Back In Time (Reinkarnasi Selir Kejam)

Back In Time (Reinkarnasi Selir Kejam)
Mengawasi permaisuri


__ADS_3

Sesuai dengan rencana yang sudah dibuat kemarin, hari ini Ibu Suri menjalankan tugasnya. Wanita dengan hanfu biru langit itu berjalan anggun menuju paviliun ratu, ia membawa serta rombongan dayangnya.


"Apa aku sudah terlihat cantik?" tanya Ibu suri pada dayang pendampingnya.


Sang dayang mengangguk pelan, "Sudah, Yang Mulia."


"Kau sudah pastikan dia ada di paviliunnya?"


"Tentu, Yang Mulia."


Ibu suri menghela napas kasar saat ia menapakkan kaki di pelataran paviliun ratu, dan tidak ada yang berubah dengan tempat itu. Masih penuh dengan koleksi guci bernilai tinggi. Yang Jia Li memang senang sekali mengoleksi guci antik, yang harganya sanggup untuk membantu rakyat yang kelaparan karena paceklik musim dingin.


Kunjungan sang ibu suri kali ini memang mendadak tanpa memberi tahu Yang Jia Li, tujuannya tentu untuk membuat permaisuri itu kerepotan.


Dan, benar saja. Saat melihat Ibu Suri beserta rombongan memasuki paviliun ratu, para dayang di paviliun itu tunggang langgang mempercepat pekerjaan mereka. Tak terkecuali Yang Jia Li, wanita cantik itu dibuat kaget setengah mati. Seingatnya sudah lebih dari satu tahun lamanya, sang ibu mertua enggan untuk menginjakkan kakinya disini.


Yang Jia Li langsung memerintahkan para dayang untuk meriasnya secepatnya, karena seperti biasa ia harus tampil anggung dan paling cantik.


"Salam, Ibu Suri!" sapa Yang Jia Li, wanita itu menyambut Ibu Suri di pelataran paviliun ratu.


"Bangkitlah!"


Yang Jia Li tersenyum manis, "Ada perihal apakah ibu berkenan mengunjungiku?" tanyanya.


Ibu Suri menggeleng pelan, "Tidak ada, aku hanya ingin memberikan baju hangat untukmu."


Dayang dari barisan tengah langsung menghadap Ibu Suri, ia membawa sebuah kotak kayu berbentuk persegi dengan ukiran naga. Sang dayang memberikan kotak itu pada Yang Jia Li.


Dayang Yue menerimanya, cepat-cepat Yang Jia Li langsung membuka kotak itu. Di dalamnya ada rajutan baju hangat yang selembut beludru, terbuat dari sutra dan hangat.


Yang Jia Li membelalakkan matanya, "Uwahhh, ini sungguh indah. Terima kasih, Ibu Suri. Sebuah kehormatan bagi saya untuk memakai ini, rajutan penuh cinta kasih dari Ibu Suri."


"Oh, anda pasti lelah membuatnya."


"Tidak tidak!" sangkal Ibu Suri, "Bukan aku yang membuatnya, aku memesannya kepada tukang jahit istana."


"O..oh.. oh. benarkah?"


Ibu Suri mengangguk, rajutan baju hangat itu adalah buatan para tukang jahit istana. Ibu Suri memesannya sebuah baju hangat khusus untuk Yang Jia Li, ia bahkan meminta para tukang jahit untuk menyelesaikan segera. Ibu Suri jadi penasaran bagaimana jika baju hangat itu dipakai oleh Yang Jia Li, pasti akan sangat cocok. Ibu Suri bahkan tidak ingat pastinya, ia pernah memberikan sebuah hadiah untuk Yang Jia Li. Sejak permaisuri itu memasuki istana, dia adalah orang yang menentang pernikahan antara Yang Jia Li dengan Kaisar Zhou.


Sekalipun Yang Jia Li masih berdarah biru, tapi Ibu Suri khawatir jika ia akan berbuat kekacauan seperti ayahnya, Yang Zuo.


"Jadi?"


"Jadi?" ulang Yang Jia Li, ia sampai melamun memikirkan alasan Ibu Suri mengunjunginya.

__ADS_1


"Kau tidak nenyuruhku masuk?"


"Oh!" Yang Jia Li menutup mulutnya dengan kedua tangan. "I.. I. Iya, iya, tentu saja."


"Silahkan masuk ibu suri."


...****************...


"Aneh bukan?" Yang Jia Li menaikkan kakinya ke atas dipan yang tengah ia duduki. Posisi wanita itu jadi setengah berbaring.


Zhou Xing Huan menahan senyumnya, "Apa yang aneh dari seorang mertua menemui menantunya?"


"Tapi dia tidak biasanya seperti itu."


"Maksudmu?"


"Dia tidak pernah mengujungiku hampir setahun lamanya."


Sang pangeran terkekeh, "Kau aneh sekali wahai permaisuri, bukannya sebaiknya kau menyambut baik kedatangan Ibu Suri padamu? Siapa tahu kau bisa menghasutnya untuk semakin membenci Wu Li Mei."


Yang Jia Li menjentikkan jemarinya, "Ah iya, kau benar juga."


"Ya, aku memang benar."


"Menurutmu apa yang bisa aku lakukan?" tanya Yang Jia Li.


"Seperti biasanya?" tanya Yang Jia Li, "Oh, ayolah, tidak bisakan kau langsung ke intinya?!"


"Kau kan pandai memfitnah orang lain."


"Memfitnah?"


"Ya."


"Tapi, bagaimana?"


"Katakan segala keburukan Wu Li Mei pada Ibu Suri." jawab Zhou Xing Huan, lama mengenal sang permaisuri membuatnya jadi hafal pada watak dan perilaku Yang Jia Li.


Sang permaisuri sangat pandai bersilat lidah, sekalipun belum tentu bisa mempengaruhi orang itu. Tapi ia selalu bisa mencari celah di antara kesempurnaan musuh-musuhnya.


"Apa kau yakin itu akan berhasil?"


"Tentu saja, kau harus menghasutnya setiap hari, jika tidak, wanita tua itu akan melupakannya."


Yang Jia Li mengangguk-angguk, tentu saja itu salah keahliannya. Yang Jia Li sangat senang mengadu domba dan menyebarkan kebencian.

__ADS_1


"Omong-omong, bagaimana rupa baju hangat itu?" tanya Zhou Xing Huan.


Yang Jia Li tersenyum lebar, ia lalu melepaskan ikatan hanfunya. "Disini!" ujarnya sambil membuka hanfu miliknya.


Sial, rupanya baju hangat yang diberikan Ibu Suri adalah pakaian dalam. Zhou Xing Huan mengalihkan tatapannya dari dada sang permaisuri yang menyembul keluar.


"Ya.. ya... baju itu cocok untukmu." puji sang pangeran.


Angin dingin kembali berhembus, Yang Jia Li memeluk tubuhnya sendiri tanpa menutup kembali hanfunya. "Oooh, bukankah angin ini sangat dingin?" tanyanya.


"Ya, sebaiknya kau kembali ke paviliunmu." balas Zhou Xing Huan.


"Tapi, aku ingin kehangatan."


"Tidak ada bara api disini, jadi kembalilah dan hangatkan dirimu."


Yang Jia Li membasahi bibirnya, ia sengaja menggigit bibir bawah untuk menggoda Zhou Xing Huan. "Mengapa kau tidak membantuku?"


Sang pangeran mengerutkan keningnya, "Membantu apa?"


"Membuat nyala api kita sendiri." ujar Yang Jia Li, wanita itu menunduk untuk menggeser meja hidangan yang menjadi pembatas dirinya dengan Zhou Xing Huan.


Gerakan itu sontak membuat sang pangeran mengalihkan pandangannya, ia tak sengaja melihat lebih banyak saat Yang Jia Li menunduk. "Apa yang kau lakukan, permaisuri?"


"Melakukan apa?" pancing wanita itu, ia mendekatkan dirinya secara perlahan. Memangkas jarak yang tercipta antara dirinya dengan sang pangeran timur.


"Perbaiki kembali hanfumu, Yang Mulia. Udara semakin terasa dingin."


Zhou Xing Huan semakin tercekat, bagaimana pun ia adalah laki-laki, dan disuguhkan dengan godaan seperti ini. Tentu gairah dalam dirinya bangkit, ia tak pernah sekalipun menyentuh wanita. Karena ia tinggal dipengasingan untuk waktu yang lama, dan lagi, sang pangeran selalu menjaga hatinya untuk Wu Li Mei.


Yang Jia Li membelai rahang tegas pria di hadapannya itu dengan telunjuknya, "Mengapa kau tidak memperbaikinya untukku?"


"Atau?"


"Atau apa?" sela sang pangeran cepat.


"Atau kau ingin melihat lebih banyak?"


Yang Jia Li semakin menjadi, wanita itu meraih telapak tangan Zhou Xing Huan untuk ia arahkan pada tubuh bagian atasnya. Tapi, belum sampai menyentuh, sang pangeran segera menarik kuat tangannya.


Zhou Xing Huan bangkit dengan napas tersengal, "Maaf, saya harus pergi. Salam, Yang Mulia Permaisuri!"


"Sial." desis Yang Jia Li.


Ia memperbaiki kembali hanfunya, sambil terus mengumpat dalam hati. Ia gagal menggoda Zhou Xing Huan, entah apa persamaan pria itu dengan kaisar, tapi mereka sama-sama menolak godaan Yang Jia Li.

__ADS_1


Dan, semua hal itu tak lepas dari pengamatan seseorang di seberang tempat , ia tersenyum miring melihat Yang Jia Li pergi dengan rasa marah.


"Kena kau! Permaisuri licik."


__ADS_2