
Suara gemericik air di kolam koi itu, tak membantu Yang Jia Li untuk tenang sedikit pun. Wanita istana itu mondar-mandir tak jelas di pondok paviliunnya, ada yang mengganggu di pikirannya, tapi ia belum menemukan jawaban apapun. Kegusarannya dimulai sejak ia bangun pagi tadi, sang permaisuri menyadari ada yang janggal disini. Firasatnya kuat mengatakan bahwa ia tak sepenuhnya menang, karena ini terjadi begitu mudah dan cepat. Yang Jia Li sempat melupakan fakta jika yang ia hadapi saat ini adalah Wu Li Mei, selir licik yang luar biasa berbisa. Sekalipun benar ia hilang ingatan, tapi tetap saja dia adalah Wu Li Mei, yang tidak akan pernah mau mengalah dan mengaku kalah.
Kemana perginya para pendukung sang selir agung, apakah mereka sudah membubarkan diri? Oh, tentu saja tidak mungkin. Lalu dimana mereka berada, mustahila jika mereka tidak memikirkan cara untuk membebaskan Wu Li Mei dari tuduhan itu.
Yang Jia Li juga baru menyadari kalau suasana istana terlalu sepi dan tenang, padahal eksekusi Wu Li Mei tinggal dua hari lagi. Ada apa dengan sang kaisar, bukankah pria itu kini begitu mengasihi Wu Li Mei. Dia pasti punya rencana untuk membebaskan selir licik itu, Yang Jia Li tidak bisa tinggal diam.
"Salam, Yang Mulia."
Yang Jia Li berbalik, baru menyadari keberadaan orang lain di pondok teratai miliknya. Sang permaisuri membulatkan mata, ia terkejut tapi dengan segera menormalkan ekspresi wajahnya. "Kakak?"
"Sedang apa disini?" tanya Yang Jia Li.
"Saya ingin membicarakan sesuatu, Yang Mulia." jawab Yang Jian Zhu.
"Apa itu penting?"
"Ya." balas sang kepala departemen kejaksaan.
Yang Jia Li mengalihkan pandangannya, "Tentang apa, maaf aku sibuk hari ini. Bisakah lain kali saja."
"Kau yakin lain kali?"
"Memangnya apa yang ingin kau bicarakan?"
Yang Jian Zhu tersenyum miris, adiknya itu masih saja sombong seperti dahulu. Sifat seseorang memang tidak mudah untuk dirubah, terutama Yang Jia Li. Putri bangsawan itu memang sejak awal selalu. dimanja oleh Keluarga Yang, tidak pernah ada satu keinginannya yang gagal ia. dapatkan.
"Ini tentang Wu Li Mei." ujarnya.
"Wu Li Mei?"
Wu Li Mei, mendengar nama itu keluar dari mulut sang kakak, permaisuri segera berbalik. Ia berjalan mendekati Yang Jian Zhu. "Katakan!?"
"Bukankah katamu kau sibuk!" Yang Jian Zhu berjalan pelan menghampiri sang adik, ia melihat ke segala penjuru paviliun ratu. Pandangannya jatuh pada deretan guci tua yang disusun dengan sangat baik. Sang kakak kembali menggeleng, pasalnya harga satu guci saja itu bisa menghasilkan ribuan koin emas.
Yang Jia Li mendelik, "Cepat katakan, kepala departemen kejaksaan!" titahnya.
"Cihh!" Sang kakak bergeming, masih asik melihat-lihat paviliun ratu. Terakhir kali ia datang kemari, rasanya tidak semewah ini.
"Pergilah jika kau hanya ingin membuang waktuku."
"Inikah caramu menghormati tamu?" cela Yang Jian Zhu, "Bukankah kau permaisuri negeri ini? Tapi ingatlah, aku tetaplah menjadi kakakmu. Hormati aku!"
__ADS_1
Yang Jia Li memutar bola matanya, "Mau penghormatan seperti apa? Upacara besar?"
"Lupakan!" putus sang kepala departemen.
Permaisuri segera memanggil para dayangnya untuk menyiapkan teh dan hidangan kecil untuk menemani pembicaraan mereka. Pembicaraan kakak beradik yang jauh dari kata baik.
Entah ini anugrah atau keajaiban, sang kakak datang menemuinya. Selama hampir belasan tahun ia menjadi wanita nomor satu di negeri itu. Yang Jian Zhu hanya pernah berkunjung dua kali, dan ini adalah kali keduanya.
"Katakan!" titah sang permaisuri.
Yang Jian Zhu meletakkan cangkir teh yang belum sempat ia sentuh, "Kurasa kita perlu sebuah rencana."
"Maksudmu?"
"Kaisar sedang tidak berada di istana, ini akan menjadi keuntungan untuk kita."
"Kita?" ulang Yang Jia Li, "Apa kau mulai menjadi bagian dari kudeta kali ini?"
Yang Jian Zhu hanya mengendikkan bahu, "Aku hanya ingin membantumu."
"Apa kali ini?"
"Bagaimana kalau kita majukan eksekusi Selir Agung?"
Kabar mengenai hari eksekusi Wu Li Mei yang maju sehari, berhembus kencang di lingkungan istana. Bahkan sampai ke segala penjuru negeri, rakyat ramai membicarakan Wu Li Mei yang dituduh meracuni sang putri.
"Bagaimana ini, nenek?" tanya Zhou Fang Yin gusar, "Besok ibu akan dieksekusi, sementara rencana kita belum siap. Yang Mulia Kaisar bahkan belum kembali."
"Aku tidak mau kehilangan ibu."
"Aku menyayangi ibu."
"Hiks..... ibu...... "
Ibu Suri mengusap pelan puncak kepala Zhou Fang Yin. Wanita tua itu tersenyum lembut, mencoba meyakinkan cucunya agar tetap tabah. Ibu jarinya bergerak menghapus linangan air mata sang tuan putri yang tak terbendung lagi, "Tenanglah, putri."
"Semuanya akan baik-baik saja, para dewa pasti membantu kita. Percayalah!"
"Apakah tidak ada yang bisa kita lakukan saat ini, nenek?" giliran Zhou Ming Hao yang bertanya. Usai mendengar kabar buruk itu, dua anak kembar Wu Li Mei langsung menuju paviliun ibu suri untuk mengadu.
"Ada."
__ADS_1
"Apa?" tanya Ming Hao penuh semangat.
"Berdoa."
Zhou Ming Hao menghela napas kecewa, "Apa para dewa benar akan membantu kita?"
"Bantuan itu datang pada orang-orang yang membutuhkan, putra mahkota."
"Bagaimana kalau kita menculik ibu saja." cetus sang putra mahkota.
Zhou Fang Yin menghela napas, "Apa kau gila?"
"Apanya yang salah, kita hanya harus menculik ibu dan melindunginya untuk beberapa saat."
"Sebelum kau menculik ibu, departemen kejaksaan akan lebih dulu menculikmu." jelas sang putri, "Departemen kejaksaan bukan tempat yang sembarangan, apa kau ingin Yang Jian Zhu menangkapmu."
"Lalu apa yang bisa kita lakukan?"
"Berdoa saja."
Keadaan harem amat kacau kali ini, ditambah sang kaisar tidak berada di istana. Kaisar harus mengunjungi negeri utara yang dilanda gagal panen akibat hama belalang, gandum dan berbagai hasil bumi lainnya banya yang rusak. Sehingga lumbung persiapan musim dingin sangat kurang, dan Kaisar Zhou harus pergi kesana secara mendadak.
Panglima Hao mengikuti kaisar, jadi tidak. ada lagi yang bisa mereka andalkan.
Zhou Ming Hao mengusap wajahnya frustasi. Ia kebingungan menghadapi masalah ini.
Seorang pengawal berjalan tergopoh-gopoh menghampiri sang putra mahkota. Pemuda itu memakai pakaian serba hitam dan membawa sebilah pedang. Saat sampai di hadapannya sang junjungan, pengawal itu segera menunduk. "Salam, Yang Mulia."
"Aku Yao, dari divisi utara."
"Bangkitlah, Yao!" titah Zhou Ming Hao.
"Ada apa?" tanyanya kemudian, ia memang tak asing denga wajah sang pengawal. Beberapa kali mereka pernah bertemu di lapangan untuk latihan beradu pedang.
Zhou Ming Hao menjentikkan jarinya, "Ah iya, kau pasti salah satu prajurit Guru Zhang, kan?"
Sang pengawal memgangguk, "Benar, Yang Mulia."
Ibu Suri dan Zhou Fang Yin pun mendekat, ikut penasaran dengan siapa yang baru saja datang. "Jadi, apa yang membawamu kemari?" tanya Ibu Suri.
"Saya datang untuk menyampaikan pesan bahwa Guru Zhang telah kembali, beliau ingin bertemu di luar istana. Karena suasana di istana yang sedang kacau, Yang Mulia."
__ADS_1
Ketiga orang itu saling tatap, "Memangnya apa yang ingin disampaikan Guru Zhang?" tanya Zhou Fang Yin.
"Seseorang yang terlibat dari upaya meracuni Putri Zhou Xie Ling, penjual merkuri."