Back In Time (Reinkarnasi Selir Kejam)

Back In Time (Reinkarnasi Selir Kejam)
Makan malam


__ADS_3

Akhirnya setelah hari yang begitu melelahkan, Wu Li Mei dan semua orang yang membantunya di toko obat bisa bernapas lega. Sudah cukup untuk hari ini karena mereka harus segera kembali sebelum petang, atau Kaisar Zhou dan penghuni istana yang lain akan curiga. Stok obat juga masih cukup untuk seminggu ke depan sampai herbal yang dipesan Wu Li Mei datang lagi. Nanti setelah sampai di istana, ia akan berdiskusi dengan Tabib Zhong untuk membeli tanaman herbal yang lain.


“Kerja bagus semuanya, terima kasih untuk hari yang sibuk ini.” Ujar Wu Li Mei, ia tersenyum dari balik cadarnya. Segelas air yang dituangkan Zhou Fang Yin untuknya ditenggak habis, dahaga yang ditahan sejak siang karena pasien tidak sepi. Untuk pertama kalinya jiwanya sebagai dokter terisi kembali, di dalam prakteknya bahkan tidak pernah seramai ini.


Suo bersaudara mengangguk, “Terima kasih untuk bantuannya nyonya, dan semuanya telah bekerja keras. Hari ini toko jadi jauh lebih ramai karena ada anda.”


“Apakah biasanya tidak seramai itu?”


“Ramai juga, tapi hanya membeli obat saja, beberapa orang tidak tahu harus membeli obat apa dan kesulitan menyebutkan keluhan mereka.” Jawab Lan Suo, mereka duduk melingkar di ruang praktek Wu Li Mei ditemani segelas air dan makanan yang mereka beli dari kedai makan.


“Tapi kalian kan bisa membantu, lihat saja dari keadaannya, tubuhnya atau raut wajahnya. Kalau mereka kesulitan berikan obat yang umum saja.” Ujar Zhou Ming Hao.


“Xiao Ming benar, berikan obat untuk menambah nafsu makan dan meringankan sakit saja. Karena beberapa orang memang tidak tahu sakitnya apa, mereka hanya merasa sakit, kadang juga anak atau keluarga mereka yang sakit. Aku tadi menemukan orang yang disuruh untuk membeli obat oleh tuan mereka, saat ditanya, tentu mereka tidak tahu sakitnya apa.”


Suo bersaudara mengangguk dua kali, “Itu sering sekali terjadi nyonya, itulah yang membuat kami bingung. Dan lagi, aku juga tidak banyak tahu soal penyakit. Hanya dari buku dan penyakit umum saja.”


“Hmm, nanti aku akan memberi kalian lebih banyak buku kesehatan untuk dibaca ya.”


“Terima kasih, Nyonya Wu.”


Acara makan mereka berlangsung cepat karena Dayang Yi yang terus saja mendesak Wu Li Mei untuk kembali, meskipun sang selir dan kedua anaknya masih enggan untuk pergi, tapi mereka harus. Kalau-kalau kaisar sampai berkunjung ke paviliun dan tidak mendapati mereka ada di kediamannya, pasti kaisar akan curiga. Sebagai anggota kekaisaran, tidak boleh bagi mereka untuk bersentuhan langsung dengan rakyat selain di lingkungan istana. Dan tidak boleh mengambil keuntungan dari mereka. Sekalipun yang dilakukan Wu Li Mei sama sekali tidak memperkaya dirinya sendiri, semua keuntungan dari toko obat digunakan untuk memberi upah kepada Suo bersaudara dan menambah modal. Wu Li Mei tidak pernah mengambil sepeserpun dari mereka.


Sampai di istana, mereka disambut senja yang menguning di ujung cakrawala. Begitu elok berpadu dengan angin malam yang sejuk.


“Salam, Yang Mulia.”


“Bangkitlah, Xiao Lu.”


“Anda mendapatkan undangan untuk makan malam di paviliun kaisar, Yang Mulia. Segera setelah matahari terbenam.” Ujar Lu Yan menyampaikan pesan.

__ADS_1


Wu Li Mei membulatkan matanya, “Apa kaisar ke paviliun selir agung hari ini?”


“Tidak, Yang Mulia. Panglima Yang Zhe Yan datang mengabarkan.”


Wu Li Mei menganggukkan kepalanya, baru saja menginjakkan kaki di rumah, tapi dia sudah harus bertemu dengan kaisar. Bagaimana dengan wajahnya dan tubuhnya yang lelah bukan main ini? Ah, persetan lah, Wu Li Mei segera memerintahkan dayang untuk mengambilkan air, dia ingin membasuh tubuhnya yang banjir peluh dan keringat.


***


“Bagaimana hidangannya?”


Wu Li Mei mendongak, wanita dengan hanfu berwarna biru langit itu tersenyum lembut. “Ini enak, aku suka sup ayam dengan wangi jahe ini.”


“Kau terlihat sangat lelah, Mei’er. Memangnya apa yang kau lakukan seharian ini?”


“Aku?”


“Ya.”


Syukurlah Kaisar Zhou hanya menganggukan kepalanya dan kembali melanjutkan makannya. “Hari ini aku melihat sesuatu yang mengejutkan saat di pasar.” Ujar sang kaisar.


“Kau pergi ke pasar?”


“Iya, bersama Panglima Hao.”


“Lalu apa yang mengejutkan itu?” tanya Wu Li Mei.


Sang kaisar tampak berpikir sejenak sebelum mulai bercerita, membuat rasa penasaran Wu Li Mei semakin menjadi. “Ada sebuah toko obat di pasar, dan ramai sekali.”


Wu Li Mei menahan napas, ia mendongak dan mengerjap perlahan. “Benarkah?”

__ADS_1


“Iya, namanya Toko Obat Nyonya Wu. Dan disana ada banyak sekali orang yang membeli toko obat, kabarnya hari ini Nyonya Wu membuka praktek pengobatan seperti tabib. Tapi sayang, aku tidak bisa menemuinya secara langsung karena banyak sekali orang disana.” Sesal sang kaisar.


“Padahal aku hanya ingin mengucapkan terima kasih, dan barangkali mereka membutuhkan bantuan untuk persediaan obat. Aku sendiri bersedia membantunya, karena aku yakin jika kekaisaran yang ingin membantu dia pasti menolak.” Tambahnya.


“Mungkin dia tidak akan menolak bantuanmu, Yang Mulia.”


“Benarkah?”


Wu Li Mei mengendikkan bahunya dan kembali menyuapkan makanan ke dalam mulut, “Dia bekerja untuk kemanusiaan, dan mendapatkan tanaman herbal sedang sulit sekarang ini karena cuaca yang tidak menentu. Aku yakin dia mau mau saja saat ditawari bantuan, dia bekerja bahkan tanpa dibayar pun rela.”


Kening sang kaisar berkerut, belum juga ia bercerita lebih jauh tapi Wu Li Mei sudah membahas bagian terpentingnya. “Bagaimana kau tahu kalau dia tidak dibayar Wu Li Mei?”


“Heh?”


“Ah, itu … aku … aku mendengar para dayang membicarakannya. Mereka juga banyak yang membeli obat kesana.” Jawab Wu Li Mei tergagap.


“Begitu ya, tapi kan sudah ada pusat kesehatan, kenapa mereka tidak meminta obat kesana saja?”


Wu Li Mei menggelengkan kepalanya, “Aku juga tidak tahu Yang Mulia, barangkali keluarganya atau saat para dayang pulang dan mereka tidak sengaja mendengar kabar itu di pasar. Ku dengar toko obat itu sangat terkenal.”


“Sepertinya memang begitu.” Kaisar membenarkan, “Tapi tidakkah kau merasa aneh, Mei’er?”


“Kenapa?”


“Tidak ada seseorang yang terlahir bermarga Wu disini.”


Satu detik …


Dua detik …

__ADS_1


Kedua orang yang tengah melangsungkan makan malam yang panjang itu terdiam sambil menatap satu sama lain, tapi dengan pikiran yang jauh berbeda. Astaga! Benar juga, kenapa hal itu tidak sama sekali terpikirkan oleh Wu Li Mei sejak awal. Tidak ada keturunan marga Wu di Dinasti Ming, bahkan di negara asalnya, Dinasti Hang, hanya keturunan keluarga kerajaan murni yang boleh bermarga Wu.


“Itu … mungkin itu … hanya nama samaran saja.” Jawab Wu Li Mei mencoba meyakinkan kaisar.


__ADS_2