
Wu Li Mei gusar, ia meremas kuat-kuat hanfu lusuhnya. Hanfu yang belum diganti sejak hari pengadilan untuk Yang Li. Sekalipun ia tidak mendapatkan penyiksaan, tapi ia sudah mendekam disana untuk beberapa hari. Sang selir hanya diperbolehkan keluar untuk buang air, tidak untuk mandi atau pun melakukan hal lain.
Wu Li Mei bangkit saat seorang prajurit datang menghampirinya, "Xiao Ming?" panggilnya pelan.
"Ya, Bu, ini aku."
Wu Li Mei berjalan mendekat, "Apa kalian baik-baik saja?"
Sang putra mengangguk, "Ibu, kami baik-baik saja."
"Bagaimana dengan ibu?" tanyanya setengah berbisik, ia tak mau penyamarannya terbongkar.
"Ibu baik-baik saja."
Zhou Ming Hao mengeluarkan dua buah kentang rebus, yang ia simpan di dalam hanfunya. Selama berada di dalam penjara, Wu Li Mei hanya memakan kentang yang dibawakan oleh sang putra, ia tidak ingin menyentuh makanan yang diberikan Yang Jian Zhu karena takut. Lagipula siapa yang akan makan dengan tenang di kandang musuh.
"Hari eksekusinya akan dimajukan." ujar Wu Li Mei lesuh.
Ming Hao langsung menggenggam tangan sang ibunda, menyalurkan ketenangan pada tangan sedingin es Wu Li Mei. Penjara itu hanya memiliki satu penghangat di sudut ruangan. Dan itu sudah pasti tidak mampu menghalau dinginnya akhir musim gugur.
"Bu, percayalah! Aku tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi padamu."
"Apa kaisar belum kembali?" tanya Wu Li Mei.
Sang putra mahkota menggeleng, "Kami sudah mengirim puluhan elang penyampai pesan untuk Yang Mulia Kaisar."
"Ibu, Guru Zhang berhasil menemuka----"
Suara derap langkah terdengar beriringan memasuki ruangan penjara. Departemen kejaksaan memiliki penjara di bagian paling belakang bangunan. Karena disini sepi dan sangat sunyi, derap langkah itu dapat terdengar dengan jelas.
Wu Li Mei dan sang putra segera bangkit, saling menatap satu sama lain dan mengambil jarak. Saat suara itu semakin terdengar jelas, Zhou Ming Hao segera mencari tempat bersembunyi.
Begitu pun Wu Li Mei, ia kembali duduk di atas dipan, wanita itu menyembunyikan kentang rebus di dalam lengan hanfunya.
"Selamat malam, Mei-Mei!" sapa seseorang dari balik pintu, sama seperti saat itu, hanya siluet orang itu yang terlihat.
Wu Li Mei bergeming, tatapannya mulai menajam. "Apa yang kau inginkan?"
"Tidak ada."
__ADS_1
"Cihh!!"
Seseorang dari balik pintu itu mulai mendekat, menampakkan dirinya di dalam pencahayaan yang temaram. Dia adalah wanita nomor satu di Kekaisaran Ming, Yang Jia Li.
"Aku datang untuk menyapa, Mei-Mei." ujarnya, sang permaisuri berjalan anggun mendekati penjara Wu Li Mei.
"Tenanglah, Wu Li Mei. Kau akan segera keluar dari sini." sang permaisuri bertingkah seolah sedang mengasihani Wu Li Mei, "Keluar untuk mati."
Senyum lembut Yang Jia Li berubah menjadi senyuman iblis, sang permaisuri tertawa padahal tidak ada yang lucu. "Lihatlah, Wu Li Mei. Sekarang kau harus tahu siapa pemenangnya!"
"Kau tidak akan bisa mengalahkanku, Wu Li Mei!"
"Lihatlah sekarang, kau terkurung di dalam penjara dan besok kau akan menemui ajalmu."
"Ck... ck... ck... sungguh malang nasibmu, selir agung."
Wu Li Mei menghela napas pelan, "Apa kau sangat yakin bahwa ini adalah akhirnya?"
"Apa maksudmu?"
Sang selir agung mengendikkan bahunya, wanita cantik itu bangkit dan berjalan mendekati Yang Jia Li. Tatapannya mengarah tepat di manik mata sang permaisuri, "Jika kau mengincar nyawaku, mengapa kau harus melukai putri kecilku? Dasar pengecut!"
"Apa katamu!!"
"Tutup mulutmu, Wu Li Mei!"
"Mengapa?"
"Mengapa aku harus menutup mulutku?!" Wu Li Mei semakin berani, dua wanita kekaisaran itu saling menatap tajam dan penuh amarah.
Wu Li Mei mengalahkan telunjuknya tepat di wajah Yang Jia Li, "Kau! Kaulah yang meracuni putri kecilku dengan merkuri, berani-beraninya kau justru menuduhku."
Wu Li Mei meraih kerah hanfu sang permaisuri, hal itu membuat Yang Jia Li tertarik mendekat. Ia berusaha sekuat tenaga untu melepaskan tangan Wu Li Mei yang mencekik lehernya. Yang Jia Li memukul-mukul lengan selir agung untuk mencoba melepaskan diru. "Jika terjadi sesuatu yang buruk pada putriku, kau yang akan membayarnya!"
"Le..... le... lepaas!"
"Lepaskan..... aku!"
"Lepas?" Wu Li Mei menaikkan alisnya, "Ini belum sampai sepersekian dari kesakitan yang harus dialami putriku karenamu!"
__ADS_1
"Apa kau punya bukti jika aku yang melakukannya?!" tanya Yang Jia Li. Ia segera berangsur mundur saat berhasil terlepas, menjauh dari jangkauan Wu Li Mei. Yang Jia Li sempat menyesal karena memilih untuk menemui selir agung sendiri, jika saja ada pengawal atau Dayang Yue. Lehernya pasti tidak akan terluka oleh kuku-kuku panjang Wu Li Mei.
"Apa kau bisa buktikan?'
"Tidak, kan?"
"Terima saja takdirmu, dasar wanita ular!" cela Yang Jia Li, "Anggap saja ini adalah balasan atas dosa-dosamu padaku!"
"Cihh, aku tidak sudi!"
Yang Jia Li tersenyum miring, "Eksekusimu sudah ditetapkan, Wu Li Mei. Jadi, berhentilah bersikap sombong!"
"Apapun bisa saja terjadi, Yang Jia Li!"
"Siapa peduli." ujar Yang Jia Li.
Sejak kedatangan Wu Li Mei ke istana Kekaisaran Ming, Yang Jia Li memang tidak pernah menyukainya. Dan begitu pun sebaliknya, mereka selalu bersaing satu sama lain, terutama untuk mendapatkan hati sang kaisar.
Wu Li Mei yang notabene adalah seorang putri kekaisaran, memiliki banyak kekuasaan dan orang-orang yang bekerja untuknya. Sementara Yang Jia Li, melalui kekuasaan sang ayah, juga mendapatkan pendukung tak kalah banyak.
"Apa kali ini kau berpikir akan berhasil?" tanya Wu Li Mei.
Yang Jia Li mengerutkan keningnya.
"Kau bahkan tidak sanggup membunuhku di danau itu!"
"Bagaimana mungkin kau bisa membunuhku saat ini?!"
Yang Jia Li membulatkan matanya, bagaimana Wu Li Mei bisa mengingat hal itu, bukankah ia hilang ingatan. Sudah ia duga dari awal jika Wu Li Mei hanya berpura-pura. "Aku punya seribu cara untuk membunuhmu, Wu Li Mei."
"Dasar pembohong!" Yang Jia Li berteriak marah, "Semua hilang ingatan itu hanya akal-akalanmu saja, kau pembohong!"
Sang permaisuri menarik tusuk konde kecil berbentuk kelopak bunga miliknya, ia menggenggam tusuk konde itu dengan erat. Yang Jia Li lalu melempar tusuk konde itu ke arah Wu Li Mei.
Tusuk konde itu melesat, ujungnya yang tajam berhasil meninggalkan goresan kecil di pipi mulus Wu Li Mei. Sang selir menggerakkan tangannya menyentuh pipi, darah segar tercetak di wajahnya. "Sialan!" pekiknya.
"Jika tusuk kondeku bisa melukaimu, maka tanganku pasti bisa membunuhmu!"
"Bersiaplah untuk menjemput ajalmu, Wu Li Mei!"
__ADS_1
Yang Jia Li melangkah pergi dengan penuh amarah, jika saja ia dan Wu Li Mei tidak terhalang penjara, sang permaisuri pasti bisa menancapkan tusuk kondenya tepat di jantung Wu Li Mei.
Persetan dengan apa yang akan terjadi nanti, asalkan ia berhasil membunuh Wu Li Mei dengan tangannya sendiri. Satu-satunya hal yang paling ia inginkan adalah membunuh Wu Li Mei. Melenyapkan wanita itu dari kehidupannya.