
“Nyonya?!”
“Xiao Lan! Xiao Meng!”
Suo bersaudara menjadi sangat tenang karena kehadiran Wu Li Mei bersama mereka, tapi di satu sisi mereka merasa amat sangat bersalah karena tidak berdaya menghadapi para pengacau itu. Masih dengan cadar yang menutup wajahnya, Wu Li Mei memeluk dua pemuda sebaya anak kembarnya itu. Mereka tampak sangat kacau. “Kalian baik-baik saja?” tanya Wu Li Mei.
“Kami baik-baik saja, nyonya. Tapi … kami tidak bisa menyelamatkan toko obat, bagaimana ini? Semua obat di toko jadi rusak dan terbakar.”
“Maafkan kami, nyonya.”
Lan Suo bersimpuh, ia sangat takut sang nyonya akan marah kepada mereka karena tidak menjaga toko obat dengan benar. Sekalipun Wu Li Mei sangat baik, tapi justru itu yang membuat mereka takut akan amarahnya. Meng Suo juga mengikuti sang kakak, mereka bersimpuh nyaris bersujud di kaki Wu Li Mei kalau saja selir cantik itu tidak mencegah mereka. “Jangan, jangan seperti ini, ini bukan salah kalian.”
“Ampuni kami nyonya, ampuni kami karena tidak menjaga toko obat dengan benar. Seandainya kami bisa bela diri, sudah pasti kami akan melawan, tapi mereka terlalu banyak dan tidak kenal ampun. Maafkan kami nyonya.”
“Ampuni kami nyonya!”
“Ini bukan salah kalian, ayo bangkit!”
“Maafkan kami, nyonya!”
Wu Li Mei menarik paksa kedua anak itu agar bangkit, dan kembali memeluk mereka. Ini pasti sangat mengejutkan sekaligus menakutkan. “Ini bukan salah kalian, tidak apa-apa, aku tidak marah. Justru aku datang kemari untuk melihat apa kalian baik-baik saja atau tidak, jangan memikirkan toko obat, yang paling penting adalah keselamatan kalian.”
Suo bersaudara menyeka air mata yang bercampur keringat itu dengan tangan bergetar ketakutan, takut-takut mereka mendongak untuk menatap sang nyonya yang bercadar. Kedua anaknya juga datang, Tabib Zhong dan dua dayangnya. “Dayang Yi akan mencarikan tempat tinggal sementara untuk kalian, beristirahatlah dan tenangkan diri kalian. Untuk sementara kalian tinggalah disana sampai aku menemukan toko obat yang baru, ya?”
“Tapi, nyonya … “
“Aku tahu ini pasti sangat mengejutkan jadi tolong jangan menyalahkan diri kalian sendiri.”
__ADS_1
Wu Li Mei mendongak untuk menatap sang dayang, mengerti akan kode itu, Dayang Yi pun segera membawa dua pemuda itu pergi ke tempat yang lebih aman. Menuju penginapan dan mereka akan beristirahat untuk beberapa waktu.
Toko obat seperti sebuah kekacauan yang nyata di depan mata Wu Li Mei, semua orang bahu-membahu membantu memadamkan api dengan sekuat tenaga. Tanaman herbal yang berhasil selamat dari kobaran api itu bahkan tidak layak untuk dijual lagi, sudah terkontaminasi dan tidak sama seperti sedia kala.
Wu Li Mei hanya bisa menatap sedih toko obat yang telah dia bangun dari nol, sebentar lagi akan menjadi abu. “Bu.”
Wu Li Mei sedikit bernapas lega karena kedua anaknya selalu datang untuk menjadi kekuatan yang dibutuhkan olehnya. Meskipun rasanya sudah sangat lelah dengan semua ini, banyak hal terjadi dan satu saja yang bisa dipastikan oleh Wu Li Mei adalah seseorang yang berdiri dengan angkuh di balik kobaran api itu.
Kedua tangan Wu Li Mei terkepal kuat-kuat hingga buku jarinya tercetak sempurna, berusaha bersikap tenang padahal dia tahu jika semua ini adalah ulah Yang Zuo, tidak salah lagi. “Yang Mulia, tanaman herbal yang kita punya rusak semua.” Ucap Tabib Zhong.
“Apa tanaman yang kita pesan masih lama sampai di dermaga?”
“Sepertinya akan memerlukan waktu beberapa minggu lagi, Yang Mulia. Cuaca yang berubah-ubah membuat pengeringan tanaman herbal jadi mengalami banyak masalah. Saya tidak bisa menjamin kita akan mendapatkan tanaman herbal yang baik tahun ini.”
“Kalau begitu kita tidak menjual obat dulu, kita harus menunggu sampai obat yang baru datang dan membuka toko di tempat lain lagi.” Ujar Wu Li Mei, “Tidak ada obat artinya tidak mungkin untuk memaksa, biar rakyat mencari cara lain untuk menyembuhkan penyakit mereka.”
Wu Li Mei menggeleng, “Apa kekaisaran mau memberikan obat yang mereka miliki, aku tidak yakin karena itu hanya cukup untuk mencukupi kebutuhan di dalam istana saja.”
“Sudahlah, Tabib Zhong, semuanya sudah menjadi satu dengan abu. Tidak ada yang bisa kita selamatkan lagi.”
Sang tabib ikut merasakan bagaimana putus asanya Wu Li Mei, junjungannya yang begitu baik hati selama ini mengabdi untuk kemanusiaan, ia terlihat begitu putus asa. Semua usaha yang dibangun dari awal ini tidaklah mudah, dan hancur begitu saja karena ulah orang yang tidak suka. Sungguh sebuah hal yang menyesakkan.
“Pasti ada cara, Nyonya Wu!”
“Ya, nyonya, kita pasti akan menemukan cara.”
Wu Li Mei menoleh saat beberapa orang datang kepadanya, mereka adalah warga pasar yang membantu memadamkan api. Tapi tetap saja gagal karena bangunan yang terbuat dari kayu itu sangat mudah untuk terbakar, hari ini dewa tidak merestui hujan turun padahal beberapa hari hujan selalu turun. “Pasti ada cara nyonya.”
__ADS_1
“Bagaimana?” tanya Wu Li Mei.
“Tapi semua tenaman herbalku sudah terbakar, jadi bagaimana aku bisa meracik obat.” Ujar Wu Li Mei sendu. “Maafkan aku yang mengecewakan kalian semua.”
“Nyonya, jangan putus asa begitu, pasti ada jalan keluar untuk ini.” Seorang wanita tua yang selalu setia menggenggam tongkatnya untuk berjalan menghampiri Wu Li Mei dengan langkah tertatih. “Anda orang yang baik dan selalu menolong tanpa membeda-bedakan kami rakyat kecil, pasti ada jalan untuk anda, nyonya.”
“Terima kasih.”
“Tapi … “
“Kami akan membantu sebisa kami nyonya.”
Wu Li Mei hanya bisa menatap sendu kepada mereka yang berempati kepadanya, semua orang berhati baik yang rela memberikan pengorbanan di tengah keterbatasan.
Tidak banyak yang bisa dikumpulkan dari sisa kebakaran toko obat, semuanya sudah menjadi abu. Seberapa keras mereka coba memadamkan api, tetap tidak bisa karena hanya menggunakan peralatan sederhana. Seandainya ada pemadam kebakaran atau selang dan pipa air pasti akan lebih cepat, tapi di era ini, belum banyak ditemukan teknologi yang bisa membuat semua benda penting itu.
“Wu Li Mei.”
Selir agung menoleh saat ia mendengar orang memanggil nama aslinya, tidak ada yang tahu siapa dirinya dalam balutan cadar ini. “Yang Zuo?”
“Akhirnya kita bisa bertemu secara langsung ya, aku sangat mendambakan hari pertemuan kita ini.” Ujar laki-laki tua itu.
Yang Zuo ternyata menunggu waktu yang tepat untuk berbicara dengannya, saat Wu Li Mei sedang sendiri tanpa kedua anaknya atau Tabib Zhong. “Kaukah dalang di balik semua ini?!”
“Menurutmu bagaimana rasanya membangun sesuatu dari nol dan dengan mudah dihancurkan begitu saja?”
“Jangan pernah mengganggu putriku, maka hidupmu akan aman, Wu Li Mei!” tekan Yang Zuo.
__ADS_1