Back In Time (Reinkarnasi Selir Kejam)

Back In Time (Reinkarnasi Selir Kejam)
Mengapa Yang Zhe Yan?


__ADS_3

Semua yang akan dibutuhkan oleh sang selir selama berada di Negeri Hang sudah dipersiapkan oleh Dayang Yi jauh-jauh hari sebelum insiden buku itu. Beberapa setel hanfu, tusuk konde, dan hadiah yang akan diberikan untuk kaisar baru dinasti itu. Sekarang, saat keberangkatan tinggal menghitung waktu, semuanya telah siap, termasuk para dayang yang ikut dan prajurit pengawal. Rombongan telah sampai di pelabuhan dimana kaisar dan Wu Li Mei akan berkunjung ke Negeri Hang menggunakan kapal laut, karena dua negeri itu dipisahkan oleh selat yang tidak terlalu jauh.


Wu Li Mei sejak tadi sama sekali tidak merasa tenang, ada saja yang mengganggu pikirannya. Dan itu tertangkap jelas oleh Kaisar Zhou yang duduk di sampingnya. Sang kaisar meraih telapak tangan Wu Li Mei dan menggenggamnya. “Adakah yang mengganggu pikiranmu?”


Sang selir tersentak kaget lalu menoleh cepat, ia tersenyum canggung. “Maaf, Yang Mulia. Saya memang sedang memikirkan sesuatu.”


“Apa itu? Apakah itu sangat penting sehingga kau memikirkannya dengan melamun?”


“Tidak, bukan hal yang penting.”


“Baiklah.” Sang kaisar kembali menatap ke depan, dimana kapal yang akan mereka tumpangi telah menepi ke pelabuhan. Para dayang dan pengawal pun bahu-membahu memasukkan semua barang bawaan dan persediaan makanan untuk semua yang ikut selama di perjalanan.


Wu Li Mei menatap telapak tangannya yang digenggam oleh kaisar, tangannya terasa hangat dan itu sampai ke hatinya. Sang selir pun memberanikan diri untuk menatap wajah sang kaisar, dari samping wajah itu tampak sangat tampan dan berseri. Seorang raja selalu memiliki kharisma yang terpancar cerah di wajahnya, dan wanita itu bisa melihatnya dengan jelas. Seandainya saja ia bisa melabuhkan hatinya dengan mudah kepada sang kaisar, tentu akan ia lakukan sejak dulu. Tapi, rasa kecewa atas lolosnya Yang Jia Li dalam kasus racun merkuri yang merenggut nyawa tak berdosa sang putri masih mendera hatinya. Sebelum dendamnya terbalas, Wu Li Mei tidak akan melabuhkan cintanya kepada kaisar, jika saja pria itu mengambil perannya dengan benar dan selalu berpihak pada kebenaran. “Bisakah aku tidak perlu pergi?” tanya Wu Li Mei.


Sang kaisar pun menoleh dengan kening berkerut, “Mengapa? Bukankah kau bahagia akhirnya bisa kembali ke tanah kelahiranmu?”


“Iya, aku bahagia, Yang Mulia. Aku hanya, aku hanya merasa sangsi untuk mendampingimu. Bukankah ini adalah tugas permaisuri?” kilah Wu Li Mei.


Tapi, kaisar justru menggeleng dengan tegas. “Ini bukan tugas permaisuri, Mei’er. Aku bebas memilih dengan siapa aku akan pergi. Aku memintamu untuk mendampingimu karena Kekaisaran Hang pasti akan sangat bahagia menyambutmu kembali setelah sekian lama, kau putri bungsu tersayang mereka, ayah dan ibumu pasti akan bahagia.” Ujarnya.


Wu Li Mei memejamkan matanya saat kaisar mengecup keningnya dan menyandarkan kepalanya di bahu kokoh pria itu, “Jika kau merasa khawati dengan keadaan istana, tenang saja, ada ibu suri dan Panglima Hao yang akan mengurus semuanya.”

__ADS_1


“Panglima Hao tidak ikut?” tanya sang selir cepat.


“Tidak, tadi sebelum pergi ke pelabuhan. Panglima Hao menemuiku dan mengganti pengawal yang akan ikut, dia berkata ada tugas penting yang harus dijalankan dan dia juga ingin berjaga istana saja.”


“Jadi siapa yang akan mendampingimu, Yang Mulia?”


Kaisar menarik lengan sang selir untuk bangkit dan berjalan bersama memasuki kapal, beberapa dayang dan prajurit yang ikut mengawal mereka dari belakang. Kaisar tidak membuka suara sampai Wu Li Mei menemukan sendiri jawabannya setelah ia masuk ke dalam kapal besar itu, ternyata kaisar mengutus Yang Zhe Yan untuk menjadi pendamping mereka.


Wu Li Mei jelas terkejut dengan ini, dari sekian banyak panglima mengapa harus orang Yang Jia Li mengambil peran. “Yang Zhe Yan?”


“Salam, Yang Mulia!”


“Mengapa kau ikut dalam perjalanan ini?” tanya Wu Li Mei dengan nada tidak senang, tentu saja tidak senang karena lagi-lagi ada mata-mata musuh berseliweran di sekitarnya. Yang Zhe Yan mungkin sedikit berbeda karena ia pernah menemuinya beberapa kali untuk memancing amarah Yang Jia Li, tapi tetap saja mereka berasal dari klan yang sama.


“Anda tidak perlu khawatir, Yang Mulia, kehadiran saya bukan untuk menjadi mata dan telinga permasuri selama di Negeri Hang.” Ujar Yang Zhe Yan menangkap maksud dari raut tidak suka sang selir agung, sang panglima berucap dengan penuh kerendahan hati sesaat setelah kaisar meninggalkan mereka berdua. “Saya hanya akan menjalankan tugas saya sebagai panglima yang mengawal kekaisaran, Yang Mulia.”


“Ku pegang sumpahmu, Yang Zhe Yan. Aku yang akan mencarimu jika saja kau melakukan kejahatan Yang Jia Li disini. Aku ingin pergi dan pulang dari negeri itu dengan damai, jadi jangan merusak apapun, akan lebih baik jika kau tidak perlu mendengar atau pun melihat apapun.”


“Baik, Yang Mulia.”


Wu Li Mei pergi meninggalkan sang panglima yang hanya bisa menatap kepergiannya dengan gamang, kehidupan istana benar-benar terasa mengerikan setelah Yang Zhe Yan masuk semakin dalam ke permainan perebutan tahta. Dia yang awalnya hanya ingin bekerja dan mengabdi untuk kekaisaran harus merelakan niat suci hatinya agar bisa bertahan, bertahan di kerasnya kehidupan istana yang melelahkan.

__ADS_1


Namun, ada satu yang pria itu syukuri setelah mengenal sang selir lebih dalam. Setelah pertemuan mereka berulang kali, perbincangan tanpa arti, dan perjamuan singkat di pondok teratai paviliun selir agung yang tenang. Yang Jia Li seperti telah membuangnya dari daftar nama orang-orang yang berada dalam kendalinya, tidak tahu juga apa yang terjadi, tapi yang pasti permaisuri tidak lagi memintanya untuk melayaninya.


Kaisar Zhou mengerutkan keningnya saat mendapati Wu Li Mei datang dengan wajah kaku, “Ada apa lagi, Mei’er? Mengapa suasana hatimu sangat tidak baik?” tanya sang kaisar sembari memberikan secangkir teh hangat untuknya.


Wu Li Mei menerimanya, ia menenggaknya hingga tandas. “Aku tidak percaya Panglima Hao meminta Yang Zhe Yan untuk menggantikannya.”


“Memangnya kenapa? Yang Zhe Yan juga seorang panglima yang baik.”


“Tapi dia dari Klan Yang.”


Kaisar tersenyum mendapati maksud dari ucapan Wu Li Mei, tidak perlu bertanya dan menjelaskan lebih rinci, semuanya telah terbaca dengan baik. “Sejauh ini Panglima Hao tidak pernah salah memilih seseorang untuk menggantikannya, lagipula kehadiran Yang Zhe Yang jauh lebih baik daripada harus digantikan oleh Yang Jian Zhu. Setidaknya dia jauh lebih memihakmu daripada Yang Jian Zhu.”


Kaisar menghela napas lelah, “Aku punya banyak sekali istri sehingga kalian harus saling bersaing untuk bertahan ya.”


“Bukankah semua raja memang punya banyak istri, agar mereka bisa memiliki banyak keturunan.” Balas Wu Li Mei enteng, selir agung sedikit tersentak saat jemari dingin kaisar membelai pipinya. Ia menoleh dan mendapati pria itu tersenyum lembut ke arahnya, sunggu pemandangan yang tidak biasa.


“Semua raja memang memiliki banyak istri, tapi hanya ada satu yang akan mengisi hati dengan abadi.”


“Lalu? Siapa istrimu yang paling kau cintai?” tanya Wu Li Mei.


Kaisar tampak diam untuk beberapa saat lalu menarik Wu Li Mei hingga jatuh ke dalam dekapannya, “Tentu saja kau, mawar merahku yang cantik.”

__ADS_1


Mendengar itu menciptakan kehangatan yang menjalar hingga ke hati terdalamnya, kaisar sendiri yang mengatakan bahwa ia mencintainya, maka sudah jelas bahwa wanita itu berhasil mengambil hatinya. Sang selir agung tersenyum, ia membalas pelukan itu dengan erat. “Kalau begitu, jadikanlah aku permaisurimu, Yang Mulia!” ujarnya sambil bermanja di dekapan hangat itu.


Kaisar mengangguk, “Tentu saja, tapi kau harus membunuh Yang Jia Li dulu.”


__ADS_2