Back In Time (Reinkarnasi Selir Kejam)

Back In Time (Reinkarnasi Selir Kejam)
Menuju toko obat


__ADS_3

Ho Xin Xin dibawa paksa menuju aula barat untuk menjalani pemeriksaan dengan kejaksaan yang dipimpin oleh Yang Jian Zhu, dekat pahit pria itu harus menelan kenyataan yang dia lihat sendiri dengan mata kepalanya. Yang Jian Zhu memilih untuk menutup mata akan kebenaran dan melakukan apa yang seharusnya dia lakukan sebagai kepala departemen kejaksaan. Kali ini, satu lagi manusia tidak bersalah menjadi korban atas perilaku ayah dan adiknya. Tidak mungkin seorang Yang Jia Li tidak turun tangan untuk menghancurkan Wu Li Mei, tapi kali ini mereka menggunakan selir tak bersalah itu sebagai kambing hitam.


Ho Xin Xin yang tidak tahu apa-apa hanya bisa meronta saat dia dituduh sebagai dalang dibalik insiden toko obat milik Nyonya Wu. Ini gila, dia tidak ada hubungannya dengan kejadian itu lalu lima orang yang ditangkap oleh Panglima Hao dan prajuritnya mengaku sebagai orang suruhannya.


“Tidak! Sudah kukatakan aku tidak tahu apa-apa, aku bahkan tidak tahu dengan toko obat itu, dan … siapa Nyonya Wu aku tidak tahu!” ujar sang selir untuk kesekian kalinya.


“Lalu bagaimana bisa mereka mengaku sebagai orang suruhanmu, Selir Ho?” tanya Yang Jian Zhu.


“Mana aku tahu, kau tahu sendiri aku tidak pernah ikut campur dalam masalah politik, lepaskan aku! Aku tidak bersalah!”


“Kalau begitu tolong jelaskan ini!”


Yang Jian Zhu memberikan lima buah giok yang memiliki nama Ho Xin Xin disana, lima giok itu adalah milik para pemuda berpakaian serba hitam yang mengaku sebagai orang suruhan sang selir.


Ho Xin Xin hanya bisa menggeleng kuat dan menahan air mata yang hendak jatuh dari pelupuk matanya. “Aku tidak melakukan apapun selain menjalani kehidupanku dan menjaga anakku, itu saja, aku tidak pernah memiliki giok semacam ini. Tidak! Ini pasti hanya jebakan, ada orang yang merencana menghancurkanku! Ini pasti hanya akal-akal mereka saja.” Sanggahnya.


“Bukankah ini upah yang kau berikan untuk mereka?”


“Bukan! Bukan, Yang Jian Zhu!! Aku harus mengatakan ini berapa kali lagi!!” teriaknya marah, di kursi pengakuan itu kedua tangan dan kakinya dipasang alat khusus agar tidak lari, kalau tidak memberontak pasti alat itu tidak akan melukai. “Bukan aku!! Lepaskan aku, aku tidak bersalah, aku harus mengurus anakku dan tidak ada waktu untuk semua ini, lepas!”


“Kau harus memberikan alasan yang jelas mengapa kau menyuruh mereka menghancurkan toko obat milik Nyonya Wu?! Padahal toko obat itu sangat bermanfaatkan bagi rakyat.” Ujar Yang Jian Zhu, perlahan kebohongan ini akan menyakiti dirinya sendiri. Dan Jian Zhu selalu tidak punya pilihan lain selain mengikuti apa yang menjadi skenario dari ayahnya. Atau dia sendiri yang akan mendapat masalah.


Kaisar Zhou dan Wu Li Mei yang melihat di belakang layar hanya bisa menghela napas, kedua anak Wu Li Mei juga ikut hadir disana. Dengan wajah gamang dan bingung, mereka ingin melihat ini sampai akhir.

__ADS_1


Hingga akhirnya Yang Jian Zhu memutuskan untuk menahan Selir Ho sementara waktu di penjara kejaksaan sampai terbukti tidak bersalah. Ini adalah kenyataan pahit yang harus diterima oleh Ho Xin Xin karena dia sama sekali tidak bersalah tapi tengah dipersalahkan, atas tuduhan yang ia sendiri tidak tahu apa itu. Bukan dia pelakunya, tapi tidak ada penolong bagi dirinya, menjadi selir kaisar dari kalangan bangsawan biasa seperti dirinya masih terlalu sulit untuk bertahan. Memastikan semuanya tepat pada tempatnya dan tidak pernah berulah, nyatanya tidak membuatnya tetap aman.


“Yang Mulia, aku pikir ini bukan salah Selir Ho.” Ujar Wu Li Mei sendu.


“Aku juga berpikir begitu, tapi kita tidak tahu apa yang terjadi karena para pemuda itu mengatakan disuruh oleh Ho Xin Xin.”


“Dia tidak bersalah, aku menduga ini pasti ulah orang lain, mungkin permaisuri atau ayahnya lagi. Yang Zuo adalah pemberontak, dia pasti sedang menjalani kebiasaannya menjadi pemberontak karena putrinya diasingkan.”


“Aku masih meminta Panglima Hao untuk melakukan penyelidikan atas ini, semoga saja ditemukan pelaku yang sebenarnya.”


Wu Li Mei mengangguk, merasa iba dengan nasib Ho Xin Xin yang tidak tahu apa-apa tapi dipersalahkan. Sang selir agung menoleh kepada putra dan putrinya yang setia berada di sampingnya, “Ibu, sudah ada kabar dari Dayang Yi.” Ujar Zhou Ming Hao.


“Apa katanya?” tanya Wu Li Mei setengah berbisik.


Putra mahkota menghampiri sang ibu dan berbisik, “Suo bersaudara selamat, tapi toko obat hancur lebur, hanya sebagian kecil saja yang bisa diselamatkan. Bagaimana ini bu? Kita bisa rugi dan rakyat tidak akan punya obat lagi, sementara wabah belum berakhir. Ku dengar ada orang-orang dari negeri lain yang datang ke ibu kota hanya untuk membeli obat.”


Tanpa berpikir panjang, dua anak itu langsung mengangguk. “Ya, kami bisa.”


“Kalau begitu kami pergi dulu ibu.”


“Hati-hati kalian berdua!”


Zhou Ming Hao dan Zhou Fang Yin segera pergi dari aula barat, mereka bergegas menuju paviliun masing-masing untuk berganti pakaian yang lebih sederhana. Mereka membawa keping logam secukupnya untuk menyewa tempat yang mungkin bisa menjadi tempat tinggal Suo bersaudara untuk sementara waktu. Keadaan masih sangat genting, dan mereka membutuhkan Wu Li Mei ada bersama mereka untuk kepentingan toko obat.

__ADS_1


Saat di gerbang belakang, kedua anak itu bertemu dengan Dayang Yi dan Lu Yan, yang diperintahkan oleh Wu Li Mei untuk mengawal kedua anaknya. Hari yang sangat panjang dan tidak terduga, “Dayang Yi, Dayang Lu.”


“Salam, Yang Mulia.”


“Kalian … “


“Kami diperintahkan untuk mengawal putra mahkota dan Putri Fang Yi ke pasar.”


Zhou Fang Yin mengangguk dua kali, “Kalau begitu kita harus cepat karena kita harus kembali sebelum gelap atau orang-orang akan curiga.”


“Ya, Yang Mulia.”


Keempat orang itu berjalan cepat menuju pasar, mengikuti jalan yang biasanya mereka tempuh untuk datang lebih awal. Tapi di tengah perjalanan, ada hal mengejutkan yang membuat mereka akhirnya bisa bernapas lega.


Suara derap kuda membuat mereka menoleh, “Ibu?”


“Astaga! Ibu, bagaimana bisa?” tanya dua anak itu saat sang ibu menyusul mereka dengan kuda.


Wu Li Mei segera turun dari kudanya, diikuti Tabib Zhong yang juga membawa kuda di belakangnya. “Ibu pikir tidak akan sempat mengejar kalian, tapi syukurlah kita bisa.”


“Bagaimana bisa?”


“Ceritanya panjang.” Ujar Wu Li Mei menoleh kepada Tabib Zhong, “Sekarang yang paling penting adalah kita harus menyelamatkan toko obat dulu.”

__ADS_1


“Baik bu.”


“Iya, Yang Mulia.”


__ADS_2