
Jika kita ingin mendapatkan sesuatu yang berharga, maka kita juga harus mengorbankan sesuatu yang berharga.
Guru Zhang tersenyum tipis. Akhirnya setelah pencarian yang panjang, ia berhasil menemukan siapa orang yang menjual merkuri pada Yang Jia Li.
Sang guru besar memainkan hiasan giok dengan ukiran dan ornamen khas, yang hanya dimiliki oleh permaisuri. Giok itu pasti menjadi bayaran yang pantas untuk sekantung bubuk merkuri. Tapi sayangnya, kali ini Yang Jia Li bermain dengan ceroboh, mengapa ia tidak membayar dengan keping emas atau salah satu guci koleksinya saja. Sang permaisuri malah membayar dengan hiasan giok bertulis 'Yang Jia Li' pemberian dari kaisar.
"Lepaskan!! Aku tidak bersalah!!"
Guru Zhang mengalihkan pandangannya, pada seorang pedagang gelap yang meronta karena tangan dan kakinya diikat kuat oleh para prajurit istana.
"Aku tidak bersalah!"
"Ku mohon, lepaskan aku!"
Guru Zhang menyimpan kembali giok itu, ia bangkit dan mensejajarkan tubuhnya dengan sang pedagang. "Lepaskan?"
"Saya mohon tuan, lepaskan saya. Saya hanya diperintah untuk membawa benda itu dari negeri sebelah, saya tidak tahu apa-apa."
"Benarkah?"
Sang pedagang mengangguk, "Saya berani bersumpah, tuan." ujar laki-laki tua itu, ia amat ketakutan karena lebih dari lima pemuda berpakaian serba hitam tiba-tiba datang untuk menangkapnya.
"Simpan saja penjelasanmu itu untuk nanti!" ujar Guru Zhang.
"Ta.. ta.. tapi saya tidak bersalah."
Guru Zhang menaikkan sebelah alisnya, "Tidak bersalah? Kau bersalah karena telah menyeludupkan barang berbahaya ke dalam Dinasti Ming. Apa menurutmu itu bukan sebuah kesalahan besar?"
"Dan lagi, aku membutuhkanmu untuk menyalahkan seseorang."
Guru Zhang memberikan perintah kepada prajurit yang ia bawa untuk memasukkan sang pedagang ke dalam kereta. Mereka akan segera kembali ke istana secepatnya.
...****************...
"Kau tidak memakan makananmu lagi?" tanya Yang Jian Zhu saat pria itu sampai di penjara Wu Li Mei, makanan yang diberikan pada sang selir sama sekali tak tersentuh.
Pria itu berjongkok, mengambil kembali piring berisi makanan dan menggantinya dengan yang baru. "Jika kau tidak makan, kau akan sakit."
__ADS_1
Wu Li Mei tersenyum sinis, "Sejak kapan kesehatanku penting bagimu."
"Ya, memang tidak." jawab Yang Jian Zhu asal, "Tapi waktumu untuk mati masih lima hari lagi, apa kau ingin cepat-cepat menemui para dewa?"
"Tidak ada yang tahu kapan hidup dan mati seseorang." balas Wu Li Mei, wanita itu duduk dengan anggun di dipan kayu yang disediakan untuknya. Sekuat tenaga ia menahan rasa dingin yang menjalar melalui lantai dan dinding.
Kedua tangannya yang gemetar, ia sembunyikan di balik lengan hanfu panjangnya. Satu hal yang ia syukuri adalah ia masih mengenakan baju hangat, dan ia adalah pelindungnya untuk musim dingin ini.
Yang Jian Zhu mengendikkan bahunya, "Kalau kau ingin hidup, maka makanlah."
"Apa kau pikir aku bodoh?"
"Maksudmu?"
Wu Li Mei bersedekap, "Aku tidak bodoh, dengan makan di kandang musuh."
Yang Jian Zhu tersenyum, tipis, tapi sang selir akui cukup menawan. Wu Li Mei merutuki dirinya karena terbius dengan wajah rupawan kepala departemen kejaksaan itu, dia adalah musuh, semua yang bekerja sama dengan Yang Jia Li adalah musuh.
"Kau berpikir aku adalah musuhmu?"
Wu Li Mei merotasikan bola matanya, "Apa aku masih perlu menjelaskan?"
"Kesalahanku?" Wu Li Mei mengerutkan keningnya. "Aku tidak bersalah atas semua ini, aku tidak pernah menyembunyikan merkuri di paviliunku."
"Lalu?" Yang Jian Zhu menatap sama sengitnya dengan sang selir. "Apa merkuri itu bisa jalan sendiri?"
"Sudahlah, kau adalah bagian dari mereka." ujar Wu Li Mei, kata 'mereka' merujuk pada Yang Jia Li dan komplotannya. "Mau aku jelaskan seperti apapun, aku akan tetap dieksekusi lima hari lagi."
"Apa kalian senang?" tanya Wu Li Mei, "Jika kalian menginginkan nyawaku, mengapa putriku harus menjadi korban juga?!"
Wu Li Mei bangkit, ia berjalan mendekati sang kepala departemen penuh emosi. Sorot matanya tajam menusuk tepat di manik mata Yang Jian Zhu. "Lepaskan aku!" teriaknya, Wu Li Mei mencengkeram jeruji penjaranya kuat.
"Aku tidak seharusnya menghabiskan waktu di tempat terkutuk ini."
"Aku harus mengurus putriku yang sedang sakit."
"Kalian semua bajingan!"
__ADS_1
"Lepaskan aku!!"
Kedua mata Wu Li Mei mulai memanas, seiring dengan gejolak marah, sedih, dan takut yang bercampur dalam hatinya.
Saat ini, dibandingkan dengan nyawanya, nyawa sang putri kecil jauh lebih penting. Zhou Xie Ling sudah melalui banyak sekali rasa sakit sejak kecil, dan kini, anak itu menjadi sasaran empuk para musuhnya untuk menghancurkan sang selir. Tak ada tiap detik pun, ia tidak mengkhawatirkan Zhou Xie Ling dan kedua anak kembarnya. Mereka adalah jantungnya, dan sang selir tidak bersama mereka untuk saling melindungi.
Marah bercampur sesak itu menumpuk hingga memenuhi kepalanya. Ironisnya, ia hanya bisa diam dan berdoa di balik penjara terkutuk ini.
"Dengar baik-baik ucapanku, Yang Jian Zhu." Wu Li Mei berucap dengan nada dingin dan penuh ancaman. Aura dinginnya menambah suram suasana penjara yang remang-remamg.
"Jika terjadi sesuatu pada putriku, kalian akan membayarnya setimpal dengan apa yang hilang dariku."
Wu Li Mei mengatur deru napasnya yang tersengal, tatapannya tak lepas dari Yang Jian Zhu. Dan, bayangan seorang wanita dari balik pintu, Wu Li Mei tahu siapa dia.
"Tidak ada ampunan jika aku sampai kehilangan putriku."
Yang Jian Zhu berdehem pelan, guna membasahi tenggorokannya yang mendadak kering. Dalam hidupnya, tidak pernah ada seorang wanita yang terang-terangan menantangnya seperti Wu Li Mei, bahkan sang kepala departemen kejaksaan sempat merasa takut sepersekian detik.
"Tuan putri baik-baik saja, Permaisuri sudah mengurusnya dengan baik."
"Kau tidak perlu khawatir, Yang Mulia."
Yang Jian Zhu hendak berlalu, tapi cekalan di lengannya berhasil menghentikan langkah pria itu. Yang Jian Zhu menoleh, siapa lagi jika bukan Wu Li Mei.
Cekalan itu semakin lama semakin menguat, Wu Li Mei mengajak menusukkan kuku-kuku tajamnya pada lengan hanfu Yang Jian Zhu. "Ku pegang kata-katamu!"
"Tapi,"
"Jika putriku tidak baik-baik saja, nyawamu akan menjadi taruhannya."
"Sampaikan pada adik terkutukmu itu, Yang Jia Li, aku belum kalah. Maka bersiaplah untuk menghadapi serangan balik dariku."
Yang Jian Zhu tercekat, ia ingin bersuara dan balik mengintimidasi Wu Li Mei. Tapi ia tidak sanggup, saat manik matanya seolah tenggelam dalam netra gelap nan tajam Wu Li Mei.
Yang Jian Zhu hanya bisa diam, semua ancaman ataupun balasan yang ingin ia lontarkan tertahan di kepalanya.
"Pergilah, Yang Jian Zhu!" titah Wu Li Mei.
__ADS_1
"Sampaikan ucapanku tadi pada tuanmu, wahai anjing penjaga!"