Back In Time (Reinkarnasi Selir Kejam)

Back In Time (Reinkarnasi Selir Kejam)
Lukisan peony


__ADS_3

Perjalanan pulang terasa lebih melelahkan hari ini, di tengah padatnya penghujung minggu bagi tiga anggota kerajaan itu. Tapi sampai detik ini, di hari kesekian praktek di buka, raut lelah itu selalu penuh binar bahagia. Alasannya adalah karena mereka telah bekerja untuk sebuah kebaikan, dan itu menjadikan peran mereka berguna bagi rakyat Dinasti Ming.


Sebagai anggota kekaisaran selama ini mereka merasa kurang memberikan peran. Kerjanya di istana hanya duduk-duduk saja tanpa melakukan hal yang berat, tidak juga bertemu rakyat biasa kecuali para dayang dan prajurit. Dengan toko kini mereka merasa lebih hidup dan dibutuhkan.


Yang paling membahagiakan adalah setiap perjalanan pulang, karena ketiganya selalu berjalan kaki dan melewati pemukiman penduduk. Wu Li Mei dan kedua anaknya sangat populer di kalangan masyarakat, tak jarang mereka disapa dengan hormat dan diberi beberapa buah tangan.


Contohnya saja saat ini, Wu Li Mei tengah menghentikan perjalanannya karena ada tiga orang anak berpakaian lusuh memberinya buah persik.


"Hati-hati, nak!" ujar Wu Li Mei kepada salah satu dari mereka yang tengah memanjat pohon persik. "Jika itu terlalu sulit, tak apa kau bisa turun saja. Lagi pula ini sudah jauh lebih cukup untuk kami bertiga."


Wu Li Mei menatap beberapa buah persik yang mereka petikkan untuknya, dua diantaranya sedang dilahap oleh Zhou Ming Hao dan Zhou Fang Yin. Anak kembar sekaligus sayap bagi sang selir agung, sepertinya rasa buah itu enak dan manis karena kedua anaknya yang suka pilih-pilih makanan itu tampak menikmatinya.


Udara sore yang hangat di musim semi dan buah persik adalah yang terbaik, kedua anak kembar itu duduk di pagar batu dengan pohon persik sambil menonton pertandingan sepak bola anak-anak di kampung yang mereka lewati.


"Tenang saja, nyonya, Kakak Long sangat pandai memanjat pohon seperti tupai." sahut anak lain.


Wu Li Mei tersenyum sambil mengusap surai pendek anak perempuan yang berada dekat dengannya. "Oh, benarkah?"


"Ya, tentu saja."


"Iya, tunggulah sebentar saja nyonya, aku akan meraih buah yang sudah masak itu." ujar Long.


"Baiklah kalau begitu."


Wu Li Mei pasrah, ia berulang kali meminta anak tadi untuk turun saja dan tidak perlu bersusah payah. Lagi pula persik di istana juga belum ia ambil lagi, pasti buahnya sudah banyak sekarang.


Pohon persik di jalan ini ternyata di tanam oleh kekaisaran dan diperuntukkan untuk rakyat biasa yang ingin mengambil buah secara gratis. Kekaisaran sengaja menanam beranekan ragam pohon buah di sepanjang jalan ini agar bisa dinikmati oleh siapapun, dan karena bebas diambil gratis, masyarakat juga harus merawat pohon itu sebagai balas jasa.


Wu Li Mei baru mengetahui fakta itu dari Zhou Ming Hao, katanya sang putra mahkota ikut menanam beberapa pohon lagi di tempat lain.


Rakyat biasa sering kali kesulitan membeli buah-buahan, jadi kaisar mempersiapkannya untuk membantu pangan masyarakat menjadi lebih baik. Daripada mengonsumsi berry liar yang terkadang beracun, persik jauh lebih baik, dan buah itu pun sangat mudah untuk tumbuh di Negeri Ming.


"Bu, kurasa ini sudah cukup, atau kakak akan menghabiskan semuanya saat ini." sarkas Zhou Fang Yin.

__ADS_1


"Hei, aku hanya memakan beberapa, kau juga makan banyak."


"Enak saja, aku hanya menghabiskan dua." sanggah sang putri, "Lihatlah kau bahkan menghabiskan lebih dari lima buah, tidakkah kau merasa kasihan pada anak-anak itu yang bersusah payah mengambil buah!?"


Zhou Ming Hao memutar bola matanya malas, "Mereka yang menawarkan diri, aku sama sekali tidak meminta."


"Dasar kau ini!"


Sang putri memberikan sebuah wadah dari anyaman bambu itu kepada Wu Li Mei, buah persik di dalamnya masih banyak padahal sudah dimakan oleh kedua anaknya.


Sang selir melambaikan tangannya sebagai tanda menyuruh ketiga anak itu untuk mendekat, "Tiga bersaudara Long?" panggilnya.


"Ya, nyonya."


"Terima kasih banyak untuk buah persik ini," ucap Wu Li Mei penuh ketulusan. "Dan, sebagai imbalan untuk kebaikan kalian, aku akan memberikan ini."


Ketiga anak itu terbengong karena mendapatkan buah persik yang mereka petik untuk sang nyonya.


"Tapi, nyonya?"


"Kami memetik buah ini untuk nyonya."


"Aah, ya, tentu saja, tapi aku pun tidak akan bisa menghabiskan semuanya. Jadi, sayang jika nantinya akan membusuk, kalian bantulah aku menghabiskan buah itu ya." pinta Wu Li Mei.


"Emm... Bagaimana dengan tuan dan nona muda itu." tanya mereka.


Zhou Ming Hao dan Zhou Fang Yin menggeleng bersamaan, "Tak apa ambillah saja, kami sudah kenyang memakan beberapa, buahnya sangat manis, sungguh!"


"Oo begitu ya."


"Baiklah kalau begitu, terima kasih nyonya, tuan dan nona. Selamat melanjutkan perjalanan."


Ketiga anak itu melambaikan tangan sebelum berlari kecil dengan riang untuk.kembali ke rumahnya.

__ADS_1


Wu Li Mei melanjutkan perjalanan yang masih cukup jauh, namun meski begitu berjalan kaki sejauh mana pun tidak akan terlalu lelah disini, jauh berbeda dengan kehidupannya dahulu yang kemana-mana serba menggunakan kendaraan.


Bukankah sudah sering ia katakan, bahwa udara disini sangat sehat dan ia pun merasa sehat sepanjang masa disini.


"Bu, ada rombongan kaisar!" tunjuk Zhou Ming Hao.


"Oh ya, dimana?"


"Itu!" tunjuk Zhou Fang Yin pada rombongan berkuda dan satu tandu besar tempat kaisar duduk. Rupanya sedang ada kunjungan ke suatu tempat tak jauh dari pusat kota.


"Mau kemana mereka?"


"Kurasa kaisar akan mengunjungi negeri barat yang sedang dilanda kekeringan."


Wu Li Mei mengerutkan keningnya, "Kekeringan? Di musim semi?"


Sang putra mahkota mengangguk, "Ya, bu, salah satu desa di negeri barat tidak mendapatkan sumber air yang cukup karena berada di pegunungan kapur. Kaisar akan meninjau tempat itu dan juga pembuatan kanal disana." jelasnya, Wu Li Mei hanya mengangguk-anggukan kepala sebagai tanda mengerti.


Sang selir dan kedua anaknya menundukkan kepada saat rombongan mulai melewati mereka. Salah satunya agar kaisar ataupun Panglima Hao yang memimpin rombongan tidak melihat mereka berkeliaran.


"Jadi kaisar akan pergi? Berapa lama?"


Ming Hao menggeleng, "Aku tak tahu bu, mungkin juga hanya beberapa hari jika semuanya berjalan lancar."


"Apa ibu khawatir akan merindukan kaisar?" celetuk sang putri.


"Eh.. tidak!"


"Ah, ibu ini bisa saja, kaisar hanya akan pergi untuk beberapa hari saja jadi ibu tidak perlu merindu." goda Ming Hao.


"Nanti kalau kaisar kembali, ibu bisa melepas rindu. Ku rasa satu lagi bayi kecil akan sangat lucu, bu." Fang Yin mengerling pada sang kakak, memberikan kode yang sanggup diterjemahkan juga oleh Wu Li Mei.


Merasa geram karena dipermainkan, Wu Li Mei meraih telinga keduanya untuk ia putar pelan. "Ow, jadi kalian sudah berani melawan ibu ya."

__ADS_1


"Awh, ampun bu sakit."


"Ibu, aw, telingaku sakit." Keluh kedua anak itu sambil terus mencoba melepaskan diri. Saat berhasil terlepas, keduanya berlari menjauhi Wu Li Mei sambil tertawa keras dan terus menggoda sang ibu.


__ADS_2