
"Tuan muda, kita akan pergi kemana? Kita harus segera pulang atau tuan akan mendapat masalah. Kalau nyonya sampai tahu bisa habis saya dimarahi."
"Kau tenang saja, ibu tidak pernah marah kepadaku." jawab pemuda berusia sekitar tujuh belas tahun yang sedang berjalan santai menyusuri pasar bersama dengan penjaganya. Kipas berwarna hitam senada dengan hanfunya itu mengipas dengan anggun berulang kali guna mengusir rasa gerah.
"Tapi ini sudah terlalu lama, tuan."
"Kalau begitu kau pulang sendiri saja, Xiao Bao!" ujarnya seraya mendelik ke arah pemuda bertubuh sedikit berisi dengan hanfu sederhana yang selalu setia berada di sampingnya, bisa dibilang Long Bao adalah pengawal setianya. Jarak usia mereka tidak terlalu jauh, sang tuan hanya terpaut dua tahun lebih tua.
Hari yang cerah, dan tuan muda dari Keluarga Heng itu tidak akan melewatkan kesempatan untuk keluar dari rumah hari ini.
Menyusuri pasar adalah salah satu kegemarannya disamping memanah dan berpedang, ini adalah waktu terbaiknya untuk keluar dari rumah karena sedang tidak ada kegiatan belajar di bangsal pendidikan khusus anak bangsawan.
Long Bao hanya bisa menghela napas melihat sang tuan terus saja berjalan menjauhinya, menyusuri pasar dengan langkah yang santai. Padahal kalau Nyonya Heng sampai tahu, dia bisa dihukum karena membiarkan tuan muda berkeliaran dalam bahaya. "Memangnya kita akan pergi kemana, tuan?"
"Kemana-mana hatiku senang."
"Tuan ... "
"Sudahlah, kau ikut saja! Aku lapar dan ingin makan sesuatu, bagaimana kalau kita pergi ke kedai untuk makan sesuatu. Aku ingin makan sup hari ini."
"Tapi sedang ada wabah tuan, bahaya kalau sampai anda terkena wabah itu nantinya."
Benar, sang tuan muda juga mendengar ada wabah tahunan yang terjadi di seluruh negeri. Dan dia juga mendengar ada toko obat yang menyediakan obat untuk semua kalangan tapi terbakar karena ulah orang yang tidak bertanggungjawab, tadi juga dia melewati sebuah bangunan yang hangus jadi abu itu. Kabarnya, pemilik toko obat itu adalah seorang nyonya yang sangat cantik bernama Nyonya Wu dan dua anak kembarnya. Tapi tidak ada yang tahu mereka karena selalu mengenakan cadar.
Sang tuan muda mengendikkan bahunya, "Aku sehat, tidak akan terkena wabah. Aku mau makan! Kalau kau tidak mau ikut aku ya sudah."
"Mau, tuan!"
Long Bao tidak akan mungkin melewatkan kesempatan emas untuk mendapatkan makanan gratis dari sang tuan, dia juga sudah lapar dan ingin makan apapun yang enak-enak. Aroma masakan di kedai pasar ini sangat menggoda, tapi sayang dirinya tidak punya uang untuk dibelikan makan.
Menjalan mencari kedai yang enak, sang tuan muda tidak sengaja menemui penjual bakpao dan dia ingat jika sang ibu sangat suka bakpao. Tapi, yang mencuri perhatiannya justru dua orang remaja seusia dengannya bercadar dengan hanfu sederhana, namun tetap menggambarkan jika mereka bukan rakyat biasa. Yang membuatnya penasaran adalah gadis cantik yang sedang diam mengantre itu, matanya tajam dan sangat cantik, bukan culas tapi meneduhkan.
__ADS_1
"Bagaimana dia bisa ditinggalkan sendirian?" tanya sang tuan muda entah pada siapa saat gadis muda itu ditinggal mengantre sendirian oleh sang kakak.
Lama mengamati membuatnya makin terpesona pada wajah cantik di balik cadar itu, dari semua orang yang ada di pasar hanya dia dan kakaknya yang bercadar. Sungguh misterius dan menawan. Rombongan orang-orang yang ingin membeli bakpao mulai mendekat dan berdesakan untuk membeli bakpao, dan gadis itu perlahan terdesak hingga membuatnya tersungkur.
"Tuan, mau pergi kemana?" tanya Long Bao melihat sang tuan menyimpan kipasnya dan berjalan pergi.
"Menolong sang dewi khayangan." jawabnya.
***
Zhou Fang Yin menerima uluran tangan itu dan bangkit dari tanah, dia menepuk hanfunya yang kotor karena tersungkur di tanah.
"Apa kau terluka nona?" tanya pemuda dengan hanfu hitam itu.
Sang putri menggeleng, "Tidak, aku tidak terluka, terima kasih tuan sudah berbaik hati menolongku."
"Sama-sama." jawabnya, "Aku hanya tidak sengaja melihatmu terjatuh saat hendak membeli bakpao, apa kau juga hendak membeli bakpao?"
"Kalau begitu kita bisa mengantre bersama saja, akan lebih aman untukmu nona. Tenang saja karena aku tidak berniat jahat kepadamu."
"Terima kasih."
"Ngomong-ngomong, siapa namamu?"
Pemuda hanfu hitam itu bertanya tapi sang putri tak kunjung menjawab, harus menjawab apa karena tidak mungkin mengatakan identitas aslinya. Dilihat dari atas sampai ke bawah, sudah jelas kalau dia adalah putra bangsawan dari hanfu sutra mahal itu. Dia tinggi dan gagah seperti Zhou Ming Hao, berwajah tampan yang tegas dan alis mata setajam elang. Dia datang bersama seorang pemuda lagi yang sepertinya seorang pengawal setia.
"Kau siapa?" balas Zhou Fang Yin dengan pertanyaan.
"Aku?" tunjuk pemuda itu pada dirinya sendiri. Dia tersenyum dan mengatakan namanya, "Namaku Jing Xuan, Heng Jing Xuan."
Ahh, marga Heng rupanya. Zhou Fang Yin semakin paham jika pemuda itu berasal dari kalanga bangsawan kelas atas. Marga Heng sudah menjadi bagian dari istana sejak ratusan tahun, dan setiap dinasti mereka selalu mengambil peran penting dalam pemerintahan kaisar. Salah satu petinggi kekaisaran bernama Heng Zhang Mo, dia adalah penasehat kekaisaran yang sangat bijaksana.
__ADS_1
"Dia Long Bao, dia penjagaku." Jing Xuan memperkenalkan Long Bao. "Lalu siapa namamu?"
"Saya ... saya Xiao Yin, tuan." jawab Zhou Fang Yin merendah, dia ingin mengaku sebagai orang biasa saja alih-alih putri kekaisaran. Dan sepertinya Jing Xuan percaya jika dirinya tidak berasal dari kalangan bangsawan tinggi karena hanfu sederhana yang dia pakai.
"Xiao Yin? Kau berasal dari marga mana?"
"Itu tidak penting, kau cukup memanggilku Xiao Yin saja." jawabnya.
"Baiklah."
Heng Jing Xuan mengangguk, pandangannya tidak bisa lepas dari sosok jelita yang sangat menawan di depannya itu. Dia mengaku bernama Xiao Yin dan tidak mengatakan darimana marganya berasal, tapi sudahlah, itu tidak penting sama sekali. Keduanya mengantre dengan sabar untuk mendapatkan bakpao, bahkan tak disangka jika gadis cantik jelita itu membeli banyak sekali bakpao, sampai dua keranjang dan masing-masing berjumlah sepuluh buah.
Dia membayar dengan keping emas dan tidak meminta kembalian. Padahal hanfu yang dia kenakan sederhana, tapi perangainya tidak mencerminkan itu. Dia sangat anggun dan ramah, dia terlihat berpendidikan dan terhormat. Bahkan orang yang tidak mengenalnya pun merasa segan dengan aura keanggunan yang terpancar dari seseorang bernama Xiao Yin itu.
Jing Xuan jadi penasaran dengan jati diri sang nona, siapa dia sebenarnya?
"Kau membeli banyak sekali bakpao nona, untuk apa?" tanya Jing Xuan.
Zhou Fang Yin tersenyum, "Aku ingin memberikan ini untuk anak-anak gelandangan itu, kasihan mereka pasti lapar. Aku tidak sampai hati melihat mereka mengorek tempat sampah."
"Bolehkah aku membantu?"
"Dengan senang hati." Zhou Fang Yin memberikan satu keranjang untuk Jing Xuan, dan ia segera berjalan menghampiri anak-anak gelandangan itu.
Langkah damainya tidak lepas dari penglihatan Jing Xuan barang sedetik, begitu terpesona pada paras ayu nan baik hati itu. Apakah semudah itu baginya untuk terpikat, padahal sudah banyak gadis bangsawan yang mencoba untuk menjadikannya suami tapi dia sama sekali tidak tertarik. Lalu hanya dengan satu tatapan mata indah itu, Jing Xuan sudah luluh lantah terjerat dalam pesonanya.
"Kau sungguh cantik, Xiao Yin." puji sang tuan muda setelah usai membagikan bakpao.
Bukannya tersanjung, tapi Zhou Fang Yin justru mengerutkan keningnya. Ia meraba wajahnya sendiri dan tidak menemukan cadarnya disana, astaga! Dia bahkan tidak ingat jika cadar berharga itu terjatuh. Jadi, sejak tadi Heng Jing Xuan sudah melihat wajahnya, Ya Dewa!
"A-ak-aku harus per-pergi tuan, maafkan aku!"
__ADS_1
"Hei, Xiao Yin, tunggu!!"