pegunungan Zhi di negeri barat, seperti ilalang tapi beraroma sangat menyengat. Ada sebuah biara disana yang menanam tanaman itu sebagai obat yang harganya mahal. Untuk itu saya mohon diri untuk mengambilnya, Yang Mulia.”
“Kalau kau pergi lalu siapa yang menjaga ibu, Tabib Zhong?” tanya Zhou Fang Yin khawatir. “Bagaimana kalau terjadi sesuatu sedangkan kita tidak tahu cara untuk mengatasinya.”
__ADS_1
“Benar juga, sebaiknya anda tidak perlu pergi Tabib Zhong, suruh muridmu atau siapapun itu untuk mengambilnya dari negeri barat. Aku akan menyiapkan kuda dan perbekalan dan banyak.” Tambah sang putra mahkota.
“Bagaimana kalau saya saja, Yang Mulia?” Guru Zhang menawarkan diri, sejauh ini dia selalu bepergian ke berbagai wilayah negeri untuk mencari obat dan keperluan lainnya yang hanya bisa dilakukan secara sembunyi-sembunyi.
Sang putra mahkota sontak menggeleng, “Tidak, jangan guru, siapa yang akan mendampingiku di istana nantinya. Sebaiknya kita suruh prajurit atau utusan untuk mencarinya ke negeri barat, tidak perlu kau yang turun tangan.”
“Tapi, Yang Mulia. Saya bisa pergi dan kembali dengan cepat, jadi anda tidak perlu khawatir. Pegunungan Zhi tidak terlalu jauh dari sini.”
“Ibu permaisuri ada disini, dia bisa melakukan hal-hal di luar dugaan dan aku akan sangat membutuhkanmu, guru.”
“Lalu siapa yang akan pergi, Yang Mulia.”
“Saya!”
Keempat orang yang sedang berunding dengan pelik itu menoleh pada satu titik dimana seorang wanita mengacungkan tangannya, “Saya saja, saya akan pergi ke pegunungan Zhi mencari obat. Kalian bisa mempercayai saya.”
“Tak apa, Yang Mulia, masih ada banyak dayang disini. Saya akan pergi bersama Lu Yan sehingga perjalanan aku cepat.”
Zhou Ming Hao dan Zhou Fang Yin saling tatap, berat untuk melepaskan Tabib Zhong dan Guru Zhang, tapi Dayang Yi, mungkin adalah orang yang tepat karena dia adalah orang yang paling setia mendampingi ibunya sejak lama. Pegunungan Zhi sendiri letaknya tidak begitu jauh, dan mencari biara disana juga bukan hal sulit. Yang menyulitkan adalah keadaan istana saat ini begitu pelik, hingga Wu Li Mei harus dikesampingkan sejenak. Kini mereka kembali fokus di tengah-tengah konflik dan peperangan.
Belum lagi ancaman dari Yang Jia Li begitu nyata, apapun bisa ia lakukan setelah kembali ke istana.
“Kalau begitu berangkatlah saat ini juga Dayang Yi, kasim akan mempersiapkan segalanya untuk perjalananmu. Tapi, kau harus secepatnya menemukan obat itu dan kembali kesini, ibu sangat membutuhkan obat itu.”
“Baik, Yang Mulia.”
“Terima kasih, Dayang Yi.”
__ADS_1
“Ini adalah sebuah kehormatan untuk saya mengabdikan diri kepada Yang Mulia Selir Agung Wu.”
Dayang Yi dan Lu Yan pamit pergi guna mempersiapkan diri, karena tidak bisa berkuda maka perjalanan tentu akan ditempuh dengan berjalan kaki. Kebetulan hari masih pagi jadi mereka bisa memiliki banyak waktu untuk sampai disana sebelum gelap.
Entah apa yang terjadi kepada Wu Li Mei karena tak kunjung membuka mata indahnya hingga berhari-hari, satu yang menjadi harapan bagi mereka adalah napas Wu Li Mei masih kuat berhembus.
Helaan napas lelah sang adik membuat Zhou Ming Hao menoleh, dia tahu siapa yang selalu menjaga sang ibu setiap hari tanpa jeda, dia juga tahu kalau Fang Yin sampai rela bermalam disana hanya untuk menjaga Wu Li Mei. Sang putra mahkota merangkul bahu adiknya dan memberikan usapan lembut disana sebagai penyemangat, “Tegarlah Xiao Yin, ibu pasti akan kembali untuk kita.”
“Aku juga yakin begitu.” Jawabnya.
“Kau beristirahatlah, biar aku yang menjaga ibu, aku tahu kau tidak tidur semalaman.”
“Tapi … “
“Cepat pergi tidur!” sentak sang kakak ringan, jika Zhou Ming Hao sudah berubah menjadi tegas begini maka yang bisa dia lakukan hanya menurut. Pasti ada salah satu ruangan di paviliun sang ibu yang bisa dijadikan tempatnya untuk tidur. Tapi untuk saat ini, sepertinya berendam di air hangat akan membuatnya lebih segar. Sang putri membutuhkan aroma mawar dan bunga lainnya untuk penyegaran.
Sang putri pun memutuskan untuk pergi dari sana, kembali ke paviliunnya sendiri guna beristirahat barang sejenak. Perjalanannya terasa begitu melelahkan, rupanya matahari tidak bersinar terang karena tertutup mendung hari ini. Bahkan tanah basah pertanda hujan. Sedalam itukah ia tenggelam di samping sang ibu sampai tidak sadar akan keadaan sekitar. Zhou Fang Yin kembali menghela napas.
“Menyedihkan sekali.”
Zhou Fang Yin menoleh mendengar seseorang berseru, dia lalu membulatkan matanya pada wanita dengan hanfu berwarna merah itu. “I—ibu—ibu … “
“Kenapa kau terkejut begitu?”
“Bagaimana bisa kemari—kau se—”
Zhou Fang Yin tergagap, seketika rasa takut itu kembali muncul melihat wanita dengan hanfu berwarna merah itu. Tidak ia sangka bahwa dia masih bisa berkeliaran di istana dengan mudah, padahal sangat lancang baginya melanggar perintah kaisar untuk merenung di pengasingan.
__ADS_1
“Aku datang untuk melihat Wu Li Mei.”