
Yang Jia Li terjaga hingga pagi, ia enggan untuk tidur karena amarah yang masih tertahan di dadanya. Malam indah itu seharusnya menjadi miliknya, tapi Wu Li Mei tiba-tiba datang dan merusak semua rencananya. Bermalam dengan kaisar sudah direncakan jauh-jauh hari, sebagai bentuk kedekatan hubungan mereka. Sudah lama keduanya tidak menghabiskan malam bersama, jadi ia takut orang-orang di istana akan bergunjing dan menyebar rumor buruk. Meskipun nantinya hanya akan berbaring bersama, tapi Yang Jia Li sudah sangat senang.
Rasa cinta sang permaisuri untuk kaisar sangat besar, melebihi apapun bahkan nyawanya sendiri. Ia telah menjadi permaisuri, tapi tetap terasa kurang jika tanpa adanya pewaris. Padahal Yang Jia Li sudah mengupayakan segala cara untuk bisa mengandung. Sebanyak apapun benih yang masuk ke rahimnya, tetap tidak mampu berkembang menjadi kehidupan.
Sang permaisuri mengusap perut ratanya, dulu, pernah ada kehidupan di dalam sini yang amat ia nantikan kelahirannya. Ia menjadi sedih mengingat anak-anaknya yang tidak bisa ikut melihat keindahan dunia. Seharusnya mereka lahir, seharusnya ia mendapatkan penerus tahta, seharusnya semua kekuasaan ini menjadi miliknya.
"Yang Mulia, Tuan Yang Zuo sudah tiba." ujar sang Dayang Yue.
"Suruh dia masuk!"
"Baik, Yang Mulia."
Permaisuri memanggil sang ayah pagi ini, ia membutuhkan pria tua itu untuk membantunya berpikir. Yang Jia Li begitu menyayangi sang ayah, pun sebaliknya, ia mendengarkan semua ucapan sang ayah dan tidak pernah membantah. Dan sebagai hubungan timbal balik, Yang Zuo akan menuruti semua keinginan sang putri.
Pria tua dengan tubuh tambun itu melangkah masuk, ia membulatkan mata melihat banyak sekali botol arak di dekat sang putri. Sebagian besar sudah habis tak bersisa. "Ada apa, Jia'er?"
"Apa kau menenggak semua arak ini?"
"Ya."
"Apa kau sudah gila?!"
"Ya, aku sudah gila."
"Jia'er!" sang ayah merebut paksa botol arak yang hendak dituangkan oleh Yang Jia Li. "Kaisar bisa marah jika melihatmu mabuk, seorang permaisuri tidak boleh mabuk!"
"Kaisar tidak akan melihat."
Yang Zuo mengerutkan keningnya, "Maksudmu? Bukankah malam ini kalian tidur bersama? Dimana kaisar?"
Yang Jia Li meremas hanfunya kuat-kuat, pandangannya kian mengabur bersamaan dengan pening hebat di kepalanya. Kedua matanya sangat berat untuk terbuka.
Yang Jia Li limbung, sang ayah dibantu Dayang Yue segera memindahkan tubuh lemah sang permaisuri ke ranjangnya. Tidak boleh ada yang tahu dengan keadaan permaisuri saat ini, atau ia akan sangat malu nantinya. Jika tahu Yang Jia Li kacau, pasti rumor buruk tentangnya akan segera menyebar.
__ADS_1
"Kaisar sedang bercinta dengan Wu Li Mei!" ujar Yang Jia Li disela kesadarannya yang mulai menipis.
"Wu Li Mei?"
Dayang Yue mengangguk, "Semalam memang sudah direncanakan bahwa kaisar akan bermalam di paviliun ratu, tapi, satu hal terjadi, hingga kaisar berbelok menuju paviliun selir agung dan memilih bermalam disana."
"Yang Mulia Permaisuri marah besar dan merusak semua perabotan di kamarnya, hingga ia meminta arak dan kami terpaksa memberikannya. Karena permaisuri mengancam akan membunuh kami."
Mendengar cerita itu, Yang Zuo menyapukan pandangannya pada sekeliling kamar bernuansa merah itu. Terlalu fokus pada sang putri, ia jadi tidak sadar jika beberapa barang telah hancur. Keadaan kamar itu pun sangat kotor dan berantakan.
...****************...
"Meramu racun?"
"Ya."
"Siapa yang memerintahkanmu melakukannya?"
Yang Jian Zhu terdiam, kali ini apa lagi? Nyawa siapa lagi yang harus meregang hanya karena racun itu.
Siang ini adalah seorang utusan yang datang kepadanya, ia mengaku telah diperintahkan sang ayah untuk memberikan botol kecil berisi racun kepada sang kepala departemen. Yang Jian Zhu pun menerimanya, ia menyimpan botol kecil itu di saku hanfunya agar aman.
"Kau yakin Yang Zuo memerintahkanmu?"
"Ya, tuan, dia sudah memberikan banyak keping emas minggu lalu." jawab sang utusan.
"Untuk apa?"
"Saya pun tidak tahu."
Sang utusan mengambil selembar kertas dari lengan hanfunya, ia memberikan lembaran itu kepada Yang Jian Zhu. "Ini tanda bukti pembelian racun, tuan."
Lembaran kertas itu terbuka, menampilkan apa yang dikatakan oleh sang utusan. Isinya benar bahwa Yang Jia Li telah membeli racikan racun dari negeri tetangga secara rahasia. Racun itu terdiri dari bisa ular dan kumpulan herba beracun yang dipesan khusus, pemberian kadar racunnya sedikit saja sudah sangat efektif untuk membunuh nyawa manusia.
__ADS_1
Yang Jian Zu memerintahkan utusan itu untuk pergi setelah urusan mereka selesai, sangat berbahaya jika ada yang melihat interaksi aneh antara keduanya. Tanpa menunda waktu lagi, pria itu langsung menuju ke paviliun ratu.
Ia tahu hari ini ayahnya datang ke istana atas permintaan Yang Jia Li, dan semua ini sudah pasti berhubungan dengan mereka. Jian Zhu mendengar kabar bahwa malam ini kaisar bermalam di paviliun selir agung, padahal seharusnya di paviliun ratu. Rupanya hal itu juga yang membuat Jia Li begitu hancur.
Sudah bisa dipastikan jika racun ini adalah untuk Wu Li Mei, atau orang-orang terdekatnya. Yang Jian Zhu merasa bimbang untuk memilih memberikan racun itu atau membuangnya saja. Langkahnya terhenti saat hendak menaiki tangga menuju paviliun ratu, ia meraih botol kecil itu dan menatapnya lekas. Di dalam botol kaca itu, ada racun berwarna kuning gelap. Ia sedang memilih antara jalan kebenaran dengan kejahatan, jika ia membuangnya mungkin bisa menyelamatkan nyawa yang seharusnya terbunuh, tapi jika ia memberikannya, itu sama saja dengan Yang Jia Li. Wanita licik tak berperasaan.
"Jian Zhu!"
Sang kepala departemen menoleh dengan kaget saat namanya di panggil, rupanya sang ayah tengah berjalan menghampirinya.
Jian Zhu segera menyembunyi botol itu, tapi sayang tindakannya ketahuan. Yang Zuo merebutnya dengan susah payah, ini adalah harta karun paling berharga untuk.mereka.
"Kali ini siapa lagi yang akan terbunuh?"
"Kau tidak perlu ikut campur, urus saja urusanmu sendiri di departemen kejaksaan." balas sang ayah.
"Wu Li Mei?"
"Anak-anaknya?"
"Kaisar atau ibu suri?"
"SIAPA AYAH?!"
Sebuah bekas merah tercetak di pipinya, tamparan itu terlalu keras hingga melukai sudut bibir sang kepala departemen kejaksaan. Yang Jian Zhu hanya bisa terdiam sambil meresapi rasa panas dan perih di pipinya.
Sejujurnya ia sudah lelah dengan sang ayah dan adik perempuan yang gila itu. Masih terngiang di kepalanya sikap kurang ajar Yang Jia Li tempo hari di ruangan pribadinya, kini dua orang itu sudah merencanakan sesuatu yang diluar kendalinya. Jika berhubungan dengan racun, sudah pasti akan ada nyawa yang terbunuh.
"Tutup mulutmu!" desis Yang Zuo. "Jika kau tidak menjaga bicaramu lagi, aku sendiri yang akan memotong lidahmu!"
"Kalau sampai rencana kali ini gagal karena telah bocor informasi, kau orang pertama yang ku habisi."
"Urus saja departemenmu itu, tetap menjadi anjing penjaga bagi adikmu!"
__ADS_1