Back In Time (Reinkarnasi Selir Kejam)

Back In Time (Reinkarnasi Selir Kejam)
Sebuah pengumuman


__ADS_3

"Pertama, toko obat dibuka untuk siapa saja. Baik dari kalangan bangsawan maupun rakyat biasa boleh membeli obat disini." ujarnya, membuat sebuah harapan baru bagi para rakyat miskin yang selama ini tak berani membeli. Kebanyakan dari mereka berpikir bahwa hanya kalangan bangsawan saja yang boleh membeli obat. Rakyat miskin biasanya mengandalkan herba yang mereka temukan dari lereng gunung, berbekal resep turun temurun dari nenek moyang. Terkadang banyak pula yang salah memilih herba karena kemiripan beberapa jenis.


"Kedua, aku akan membuka praktek di penghujung minggu."


Salah seorang pria paruh baya mengangkat tangannya, "Apa itu praktek, nyonya." tanyanya dengan polos.


"Praktek adalah pemeriksaan kesehatan yang dilakukan olehku, anggaplah aku seorang tabib, jadi kalian bisa berkonsultasi kepadaku."


"Apa kau benar seorang tabib?"


"Ya."


"Apa buktinya?"


Wu Li Mei terdiam, jika saja ijazah cum laude miliknya bisa dibawa ke negeri ini. Wanita itu akan dengan senang hati menunjukkannya, menunjukkan kerja keras yang ia tempuh untuk lulus dengan gelar terbaik.


Sang selir agung pun tak tahu apakah diperlukan sebuah izin khusus untuk menjadi tabib disini.


Seorang pria paruh baya muncul dari balik kerumunan, pria itu tersenyum ramah kepada sang selir. Tabib Zhong sedang berjalan-jalan di pasar untuk membeli jarum akupuntur baru dari negeri tetangga. Saat tak sengaja melewati toko obat, sang tabib tertarik dengan kerumunan yang tercipta di tempat itu.


Tabib Zhong juga melihat dan mendengar dari awal tentang pengumuman yang disampaikan sang selir agung.


"Buktinya sudah jelas, bukan?"


Tabib Zhong menunjuk toko obat, "Toko Obat Nyonya Wu, adalah bukti nyata. Kalian pasti sudah merasakan khasiat dari obat yang dibeli disini. Nyonya Wu sendiri yang meracik obatnya, dia adalah tabib yang handal. Aku yang menjaminnya."


"Aku adalah tabib istana kalau kalian tidak percaya."


Orang-orang pun mengangguk dan mengakui bahwa obat yang dibeli disana benar-benar manjur.


Wanita tua renta yang terhimpit di barisan tengah mengangkat tangannya, "Maaf, nyonya, saya ingin bertanya."


"Silahkan!"


"Saya miskin dan tidak punya uang, apakah saya boleh tidak membayar?"


"Tidak boleh." jawab Wu Li Mei.


Wanita itu pun menunduk sedih, jika harus dengan keping logam. Satu pun ia tidak punya, jadi bagaimana ia bisa membeli obat.

__ADS_1


"Tapi, kau bisa membayarnya dengan yang lain."


"Maksud anda?"


Wu Li Mei menunjuk ikan kering yang diletakkan di dalam tembikar milik wanita itu. Sang selir pun melangkah lebih dekat, "Kau bisa membayar dengan ini." ujarnya.


"Kau bisa membayar obat dengan barang yang bisa dijual kembali, maaf, tapi aku juga butuh uang untuk membeli bahan yang baru."


"Tapi tenang saja, karena kalian boleh membayar dengan apa yang kalian punya. Tidak perlu memaksakan, aku tetap akan memberikan obat untuk yang sakit."


"Bahkan, jika memang benar tidak ada apapun sama sekali. Kalian bisa membayarnya lain waktu saat ada uang."


"Kesehatan adalah yang utama, sehat lah dulu, nanti kau bisa menghasilkan uang untuk membayar."


Wu Li Mei tersenyum lembut dari balik cadarnya, ia menatap sang tabib dan mengucapkan banyak terima kasih. Tabib Zhong sangat banyak membantunya selama berada disini, saat melihat sosoknya, ia kembali teringat dengan Dokter Ridwan. Bagaimana kabar dunia Risa saat ini? Ia jadi bertanya-tanya tentang dirinya sendiri.


...****************...


Pagi yang cerah bagi wanita nomor satu di Dinasti Ming itu, tentu dengan semua ketenangan dan kemenangan yang telah berhasil ia raih. Melihat segerombolan koi berenang lincah di dalam kolam teratai yang dingin, sembari menikmati secangkir teh melati.


Sangat indah rasanya.


Wanita itu pun bangkit dari duduknya, "Salam Yang Mulia, semoga kaisar hidup seribu tahun."


"Bangkitlah!"


"Ada perlu apa anda berkunjung pagi-pagi sekali?"


Kaisar Zhou memberi tanda kepada kasim dan dayang yang mengikutinya untuk pergi, guna memberikan waktu bagi mereka untuk berbicara.


Sang kaisar menggeleng, "Tak apa, bukankah kau sedang tidak enak badan?" tanyanya.


Yang Jia Li sedikit terhenyak, sejurus kemudian wanita itu merubah raut cerianya menjadi sendu. "Ekhemm, ya, Yang Mulia."


"Aku sedikit demam sejak beberapa hari lalu." bohongnya.


Kaisar Zhou mengangguk-angguk, pagi tadi ia mendapatkan kabar dari dayang di paviliun ratu bahwa sang permaisuri tengah sakit. Ia pun sekalian mampir saat hendak mengunjungi paviliun selir agung.


Tapi, lagi-lagi kabar itu hanya tipu muslihat saja. Beberapa menit lalu, Yang Jia Li masih segar bugar dan ceria.

__ADS_1


"Mungkin karena musik dingin yang panjang."


Yang Jia Li mengangguk, "Mungkin iya, mungkin juga karena hal lain."


"Apa maksudmu?"


"Emmm..." Yang Jia Li memilin lengan hanfunya. "Belakangan ini aku tidak bisa menghabiskan makananku karena terus memikirkan Putri Xie Ling."


Kaisar Zhou tersenyum masam, "Kau tidak perlu lagi memikirkannya, Xiao Ling sudah berada di tempat yang nyaman bersama para dewa."


"Ya, aku pun berusaha."


"Tapi rasa sayangku kepadanya terlalu besar, hingga aku masih tak percaya dia telah tiada." tambah Yang Jia Li.


"Seandainya saja bisa, aku akan dengan senang hati menggantikannya terkena racun."


"Oh, benarkah?" Kaisar Zhou tersenyum miring, ia menatap hamparan kolam teratai di paviliun ratu yang indah.


Yang Jia Li pun gelagapan, "Y...ya....ya tentu saja aku bersedia." ujarnya meragu.


Kaisar Zhou menatap lekat sebuah guci mahal koleksi sang permaisuri, guci itu berlukiskan bunga mawar berwarna merah yang indah.


Pria itu jadi mengingat kembali saat ia hendak memetik mawar di pinggiran danau, lalu Wu Li Mei melarangnya, padahal saat itu ia hendak memberikannya kepada sang selir.


Setelah upacara kematian Zhou Xie Ling, sang kaisar tak pernah melihat Wu Li Mei lagi. Jadi hari ini ia memutuskan untuk menemui wanita itu di kediamannya. Ada hal yang harus diselesaikan, perihal racun Xie Ling dan Yang Jia Li yang bersekongkol dengan Zhou Xing Huan.


Kaisar pun tersenyum, bunga mawar dan Wu Li Mei memiliki sebuah kesamaan. Sama-sama indah namun berduri sehingga untuk memetiknya, harus rela terluka.


"Apakah guci itu indah?"


"Ya, Mei-er."


"Mei-er?" guman Yang Jia Li, hatinya mencelos seketika setelah mendengarnya.


Sang kaisar pun mengerutkan keningnya, "Maksudku, ya, permaisuri." koreksinya.


Di balik lengan hanfunya, Yang Jia Li mengepalkan kedua telapak tangannya. Lagi-lagi selir licik itu mengacaukan paginya yang indah, karena hanya dengan mendengar namanya, kebencian Yang Jia Li langsung mencuat.


Sang permaisuri hanya tersenyum untuk membalas kaisar, ia turut melihat guci berlukiskan mawar merah itu. "Ya, ini indah sekali."

__ADS_1


__ADS_2