Back In Time (Reinkarnasi Selir Kejam)

Back In Time (Reinkarnasi Selir Kejam)
Menggoda kaisar


__ADS_3

Wu Li Mei bersiap di depan gerbang paviliunnya, para dayang berjaga di tembok pembatas untuk mengamati sang kaisar. Nanti saat kaisar bertemu Wu Li Mei, mereka akan berkumpul ke tempat yang telah ditentukan. Sehingga paviliun akan kosong dan tidak mengganggu keduanya bermalam dengan panas.


Wu Li Mei melakukan sedikit peregangan, sudah lama ia tidak melakukan ini. Tapi ia yakin masih cukup lihai untuk merayu, apalagi bermain di ranjang.


Lu Yan datang dengan tergesa, "Yang Mulia, romongan kaisar akan segera tiba."


"Benarkah?"


"Iya, Yang Mulia."


"Sudah sampai dimana?"


"Persimpangan paviliun, dekat jalan anda memetik persik."


Itu artinya sudah cukup dekat, hanya beberapa langkah lagi sampai di gerbang utama paviliun selir agung. Tapi tidak, Wu Li Mei tidak akan mencegatnya disana, ia lebih memilih mencegat di pintu masuk samping yang langsung mengarah ke pondok teratai.


"Apa Kaisar Zhou menggunakan tandu tertutup?"


"Tidak, Yang Mulia."


"Baiklah, kalian bisa pergi sekarang!"


Semuanya mengangguk, tugas para dayang selesai dan mereka akan pergi mengunci diri. Kini adalah waktunya Wu Li Mei melakukan perannya, berhasil atau tidak, semua ditentukan saat ini. Ia sedikit berjinjit saat suara derap rombongan terdengar semakin mendekat.


Malam ini bintang bersinar sama terangnya dengan bulan yang tampak bulat sempurna, sang kaisar sampai lupa jika hari ini bulan purnama, ia terlalu sibuk hingga lupa penanggalan candra. Tapi, ada yang mengalihkan perhatiannya dari indahnya cahaya bulan, yaitu wangi mawar yang semerbak di paviliun selir agung.


Jalannya tandu seolah semakin melambat saat melewati pintu samping paviliun itu yang sengaja dibuka, sebuah siluet wanita tampak di tak jauh dari sana. Berbalut hanfu merah yang transparan di beberapa bagiannya, cahaya temaram menambah kecantikan wanita itu saat ia berbalik.


Terperangah, kaisar sangat menatap tanpa kedip. Baru saat Wu Li Mei tersenyum penuh arti, kaisar mengerjap kaget. "Berherti!"


"Maaf, Yang Mulia?" Kasim Hao mendekat, "Apakah ada masalah?"


"Ya."


Kasim Hao membulatkan matanya, "Benarkah, apa itu, Yang Mulia?"

__ADS_1


"Berhenti, aku harus berhenti disini."


Sang kasim tergopoh-gopoh membantu kaisar untuk turun dari tandunya, pria tua itu kebingungan saat sang junjungan menatap ke satu arah tanpa berkedip. Kasim Hao menahan kaisar, "Maaf, Yang Mulia, tapi ini bukan paviliun ratu."


"Janji anda adalah untuk bermalam dengan ratu."


Sang kaisar menatap Kasim Hao tajam, "Apa aku terlihat peduli? Pergilah, aku akan bermalam disini malam ini."


"Ta-tapi....."


"Kau berani melawanku, kasim?!"


"Ampun, Yang Mulia." Kasim Hao menunduk, memberi jalan bagi sang kaisar untuk melanjutkan langkahnya.


Sial, Wu Li Mei menghilang saat kaisar sibuk menanggapi Kasim Hao. Pria itu masuk ke dalam paviliun selir agung, dan langkahnya langsung menuju pondok teratai. Disana ada seorang wanita tengah berdiri membelakanginya, sambil membawa lentera indah berbentuk bunga peony.


Suasana di malam itu temaram dan hanya dihiasi lentera, lampu di dalam paviliun semuanya mati. Itu adalah permintaan khusus dari Wu Li Mei sendiri. Saat sang selir berhasil menggantungkan lenteranya, saat itu juga sepasang lengan memeluk pinggang erat.


Sang selir tersenyum miring, rupanya kaisar telah berhasil masuk ke dalam perangkapnya. "Kau sedang menggodaku, Mei-er?" bisik kaisar tepat di telinga Wu Li Mei.


"Rupanya kau ingin bermain-main dengan hanfu tipis ini."


Kaisar semakin mengeratkan pelukannya, ia meresapi aroma yang menguar dari wanita itu. Harum mawar yang begitu menyegarkan, aromanya begitu menawan sama seperti pemiliknya.


Wu Li Mei membasahi bibirnya yang terasa kering, hatinya ikut menghangat mendapatkan usapan lembut di pipinya yang dingin. "Aku tidak ingin terlelap malam ini, Yang Mulia."


"Kau yakin?"


"Ya."


"Kau tidak akan menyesal?"


"Tidak, Yang Mulia."


Kaisar Zhou menatapnya tajam, ia mengambil jarak dan melepaskan dekapannya. "Bukankah kau masih marah kepadaku? Lalu, apa maksudmu mencegatku?"

__ADS_1


"Apa lagi rencanamu, Wu Li Mei?"


Wu Li Mei terdiam.


"Aku akan kembali ke paviliun ratu."


Wu Li Mei menahan lengan sang kaisar, tidak boleh! Pria itu tidak boleh pergi dari paviliunnya malam ini atau semua rencananya bisa gagal.


"Aku sudah memaafkanmu, tapi aku tetap akan mencari cara sendiri untuk membalaskan dendamku."


"Terserah, lakukan saja!"


Bagaimana ini, mengapa kaisar malah mengacuhkannya. Sepertinya memang tidak ada cara lain selain merendahkan kembali egonya. Wu Li Mei menarik lengan sang kaisar agar menghadap ke arahnya, "Maaf, Yang Mulia. Tapi kau tidak akan bisa pergi dari sini malam ini."


Wu Li Mei membuka hanfunya sendiri, "Aku ingin bercinta di bawah cahaya bulan, denganmu."


Kaisar Zhou mendorong sang selir hingga membentur tiang penyangga pondok teratai, sang kaisar segera menyatukan bibir mereka dan saling mencumbu sama kasarnya. Perlahan, tangan mereka makin aktif melepaskan pakaian satu sama lain.


Meskipun kesulitan dan ia lebih sering menjadi objek, Wu Li Mei berusaha untuk mengimbangi permainan liar sang kaisar.


Wu Li Mei hanya melenguh dan mendesah nikmat merasakan sentuhan yang semakin beringas itu. Rasanya seperti menjadi muda kembali, menjadi bergairah dan terbakar api cinta lagi.


"Kaisar...... ku mohon," Wu Li Mei terlentang di ubin dingin pondok teratai sambil bergerak tak karuhan, terlebih saat pernyatuan itu terjadi. Sakit, seperti saat pertama kali melakukannya, tapi selalu nikmat.


Tubuhnya bergetar mendapatkan sengatan gairah yang menyembur di dalam dirinya, hangat dan candu. Ia masih terengah tapi kaisar tak berniat untuk berhenti guna memberi jeda.


Lewat ekor matanya, ia bisa melihat seseorang terpaku dengan wajah pias di pintu samping paviliunnya. Yang Jia Li rupanya, tengah mematung melihat dirinya dengan kaisar menikmati puncak gairah, di malam penuh bintang ini. Malam panas yang seharusnya menjadi miliknya, tapi tidak akan semudah itu Yang Jia Li.


Sang permaisuri tidak sanggup lagi, ia marah dan marah melihat semua itu di depan matanya. Yang Jia Li mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat, ia merasa terhina dan kembali dikalahkan oleh selir licik itu. Yang Jia Li memilih pergi, sebelum ia melihat yang lebih gila dari permainan mereka.


"Sial!!!"


Yang Jia Li membating pintu paviliun selir agung, ia melampiaskan amarahnya pada pintu tak berdosa yang sengaja dibiarkan terbuka itu.


Wu Li Mei sudah menduga dari awal bahwa Yang Jia Li pasti datang. Laporan dari kasim kaisar akan membuatnya marah dan memastikan sendiri, syukurlah semua sudah berjalan sesuai rencananya.

__ADS_1


Tapi, yang tidak sesuai adalah kaisar terlalu beringas melahap tubuhnya. Tidak ada ampun dan jeda istirahat untuk permainan mereka malam ini, tidak sampai kaisar sendiri yang berhenti karena kelelahan. Biarlah, ini juga begitu nikmat meskipun rasanya hampir sekarat.


__ADS_2