Back In Time (Reinkarnasi Selir Kejam)

Back In Time (Reinkarnasi Selir Kejam)
Mengenali


__ADS_3

Kaisar Zhou asik memperhatikan hiruk pikuk masyarat yang sedang membeli obat hingga beberapa menit hanya terpaku disana. Orang-orang itu memakai baju yang hangat dan dari wajah mereka tampak muram tidak berseri, ada yang bersih-bersih, batuk, sampai menggigil kedinginan. Tapi tidak ada yang lebih membuatnya penasaran selain dua orang anak dengan hanfu bangsawan sederhana dan memakai cadar, dari mata mereka seperti sang kaisar mengenal, tapi pertanyaannya adalah siapa?


Tidak banyak kaisar pernah menemui anak-anak para bangsawan, dari perawakan itu dan cara mereka berjalan saja sudah menunjukkan kalau mereka dididik dari kalangan atas. “Aku sungguh penasaran dengan dua anak itu, sepertinya tidak asing tapi aku tidak tahu siapa.”


“Mungkin hanya perasaan anda saja, Yang Mulia.”


“Apa dia benar bukan Xiao Ming?”


Panglima Hao menggeleng kaku, “Pu-putra mahkota sedang berburu di hutan, Yang Mulia.”


“Bersama siapa?”


“Saya tidak tahu, tapi pasti bersama beberapa pengawal setianya.” Jawab Panglima Hao berusaha untuk mengalihkan pikiran kaisar dari Zhou Ming Hao, karena pemuda itu depan sana itu sudah jelas sangat mirip dengan sang kaisar tapi bermata tajam seperti Wu Li Mei.


Kaisar menghentikan rakyat biasa dengan hanfu lusuh yang keluar seraya membawa bungkusan obat, orang yang lengannya ditahan itu hanya menoleh dengan bingung. Tidak biasanya seorang bangsawan menghentikan mereka jika bukan karena suatu kesalahan, tapi mereka juga baru datang tidak mungkin membuat kesalahan. “Maaf, tuan, ada apa? Apa saya membuat kesalahan dengan tuan?”


“Tidak, bukan itu.”


“Lalu apa?”


“Apa yang kau bawa itu?” tanya Kaisar Zhou dengan tegas kepada mereka.


Pria paruh baya dengan hanfu lusuh itu terlihat takut sambil menatap si anak yang usianya hampir sama dengan kaisar. “Ini obat untuk ayah saya, tuan, kami sudah berobat kepada Nyonya Wu dan membayarnya dengan semampu kami. Tolong jangan ambil obat ini dari kami tuan, kami sangat membutuhkannya.”


Anak dari pria tua yang ditahan lengannya oleh kaisar itu berlutut memohon ampun dengan nada sangat ketakutan. Sudah biasanya bagi para bangsawan untuk menindas rakyat biasa dan lemah. Bahkan beberapa dari mereka yang malas mengantre lebih suka menyuruh orang untuk membelikan, atau membeli dari para rakyat yang lebih membutuhkan, atau memalak.


Dan pasti dua orang itu berpikir kaisar akan memalak mereka, “Tidak! Bangkitlah, aku tidak mau mengambil obatmu karena aku hanya ingin bertanya saja.”


“Ayo bangkitlah!”

__ADS_1


Panglima Hao segera menarik lengan orang yang berlutut tadi agar mau berdiri.


“Aku hanya ingin bertanya siapa Nyonya Wu itu.” Ujar Kaisar Zhou.


“Anda tidak tahu Nyonya Wu? Padahal seluruh negeri sudah tahu siapa Nyonya Wu, tuan. Apa anda seorang pendatang?”


“Hem, iya, kami pendatang.” Jawab sang kaisar.


Dua orang ayah dan anak itu mengangguk kepalanya, “Kalau begitu wajar anda tidak mengenal Nyonya Wu, karena kami sebenarnya juga tidak mengenalnya selain sebagai pemilik toko obat dan membuka konsultasi kesehatan di penghujung minggu. Itu saja.”


“Lalu bagaimana kalian yakin kalau dia bisa menyembuhkan?”


Pria tua tadi menunjukkan obat yang ia bawa di tangannya, “Buktinya adalah obat ini tuan, karena saya dan keluarga saya yang miskin ini selalu berobat kemari kalau sakit. Kami sudah meninggalkan dukun, dan kalau mau berobat ke tabib biasa itu mahal sekali. Disini kami boleh membayar dengan apa saja yang kami miliki.”


“Nyonya Wu sangat baik hati, pun kalau kami bilang tidak punya uang, dia akan memberikan obat dengan cuma-cuma.” Tambah si anak.


“Hari ini syukurlah kami punya sedikit kentang yang tersisa dari kebun, jadi kami membayarnya dengan itu. Tadinya sang nyonya menolak karena khawatir kami tidak punya makanan lagi di rumah, tapi kami bersikeras bahwa kami akan membayar.” Pria itu sendu mengingat kebaikan hati sang nyonya penyembuh yang begitu halus tutur katanya, mengkhawatirkan kehidupan rakyat biasanya seperti mereka yang tidak mampu. “Kentang itu saja masih tidak akan cukup untuk membayar setengah harga obat.”


“Nona, apa masih lama lagi? Anak saya sudah menggigil kedinginan nona.” Ujar seorang wanita yang menghampiri Zhou Fang Yin.


Sang putri yang sibuk memanggil nama salah seorang pasien untuk masuk langsung menoleh setelah memastikan orang itu masuk. “Maaf, tapi anda berada di urutan lima lagi. Mohon menunggu ya karena semua orang juga ingin berkonsultasi dengan ibu.”


“Tapi anak saya sampai mengigil seperti ini, bagaimana nona?”


Zhou Fang Yin menatap sang kakak meminta persetujuan, tidak hanya anak dari ibu itu, tapi banyak orang lagi juga menggigil dan tampak sangat sakit. “Emm, apa ada yang mau bertukar dengan ibu ini? Anaknya sakit parah.”


“Apa ada yang mau bertukar dengan ibu ini? Anaknya sakit parah, dia menggigil.”


“Apa ada yang rela bertukar?”

__ADS_1


Tidak ada jawaban, baik Zhou Fang Yin ataupun ibu itu tertunduk sendu. “Maaf, tapi semua orang tidak ingin bertukar dengan anda bu, saya mohon maaf sekali lagi. Tidak bisakan anda menunggu sebentar lagi.”


Suasana sangat ramai hari ini, tidak hanya dua anak itu, tapi Suo bersaudara dan Wu Li Mei pasti juga lelah. Untung saja mereka masih punya stok obat yang dibutuhkan cukup untuk beberapa hari ke depan. Sayangnya beberapa hal memang tidak bisa mereka upayakan, salah satunya adalah mendahulukan yang paling parah. Karena semua orang berkepentingan, dan lagi Wu Li Mei hanya sendirian.


Zhou Fang Yin menatap sedih anak yang terus menangis di pangkuan sang ibu itu, mereka terlihat berasal dari kalangan biasa. Mereka mengenakan hanfu lusuh dan compang-camping. Sang putri tergerak untuk memberikan hanfu berlapis yang ia gunakan hari ini, “Nona, tapi anda bagaimana?”


“Tidak apa-apa, saya masih bisa menahan dingin ini. Selimutkan saja baju ini untuk anak anda bu, dia jauh lebih membutuhkan.” Ujar sang putri.


“Anda baik sekali, nona. Terima kasih, semoga dewa memberikan balasan yang terbaik untuk anda.”


“Terima kasih.”


Zhou Fang Yin tersenyum lembut dengan hati yang tentram, ia menatap sekeliling dan orang-orang hilir mudik, ada yang datang dan ada yang pergi. Syukurlah tidak ada kekacauan antrean seperti hari pertama membuka praktek.


Tapi, Zhou Fang Yin menajamkan penglihatannya, apa ia tidak salah mengenali. “Astaga!!”


“Ada apa Xiao Yin? Kau mengagetkanku saja.”


“Aku juga kaget.”


“Memangnya ada apa?”


“Lihatlah ke arah jam sepuluh, dua pria dengan hanfu bangsawan yang terus menatap ke arah kita.” Ujar si adik kepada Zhou Ming Hao, kegiatan menulisnya ia hentikan sejenak lalu mengikuti arahan si adik.


Kedua mata sang putra mahkota langsung membulat sempurna, seharusnya jika tidak salah mengenali. Mereka melihat Kaisar Zhou ada disana, dan yang lebih meyakinkan adalah adanya Panglima Hao. Sang panglima memberi kode dengan gerakan tangan untuk tetap diam.


Zhou Ming Hao memberi kode kepada si adik untuk tetap diam, “Sebaiknya kita menjaga penyamaran tetap aman saja, ya, agar ayah tidak tahu kalau kita ada disini.”


“Apa aku perlu memberitahu ibu?” tanya sang putri.

__ADS_1


“Tidak, jangan, lebih baik ibu tidak tahu saja.”


__ADS_2