
Terbangun karena suara ayam jantan yang berkokok begitu merdu, bersahutan hingga memaksa wanita yang terbaring dalam peraduan itu membuka mata. Satu hari lagi yang begitu membosankan akan dilalui, tapi Yang Jia Li masih enggan untuk bangkit dari ranjangnya. Entah matahari sudah tinggi atau belum, semua pintu dan jendela tidak akan dibuka oleh Dayang Yue sebelum sang junjungan menyuruhnya untuk membukanya.
Yang Jia Li membunyikan lonceng yang tergeletak di nakas dekat ranjang tidurnya, “Dayang Yue!” panggilnya lemas.
Sang dayang segera datang, “Ya, Yang Mulia?”
“Ouuuhhh, kenapa tubuhku semakin hari semakin berat saja untuk bangun. Aku lemas dan tidak bertenaga … “ keluh Yang Jia Li.
“Mungkin karena anda tidak pernah berolahraga, Yang Mulia. Sekedar berjalan menyusuri halaman atau berkebun akan baik untuk kesehatan, anda selalu mengunci diri dan bermalas-malasan di kamar saja.”
“Olahraga ya?”
Sang junjungan bangkit, dia meregangkan tangannya dan berusaha untuk duduk dengan nyaman. Tangannya meraba bagian bawah tubuhnya, basah, rupanya semalam dia benar-benar hanya bermimpi. Mendadak, sang permaisuri jadi menginginkan sesuatu yang tidak seharusnya dia inginkan, tapi bagaimana lagi karena nalurinya sebagai manusia tengah bangkit.
Dia menatap sang dayang yang memalingkan wajah saat Yang Jia Li tidak memindahkan tangannya dari bagian paling sensitif tubuhnya itu. “Mungkin kau benar Dayang Yue, aku butuh berolahraga dan memuaskan diri. Sudah beberapa hari ini aku bermimpi mendapatkan sentuhan seorang pria, aku pasti sedang ingin bercinta.”
“Yang Mulia … “ Dayang Yue menghela napas dalam, bukan itu yang dia maksud dengan berolahraga lalu kenapa Yang Jia Li menangkap maksud lain.
“Carikan aku pemuda gagah nan tampan untuk kujadikan pemuas nafsu, aku mau dia datang sekarang juga kesini. Aku akan menunggunya paling lambat petang hari!”
“Yang Mulia!”
“Kenapa?” Yang Jia Li mengerutkan keningnya dalam.
“Kita saat ini berada di biara Heng Shui, tidak pantas di tempat suci untuk melakukan hal itu, terlebih dengan pemuda yang bukan suami sendiri. Tidak pantas, Yang Mulia, apa kata dewa nanti?”
“Halah, siapa peduli dengan para dewa!”
“Yang Mulia … “
PRAAAANGGGG …
Yang Jia Li melempar lentera yang masih menyala untuk menerangi kamarnya, hingga mengenai Dayang Yue. Sang dayang segera bersimpuh di kaki sang permaisuri memohon pengampunan meskipun tangannya sedikit terbakar terkena lentera dan tumpahan minyak. “Mohon ampun, Yang Mulia!”
“Aku tidak mau tahu, cepat carikan pemuda yang ku minta untuk melayaniku, sekarang!!” sentak Yang Jia, dia mendorong Dayang Yue dengan kakinya tak berperasaan.
__ADS_1
“Baik, Yang Mulia.”
Sang dayang pergi dengan hati terluka untuk mencari pemuda yang diminta oleh Yang Jia Li, entah siapa yang akan dia temui kali ini tapi pemuda itu haruslah tampan dan gagah. Di dalam kamarnya, Yang Jia Li menahan amarahnya dengan sangat luar biasa, menahan marah atas kelancangan Dayang Yue. Tangannya menggebrak meja untuk menyalurkan emosi, “Beraninya dayang bodoh itu menasehatiku tentang kebenaran, dasar, tahu apa dia!!”
“Dayang!”
“Dayang!!”
Lu Yi datang dengan tergopoh menghampiri Yang Jia Li, “Maaf, Yang Mulia.”
“Buatkan aku teh!”
“Ba—baik, Yang Mulia.”
Lu Yi segera kembali ke dapur untuk membuatkan teh herbal yang biasanya dibuatkan untuknya, selama seminggu ini Yang Jia Li mengonsumsinya, tidak ada perubahan yang terjadi selain tubuhnya semakin malas dan sakit-sakit. Saat ketiga dayang muda itu membuat laporan pada tuan mereka, katanya sudah sangat baik pada awalnya merasakan sakit dulu. Teh beracun itu memang bekerja secara perlahan untuk membuat orang yang meminumnya mati secara perlahan-lahan saja.
Sesampainya di dapur, Lu Yi langsung disambut oleh dua temannya yang sibuk pada pekerjaan masing-masing. “Apakah ini waktunya membuat teh?” tanya Xing Yu.
“Sepertinya begitu.” Tebak Xin.
Lu Yi mengangguk dua kali, “Iya, dia sudah meminta teh herbal untuknya.”
“Kau benar!”
Xing Yu dan Xin menoleh kepada temannya dengan tatapan tanya, “Permaisuri akan memanggil seorang pemuda untuk memuaskan hasrat cintanya, dan Dayang Yue sedang berusaha untuk mencari pemuda yang cocok.” Bisik Lu Yi.
***
Matahari sudah condong, dan seseorang yang ditunggu Yang Jia Li belum juga datang. Dia sampai menunggu di luar paviliun untuk menantikan kedatangan Dayang Yue. Memanfaatkan situasi dengan baik, ketiga dayang kecil itu menghampiri Yang Jia Li berniat ingin berbasa-basi.
“Salam, Yang Mulia.”
“Bangkitlah!”
“Apa yang sedang anda tunggu, Yang Mulia?” tanya Lu Yi.
__ADS_1
Yang Jia Li tampak enggan untuk menjawab, “Aku … sedang menunggu Dayang Yue.”
“Memangnya Dayang Yue pergi kemana, Yang Mulia?” tanya Xin.
“Dia pergi ke pasar untuk mencari pemud—ehh, maksudku untuk mencari sesuatu yang kubutuhkan.”
Ketiga dayang itu mengangguk paham, “Maaf, Yang Mulia, bukan bermaksud lancang, tapi saya pikir anda sedang bosan. Jadi saya … menyarankan untuk pergi berkeliling melihat-lihat tempat ini. Ada sebuah mata air tak jauh dari sini, dan banyak pemuda yang sering pergi kesana.” Ujar Xing Yu sedikit takut.
Yang Jia Li langsung menoleh dengan tatapan tajam, ia memukul Xing Yu dengan kipasnya. “Dasar dayang nakal, kau pasti berpikir aku serendah itu hingga mau melihat sekumpulan pemuda ya!”
“Ampun, Yang Mulia.”
“Ampun, saya tidak bermaksud begitu.” Xing Yu bersimpuh di kaki sang permaisuri, tak dipungkiri dia begitu takut kepada Yang Jia Li, sudah banyak dayang yang mati karena Yang Jia Li tidak menyukainya. “Saya tidak bermaksud begitu, Yang Mulia. Mereka suka memancing, barangkali kita bisa mendapatkan ikan. Bukankah anda bosan hanya minum teh dan kudapan selama disini.”
“Aku akan mengampunimu, tapi … “
“Ta-ttapi apa, Yang Mulia?”
“Kau harus ceritakan tentang mereka kepadaku.”
Xing Yu awalnya bingung dengan maksud Yang Jia Li, tapi perlahan dia bisa mengerti. Seringai kecil terbit diwajahnya yang polos, “Apa yang ingin anda tahu, Yang Mulia?”
“Bagaimana perawakan mereka?”
“Mereka … “
Sengaja menjeda kalimat untuk melihat ekspresi wajah Yang Jia Li yang begitu penasaran dengan para pemuda itu, baiklah, Xing Yu akan bercerita. “Waktu itu saya tidak sengaja bertemu saat sedang mencuci baju dan mereka sedang memancing. Awalnya saya tidak tahu mengapa mereka disana, tapi mereka bilang berasal dari pemukiman di sekitar sini.”
“Para pemuda itu sangat tampan dan gagah, mereka berbadan kekar dan senang bertelanjang dada saat berada di mata air untuk berendam.”
“Mereka sangat gagah perkasa, belum lagi saat mereka menyelam dan berendam di bebatuan. Sungguh sangat menawan, Yang Mulia.”
“Ah, aku jadi ingin mencuci juga, kalau begitu biar aku saja yang mencuci sore ini!” ujar Xin yang ikut menghasut Yang Jia Li.
“Biar aku saja, kalian tetap disini saja, barangkali aku bisa bertemu dengan pemuda itu.” Ujar Lu Yi tak kalah bersemangat.
__ADS_1
“DIAM!!”
Ketiga dayang itu sontak terdiam mengunci mulut mereka, “Kita akan pergi sekarang, bersiaplah dengan cucian kalian!”