Back In Time (Reinkarnasi Selir Kejam)

Back In Time (Reinkarnasi Selir Kejam)
Berduka


__ADS_3

Istana yang damai itu kini tengah berduka, disambut dengan salju yang kembali turun perlahan-lahan. Semilir angin dingin pun datang membawa sendu dan pilu tak berkesudahan. Mendung di langit kala itu, semakin menambah suram suasana hati yang berkabung.


Wu Li Mei tampak kacau, matanya sembab dan lingkaran berwarna hitam samar terbentuk di kelopak matanya. Wanita itu mengenakan hanfu berwarna putih tanpa ornamen dan tusuk konde sederhana, senada dengan warna hanfu semua anggota kekaisaran, para dayang dan prajurit. Pemakaman untuk sang putri kecil akan digelar pagi ini, di bawah rinai salju yang beku. Entah apa jadinya nanti, kasihan Zhou Xie Ling jika harus kedinginan.


Setelah semalaman penuh menangisi sang putri kecil, Wu Li Mei akhirnya merelakan jasad Xiao Ling untuk dimakamkan. Bersebelahan dengan mendiang putra dari sang permaisuri, Yang Jia Li.


"Ibu, kau baik-baik saja?" tanya Zhou Fang Yin, sang putri berdiri sambil merangkul tubuh lemah sang ibu.


Wu Li Mei mengangguk pelan, "Ya."


"Jika ibu merasa kurang sehat, kita bisa kembali saja." ujar Zhou Ming Hao.


"Tak apa, sungguh, ibu baik-baik saja."


Upacara pemakaman dimulai, jasad sang putri diberi riasan yang sangat cantik dan dimasukkan ke dalam peti kayu dengan ukiran bunga yang sangat cantik.


Wu Li Mei menengadah saat salju turun semakin lebat, baju hangat yang membungkus tubuhnya tak mampu menahan dingin yang bercampur dengan pilu. "Mengapa salju turun lebat di hari pemakaman putriku?" guman Wu Li Mei.


"Itu karena putri ingin sekali melihat sajlu."


Wu Li Mei sontak menoleh, mengabaikan upacara yang sedang berlangsung dengan hikmat. Sang selir menatap wanita tua di samping Zhou Ming Hao itu campur aduk, antara sedih dan bahagia.


Dia adalah Dayang Hong, dayang tua yang mengabdikan hidupnya untuk Dinasti Ming dan pengasuh Zhou Xie Ling sejak bayi. Dayang Hong bahkan sudah seperti ibu sambung bagi sang putri kecil, tak heran jika dayang itu selalu punya tempat terbaik di hati Xie Ling melebihi Wu Li Mei.


"Dayang Hong." ujar Wu Li Mei pilu, sang selir agung tak mampu membendung air matanya lagi. Ia terisak kecil sambil menatap ke arah Dayang Hong.


"Maaf, Yang Mulia. Saya terlambat untuk datang." ujar sang dayang. "Putri pergi karena kelalaian saya."

__ADS_1


Dayang Hong tak sanggup lagi menahan kesedihannya melihat Xie Ling dimakamkan oleh para prajurit. Sebentar lagi, putri kecil itu akan abadi di tanah subur nan sejahtera Dinasti Ming. Syukurlah kini putri itu tak lagi merasakan sakit di tubuhnya, tak lagi batuk berdarah, dan tak lagi minum ramuan herbal yang pahit dengan bau menyengat. Tapi, harga mahal yang harus dibayar untuk kenyamanan itu adalah nyawanya sendiri.


Upacara pemakaman berlangsung singkat karena salju turun mulai lebat, satu persatu anggota kekaisaran pergi meninggalkan area pemakaman. Dimulai dari Kaisar Zhou, pria itu tak bisa berlama-lama melihat banyak orang tampak terpukul karena kematian sang putri. Ia pun sedih dan merasa gagal untuk melindungi putrinya, tapi bagaimana pun ia sudah berusaha yang terbaik.


...****************...


Wanita itu tersenyum cerah menghirup aroma melati yang menyeruak di ruangan tempat ia berdiri, ia berputar mengelilingi kamarnya dengan bahagia. Seperti ini lah seharusnya wanita istana berada, di paviliun mewah dan megah. Bukan di penjara yang kotor dan dingin.


Yang Jia Li membuka tirai kamarnya, ia membaringkan diri di ranjang empuk miliknya. Setelah hampir seminggu lamanya ia mendekam di penjara departemen kejaksaan. Yang Jian Zhu bahkan tidak memberinya tempat yang layak, dasar pria itu! Sang permaisuri harus segera memberinya pelajaran.


"Kau senang?"


Yang Jia Li tersentak, ia segera bangkit dan mencari sumber suara. "Siapa disana?" tanyanya.


Seseorang muncul dari balik tirai pemisah ruangan itu, seorang wanita dengan hanfu berwarna putih serupa dengannya. Mata sembab itu menatapnya tajam dan dingin, bagai pedang yang menghunus tepat di manik matanya. Seandainya itu nyata, pasti Yang Jia Li sudah terluka saat ini.


Yang Jia Li bersedekap, "Sungguh lancang! Seorang selir berani menyusup ke paviliun ratu tanpa izin."


"Apa aku harus memanggil pengawal agar kau diusir dari sini?"


"Apa kau yakin bisa mengusirku?" tanya Wu Li Mei, ia menyeringai sambil melangkah mendekati sang permaisuri.


Alis matanya terangkat sebelah, "Setelah semua yang kau lalukan, apa kau yakin bisa mengenyahkanku?"


"Mengapa tidak?!"


"Tentu saja tidak."

__ADS_1


Wu Li Mei bersedekap mengangkat dagunya, bersikap seangkuh mungkin di hadapan Yang Jia Li. Ada yang harus ia lakukan disini, yaitu untuk memberikan sang permaisuri licik itu peringatan. Sudah cukup ia diam selama ini melihat Yang Jia Li selalu menang atas kejahatannya.


"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Yang Jia Li.


Wu Li Mei menghentikan kegiatannya menyentuh guci-guci mahal koleksi sang permaisuri, ingin rasanya ia melemparkan satu guci berharga ribuan koin emas itu kepada pemiliknya hingga hancur berkeping-keping. Agar Yang Jia Li tahu bagaimana rasanya kehilangan sesuatu yang berharga.


Wu Li Mei terdiam, ia melangkah lebih dekat. Tangannya terangkat menyeka bulir salju yang menempel di hanfu sang permaisuri.


"Apa kau sudah merasa puas?"


"Apa maksudmu?" tanya Yang Jia Li berpura-pura tidak tahu.


"Apa maksudku?" balas Wu Li Mei. "Kau masih mencoba berpura-pura bodoh setelah semua ini, dasar wanita ular!"


"Jika kau pikir kau bisa menghancurkanku lewat Zhou Xie Ling, kau salah!"


"Semua yang kau lakukan hanya akan membuatmu rugi sendiri, Yang Jia Li."


Tangan lentik Wu Li Mei terangkat menyusuri kerah hanfu wanita di hadapannya itu, naik perlahan hingga ke leher putih Yang Jia Li. Sang permaisuri memekik tertahan saat ia didorong hingga membentur dinding kamarnya.


"Sial!!"


"Apa yang kau lakukan!! Lepas!!" sentak Yang Jia Li, mencoba melepaskan tangan Wu Li Mei yang semakin kuat mencekik lehernya.


Wu Li Mei terkekeh pelan sambil menyeringai ke arah seorang wanita yang memberontak kesakitan itu, ia semakin senekan tangannya untuk lebih kuat mencekik Yang Jia Li.


"Seperti inilah rasanya meminum racun, Yang Jia Li." ujarnya.

__ADS_1


"Dan kau akan merasakan yang lebih sakit dari ini." Desis Wu Li Mei.


__ADS_2