Back In Time (Reinkarnasi Selir Kejam)

Back In Time (Reinkarnasi Selir Kejam)
Siapa yang tetap bertahan?


__ADS_3

Yang Jia Li tersenyum semringah melihat sang ayah datang mengujunginya, Yang Zuo datang sambil menyelinap saat departemen kejaksaan sedang lengang. Wajar saja karena hari sudah larut, salju pertama yang turun kali ini cukup lebat dan dingin, sehingga banyak prajurit memilih untuk menghangatkan diri mereka di perapian. Lagi pula, pria tua itu punya akses istimewa mengingat di adalah ayah dari kepala departemen. Yang Zuo memberikan syal rajutan halus kepada sang putri, itu adalah hasil karya ibunda Yang Jia Li untuk putri tersayang mereka.


"Ayah?" Yang Jia Li berkaca-kaca. Sang permaisuri menerima syal berwarna merah itu.


"Pakailah! Udara semakin dingin, aku tidak mau melihatmu sakit. Ini adalah buatan ibumu, dibuat dengan sepenuh hatinya."


"Terima kasih, ayah." Yang Jia Li langsung memakai syal itu di lehernya, cuaca memang sangat dingin. Bahkan duduk di dekat perapian tak bisa menghalau dingin yang menusuk tulang. Beruntung ada syal ini, kalau tidak wajah sang permaisuri pasti sudah membeku.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Yang Zuo.


Yang Jia Li mengangguk, "Aku baik-baik saja, tapi aku takut, ayah."


"Bagaimana kalau kaisar benar-benar melengserkanku? Aku tidak bisa jauh dari kaisar ayah, aku sangat mencintainya."


Yang Jia Li menggenggam kedua tangan sang ayah untuk memohon, "Lakukan sesuatu untuk membuatku keluar dari sini. Tak masalah jika seseorang harus terbunuh atau apapun, yang penting aku bisa keluar dan kembali menjadi permaisuri."


Yang Zuo menghela napas berat, "Sayangnya semua bukti sudah terkumpul, Jia-er. Kita tidak bisa melakukan apapun selain menunggu."


"Tidak!" tolak sang permaisuri, "Pasti ada cara lain, kan."


"Tenanglah, ayah akan memikirkan cara lain untuk membebaskanmu bersama para petingggi klan. Tapi untuk sementara tetaplah disini, kau harus mengikuti arah arus agar bisa cepat sampai ke muara."


Yang Jia Li mengangguk, "Tapi sampai kapan aku harus menunggu?"


"Secepatnya, secepatnya kau akan keluar dari tempat ini."


Yang Jia Li hanya mengangguk sebagai balasan, karena memang tidak ada yang bisa ia lakukan selain menunggu para pendukungnya untuk bertindak. Yang Jia Li pun mendapat banyak informasi dari sang ayah, tentang apa yang dilakukan oleh Panglima Hao bersama dengan departemen kejaksaan. Dari kabar yang beredar, kekaisaran mulai melebarkan sayap penyelidikannya dalam kasus perdagangan merkuri hingga ke akar-akarnya. Beberapa petinggi Klan Yang terlibat di dalam penyelidikan ini, salah satunya adalah Yang Jian Zhu tentu saja.


Andil bagian Yang Jian Zhu dalam penyelidikan ini akan menjadi hal baik bagi permaisuri, karena Yang Jian Zhu diharapkan bisa membelokkan kasus sang permaisuri dan menyelamatkannya dari hukuman.


Yang Zuo juga mendapatkan kabar bahwa beberapa hari ini, Wu Li Mei sakit dan harus beristirahat total.


Mendengar itu, Yang Jia Li mengepalkan kedua tangannya kesal, lagi-lagi takdir menyelamatkan Wu Li Mei. Padahal sejak awal sudah terlihat jelas bahwa ia akan menang kali ini.


Yang Jia Li tersenyum licik saat sebuah ide muncul di kepalanya, "Ayah, selir sialan itu benar-benar sakit?"

__ADS_1


"Ya, setidaknya itu kabar yang terdengar."


"Kalau begitu mintalah Dayang Yue untuk mengambil sebuah botol kecil, berwarna putih di nakas pribadiku."


"Memangnya apa itu?" tanya sang ayah penasaran.


Yang Jia Li mengendikkan bahunya, "Ambil saja, nanti kau akan tau."


...****************...


"Uhhukk....uhhukkk......."


Darah segar kembali membekas di sapu tangan Zhou Xie Ling akibat batuk yang parah beberapa hari ini. Padahal minggu lalu, gadis kecil itu sudah menunjukkan tanda-tanda akan sembuh.


Berbagai macam obat pun sudah ia minum setiap harinya, bahkan herba langka dari Guru Zhang pun tidak ada khasiat yang berarti.


Zhou Fang Yin membantu sang adik untuk berbaring, gadis itu mengelap keringat yang membanjiri dahi Xie Ling dengan lengan hanfunya.


"Kembalilah tidur, aku akan menjagamu." ujar Zhou Fang Yin penuh ketulusan, ia menaikkan selimut hingga sebatas dada dan menggenggam erat tangan dingin sang adik.


Fang Yin tersenyum lembut, "Tak apa, aku akan menemanimu." tambahnya lagi.


"Ibu?"


"Hm."


Zhou Fang Yin beralih menatap sang kakak, "Bagaimana?" ucapnya tanpa bersuara.


Sang putra mahkota hanya menggeleng ragu, ia berjalan mendekat pada Fang Yin. "Ibu sedang beristirahat." bisiknya tepat di telinga sang putri.


"Sebentar saja, apa tidak bisa?"


Zhou Ming Hao mengendikkan bahu, ia pun tak yakin apakah bisa meminta Wu Li Mei datang saat ini. Karena sang ibu sedang beristirahat total akibat demam tinggi.


Sang selir agung menjadi demam setelah ia dibebaskan dari penjara, wajar saja karena suhu di penjara yang dingin serta makanan yang tidak berurus. Wu Li Mei memang diperlakukan layaknya tahanan paling buruk di departemen kejaksaan.

__ADS_1


Zhou Fang Yin menoleh saat jemarinya diremas pelan, "Apa aku tidak bisa bertemu ibu?" tanya sang adik lagi.


"Bisa, tapi, mungkin ibu akan sedikit terlambat."


"Memangnya ibu dimana?"


"Ibu?" Fang Yin mengulum bibirnya yang mendadak kering. "Ibu ada, ibu sedang menyiapkan obat untukmu."


"Kenapa lama sekali?"


"Itu....."


Zhou Xie Ling bersusah payah untuk bangkit, tubuhnya sangat lemas tak bertenaga, tapi ia memaksa untuk duduk. Syukurlah ada dua kakaknya yang siap siaga membantu.


Sang putri kecil menatap ke sekeliling kamar, ada banyak penghangat dan semua jendela ditutup agar angin tidak bisa masuk. Pandangannya terkunci pada jendela kecil di sisi ruangan.


"Kakak?"


"Ya?" jawab si kembar bersamaan. "Apa ada yang kau inginkan? Katakanlah." ujar Zhou Fang Yin, gadis muda itu duduk di tepi ranjang. Kedua tangannya terus menggenggam tangan Xie Ling agar lebih hangat.


"Tolong, bukakan jendela itu untukku." ujarnya, Xie Ling hanya menatap ke arah jendela itu karena tangannya tak lagi bertenaga.


Sang putra mahkota dan Fang Yin saling tatap, pesan dari Wu Li Mei dan Tabib Zhong adalah mereka harus menjaga agar pintu dan jendela selalu tertutup. Angin musim dingin akan membuat Zhou Xie Ling menggigil kedinginan lalu memperburuk kesehatannya.


Zhou Ming Hao menggeleng pelan, "Jendela itu seharusnya tetap tertutup, adik. Angin di luar sangat dingin."


"Sebentar saja, bolehkah?"


"Baiklah, sebentar saja ya."


Sang putri kecil mengangguk, tatapannya tak lepaa dari jendela kecil itu. Perasaan senang itu hadir saat sang kakak membuka jendela itu perlahan. Di luar sedang hujan salju.


Xie Ling tersenyum kecil, butiran pulih yang jatuh dari langit iti adalah kesenangan tersendiri baginya. Menyentuh salju yang dingin dan membuat boneka salju bersama para dayang adalah bagian favoritnya.


"Salju turun."

__ADS_1


"Ya, salju turun." sang kakak perempuan ikut melihat ke arah jendela, "Indah bukan? Maukah kau melihat salju denganku, tapi kau harus sembuh dulu."


Xie Ling mengangguk sendu, "Aku ingin melihat salju bersama ibu dan Dayang Hong juga."


__ADS_2