Back In Time (Reinkarnasi Selir Kejam)

Back In Time (Reinkarnasi Selir Kejam)
Tipu muslihat


__ADS_3

"Ini gilaa!!"


"Bukan aku pelakunya!"


"Tidak mungkin kalian berpikir jika aku pelakunya bukan?"


"Panglima Hao! Kau tau aku bukan pelakunya, kan?"


Wu Li Mei terus mengoceh marah, wanita itu tengah duduk manis di sebuah ruangan khusus di aula penyiksaan, ruang pemeriksaan. Ruangan berukuran sedang dengan ornamen sederhana, penerangan di dalamnya pun tidak cukup baik.


Di dalam ruangan ada Wu Li Mei, Panglima Hao dan beberapa prajurit. Para dayang paviliun selir agung menunggu di luar. Mereka tidak diperbolehkan masuk atau pun pergi, karena nantinya satu-persatu dari mereka juga akan diperiksa.


Panglima Hao menghela napas dalam diam, sejak wanita cantik itu datang ke ruang pemeriksaan, ia terus mengoceh dan memarahi mereka. Berulang kali ia memintanya untuk berhenti, tetap saja Wu Li Mei mengoceh lagi dan lagi.


"Tenanglah, Yang Mulia." ujar Panglima Hao dengan hati-hati, segan untuk menyinggung sang selir.


"Tenang?" Wu Li Mei membulatkan mata, "Bagaimana aku bisa tenang? Aku dituduh melakukan kejahatan yang tidak pernah aku lakukan, dan lagi, aku tidak mau berakhir seperti dayang tadi." Sang selir bergidik mengingat bagaimana kejamnya para prajurit mencambuk Yang Li. Wu Li Mei pasti akan mematahkan leher para prajurit yang berani mengayunkan cambuk ke arahnya.


Omong-omong, setelah perbincangan alot dengan Dayang Yi tempo hari. Wu Li Mei jadi tahu bahwa selir ini bukanlah wanita biasa, dia adalah putri terakhir dari Kekaisaran Hang di Utara, yang dipersunting Kaisar Zhou untuk kepentingan kerja sama antar dua kekaisaran. Sejujurnya, wanita itu pun amat penasaran dengan orang tua sang pemilik raga, apakah mungkin wajah yang sama dengan orang tua Risa. Mengingat ada Tabib Zhong, dan sekarang Zhou Xing Huan, yang memiliki rupa hampir sama dengan orang-orang terdekatnya dulu.


Kembali ke masalah racun merkuri, ia menduga pasti Yang Jia Li lah pelakunya. Satu-satunya yang terlintas di benaknya adalah wanita licik itu. Mengamati bagaimana Yang Jia Li begitu cepat menuduhnya, terlihat jelas bahwa dia sedang menyembunyikan sesuatu.


"Panglima Hao!?" Wu Li Mei menatap sang panglima dengan serius.


"Ya... ya.. Yang Mulia?"


"Kau tahu kan aku tidak bersalah?"


Panglima Hao terdiam, bingung harus menjawab apa. "Sebenarnya...."


"Sebenarnya?" ulang Wu Li Mei.


"Sebenarnya saya tidak tahu." jawab sang panglima.

__ADS_1


Wu Li Mei memicingkan matanya, sang panglima sepertinya ingin bermain aman. Apa dia lupa dengan siapa ia berhadapan sekarang, "Bagaimana mungkin kau tidak tahu?" tanyanya, "Kau kan selalu mengawasi gerak gerikku."


"Itu.....adalah bagian dari perintah kaisar, Yang Mulia."


"Lalu?" Wu Li Mei menaikkan alis kanannya, "Apa kau menemukan hal aneh dar----"


Brakkkkk........


Pintu ruang pemeriksaan didobrak, menciptakan bunyi yang nyaring karena pintu kayu itu terbanting ke dalam.


"Apa-apaan ini?" seru Panglima Hao, tangan kanan kaisar itu berdiri dan maju untuk melindungi Wu Li Mei saat tahu siapa yang datang.


"Kami datang membawa surat penangkapan Selir Agung Wu."


Para utusan dari departemen kejaksaan itu membawa selembar kertas berisikan surat penangkapan khusus untuk Wu Li Mei, dan sudah disetujui oleh kepala departemen kejaksaan. Yang Jian Zhu, kakak laki-laki Yang Jia Li.


Dilihat dari campur tangan banyak pihak, sepertinya Yang Jia Li tidak main-main.


"Penangkapan?" Wu Li Mei membulatkan matanya, "Penangkapan apa lagi? Memangnya aku salah apa."


"Kami menemukan ini di paviliun selir agung!"


Tidak hanya Wu Li Mei, Panglima Hao pun ikut terkejut. "Tidak! Aku tidak pernah menyembunyikan racun itu di paviliunku!" sanggah Wu Li Mei.


"Tapi bukti sudah di depan mata, anda tidak bisa mengelak lagi, Yang Mulia." ujar seseorang dari balik pintu, orang itu lalu berjalan pelan dengan aura penuh intimidasi. Seketika semua orang menjadi hening, tatapan Merek terkunci pada pria berhanfu hitam dengan logo khas departemen kejaksaan.


Dia adalah Yang Jian Zhu, kepala departemen kejaksaan, sekaligus kakak dari sang permaisuri. Jarak usia mereka hanya terpaut dua tahun, dan Wu Li Mei bisa melihat kemiripan mereka. Salah satunya adalah tatapan mata setajam elang. Pria dengan wajah datar itu berjalan mendekati Wu Li Mei, sial, wajah datar itu sangat tampan.


Panglima Hao menatap tajam Yang Jian Zhu, saat pria itu ada, maka semuanya akan menjadi rumit. Perintah untuknya adalah melindungi selir agung, bukan memeriksanya. "Kalian tidak bisa menangkap Yang Mulia Selir tanpa izin dari kaisar."


Yang Jian Zhu membalas tatapan pria seusianya itu, rival sejatinya sejak lama. "Kami tidak butuh izin Yang Mulia Kaisar, karena semua bukti sudah ada."


"Tangkap selir agung, sekarang!" suara berat dan dingin itu mengalun memenuhi ruang pemeriksaan, beberapa utusan departemen kejaksaan maju untuk menangkap Wu Li Mei.

__ADS_1


Wuussss......


Panglima Hao menghunuskan pedangnya, pria itu dan beberapa prajurit lain membentuk lingkaran untuk melindungi Wu Li Mei. "Tidak, kami diperintahkan untuk. melindungi selir agung."


Jian Zhu tersenyum miring, "Kau menantangku, panglima?"


Dengan satu isyarat tangan, para bawahan Yang Jian Zhu pun menghunuskan pedang mereka.


"Baiklah jika kau ingin ada pertumpahan darah disini." ujar Yang Jian Zhu.


"Kami akan tetap melindungi selir agung."


Wu Li Mei melirik ke kanan dan ke kiri, bagaimana ini, tidak mungkin harus ada yang terbunuh hanya karena dirinya. Tujuannya datang ke negeri aneh ini adalah untuk menyebarkan kebaikan dan pengetahuan tentang dunia kesehatan. Wu Li Mei menatap Panglima Hao dan pedang di tangannya bergantian, pria itu mungkin akan baik-baik saja, mengingat ia adalah panglima tertinggi. Tapi, para prajurit lain?


Wu Li Mei menekan egonya, jujur saja ia sangat takut, tapi apa mau dikata. Wanita itu yakin bahwa dia benar dan tidak bersalah atas apapun, "Lindungi aku, Ya Tuhan." guman Wu Li Mei.


Panglima Hao menoleh saat bahunya ditepuk pelan, oleh tangan halus milik Wu Li Mei. "Kurasa tidak harus ada pertarungan hanya untuk menangkapku."


"Yang Mulia?"


"Tenanglah, Panglima Hao." ujar Wu Li Mei. "Semua akan baik-baik saja, aku tidak bersalah, kebenaran pasti menunjukkan jalannya."


"Tapi, Yang Mulia?"


Wu Li Mei tersenyum lembut, senyum yang baru pertama kali ia tunjukkan. "Sampaikan pada kaisar, bahwa aku akan baik-baik saja."


Wu Li Mei melangkah maju, ia berdiri dengan anggun tanpa rasa takut. "Bukankah kau ingin menangkapku?" tanyanya pada Yang Jian Zhu.


"Aku akan ikut bersamamu, tapi!"


"Tapi?" ulang Jian Zhu.


"Aku tak mau diseret paksa, aku bisa jalan sendiri." Wu Li Mei benci ada orang asing yang menyentuhnya, selama menjadi selir agung, ia sangat membatasi interaksi dengan banyak orang.

__ADS_1


Sepertinya apa yang dikatakan orang-orang benar, Wu Li Mei berbeda. Wajah cantik dan tatapan matanya benar-benar membius siapa saja yang menatapnya. Yang Jian Zhu mulai membenarkan pesona Wu Li Mei yang tiada tandingannya. "Baik, Yang Mulia."


__ADS_2